
Pak Rusli, Els, Emir, dan Mak Lastri, mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. Intinya hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Mak Lastri tidaklah bagus, Mak Lastri bukan sakit biasa, ada penjual serius yang bersarang di tubuh wanita paruh baya itu.
Els sangat menyesalkan kenapa dokter itu membicarakan penyakit seberat itu langsung di hadapan pasien, karena hal itu membuat Mak Lastri putus asa, dan histeris karena merasa penyakitnya terlalu berat dan pasti akan memakan biaya yang tidak sedikit. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk berobat?.
"Kita pulang saja, Mamak gak mau di rujuk di rumah sakit besar" tutur Mak Lastri terisak dalam pelukan Els.
"Mamak gak boleh nyerah, kita akan cari cara agar mamak tetap bisa berobat, mamak harus sembuh" bisik Els menenangkan Mak Lastri.
"Nggak, Mamak gak mau berobat, kasihan bapakmu pontang panting cari uang" lirih Mak Lastri.
"Tapi mamak harus sembuh, mamak gak boleh nyerah gini. Gimana nasib Els, Bapak sama Emir?" kekeh Els.
"Kamu sudah menikah Els, sudah ada yang menanggung jawab atas dirimu. Bapak bisa menikah lagi, Emir juga sudah dewasa, bisa kerja dan sudah mandiri" tutur Mak Lastri yang membuat Els semakin tergugu.
"Mamak udah gak sayang Els lagi? gak mau menyaksikan pernikahan Emir? mamak gak mau gendong anak-anak Els?" ucap Els dalam tangisnya.
Sedangkan Pak Rusli dan Emir sudah kehilangan kata-kata, terlebih lagi karena mereka adalah seorang pria, jadi tidauterlalu bisa menggambarkan emosi nya. Namun yakinlah bahwa hati keduanya juga hancur dan menjerit pilu mendengar kenyataan pahit yang harus di hadapi oleh wanita yang begitu mereka cintai.
🍀
🍀
🍀
Setelah perdebatan panjang, Mak Lastri tetap dengan keputusan nya. Mak Lastri tetap minta pulang dan tidak mau di rujuk ke rumah sakit yang ada di ibu kota seperti saran dokter yang membacakan hasil pemeriksaan nya kemarin.
Els pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti kehendak Mak Lastri. Mereka akan pulang kerumah, Mak Lastri akan menjalani perawatan di rumah dengan alakadarnya.
"Mamak istirahat dulu, Els mau ke sumur mencuci pakaian kotor" tutur Els, menyiapkan segala keperluan Mak Lastri di meja kecil yang ada di dekat tempat tidur.
"Maaf karena sudah merepotkan mu Els" ucap Mak Lastri tulus, terbesit rasa bersalah di hati Mak Lastri karena dulu memperlakukan Els dengan sangat buruk hanya karena kesalahan kecil.
"Mamak ini ngomongin apa? Els ini anak mamak, putri mamak satu-satunya, sudah sepantasnya Els repot jika mamak atau bapak sakit. Memang nya mau merepotkan siapa lagi?" tutur Els menggenggam tangan Mak Lastri.
"Mamak minta maaf karena dulu sering memukuli mu dan sangat kasar padamu" tutur Mak Lastri menatap sendu Els.
"Mak, semua sudah berlalu, Els mengerti jika saat itu Mamak hanya ingin Els menjadi yang terbaik, Els sudah melupakan kejadian itu" bohong Els. Karena sebenarnya kejadian itu sangat mempengaruhi kehidupannya.
"Kamu anak yang baik Els" puji Mak Lastri membelah wajah ayu putrinya.
__ADS_1
"Els baik, karena Mamak dan Bapak mendidik Els dengan baik, terimakasih" ucap Els tersenyum manis.
"Kamu harus hidup dengan baik dan bahagia, mamak gak rela jika kamu hidup susah" tuturnya.
"Pasti Mak, jangan khawatirkan Els"
"Kamu juga harus jaga kesehatan, jangan sakit seperti mamak"
"iya" sahur Els.
"Sering-sering datang ke sini"
"Insyaallah ya Mak, kalau Mas Arya ada rezeki, pasti Els akan sering berkunjung"
"Mamak pingin jus alpukat" tuturnya.
"Jus alpukat? mamak serius? nanti biar di belikan Emir, tanpa susu dan batu es kan?" tanya Els di angguki Mak Lastri.
