
Begitu sampai di dalam Kafe, Ravin mengedarkan pandangannya hingga menemukan sosok yang sangat ia kenal. Sintia duduk bersama Ciara juga seorang bayi perempuan yang menurut Ravin bayi itu adalah anak kedua Sintia.
"Cia, sayang" panggil Ravin, namun gadis kecil itu hanya diam.
"Cia baik-baik saja sayang?" Ravin memeluk Ciara dan memeriksa seluruh tubuh putri kecilnya.
"Aku tidak mungkin mencelakai darah daging ku sendiri, Ravin" ucap Sintia. "Kamu jangan berlebihan, aku ini Mami nya, yang juga menyayangi Ciara" sambung Sintia, membuat Ravin menatap kesal.
"Aku tidak suka dengan cara yang seperti ini Sintia" ucap Ravin. "Jika kau ingin menemui Ciara, izin dulu padaku, ingat dirimu lah yang mengabaikan dan meninggalkan Ciara" tegas Ravin.
"Ya, aku salah, aku minta maaf. Aku hanya ingin mengenalkan Ciara dengan Vania, agar Ciara tahu jika ia sudah memiliki seorang adik" ucap Sintia, namun Ravin tidak perduli dengan itu.
"Ayo kita pulang sayang" Ravin langsung menggendong Ciara dan meninggalkan Sintia begitu saja.
"Jika aku tidak bisa membuatmu kembali padaku, maka biarkan putri kita yang akan mempersatukan mu kembali padaku" gumam Sintia menatap kepergian Ravin yang semakin menjauh.
"Cia tidak apa-apa kan?" tanya Ravin ketika sudah berada di dalam mobil, Ravin merasa ada yang berbeda dengan putrinya, tapi ia tak tahu apa.
"Cia baik-baik saja Ayah" jawab gadis kecil itu.
"Baiklah, sekarang kita pulang, Sudah sangat khawatir dengan Ciara" Ravin mulai mengemudikan mobilnya.
🍀🍀🍀
Els menunggu dengan gelisah di teras rumah, Wanita 30 tahun itu mondar mandir tidak tenang menanti kedatangan sang putri. Tak lama kemudian, terlihat mobil yang di kendarai Ravin masuk kedalam pekarangan rumah.
"Cia..." seru Els tersenyum melihat kedatangan Ciara.
"Bunda rindu sekali dengan Ciara" ucap Els memeluk erat Ciara, namun gadis kecil itu hanya diam tanpa membalas pelukan Els seperti biasanya.
"Cia capek" ucapnya singkat.
"Ayo kita ke kamar, ganti baju dulu ya" ajak Els menggandeng tangan Ciara.
"Cia sama Mbok Yati aja, Bunda kan sakit" Ciara melepaskan tangan Els dan langsung masuk kedalam rumah.
"Ada apa dengan Ciara?" lirih Els menatap sendu punggung mungil Ciara yang semakin menjauh.
"Mungkin Cia benar-benar lelah, dari tadi di mobil juga hanya diam saja" sahut Ravin merangkul pundak Els.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Ravin.
"Aku baik-baik saja Mas, hanya saja aku tidak semangat ngapa-ngapain, apalagi di dapur" terang Els.
"Tidak apa-apa, buatlah dirimu nyaman. Sudah ada mbok Yati di dapur" sahut Ravin, ia tidak pernah menuntut Els harus ini itu. Baginya Els kenyamanan Els itu lebih penting.
"Mas akan kembali ke kantor?"
"Ini sudah jam 11.45 nanti setelah makan siang saja kembali ke kantor" ucap Ravin.
__ADS_1
"Mau makan sekarang?" tawar Els.
"Boleh" Ravin dan Els langsung menuju ruang makan.
"Mbok masak apa?" tanya Els.
"Ada kikil cabe ijo, gulai ayam, tumis kangkung, dan tempe goreng Nyonya" jelas mbok Yati.
"Cia bagaimana?"
"Nona Ciara langsung tidur setelah selesai ganti baju" jawab mbok Yati, dan Els mengangguk mengerti.
"Mbok ada stok gambar tidak?" tanya Els.
"Ada dua biji, tali itu di beli seminggu yang lalu" jawab mbok Yati.
"Tapi masih bisa di makan kan?" tanya Els, mbok Yati hanya mengangguk.
"Tolong buatin bening cemplung-cemplung ya mbok, gambas sama jagung manis. Ada kan jagung nya?"
