
"Kenapa bapak gak setuju?" tanya Els.
"Mungkin karena Lisa adiknya mas Arya, sebenarnya bapak juga kurang setuju waktu Emir bantu biaya kuliah Lisa" cerita Emir.
"Kalau kamu memang suka sama Lisa, dan ada niatan menjalin hubungan serius, maka kamu harus bisa meyakinkan bapak. Lisa itu gadis baik dan tidak neko-neko sejauh mbak kenal dia, hanya saja dia tertutup dan tidak pernah mau ikut campur urusan orang lain sekalipun itu keluarganya sendiri. Mbak yakin jika untuk dijadikan seorang istri, Lisa bisa menjadi istri yang baik" ucap Els panjang lebar, beberapa tahun tinggal bersama dengan Lisa membuat Els bisa menilai mantan adik iparnya itu seperti apa, meskipun hubungannya dan Lisa dulu tidak terlalu dekat.
"Tapi Emir belum ada bilang apa-apa sama Lisa" ucap Emir masih memejamkan matanya.
"Kenapa? Bukannya kamu suka sama Lisa?" tanya Els.
"Ya, Emir suka sama Lisa. Tapi belum tentu Lisa suka sama Emir kan? Lagi pula banyak pria berpendidikan di kota yang Lisa temui, dan itu membuat Emir tidak percaya diri" jujur Emir.
"Jadi hubungan seperti apa yang selama ini kamu jalani dengan Lisa?"
"Ya hanya berteman biasa mbak, Lisa menganggap ku seperti Abang nya sendiri. Kami sering bertukar pesan, ngobrolin banyak hal dan lainya"
"Lalu bagaimana sikap Lisa saat kamu ajak ngobrol?"
"Gimana apanya? Ya dia welcome, anaknya asik, seru, lucu, manja dan..."
"Cantik" sela Els.
"Itu poin plus nya" sahut Emir tersenyum.
"Kalau kamu merasa nyaman sama Lisa, ya kamu tembak dia, Mir. Jangan sampai kamu terjebak dalam Abang adek zone, atau kamu sendiri nanti yang repot" saran Els.
"Sejauh ini sih emang Emir nyaman dan happy kalau ngobrolin sama Lisa"
"Jadi tunggu apa lagi?"
"Emir hanya belum yakin mbak, nanti kalau Emir sudah yakin pasti Emir langsung melamar Lisa" ujar Emir.
"Lisa siapa?" tanya Ravin ikut bergabung dengan obrolan adik kakak itu.
"Mas udah selesai kerjanya?" tanya Els menyingkirkan kepala Emir di pahanya.
"Ya ampun mbak, yang sopan ngapa? Ini kepala difitrahin ya" protes Emir pada Els.
"Ckk, lebay" cibir Els.
"Sudah sayang, tadi belum di jawab pertanyaan Mas. Lisa siapa? Melamar untuk siapa?" ulang Ravin.
"Lisa itu mantan adik ipar aku, Mas. Dan kebetulan Emir suka sama Lisa, jadi Emir mau melamar Lisa" jelas Els.
"Belum pasti mbak, kan Emir harus meyakinkan Emir dulu. Emir juga harus meyakinkan bapak agar menyetujui hubungan Emir dan Lisa jika memang sudah mengarah ke tahap serius" ralat Emir, bahwa hubungannya masih perlu perjuangan panjang.
"Apakah bapak tidak setuju kamu berhubungan dengan Lisa?"
__ADS_1
"Ya sepertinya begitu" jawab Emir segan berkata jujur pada Ravin.
"Kalau memang kamu sudah fix menjadikan Lisa sebagai calon istrimu, nanti mbak akan bantuin ngomong sama bapak. Hubungan mbak dan Mas Arya sudah berakhir lama, baik Mas Arya atau mbak juga sudah melanjutkan hidup dengan pasangan yang baru" ucap Els menatap Ravin penuh cinta.
Cup...
Els mencium pipi Ravin yang ada di dekatnya.
"I love you" kata Els setelah kecupan singkatnya.
"I love you too my queen" jawab Ravin mengusap-usap puncak kepala Els dengan lembut.
"Ckk kenapa malah pamer kemesraan disini?" kesal Emir beranjak dari ruang tamu meninggal pasangan suami-istri itu.
"Jomblo memang gitu" cibir Els memeluk tubuh wangi Ravin.
