
Emir mengemudikan pickup nya menuju kota bersama dengan pak Rusli. Pria itu hendak mengantar pak Rusli untuk melakukan MCU di salah satu rumah sakit terbesar di kota itu, Emir ingin memastikan jika dalam tubuh pria paruh baya itu sehat dan tidak ada penyakit apapun. Emir masih sangat trauma dengan apa yang terjadi pada almarhumah Mak Lastri yang tiba-tiba saja memiliki penyakit serius yang mengakibatkan Mak Lastri kehilangan nyawanya.
Karena sekarang kehidupan Emir lebih baik, dan semua itu tentu berkat kemurahan hati sang kakak ipar yaitu Ravin, Emir ingin menjaga satu-satunya orang tua yang Emir miliki sebaik mungkin. Meskipun awalnya pak Rusli menolak untuk di ajak ke rumah sakit, namun setelah bujuk rayu Emir, pria paruh baya itu luluh. Apalagi setelah mendengar kabar kehamilan Els yang berarti akan memiliki cucu pertama, membuat pak Rusli semakin semangat untuk memeriksakan diri dan menjaga kesehatan agar bisa bermain dengan cucu-cucunya juga menyaksikan pernikahan Emir, putra bungsu nya.
"Kapan mbak mu akan kesini Mir?" tanya pak Rusli, manatap padatnya kendaraan didepan pickup yang di kemudikan Emir.
"Belum tahu Pak, sekarang mbak Els sedang di Bandung, ikut Mas Ravin dinas" jawab Emir seadanya.
"Bapak kangen sama Els" lirihnya merindukan putri sulungnya.
"Ya di telpon saja Pak, kayak biasanya" saran Emir dengan tetap fokus mengemudi.
"Kalau denger suaranya, membuat bapak semakin kangen saja. Rasanya bapak pingin peluk mbak mu itu dan minta maaf banyak-banyak atas perlakuan bapak dimasa lalu" jauh didalam lubuk hati pak Rusli merasa sangat bersalah pada Els, dan hal itu menyesakkan dadanya saat tiba-tiba terngiang-ngiang jerit tangis Els kecil memohon ampun.
"Semua sudah berlalu Pak. Bapak dan mbak Els sudah bicara dari hati ke hati dan saling memaafkan, jika masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Bapak, lebih baik bapak doakan kehidupan mbak Els sekarang agar di limpahi kasih sayang dan kebahagiaan. Lagi pula, Emir yakin jika mbak Els tidak suka melihat bapak seperti ini" ucap Emir panjangnya lebar. Mungkin Emir tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi pada Els saat itu, namun setelah dewasa, Emir mengerti apa yang terjadi pada mbak nya saat itu adalah sebuah tindak kekerasan yang pasti akan sangat sulit untuk melupakannya. Sebab kekerasan itu terjadi dan dilakukan oleh orang terdekatnya yang seharusnya memberikan cinta kasih dan melindungi dari rasa takut, bukannya malah menyakiti dengan membabi buta.
"Mbak mu itu terlalu baik untuk menjadi anak Bapak" ucap Pak Rusli.
"Itu berarti Bapak dan Mamak adalah orang tua yang berhasil. Karena sudah membesarkan anak sebaik mbak Els" sahut Emir tersenyum mengingat sifat baik mbak semata wayangnya itu.
"Kamu itu kok malah ngejek Bapak" dengus Pak Rusli.
"Emir gak ngejek Pak, tapi Emir bicara fakta. Dan benar kalau mbak ku itu wanita yang sangat baik" setuju Emir dengan perkataan pak Rusli jika satu-satunya saudari Emir itu adalah wanita yang baik.
"Semoga di pernikahan keduanya ini, anakku selalu diberikan kebahagian dan curahan kasih sayang dari suaminya"
"Aamiin..." sahut Emir, lalu dua pria beda usia itu tertawa.
"Kamu belum ada rencana menikah Mir?" tanya pak Rusli.
"Lahhh kenapa sekarang jadi bahas Emir?" Emir tak suka dengan pertanyaan Bapak nya.
__ADS_1
"Bapak kan cuma tanya, memang gak boleh?" ucapnya tanda rasa bersalah.
"Tentu saja tidak boleh pak, karena pertanyaan itu akan membuat Emir merasa semakin nelangsa, sebab Emir gak punya gandengan" jujur Emir.
