My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Angan-Angan


__ADS_3

Ravin pergi ke sebuah toko perhiasan untuk mencari cincin yang akan ia berikan pada Els nanti. Meskipun ia tak yakin jika Els menerima ajakannya untuk menikah, tapi Ravin tetap harus mempersiapkan perhiasan tersebut, sebab secara tidak langsung Ravin melamar Els meskipun belum ada cinta di hatinya, dan yang pasti kalau seorang pria melamar wanita haruslah membawa cincin dong, tidak mungkin hanya dengan tangan kosong.


"Tunjukkan cincin model terbaru kalian" ucap Ravin pada seorang pramuniaga toko perhiasan tersebut.


"Kami memiliki dua model cincin terbaru Tuan, ini yang sederhana, tapi elegan. dan ini yang mewah tapi dengan gaya simple, karena hanya memiliki satu berlian kecil, tapi harganya fantastis" jelas pramuniaga yang seorang pria itu dengan detail.


"yang ini berapa harganya?" Ravin menunjuk cincin sederhana, polos tanpa ada berlian nya.


"Yang ini 9,5 juta Tuan" jawab pramuniaga tersebut.


"Kalau yang ini?" tunjuk Ravin pada cincin yang satunya.


"Yang ini 87 juta"


"Saya ambil yang ini saja" pilihan Ravin jatuh pada cincin yang memiliki berlian kecil sebagai permata nya. Meskipun Ravin tidak tahu jawaban Els nanti, tapi Ravin tetap harus memberikan sesuatu yang terbaik, mahal dan berkelas untuk calon istrinya, sekalipun cinta itu belum ada.


Ravin langsung menuju rumahnya saat sudah mendapatkan barang yang kiranya ia perlukan untuk meminta Els menjadi istrinya.


"Ayah...." seru putri kecilnya, berlari menyongsong sang Ayah.


"Ayah rindu Cia" ucap Ravin memeluk erat tubuh putrinya dan menghirup aroma buah segar dari rambut panjang Ciara.


"Cia juga rindu sama Ayah" ungkap gadis kecil itu mengecup pipi Ravin.


"Bunda dimana?" tumben sekali Ciara menyambut nya sendiri tanpa di dampingi Els, bahkan Ravin sudah merasa jika ada yang kurang.


"Bunda lagi di dapur, buatin Cia strawberry cheese cake" ucap Ciara dan Ravin hanya mengangguk berjalan menuju dapur dengan menggendong Ciara.


"Bunda" seru Ciara membuat wanita 28 tahun itu langsung menoleh ke arahnya.


Deg.... deg....deg.....


Baik Els maupun Ravin sama-sama tertegun, apa lagi Ravin, ia sangat kesulitan menelan saliva nya, seperti ada gumpalan biji kedondong dalam tenggorokan nya. Bagai mana tidak? ia melihat Els menggunakan MIDI dress model spaghetti strap dimana pundak, sebagian dada dan leher putih Els terekspos sempurna, belum lagi rambut Els yang di cepol ke atas. Membuat Ravin panas dingin sebagai pria berpengalaman, pikiran-pikiran kotor tentu sudah hinggap dalam kepalanya.


Els tertunduk malu, sebab biasanya jam segini Ravin belum pulang, lagi pula Els berani berpakaian seperti itu karena yakin pekerja pria tidak akan ada yang memasuki area rumah utama di jam seperti ini. Kapan lagi Els akan menggunakan baju model seperti ini jika tidak di jam-jam aman seperti sekarang menurut Els, lagi pula baju yang Els kenakan adalah pilihan dan pemberian Ravin.


"Ehemmm" Ravin mengerti jika Els canggung. "Ayah mandi dulu ya" Ravin menurunkan Ciara lalu pergi ke kamar nya.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Di dalam kamar, Ravin mondar mandir frustasi tak bisa berhenti memikirkan Els, bayangan bahu putih mulus dan leher jenjang Els seolah menari-nari di pelupuk mata Ravin, mengundang Ravin untuk menikmati nya.


"Huffff, sepertinya aku salah memilihkan baju untuk Els" kepala Ravin mendadak sakit karena sesuatu yang lama tidur bangun meronta-ronta tanpa memiliki lawan.