🍀
🍀
🍀
"Mbak" panggil Emir, datang menemuinya dengan membawa satu cup jus alpukat di tangannya.
"Kenapa di bawa kesini? berikan pada mamak di kamar Mir" ucap Els, pada adiknya.
"Mamak gak bangun-bangun, makanya aku ke sini mbak" ucap Emir, membuat Els menghentikan kegiatannya.
"Ck, kau ini" ucap Els lalu bangkit menuju kamar Mak Lastri di ikuti Emir di belakangnya.
"Mak, Mamak, ini jus alpukat nya sudah di belikan sama Emir" tutur Els pelan membangunkan Mak Lastri.
"Mak" Els mengguncang bahu nya, namun tidak ada reaksi apapun.
Els menatap bingung pada Emir, lalu menyentuh telapak tangan Mak Lastri dan, dingin, sangat dingin membuat Els terpaku.
"Mir" lirih Els memanggil adiknya agar mendekat.
__ADS_1
"Kenapa mbak?" tanya Emir yang belum menyadari gesture tubuh Els.
"Mak, mamakkkkkkkkkk" jerit Els membuat Emir terkejut lalu duduk di samping Mak Lastri.
"Ini gak mungkin kan Mbak? mamak gak mungkin ninggalin Emir kan?" serunya.
"Bapak....pak...." jerit Emir berlari keluar rumah mencari keberadaan pak Rusli.
Sedangkan Els hanya bisa tergugu menggenggam erat tangan wanita yang telah melahirkannya.
"Mamak kenapa tega ninggalin Els? mamak gak kasihan sama Emir? Els belum siap kehilangan mamak, hidup Els semakin berat Mak" bisik Els dalam hati.
Kerabat, tetangga semua datang untuk bertakziah di rumah pak Rusli. sedangkan pak Rusli dan Emir hanya bisa terdiam, dua pria yang sangat berarti dalam hidup Els itu hanya menatap kosong pada tubuh yang terbujur kaku di hadapannya.
Sedangkan Els hanya mengurung diri di kamar tempat dimana ia menemukan tubuh Mak Lastri yang sudah tak bernyawa. Perasaannya kacau, ia butuh sandaran, ia butuh seseorang untuk mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja, ia butuh bahu untuk menumpahkan air matanya, ia butuh telinga yang mendengar keluh kesahnya, singkat nya ia butuh Arya yang tak lain suami Els untuk mendampinginya.
Namun jangankan datang, Arya, suami Els itu tidak bisa ia hubungi dari tadi, entah apa penyebabnya. Atau mungkin karena jaringan di kampung Els memang sangat susah, atau Arya benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, entahlah Els sekarang semakin tidak bisa memahami suaminya itu.
🍀
🍀
🍀
Pemakaman di langsungkan hari itu juga, tepatnya selepas sholat ashar, Els dan keluarganya dan juga para tetangga mengantarkan Mak Lastri ke tempat peristirahatan terakhirnya, dan sampai saat itu Els tetap belum bisa menghubungi suaminya, Els hanya mengirimkan pesan tapi sepertinya suami Els juga belum membaca pesan itu. Entahlah Els tidak ingin memikirkan Arya untuk saat ini meskipun Els sangat membutuhkan kehadirannya.
Pak Rusli pun tidak menanyakan perihal menantunya, hanya saja kerabat jauh dan para tetangga yang berbisik-bisik menanyakan ketidak hadiran dari suami Els itu, mengingat Arya adalah menantu sulung dan satu-satunya. Jadi ketidak hadiran nya sangat terlihat dan menjadi buah bibir, apalagi jarak dari kampung Els dan tempat tinggal Arya hanya butuh waktu empat sampai lima jam perjalanan, sedangkan Mak Lastri di temukan meninggal dunia jam sebelas siang.
Els tak bisa menjawab apapun pertanyaan dari kerabat Els yang menanyakan ketidak hadiran Arya, selain Els juga tidak tahu, pertanyaan itu juga membuat tekanan tersendiri dalam hati Els.
Els memeluk erat tubuh Emir, kedua kakak beradik itu sama-sama menangis menyaksikan matahari dalam hidup mereka kini sudah di masukkan ke dalam liang lahat. di iringi dengan hujan gerimis yang mengguyur perkampungan itu.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