My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Kembali Pulang


__ADS_3

Widia menatap wajah Elea yang sedang menikmati semangkuk bakso di hadapannya dengan memangku sang putra. Ibu satu anak itu bisa melihat kegelisahan di wajah sahabatnya meskipun Els belum mengatakan apapun padanya. Apalagi melihat cara makan Els yang terkesan cepat dan lahap, sama seperti dulu saat Els baru datang ke Jakarta, tak lama setelah wanita itu bercerai dari Arya.


"Ada apa? kenapa melihatku seperti itu? Apakah aku terlihat aneh saat makan?" Els menyadari jika sejak tadi Widia memperhatikan nya.


"Tidak" jawab Widia singkat"


"Sluuupppp..... Ahhh..... Bakso buatan mu selalu enak" Els meminum kuah bakso itu hingga habis, langsung dari mangkuk nya.


"Apakah Raka masih tidur?" tanya Els.


"Tentu saja Raka masih tidur, memangnya mau apalagi bayi dua bulan ini?" Widia menciumi pipi bayi itu.


"Apakah sepanjang hari memang selalu tidur" Els mendekati Widia yang duduk di atas ranjang.


"Hemmm...."


"Dia sangat tampan dan menggemaskan, bahkan lebih tampan dari Bimo"


"Raka tetap tampan seperti Papa nya" ucap Widia tidak terima dengan perkataan Els.


"Ckckck....segitu cintanya kamu sama Bimo?"


"Tentu saja, memangnya kamu sendiri bagaimana? Kamu juga cinta kan sama pak Ravin?" tanya Widia, Els tersenyum.


"Ya, aku cinta sama mas Ravin. Tapi...."


"Tapi kenapa?"


"Ciara masih belum mau pulang ke rumah, dia masih tinggal bersama mbak Sintia" cerita Els.


"Jadi karena hal itu yang membuat mu gelisah?"


"Apakah sangat terlihat?"


"Tentu saja"


"Aku sangat merindukan anak itu Wid, tapi dia masih belum mau dekat denganku, dan dia masih menolak calon anakku" lirih Els matanya sudah berkaca-kaca.


"Sepertinya mantan istri Pak Ravin ingin kembali lagi"


"Aku tahu itu, tapi aku sudah memperingatkannya" kata Els.


"Tapi aku sangat lemah jika menyangkut Ciara, kamu tahu sendiri pernikahan ku dengan mas Ravin seperti apa? Aku lebih dulu jatuh cinta dan menyayangi anak itu sebelum akhirnya mencintai mas Ravin. Aku benar-benar mencintainya Wid, aku merindukannya, mungkin ini terdengar egois, tapi aku ingin selalu bersama Ciara" air mata Els sudah membasahi pipi mulusnya, ia memang hanya ibu tiri, namun kasih sayangnya pada anak tirinya tak perlu di ragukan lagi. Bukan maksud Els ingin menggantungkan kasih sayang ibu kandung Ciara, namun Els hanya ingin mencurahkan naluri keibuannya pada Ciara.


"Aku tahu kasih sayangmu tulus pada anak itu, percayalah, dalam hati kecilnya dia pasti merindukanmu. Tidak perduli seberapa keras wanita itu memberikan pengaruh buruk, cepat atau lambat, Ciara pasti akan kembali padamu" tutur Widia menenangkan Els.

__ADS_1


"Semoga saja" lirih Els mengusap airmata nya.


🍀🍀🍀


Pukul 16.30 Els berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, tadi saat di ruko Widia, Els mendapat sebuah pesan dari Sintia yang ingin makan bersama dengan Els juga Ciara. Wanita itu mengatakan jika ingin menjalin hubungan baik dengan Els agar bisa kompak bersama-sama mengasuh Ciara. Tanpa berpikir panjang, Els setuju dan langsung meluncur ke tempat yang Sintia janjikan setelah meminta izin pada Ravin. Suami Els itu mengatakan jika akan segera menyusul Els setelah pekerjaannya selesai.


"Els...disini" Sintia melambai-lambaikan tangannya pada Els.


"Maaf tadi sedikit macet" ucap Els matanya berbinar menatap lekat gadis mungil yang sangat di rindukannya.


"Hai Cia, apa kabar?" sapa Els mengusap kepala Ciara.


"Cia baik Bunda" ucap gadis kecil itu menatap balik Els.


"Ayo duduk, aku pesankan minuman untuk mu" ramah Sintia lalu meninggalkan kedua anaknya dan juga Els.