🍀🍀🍀
Pagi ini Els dan Ravin juga Ciara melihat toko grosir Emir, ini pertama kalinya baik Els dan juga Ravin melihat toko itu secara langsung, karena kemarin-kemarin hanya melalui sambungan video call.
"Ternyata lebih besar dari yang terlihat di video ya" kagum Els melihat bangunan toko grosir Emir.
"Om, Cia mau jajan boleh?" tanya Ciara yang berada di gendongan Emir.
"Boleh, tapi izin dulu sama Bunda" jawab Emir, ia tahu jika sang kakak membatasi keponakannya memakan makanan ringan.
"Boleh, tapi sedikit saja ya" kata Els tersenyum.
"Oke Bunda" Ciara memberikan jempolnya pada Els.
"Kamu masih belanja sendiri Mir?" Els melihat-lihat isi toko grosir yang lumayan lengkap itu.
"Tidak lagi mbak, sudah satu bulan ini pihak supplier sendiri yang mengantarkan barang mereka. Karena Emir sudah jadi pelanggan tetap mereka dan barang yang Emir ambil juga lumayan banyak" kelas Emir.
"Berapa hari sekali kamu belanja?"
"Kadang seminggu sekali, tapi lebih sering dua minggu sekali sih. Tergantung seberapa cepat habisnya barang" kata Emir.
"Bunda, Cia mau yang ini boleh?" Cia membawa satu bungkus makanan ringan.
"Keripik tempe? Dari mana?" Els mengambil sebungkus keripik singkong itu dan membukanya.
"Itu usaha UMKM kampung kita Mbak, ya temen-temennya bude Jum itu. Mereka menitipkan produknya disini" jelas Emir.
"Enak sayang, makanlah" Els memberikan keripik tempe itu pada Ciara.
"Aaaa..." ucap Els menyuapkan keripik tempe pada Ravin.
__ADS_1
"Terimakasih sayang" kata Ravin menerima suapan Els.
"Jomblo dilarang baper" ucap Els melirik.
"Menggelikan" ucap Emir lalu ia pergi memeriksa stok barang dan mencatat apa saja barang yang sudah habis.
"Sepertinya toko ini benar-benar berjalan lancar mendengar penuturan Emir seberapa sering dia belanja" Ravin dan Els mengelilinginya isi toko itu.
"Begitu menurut Mas?" tanya Els, pria itu mengangguk sebagai jawaban.
"Dan menurut Mas, ini masih bisa di kembangkan lagi"
"Maksudnya buka cabang lagi?"
"Tidak sayang, biarkan ini menjadi satu-satunya"
"Lalu?"
"Mas ingin Emir membuka toko pakaian, dan memasarkan produk Mas disini. Bagaimana menurut mu?" Ravin mengutarakan idenya.
"Tapi itu perlu modal yang besar Mas"
"Tidak sayang, Emir hanya perlu menyiapkan tempatnya saja, barangnya kan bisa ambil dulu. Mas bisa mengaturnya nanti" ujar Ravin.
"Kalau itu sih, Mas bicarakan saja sama Emir. Yang penting jangan sampai mengganggu kestabilan perusahaan Mas" kata Els membuat Ravin tersenyum geli.
"Membantu Emir membuka toko baju tidak sampai menggunakan uang miliaran sayang. Tenang saja, ung belanja kamu tetap aman" ujar Ravin.
"Apakah sekarang aku terlihat seperti perempuan mata duitan?" tanya Els kembali membuat Ravin terkekeh.
"Ya, maka dari itu tolong bantu suamimu ini untuk menghabiskan uangnya. Karena Mas hanya tahu cara menghasilkan uang, sedangkan untuk menghabiskan uang, Mas tidak tahu bagaimana caranya" ucap Ravin dengan bangganya.
"Sombongnya sekali anda Tuan Ravindra Pradipta. Bagaimana jika kita beli beberapa lahan atau rumah sebagai investasi?" kata Els.
"Sudah Mas lakukan sayang, mas punya beberapa Villa di Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa tempatnya wisata indah lainya" jelas Ravin membuat Els ternganga. Els tidak menyangka jika Ravin memiliki berbagai macam bisnis.
"Tolong cubit aku, dan katakan kalau ini bukanlah mimpi" pinta Els masih dalam keadaan syok terkejut plus tercengang mendengar penuturannya Ravin.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