"lah wong kamu gak cari gandengan, gimana mau punya gandengan" cibir pak Rusli.
"Belum nemu yang pas Pak, nanti kalau sudah nemu yang klik di hati Emir, Emir pasti langsung melamarnya" seloroh Emir.
"Kamu itu, bapak tanya serius malah kamu bercandain" kesal pak Rusli hanya di balas senyuman oleh Emir.
🍀🍀🍀
Sesampainya di rumah sakit tujuan, pak Rusli langsung di tangani oleh suster yang akan mendampingi beliau melakukan pemeriksaan kesehatan. Semua berjalan lancar karena sebelumnya Emir sudah melakukan pendaftaran secara online, bahkan pak Rusli sudah puasa sejak dari rumah, hal itu semakin mempercepat serangkaian proses tes kesehatan.
Hasil MCU akan keluar 1×24 jam dan itu artinya Emir dan pak Rusli akan menginap semalam di kota itu. Setelah beberapa jam berlalu, pemeriksaan yang di jalani oleh pak Rusli akhirnya berakhir. Emir memang sengaja memilih MCU menyeluruh, untuk memastikan kesehatan pria paruh baya itu benar-benar terpantau jika ada suatu penyakit atau apapun yang memicu menurun kesehatan pak Rusli, jadi pemeriksaan yang di jalani pak Rusli cukup lama.
"Bapak mau makan dulu atau langsung istirahat di hotel?" sebab tadi di rumah sakit, pak Rusli sempat di beri makan karena harus memeriksa kadar gula setelah puasa, meskipun makanan itu tidak begitu cocok di lidah pak Rusli, namun beliau tetap memakannya.
"Yo wes kalau begitu" Emir mengemudikan pickup nya ke hotel tempat nya menginap.
Sesampainya di hotel, Emir langsung melakukan check in dan langsung mengantar pak Rusli ke kamar. Sebenarnya Emir ingin booking dua kamar, namun pak Rusli melarangnya, lagi pula kamar hotel itu cukup luas dan sangat teramat bisa untuk tidur dua orang, akan sangat sayang jika harus kembali mengeluarkan uang untuk booking satu kamar lagi.
"Bapak istirahat saja, kalau mau mandi dulu, di tas ini baju gantinya. Emir mau lihat-lihat keluar, kalau bapak butuh sesuatu bisa telpon Emir" jelas pria itu.
"Lah kama mau kemana? memangnya Ndak capek?" heran pak Rusli melihat Emir hendak keluar jalan-jalan.
"Emir ini masih muda Pak, masa iya gini aja capek?" sahut Emir menyombongkan diri.
"Ya sudah, bisa Emir keluar dulu Pak" pamitnya dan pak Rusli hanya menatapnya kesal.
Sesampainya di lobby hotel, Emir memilih pergi ke kafe terdekat, jika tiba-tiba Bapak nya menelepon maka Emir bisa langsung datang ke hotel.
__ADS_1
"Bang Emir" seru seorang gadis menghampiri Emir yang baru saja duduk di Kafe.
"Siapa ya?" tanya Emir, karena merasa asing dengan wajah gadis itu.
"Ish...masa lupa sih? aku Lisa, adiknya Mas Arya" ucap gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Oh, maaf aku benar-benar tidak ingat" ucap Emir tanpa rasa sesal.
"Iya gak apa-apa, lagian terakhir kita bertemu kan waktu aku masih SMP" Lisa bisa mengerti jika Emir tidak ingat padanya, sedangkan Emir hanya mengangguk.
"Bagaimana kabar mbak Els?" tanya Lisa basa basi.
"Mbak Els di Jakarta, dia ikut suaminya" jujur Emir.
"Jadi mbak Els sudah menikah lagi?" kaget Lisa, ia kira jika mantan Kakak iparnya itu belum menikah lagi.
"Hem" jawab Emir.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Emir pada Lisa, pria dewasa itu bersikap biasa saja pada Lisa, tidak membenci Lisa atas apa yang terjadi pada Els, intinya bersikap normal, lagi pula hubungan Els dengan keluarga Lisa juga sudah berakhir, dan sekarang Els sudah bahagia bersama suami barunya. Jadi tidak ada alasan bagi Emir untuk tidak bersikap baik pada Lisa, ataupun pada Arya jika bertemu di jalan.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1