My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Cerita Ciara


__ADS_3

Setelah beberapa saat memastikan Ciara sudah tertidur, Els langsung bangkit dari tidurnya dan membuka salah satu laci yang ada di dekatnya. Els seperti tergesa-gesa mengambil sesuatu dari dalam laci itu, lalu membawanya keluar begitu saja. Dan apa yang di lakukan Els tak luput dari pandangan Ravin.


Duda satu anak itu mengikuti Els keluar, entah kemana perginya Els. Namun saat Ravin berdiri di ujung tangga ia dapat melihat Els duduk terdiam di kursi dapur. Entah mengapa Ravin melangkah kan kaki mendekati Els.


"Els" panggil Ravin, namun Els hanya diam saja. "Els" Ravin menepuk pundak wanita itu.


"Aku baik-baik saja" sentak Els pada tangan Ravin. "Ma...maaf Pak, saya tidak sengaja" sesal Els wajahnya terlihat bingung.


"Apa yang terjadi? ada apa denganmu? kau baik-baik saja?" tanya Ravin beruntun sebab untuk pertama kalinya ia melihat wajah bingung dan gelisah Els.


"Saya tidak apa-apa Pak, maafkan saya, tolong maafkan saya" ucap Els ketakutan.


"Ada apa dengan mu?" Ravin melihat keringat membasahi wajah Els. "Kau sakit Els?" Ravin mencari menyentuh kening Els, namun dengan cepat Els menepis tangan Ravin.


"Saya baik-baik saja" ucap Els untuk kesekian kalinya.


"Baiklah aku percaya padamu, kembalilah ke kamar Ciara, istirahat ini sudah malam" perintah Ravin.


"Saya permisi" ucap Els langsung pergi meninggalkan Ravin di dapur.


"Ada apa dengan wanita itu?" ucap Ravin memandangi punggung Els yang semakin menjauh.


🍀🍀🍀


Pagi hari seperti biasanya, Els menyuap semua keperluan anak asuhnya. Gadis kecil yang memanggilnya bunda itu sudah rapih cantik dan wangi siap pergi ke sekolah.


"Sayang, susunya di habiskan" ucap Els yang sudah kembali ceria seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.


"Bunda, Cia mau bawa banana cake nya boleh?" pinta gadis kecil itu.


"Boleh, tapi bunda juga bawain Cia mangga, harus di makan ya" ucap Els, dan di angguki Ciara.


"Wahh nona Ciara sekarang sudah mau makan buah-buahan ya" ucap mbok Yati. Yang juga ada di dapur membantu Els menyiapkan sarapan.


"Cia makan semua yang bunda kasih mbok" sahut gadis kecil itu membuat mbok Yati dan Els tersenyum.


"Morning sayang" sapa Ravin pada putrinya.


Cup


Ravin mencium pipi chubby Ciara.


"Ayah, bunda tidak di cium?" tanya Ciara, Ravin lupa jika setiap dirinya mencium Ciara, maka putrinya itu pasti akan menyuruhnya mencium Els.

__ADS_1


"Sayang kan malu ada mbok Yati" jawab Ravin.


"Gak apa-apa kan mbok, kalau ayah cium bunda?" tanya Ciara sangat pandai membalik keadaan.


"Aduh, si mbok lupa matiin mesin cuci" ucap mbok Yati melarikan diri dari situasi yang membingungkan ini.


"Nah, mbok Yati sudah pergi. Sekarang ayo ayah cium bunda"


"Sayang, bunda sudah besar, tidak mau di cium lagi" elak Ravin.


"Jadi bunda tidak mau di cium ayah?"


"Ya, kan bunda sudah besar sayang" ucap Els membenarkan alasan Ravin.


"Kalau begitu mulai hari ini, ayah jangan cium Ciara lagi. Ciara sudah besar" putus gadis kecil itu membuat Ravin mati kutu.


"Sayang..." Ravin memelas pada putrinya.


"No" Ciara menggoyangkan telunjuknya.


"Cia sudah tidak sayang sama ayah?"


"Ayah yang tidak sayang sama bundanya Ciara, nanti kalau bunda pergi lagi gimana?"


"Kata Abigail, maminya pergi dari rumah karena papi Abigail gak sayang sama maminya. Abigail selalu di cium papinya, tapi maminya tidak" cerita Ciara dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Astaga, itu tempat sekolah anak atau tempat anak kecil bergosip?" gerutu Ravin, setiap hari ada saja cerita baru yang Ciara bawa pulang.