"Ada Nyonya"
"Tapi jangan pakai bawang-bawangan ya mbok, kasih daun sop, gula garam saja" ucap Els, membuat mbok Yati dan Ravin bingung.
"Sayang, apa enak sayur tanpa bawang-bawangan?" tanya Ravin penasaran.
"Mbok, minta pak Eko petik kelapa muda di belakang ya, nanti tolong buatkan es kelapa muda kasih jeruk limau" ucap Els.
"Iya Nyonya" mbok Yati pergi ke pondok belakang untuk menyampaikan perintah Els pada pak Eko sebelum mulai memasak sayur pesanan Els di dapur.
🍀🍀🍀
Els membuka kulkas dan mengambil sesuatu di dalam nya lalu menaruhnya kedalam mangkuk kaca yang ada di tangannya. Dan semua gerakan Els tidak kulit dari pandangan Ravin.
"Apa itu sayang?" tanya Ravin ketik Els kembali ke meja makan dengan membawa mangkuk berisi sesuatu berwarna merah.
"Ini manisan kolang-kaling, Mas mau?" tawar Els mendekatkan sendok berisi satu butir manisan kolang-kaling pada Ravin.
"Tidak, Mas sudah kenyang" tolak Ravin dengan senyuman manis di bibirnya.
"Ayolah mas, coba satu saja" bujuk Els.
"Mas benar-benar kenyang sayang" ucap Ravin.
"Mas gak sayang sama aku?" lirih Els menatap sendu Ravin.
"Ya sudah, aaa......" Ravin terpaksa membuka
mulutnya karena tak kuasa melihat wajah sedih Els.
__ADS_1
"Enakan?" tanya Els setelah berhasil menyuapi Ravin manisan itu, bahkan Ravin belum mengunyah nya.
"Iya, enak" sahut Ravin tersenyum tipis, jika saja dirinya tidak kenyang, mungkin akan terasa sangat enak, tapi Ravin makan manisan itu dalam keadaan kenyang, yang ada rasanya malah tidak karu-karuan.
"Sudah aku duga" Els tersenyum. "Ayo Mas makan lagi" Els kembali menyodorkan sendok berisi kolang-kaling.
"Sayang, Mas sudah kenyang. Kan Mas baru selesai makan" tolak Ravin lembut.
"Baiklah" Els kembali menikmati manisan kolang-kaling itu dengan menundukkan kepalanya. Ravin merasa lega karena Els tidak memasaknya, namun kelegaan Ravin hanya sebentar karena ia mendengan suara isakan dari bibir istrinya.
Hiks....hiks....hiks....
Els menangis dengan terus memakan manisan kolang-kaling yang ada di mangkuk.
"Sayang, kenapa menangis?" Ravin mendekatkan kursinya pada Els.
"Mas tidak sayang lagi padaku hiks...hiks.... Mas menolak ku" cicit Els membuat Ravin bingung.
"Menolak apanya sayang?" Ravin tak mengerti.
"Mas tidak mau aku suapi" ucap Els membuat Ravin menghela nafas berat.
"Ya sudah, suapi Mas, tapi hanya sampai yang di mangkuk habis ya" Ravin melihat masih ada sisa 5 butir kolang-kaling di mangkuk Els.
"Beneran?" Els tersenyum senang saat Ravin mengangguk pasrah. Tentu saja Els langsung menyuapi Ravin kolang-kaling itu hingga tandas, membuat Ravin suit bernafas.
"Nyonya, ini sayur bening nya dan es kelapa muda" ucap mbok Yati menaruh gelas dan mangkuk berisi sayur bening permintaan Els.
"Terimakasih Mbok " Els tersenyum ramah, lalu mulai mencicipi sayur bening yang menurutnya enak itu, namun hanya beberapa sendok.
"Mas cicipi sayur ini ya" pinta Els dengan puppy eyes nya.
"Sayang tapi Mas kenyang" selain kenyang Ravin juga belum pernah makan yang namanya gambas itu, tentu saja Ravin ragu bisa memakannya.
"Sedikit saja please....." bujuk Els tidak menyerah.
Akhirnya mau tak mau Ravin mengikuti kemauan Els mencicipi sayur bening yang menurutnya rasanya sangat aneh, apa lagi tekstur gambas yang sangat asing di lidahnya. Sangat tersiksa tapi Ravin juga tidak ingin membuat Els sedih karena menolaknya, Ravin memaksakan diri untuk menelan makanan hambar dan aneh itu, nanti bisa ia muntahkan di kamar mandi, begitu lama rencananya.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1