
Els mendesah kesal karena hari sudah berjalan setengahnya, namun dirinya masih berada didalam kamar hotel, bahkan untuk sarapan saja Ravin memesan melalui layanan kamar. Pria itu tidak mengizinkan Els meninggalkan ranjang kecuali ke kamar mandi, dan sekarang ini Ravin masih memeluk posesif tubuh Els yang mulai mengembang karena kehamilannya. Ravin masih setia mengelus-elus perut Els yang sudah mulai menonjol dan menciumi punggung polos Els.
Padahal keduanya sudah selesai bercinta sejak dua jam yang lalu, namun Ravin belum mau melepaskan sang istri. Ada perasaan tak rela jika Els lepas dari pelukan Ravin, padahal sejak dua hari yang lalu mereka berada di Bandung, Ravin selalu menempel pada Els, dan seharusnya hari ini melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Ciamis untuk meninjau kantor cabang di sana. Namun karena ini adalah hari minggu, jadi Ravin bisa sedikit bersantai dan bermanja pada sang istri.
Sedangkan Els sudah tidak sabar untuk menjelajah kota Jawa barat sekaligus kulineran tentunya, namun apalah daya jika Ravin yang memiliki pekerjaan malah masih asik mencumbui tubuh mulusnya.
"Mas, udah dong" rengek Els untuk kesekian kalinya, sungguh Els sudah tidak betah berada di dalam kamar.
"Sebentar lagi sayang, Mas masih kangen" sahut Ravin, semakin mengeratkan pelukannya dan sedikit meremas kedua perbukitan Els.
"Ckk, kita beberapa hari ini bersama Mas, dan barusan kita juga baru selesai bercinta dan kamu masih bilang kangen?" Els menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Ravin katakan.
"Mas serius sayang, Mas masih sangat rindu padamu"
Cup...cup....cup.....
Ravin menciumi tengkuk istrinya, membuat Els menggeliat geli.
"Mas, stop aku sangat lelah" tolak Els halus, jika tidak bisa-bisa Ravin akan mengulang kegiatan panas itu.
"Tidak bisakah kita keluar, bukankah Mas masih harus melakukan kunjungan ke cabang lainnya"
"Baiklah, ayo kita mandi bersama agar lebih cepat" ajak Ravin, namun Els ragu dengan kata lebih cepat yang baru saja keluar dari mulut Ravin.
"Tidak ada mandi bersama, Mas mandi duluan atau aku yang mandi duluan" Els memberikan pilihan, sebab mandi bersama bukanlah solusi yang baik, bisa-bisa Ravin kembali memakan Els di kamar mandi.
"Ayolah sayang" bujuk Ravin.
"No" tegas Els.
"kamu yakin?"
"Hem" Els menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang sekali" lirih Ravin beranjak dari ranjang dan ke kamar mandi dengan malas.
Els hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami yang bersikap seperti anak kecil, sudah melebihi Ciara saja.
"Bagaimana kabar anakku itu" gumam Els mengingat putri sambungnya yang kini bersama dengan Sintia, Els berharap saat dirinya kembali, Ciara sudah mau tinggal bersamanya lagi dan kembali seperti dahulu. Dimana gadis kecil itu sangat dekat dengan Els dan ceria.
🍀🍀🍀
Setelah selesai dengan segala drama yang dilakukan oleh Ravin, akhir kini Els bisa bernafas lega. Sebab mereka sudah berada dalam mobil melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Ciamis, wajah bahagia dan antusias Els tidak dapat disembunyikan, berbanding terbalik dengan wajah Ravin yang ditekuk kusut dan tidak bersemangat.
"Mas, tidak bisakah bergeser sedikit?" rengek Els sebab Ravin terlalu nempel padanya, bahkan tangan Ravin memeluk pinggang Els dengan posesifnya sejak keluar dari hotel.
"Sayang, Mas tidak mau jauh-jauh dari kamu" sahut Ravin tanpa mengubah posisinya.
"Astaga" kesal Els, jawaban Ravin sungguh membuat wanita hamil itu frustasi. Duduk berdampingan didalam mobil bagian mana jauh nya? Els merasa jika Ravin sangat berlebihan.