"Lebih baik aku berendam" putus Ravin mendinginkan otak, hati, dan dan tubuhnya yang panas, sesuatu yang bangun juga harus ia tidurkan.


Sementara Els, setelah memastikan kuenya matang sempurna, dengan cepat ia lari ke kamar Ciara untuk ganti baju. Ya, sebagian baju Els memang berada di kamar Ciara sejak lama, Els jarang berada di kamar belakang, paling hanya seminggu sekali itupun tak pasti.


"Bunda kenapa ganti baju?" Ciara hanya memperhatikan Els dengan duduk diam di atas ranjangnya.


"Bunda kedinginan sayang" bohong Els, sekarang mengenakan turtleneck dress berwarna hitam lengan panjang, namun panjang dress hanya di atas lutut.


"Bunda cantik" puji Ciara.


"Ciara juga cantik" puji Els tersenyum pada anak asuhnya.


"Bunda, ayo kita makan kue nya" rengek Ciara.


"Di makan sayang" ucap Els setelah meletakkan sepotong kue di piring Ciara.


"Emmmm....enak sekali kue buatan Bunda" puji Ciara menikmati potongan pertamanya.


"Ayah mau juga dong" entah kapan datangnya pak duda itu, tiba-tiba saja ada di antara Els dan Ciara.


"Ini punya Cia, ayah minta sendri sama Bunda" Ciara langsung mendekap piringnya agar sang ayah tidak bisa mengambil kue miliknya.


Els langsung memberikan sepotong kue pada Ravin, dan di terima dengan senang hati oleh Ravin.


"Sepertinya punya ayah lebih enak" Ravin sengaja menggoda putrinya.


"Bunda" Ciara mencebik kesal pada ayahnya,


"Semua sama rasanya sayang" Els memberi pengertian pada anak asuhnya.


"Sayang, nanti Ayah sama Bunda pergi sebentar ya?" tutur Ravin langsing di sambut lirikan tajam putrinya.

__ADS_1


"Ayah sama Bunda harus meeting, agar Miss Nina mengizinkan Ciara dan Bunda ikut lomba" jelas Ravin, membuat Els terlihat bingung, tapi tidak dengan Ciara.


"Ayah dan Bunda lama perginya?"


"Tidak lama tapi, Cia nanti tidur di temani mbok Yati dulu ya" bujuk Ravin.


"Oke deh" Ciara setuju di tinggal oleh Ravin dan Els.


🍀🍀🍀


Ravin membawa Els kesebuah VVIP Room di salah satu restoran ternama. Ravin perlu tempat dan ruang untuk bicara banyak hal dengan Els terkait rencananya, jika di ajak ke sebuah hotel Els pasti akan berpikir yang macam-macam. Restoran adalah opsi terakhir yang Ravin pilih, dan disinilah mereka sekarang.


"Kenapa kesini pak?" Els duduk dan melihat sekelilingnya. "Apa yang ingin bapak bicarakan?" Els penasaran dengan apa yang akan disampaikan Boss nya itu.


"Els, aku dulu pernah gagal di pernikahan pertama ku, kamu tahu itu?" Els mengangguk. "Sebenarnya aku belum terpikirkan untuk menikah kembali, tapi Ciara benar-benar butuh sosok bundanya" Els mendengarkan dengan cermat.


"Karena aku pernah gagal di pernikahan pertama, maka aku ingin di pernikahan kedua ku adalah pernikahan terakhir dan selamanya" tutur Ravin. Membuat Els semakin bingung kenapa Ravin mengatakan semua itu pada Els? dan Ravin bicara menggunakan aku, bukan saya.


"Kamu mendengarkan aku Els?" tanya Ravin membuat Els tergagap.


"Iya Pak, lalu saya harus apa ya? kenapa bapak membicarakan pernikahan kedua bapak dengan saya?" tanya Els, karena ia benar-benar tidak tahu.


Ravin menatap kesal pada Els, tapi sebenarnya pertanyaan Els tidak salah, karena Ravin belum mengutarakan niatnya.


"Karena aku ingin menikah untuk yang kedua kalinya, dan aku ingin menikah dengan kamu" tegas Ravin membuat Els terkejut bukan main. Di luar dari perkiraan Els, dan meleset jauh dari angan-angan Ravin yang rencananya melamar Els dengan baik malah seperti sebuah pemaksaan.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2