"Cia senang ya tinggal sama Mami?" tanya Els, Ciara yang di tanya seperti itu hanya diam saja. Pasalnya selama tinggal bersama Maminya, gadis kecil itu tidak merasakan apa-apa, bahkan tak jarang merindukan Bunda dan Ayahnya saat akan tidur malam.


Els menahan kekecewaannya saat upaya ramah tamah nya tidak mendapat respon apapun dari Ciara, gadis kecil itu hanya diam dan menundukkan kepalanya seolah tidak ingin melihat Els.


"Maaf, menunggu lama. Tapi aku memastikan jika pekerjanya benar-benar membuat jus dari buah segar untuk mu" Sintia memberikan mix berries jus pada Els yang terlihat menggiurkan dan menyegarkan.


"Terimakas....."


"Mami ada nyamuk"


Tiba-tiba saja Ciara berteriak dan memukul lengan Sintia sehingga gelas jus yang akan di berikan pada Els itu jatuh.


"Upssss.... sorry Mami" ucap Ciara membuat Sintia geram.


"Apa yang kau lakukan!!!!" bentak Sintia mengundang perhatian orang-orang yang ada di restoran itu.


"Mbak, Cia tidak sengaja" bela Els.


"Diam kamu!!!" Sintia menunjuk Els dengan jari telunjuk nya.


"Dasar anak tidak berguna!" maki Sintia mengangkat tangannya hendak memukul Ciara namun sebuah tangan kokoh berhasil menahannya.


"Siap..." Sintia begitu kesal saat tangannya di tahan seseorang.


"Mas Ravin " lirih Els.


"Jangan berani-berani mengasari putriku selama aku masih hidup" tegas Ravin menatap tajam Sintia, lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar dan mendekati Ciara.


"Sayang tidak apa-apa?" pria itu membelai lembut pipi putrinya.

__ADS_1


"Cia baik-baik saja ayah" ucap Ciara langsung memeluk tubuh ayahnya.


"Cia ingin pulang Ayah" bisik Ciara ketika di gendong Ravin.


"Tentu saja, ayo kita pulang" tanpa basa-basi Ravin membawa Ciara pergi dan juga menggandeng Els.


"Ravin, Ciara akan pulang ke rumahku" ucap Sintia menghentikan langkah Ravin.


"Ciara tidak akan pernah lagi tinggal bersamamu" ucap Ravin lalu melanjutkan langkahnya.


"Tidak bisa begitu, Ciara juga putriku Ravin....Ravin....!!!" teriak Sintia namun tidak di hiraukan oleh Ravin. Pria itu tetap berjalan dengan menggendong putri dan menggandeng istrinya.


🍀🍀🍀


Ravin menemani Ciara tidur di kamar gadis itu, kamar yang beberapa bulan lalu kosong, kini mulai di tempati lagi oleh pemiliknya. Sebenarnya Ravin bertanya-tanya apa yang terjadi pada Ciara saat di restoran tadi, sebab ia hanya melihat Sintia mengangkat tangannya dan hendak melayang tangan itu pada putrinya, Ravin juga belum bicara pada Els karena keduanya kini sama-sama terbaring di samping gadis kecil itu.


Tapi saat Ravin menggendong Ciara, tubuh putrinya itu bergetar hebat seolah sedang ketakutan. Bahkan Ciara diam saja ketika Ravin mengatakan akan membawanya pulang dan tidak akan lagi tinggal bersama Sintia, tidak ada penolakan atau protes dari mulut mungil Ciara. Padahal di pertemuan sebelumnya, gadis kecil itu menolak keras saat Ravin mengajak nya pulang, sangat berbeda dengan hari ini.


"Cia belum tidur?" tanya Els dengan lembut, wanita hamil itu mengusap-usap lembut kening Ciara.


"Bunda" lirih Ciara.


"Iya sayang"


"Bunda marah sama Ciara?"


"Marah? Kenapa bunda harus marah?"


"Karena Cia tinggal sama Mami, dan..."


"Dan?"


"Cia gak mau punya adik dari bunda" ucap gadis kecil itu dengan memejamkan matanya.


"Bunda tidak pernah marah sama Cia hanya karena Cia tinggal bersama Mami. Dan tentang adik, bunda yakin jika nanti adik sudah lahir, Cia pasti sayang sama adik, seperti Cia sayang sama adik Vania" tutur Els dengan lembut.


"Cia sayang sama Bunda" ucap Ciara memeluk Els dengan erat seolah mencurahkan rasa rindu yang teramat sangat.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


TBC 🌺


__ADS_2