"Mas, aku kesulitan untuk bernafas" dengan cepat Ravin melepaskan pelukan di pinggang Els.
"Iya, aku tahu. lagian, Mas kenapa sih dari kemarin bersikap aneh?" tanya Els.
"Tidak tahu" Ravin menggeleng tak mengerti kenapa dirinya sangat berlebihan.
"Mungkin efek dari kehamilan Nyonya, makanya Tuan seperti itu" sahut pak Eko yang dari tadi mendengar pembicaraan Els dan Ravin.
"Memang bisa begitu Pak?" tanya Els tak paham, sebab ini pengalaman pertamanya, meskipun ini kehamilan keduanya.
"Iya Nyonya, dulu saat istri bapak hamil juga begitu. Maunya nempel terus, pisahnya hanya pas ke kamar mandi, itupun istri bapak menangis seperti di tinggal mati. Tapi lama kelamaan istri bapak malah kesal dan benci kalau lihat bapak, sampai-sampai bapak di usir dari rumah selama dua mingguan" pak Eko menceritakan pengalamannya saat mendampingi istrinya yang hamil masa itu.
"Masa sih Pak?" tanya Ravin tak percaya.
"Benar Tuan, dan itu hanya sebagian saja. Sebab masih banyak lagi drama kehamilan yang lainya" jawab pak Eko dengan fokus mengemudi.
Mobil yang di kemudikan pak Eko berhenti di sebuah rumah makan, karena sudah waktunya makan siang, meskipun baru satu jam perjalanan. Namun kali ini Els tidak memesan banyak makanan, sebab dua hari di Bandung sudah cukup puas menjelajah kuliner meskipun belum semua di icipi, Kali ini Els memesan makanan yang benar-benar ingin ia makan.
__ADS_1
"Mas sudah telepon mbak Sintia? bagaimana kabar Ciara?" tanya Els saat menunggu pesanan makanan nya datang.
"Mas tidak mau menghubungi Sintia, tapi tenang saja. Mas sudah menyuruh orang untuk memantau rumah Sintia dan mengabarkan pada Mas setiap jamnya" jawab Ravin, selain tidak mau terlalu intens menghubungi Sintia, Ravin juga sangat menjaga hati istrinya itu, yah meskipun Els tidak mengatakan apa-apa namun siapa yang tahu jika hati Els berkata lain? Ravin memang sangat peka dan selalu memikirkan perasaan Els.
"Aku rindu pada Ciara, sampai kapan kita di Jawa barat?" tanya Els.
"Mungkin semingguan lagi sayang, atau bisa lebih cepat, tapi bisa juga lebih lambat" jawab Ravin, sebab pria itu harus benar-benar meninjau kinerja cabang dengan baik. Di Bandung kemarin ada beberapa jabatan yang harus ia mutasi bahkan Ravin melakukan perombakan besar-besaran di cabang Bandung, itu sebabnya ia harus menghabiskan dua hari di Bandung, sebab Ravin juga harus melihat effort dan loyalitas karyawan untuk mengisi jabatan yang sudah kosong, dan itu bukan perkara yang mudah.
"Setelah dari Ciamis kita kemana?"
"Kita harus ke Cianjur, Cirebon, Garut, Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalengka Subang dan masih ada beberapa lagi" Ravin mengabsen beberapa Kabupaten yang ada di provinsi Jawa barat.
"Banyak sekali, yang mana dulu?" heran Els.
"Belum tahu sayang, karena Mas berencana mengacak, maksudnya tidak berurutan dari Kabupaten satu ke Kabupaten dua. Sebab mas tidak ingin mereka mempersiapkan terlalu rapih" jawab Ravin.
"Bukan ya jika kunjungan kerja semua harus di persiapkan dengan baik? kalau dadakan kan sama aja kayak sidak Mas" ucap Els.
"Ya, memang Mas mau sidak tapi bahasa halus ya kunjungan kerja" sahut Ravin tersenyum tipis.
"Kamu mengerikan Mas" Els merinding melihat senyum tipis di bibir Ravin, tentu saja itu senyum dengan makna yang penuh arti.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1