"Tadi malam Chika, sekarang Abigail, besok siapa lagi" heran Ravin. "Masih kecil sudah pandai bergosip, bagaimana besarnya nanti?" gerutunya membuat Els tak tahan menahan tawa.


"Hahaha...." Els tertawa lepas, membuat Ravin tertegun, selama dua bulan tinggal bersama Els, wanita itu biasanya hanya tersenyum jika di hadapannya. Entahlah jika hanya bersama Ciara, mungkin Els juga akan tertawa lepas seperti sekarang ini.


"Bunda kok tertawa? Cia kan lagi sedih" ucap Ciara.


"Ups....maaf sayang. Sekarang habiskan nasi gorengnya, lalu kita berangkat ke sekolah" tutur Els.


🍀🍀🍀


Ravin mengantar Ciara dan Els terlebih dulu ke sekolahan sebelum pergi ke kantor, biasanya Ravin hanya mendrop mereka di depan pintu gerbang, tapi hari ini Ravin ikut masuk mengantar Ciara hingga ke dalam kelas.


"Hai Ciara" sapa gadis kecil yang juga baru datang.


"Hai Chika"

__ADS_1


"Wah, Cia di antar ayah sama bunda" ucap Chika.


"Iya dong, kan bunda Cia sudah datang, kamu sama sus?"


"Iya, Chika di antar sama sus Tari" jawab Chika menggandeng tangan gadis remaja berpakaian baby sitter, berbeda dengan Els yang menggunakan pakaian santai.


"Ayo kita masuk" ajak Ciara pada Chika.


"Bye..bye Ayah, bye bye Bunda" ucap Ciara.


"Els ikut saya" ucap Ravin berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir.


"Ada apa Pak?" tanya Els ketika sudah sampai parkiran.


"Kenapa sekarang Ciara suka sekali bergosip?" Ravin masih tak habis pikir bagaimana caranya anak-anaknya kecil itu membicarakan orang tuanya.


"Biasanya saat break nona Ciara akan bermain dan bercerita dengan teman-temannya pak, mungkin saat itulah mereka membicarakan orang tua mereka" jawab Els jujur.


"Ck" decak Ravin. "Memang tidak bisa kamu cegah?"


"Maaf pak, anak-anak bermain kan agar bisa bersosialisasi dengan yang lain dan membuat sifat anak tidak egois karena biasanya mainan di rumah hanya miliknya, dan ketika di sekolah mereka harus berbagi dan bermain bersama. Saya pikir itu juga suatu hal positif yang bagus untuk tumbuh kembang mereka" jelas Els menggunakan ilmu 'Mungkin' dari yang selama ini Els amati saat berada di lingkungan sekolah Ciara.


"Ya sudah kalau begitu, saya pergi dulu" ucap Ravin, karena dari apa yang di katakan Els memang benar, tapi disini dirinyalah yang di buat kebingungan.


"Hati-hati pak" ucap Els, kemudian masuk lagi ke area sekolah Ciara.


🍀🍀🍀


Ravindra Pradipta bekerja di salah satu Bank swasta dan menjabat sebagai GH atau Group Head of Business dimana jabatan itu di bawah nya Direksi satu tingkat , jadi bisa di pastikan jika itu jabatan yang sangat penting.


Sedangkan Bimo suami Widia, ia menjabat sebagai kepala marketing bagian *le*nding (kredit). Sebenarnya Ravin tidak hanya bekerja di Bank, ia memilih bisnis lain diluar daerah. Namun bisnis itu ia serahkan pada orang kepercayaan dan ia hanya memeriksa laporan dari jauh, atau akan turun tangan langsung jika ada masalah yang memang mengharuskan dirinya yang menanganinya masalah itu.


Tidak ada yang mengetahui bisnis nya itu, bahkan mantan istrinya pun tidak tahu jika ia memilikinya bisnis lain. Ravin merintis bisnis itu dari nol hingga sekarang produk yang di hasilkan dari bisnis nya menjadi incaran seluruh masyarakat Indonesia, bahkan pemasangan produk nya sudah sampai ke manca Negara. Namun orang-orang tidak ada yang tahu jika tangan dinginnya lah yang meluncurkan produk-produk itu.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2