
Disebuah ruangan, dua orang anak tengah menyusun puzzle sambil bercerita. Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat.
"Jadi sekarang kamu tinggal bersama ayah bundamu?" tanya seorang anak laki-laki.
"Iya, bunda lebih baik dari pada Mami" sahut gadis kecil di depannya.
"Memang kenapa Mami kamu?"
"Mami jahat, mami mau buat bunda kesakitan" ucapnya dengan polos.
"Benarkah? Kita tidak boleh menyakiti orang bukan? Miss Nina bilang begitu" ucapnya, dan gadis kecil itu hanya mengangguk.
"Ai, bagaimana rasanya punya adik?" kini gadis kecil yang tak lain adalah Ciara menatap serius pada temannya.
"Senang, bahagia, dan menggemaskan. Apalagi adikku sangat lucu dan manis" ucap Ai mengingat wajah chubby adiknya.
"Apa Mommy kamu lebih sayang sama adikmu dari pada sama kamu?"
"Tentu saja tidak, Mommy menyayangi kami dengan sama rata. Tapi kalau siang Mommy lebih sering bersama adikku, tapi tidak apa-apa karena aku sudah besar dan aku seorang Kakak, jadi aku harus sedikit mengalah, dan itu bukan masalah" ucap ya dengan sombong seperti laki-laki dewasa.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak sudah punya adik?"
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin bunda tetap sayang padaku"
"Hai kenapa bicara begitu? Bunda mu pasti akan tetap menyayangimu meskipun kamu nanti punya adik"
"Kenapa? Tidak percaya?" ucap Ai melihat Ciara mencebikkan bibirnya lalu berlari keluar kelas dan menuju ayunan.
"Menggemaskan" ucap bocah laki-laki itu yang memiliki sifat sama seperti Daddy nya.
🍀🍀🍀
Sebuah kabar menggemparkan terjadi di kantor Ravin, dimana kabar itu tentang GH atau Group Head of Business yang tak lain adalah Ravindra Pradipta di gantikan oleh orang lain. Tanpa mereka semua tahu jika memang Ravin mengajukan resign sejak beberapa bulan terakhir namun baru di setujui oleh direktur Bank bulan ini sambil menunggu penggantinya.
__ADS_1
Kabar tentang resign nya tentu saja terdengar oleh telinga Bimo, teman sekaligus bawahnya itu sangat terkejut jika ucapan Ravin beberapa hari yang lalu kini jadi kenyataan. Namun Bimo tidak bisa berbuat apa-apa, karena keputusan itu Ravin pilih dengan berbagai pertimbangan dan tentunya seorang Ravin tidak mungkin mengambil sebuah keputusan tanpa memiliki rencana matang.
Ravin mengemasi barang-barang miliknya yang berada di dalam ruang kerjanya, hanya beberapa barang dan yang pasti ada potret keluarga kecilnya di meja kerja Ravin.
"Sekarang aku benar-benar bisa menghabiskan banyak waktu dengan kalian" ucap Ravin mengambil bingkai foto yang di potret saat pernikahannya dengan Els.
Bukan tanpa alasan Ravin resign, selain ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak istrinya, bisnis Ravin juga mengalami kemajuan pesat hingga membutuhkan penanganan lebih dari Ravin. Pak Burhan sebagai direktur Bank sebenarnya sangat menyayangkan harus kehilangan karyawan yang loyalitas dan effort nya besar seperti Ravin, tapi pak Burhan juga tidak bisa menahan Ravin untuk tetap bekerja di bawah kepemimpinannya.
Setelah selesai mengemasi barang-barang nya, Ravin keluar dari ruangannya, ia tadi sudah berpamitan dengan pak Burhan, dan mungkin saat berjalan keluar nanti juga akan berpamitan dengan rekan-rekan serta bawahnya.
"Ternyata Bapak benar-benar resign" ucap Bimo mendatangi Ravin yang tengah berpamitan dengan anggota RMF dan Branch Manager.
"Kita tetap bisa bertemu dan berteman di luar kantor" ucap Ravin, ia tahu jika Bimo merasa kehilangan seorang teman.
"Terimakasih telah menjadi atasan yang baik Pak" kata Bimo.
"Aku baik karena kinerjamu sangat memuaskan, jika tidak, aku pasti akan memutasi mu ke cabang lainnya" ujar Ravin dengan senyum ramah.
