
Di sebuah restoran, Ravin tengah menunggu kedatangan istrinya untuk makan siang bersama. Sebenarnya pekerjaan Ravin banyak, namun tidak ada salahnya meluangkan waktu sekedar makan siang bersama dengan sang istri. Lagi pula Els sudah memulai terlebih dahulu, jadi Ravin mengikuti apa yang sudah di mulai Els, ia sangat berharap jika pernikahannya di keduanya ini bisa menjadi yang terakhir dan selamanya.
Mengingat di pernikahan pertama Ravin jarang menghabiskan waktu bersama Sintia hingga berakhir datangnya pria idaman lain dalam rumah tangganya. Ravin tidak ingin hal itu terulang di pernikahan nya dengan Els, sebisa mungkin Ravin menjaga dan merawat ikatan pernikahannya agar semakin kuat untuk menghadapi berbagai masalah di masa mendatang.
"Ravin..." panggil seorang wanita tak lain adalah mantan istri.
"Kau disini?" tanya Sintia langsung duduk di kursi depan Ravin, sedangan Ravin hanya menatap datar tanpa berniat menjawab sang mantan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Sintia salah tingkah padahal Ravin hanya menatap datar tanpa ekspresi.
"Ravin, aku minta maaf atas kesalahan ku dulu. Aku khilaf dan sangat menyesal telah meninggalkan mu dan juga putri kita" tutur Sintia.
"Aku sudah mendapatkan karma nya, Dandy selingkuh dariku dan kini aku sudah berpisah dengan nya" cerita Sintia panjang lebar.
"Ravin, sebenarnya aku masih mencin...." kalimat Sintia menggantung di udara.
"Mas..." Els datang dengan anggun berjalan mendekati suaminya. Sedangkan Ravin sudah gugup takut jika Els salah paham.
"Els..." lirih Ravin berdiri dari duduknya.
"Maaf ya aku datang terlambat" ucap Els langsung memeluk Ravin, bahkan Els dengan berani mencium bibir Ravin dengan sedikitnya lu mat an, membuat Ravin membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang di lakukan istrinya.
"Ehemmm..." Sintia sengaja berdehem keras tak suka dengan apa yang dilakukan pasangan suami-istri itu.
"Ups...aku lupa jika ada mbak Sintia" ucap Els tersenyum tanpa dosa.
"Mas gak bilang kalau kita akan makan siang bersama mbak Sintia?"
"Karena kita memang hanya akan makan siang bersama" sahut Ravin.
"Benarkah?" Els pura-pura terkejut. "Apakah mbak Sintia mau bergabung bersama kami?" tawar Els membuat Ravin tak senang.
"Tentu, mengapa tidak?" jawab Sintia yakin.
"Aku senang mendengarnya" ucap Els tersenyum.
"Els, aku..." protes Ravin.
"Ayo duduk mas" sela Els sebelum Ravin melayangkan protes nya.
"Ckk" decak Ravin kesal, ia sungguh tak mengerti kenapa Els mengajak Sintia untuk makan siang bersama.
Mereka memesan makanan dan mengobrol ringan, namun hanya Els dan Sintia yang bicara, itupun hanya basa-basi, Els tidak mau sok akrab dan welcome seperti sebelumnya. Sedangkan Ravin hanya diam dan memainkan ponselnya.
"Mas, nanti malam aku tidur bersama Cia ya?" ucap Els di sela-sela makan membuat Ravin bingung, sebab selama ini kan memang Els tidur bersama Ciara, hanya semalam saja Els tidur bersama Ravin.
"Memang..."
"Mas tadi malam bermain sangat kasar dan tidak membiarkan aku tidur nyenyak, bahkan dada dan selang kangan ku masih terasa nyeri" ucap Els begitu ringan.
__ADS_1
Uhukkkk....uhukkk...uhukk....
Ravin tersedak daging steak yang baru saja masuk dalam mulutnya.
"Ya ampun Mas, hati-hati dong" Els menepuk-nepuk punggung Ravin. "Kamu mikirin apa sih?" Els memberikan minum pada Ravin.
"Terimakasih" ucap Ravin, sedangkan Sintia menatap jengah pasangan di depannya itu.
"Apakah Ravin dulu memang bermain kasar dan lama mbak Sintia?" tanya Els, membuat Sintia menatap nya.
"Tidak" jawab Sintia datar, Ravin memang biasa saja dulu, bahkan cenderung Sintia yang mendominasi.
"Benarkah?" Els kembali bersandiwara. "Mas, jika kau janji bermain sedikit lembut, nanti malam aku akan tidur denganmu" bisik Els, namun Sintia masih mendengar.
"Habiskan makananmu, akan ku antar pulang" Ravin mengalikan pembicaraan yang tak masuk akal.
"Apa yang terjadi pada Els? kenapa dia semakin tak bisa di tebak?" gumam Ravin dalam hati, ia memandang sang istri.
🍀🍀🍀
Ravin benar-benar mengantar Els pulang, dan sepanjang perjalanan pulang tidak ada yang membuka suara. Baik Els dan Ravin sama-sama diam tenggelam dalam pikiran nya masing-masing.
"Els" akhirnya Ravin tak tahan untuk bertanya pada sang istri.
"Ada apa denganmu?" tanya Ravin, Els menatap bingung.
"Kenapa kau tadi bersikap seperti itu di restoran?" tanya Ravin sembari fokus mengemudi.
"Bersikap seperti apa? aku tidak mengertilah maksud mu Mas" sahut Els.
"Ayolah Els, kau bukan anak kecil, kau sangat paham dengan apa yang aku maksudkan"
"Aku memang tidak mengerti Mas, jangan main teka-teki karena aku bukan wanita yang pintar"
"Lalu kenapa kau tadi mengajak wanita itu makan bersama kita?"
"Aku hanya mengabulkan keinginan nya Mas, sepertinya dia sangat ingin makan siang bersama mu" ucap Els. "Dan juga kau senang mendengarnya berbicara" Els melirik Ravin.
"Aku tidak bicara dengannya Els, dia tiba-tiba datang saat aku menunggumu. Bahkan aku tidak mempersilahkan dia untuk duduk" jelas Ravin.
"Benarkah?" Els memecingkan matanya.
"Sudahlah, kau tidak akan percaya" ucap Ravin.
"Kenapa Mas bisa menyimpulkan seperti itu?"
Ravin hanya mengangkat kedua bahunya.
"Ngomong-ngomong apa benar nanti malam kamu akan tidur dengan Ciara?" Els tersenyum mendengar pertanyaan Ravin.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sangat ingin tertidur dalam pelukan suamiku, tapi sepertinya suamiku tidak menginginkan ku" Els menundukkan kepalanya.
Jika di pikir-pikir Ravin memang tidak pernah mengajak Els untuk tidur bersama di kamarnya semenjak resmi menikah. Ah salah Ravin juga karena tidak memulai lebih dulu.
"Bukan seperti itu Els, aku hanya memberikan waktu untuk mu menerimaku, karena aku tidak ingin memaksamu" ucap Ravin.
"Benarkah? tapi bagaimana aku bisa menerima Mas, jika aku tetap tidur bersama Ciara? atau jangan-jangan Mas menyesal semalam menghabiskan malam denganku?" tuduh Els.
"Mana mungkin aku menyesal Els, aku sangat senang bahkan ingin mengulang" ucap Ravin keceplosan.
"Jadi Mas ingin mengulang bercinta denganku?" Els memperjelas.
"Ehem...itu wajar kan? lagi pula kita ini suami istri, sudah sehat rutinitas itu kita lakukan" jawab Ravin realistis.
"Ah..sebatas kewajaran dan rutinitas ternyata. Aku pikir Mas sangat menginginkan ku" lirih Els.
"Aku lebih dari menginginkan mu Els" ucap Ravin, membuat Els tersenyum miring.
"Jadi, apakah nanti malam aku harus tidur bersama Ci..."
"Tentu saja bersamaku, kau ini istriku, sudah seharusnya kau tidur bersamaku dikamar kita mulai nanti malam dan selamanya" tegas Ravin.
"Tapi bukannya kamar itu pernah Mas pakai bersama..."
"Tidak, kamar yang dulu pernah aku pakai bersama Sintia sudah menjadi gudang" potong Ravin membuat Els tersenyum senang.
"Aku akan meminta mbok Yati untuk memindahkan barang-barang mu" ucap Ravin menghentikan mobilnya di halaman.
"Terimakasih Mas" ucap Els. "Mas mau masuk dulu atau langsung ke kantor?"
"Aku langsung ke kantor" jawab Ravin, Els mengulurkan tangannya untuk bersalaman namun Ravin menarik tangan Els hingga tubuhnya mendekat pada Ravin.
"Mas... hmmmpppttttt" Ravin langsung mencium bibir Els dengan sedikit kasar, pria itu melu mat dan mengeksplor rongga mulut Els hingga nafas Els tersengal-sengal karena Ravin tidak memberi jeda.
"Emmmmppppp" Els memukul dada bidang Ravin sebab ia kehabisan oksigen.
"Maaf" ucap Ravin melepaskan bibirnya, dan mengusap sisa-sisa salivanya yang berada di permukaan bibir Els.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1