Sebenarnya yang paling nelangsa adalah para karyawan wanita, ya meski merasa semua tahu jika Ravin sudah memiliki anak istri, namun tetap saja mereka menjadikan Ravin sebagai penyemangat kerjanya. Sikap Ravin yang ramah, humble dan easy going membuat para wanita itu merasa nyaman dan bahagia jika melihat atau berpapasan dengan Ravindra Pradipta. Tapi hari ini penyemangat mereka telah pergi dan tidak akan ada lagi senyum ramah, sapaan hangat dari Ravin.
🍀🍀🍀
"Mas" kata Els berlari kecil menyongsong tubuh kekar Ravin.
"Kenapa berlari hem?" tanya Ravin lembut memeluk tubuh Els yang mulai mengembang.
"Aku senang melihatmu pulang, Mas akan kembali ke kantor lagi?" tanya Els dalam dekapan Ravin.
"Tidak sayang, ayo kita masuk" ajak Ravin membimbing Ela masuk kerumah.
"Tumben sekali mas pulang jam segini, apakah ada berkas yang tertinggal?" tanya Els menatap netra hitam Ravin.
"Tidak ada, Mas sekarang sudah tidak bekerja" ucap Ravin, ia memang tidak memberi tahu Els sebelumnya jika akan resign dari kantor, tak ayal ucapannya itu membuat Els terkejut.
__ADS_1
"Mas di pecat? Mas salah apa? Mas tidak melakukan korupsi kan? Atau jangan-jangan Mas korupsi untuk membuatkan toko grosir Emir?" tuduh Els macam-macam, pikiran wanita hamil itu kini di dominasi oleh hal-hal negatif.
"Mas kenapa sih harus korupsi? Cia itu masih kecil, aku juga sedang hamil, bagaimana jika nanti pak Burhan melaporkan Mas pada polisi? Lalu bagaimana nasib kami?"
"Aku tidak masalah hidup susah, tapi aku tidak ingin berpisah sama Mas, lalu apa yang harus aku katakan pada anak-anak jika mereka bertanya tentang ayahnya?" ucapan Els membuat Ravin ternganga tidak percaya, bagaimana bisa Els berpikir sejauh itu? Korupsi? Bahkan uang gaji dan keuntungan dari bisnis nya sangat berlimpah, lalu untuk apa Ravin korupsi?.
"Mas aku tidak mau kehilangan kamu" Els menangis dan memeluk erat Ravin.
"Apakah kamu sangat mencintai ku?" tanya Ravin.
"Tentu saja, aku mencintaimu. Meskipun Mas bukan cinta pertama ku, tapi Mas adalah cinta terakhirku dan pemilik seluruh hati juga segenap jiwa raga ku ini" Ravin tersenyum mendengar pengakuan Els, dalam kondisi menangis begini, istrinya itu masih sempat-sempatnya berbicara puitis.
"Terimakasih sayang, Mas juga mencintaimu. Mas tidak akan pernah meninggalkan mu karena Mas juga tidak ingin berpisah denganmu. Bahkan Mas tidak bisa tidur tanpamu" pria itu sedikit menggoda Els.
"Mas aku serius" Els tidak suka mendengar kata-kataku terakhir dari kalimat Ravin, wanita itu merasa jika Ravin berlebihan, padahal jika di ingat, kata-kata puitis Els yang lebih berlebihan.
"Mas juga serius sayang, Mas tidak sedang bercanda apalagi berbohong" Ravin meyakinkan istrinya.
"Tapi kata-kata Mas itu membuatku tidak percaya"
"Kamu tidak harus percaya, tapi kamu bisa membuktikan dan merasakannya sendiri nanti"
"Mas sedang tidak melakukan kesalahan? Atau Mas.....emmmmppphhh" Ravin tidak tahan mendengar tuduhan-tuduhan Els terhadapnya, pria itu langsung membungkam mulut Els dengan sebuah ciuman hangat. Els yang tadinya terkejut kini terbuai dengan sentuhan kenyal nan hangat bibir Ravin, pertukaran saliva itu terjadi cukup lama hingga akhirnya Els memukul dada bidang Ravin karena merasa kehabisan oksigen.
"I want you" bisik Ravin sesaat melepas ciuman itu, membuat wajah Els merona. Tanpa mendengar persetujuan dari Els, Ravin langsung menggendong tubuh Els ala bridal style menuju kamar mereka.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
TBC 🌺