
Els telah kembali ke rumah pukul 13.40, hatinya was was jika Ciara sudah bangun dari tidurnya,.sebab tadi Els meninggalkan Ciara setelah gadis kecil itu tidur siang. Ya Els menemui Sintia pada siang hari agar tidak perlu merangkai kebohongan pada Ravin, tentu saja Els tidak akan mengatakan jika dirinya telah menganiaya mantan istri dari suaminya, semua Els lakukan karena Sintia yang memiliki niat buruk padanya.
Wanita hamil itu bergegas masuk setelah turun dari taksi, ia tak ingin jika Ciara bangun nama dirinya tidak ada. Sebenci apapun dan semarah-marahnya Els pada Sintia, namun semua itu tidak mengurangi rasa cinta dan kasih sayang Els pada Ciara. Seperti yang Els katakan pada Sintia, jika Ciara adalah putrinya sampai kapanpun.
"Apakah Cia sudah bangun?" tanya Els pada mbok Yati yang kebetulan turun dari lantai atas.
"Belum Nyonya" jawab mbok Yati.
"Baiklah, terimakasih" ucap Els lega, namun ia tetap menuju kamar putrinya.
Klekkk...
Els membuka kamar itu, dan seperti yang di katakan oleh mbok Yati jika Ciara memang belum bangun, gadis kecil itu masih tertidur pulas dengan memeluk boneka anjing berwarna putih dengan syal merah di lehernya. Lisa nama boneka itu, boneka kesayangan Ciara karena ia juga suka menonton kartun dari negara menara Eiffel itu.
Cup...
Els mengecup kening Ciara dengan lembut, matanya menatap dalam-dalam pada wajah polos yang kini sedang berada di alam mimpi. Els tidak bisa membayangkan apa jadinya jika Ciara berada di bawah pengasuhan Sintia.
"Bunda mencintaimu sayang" lirih Els merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil Ciara. Els beruntung karena Ciara mau kembali kerumah, namun ia juga penasaran dengan apa yang di rasakan oleh gadis berusia tiga tahun itu, Els belum bicara dari hati ke hati dengan Ciara. Tapi setidaknya Els bisa bernafas lega karena kini Ciara berada dalam jangkauan matanya.
...
Setelah selesai jam kantor, Ravin tidak langsung pulang. Pria itu berniat menemui mantan istrinya dan membuat perhitungan karena wanita itu memiliki niat jahat pada istri dan calon anaknya. Jangan kira jika Ravin hanya diam saja, tentu saja tidak mungkin Ravin berdiam diri tanpa melakukan apa-apa pada Sintia, hanya saja sang istri satu langkah lebih cepat di bandingkan dirinya,.
"Hahhh....jika saja tadi Pak Burhan tidak mengadakan meeting dadakan" keluh Ravin, pak Burhan adalah atasannya, beliau adalah direktur Bank tempat dimana Ravin bekerja.
Ravin mengemudikan mobilnya menuju rumah Sintia, ah ralat karena itu bukan rumah Sintia tapi rumah Tari, sahabat dari Sintia. Sesampainya di halaman rumah itu, Ravin turun dari mobil, namun keadaan rumah tampak sangat sepi. Ravin memang tidak pernah datang ke rumah itu malam-malam seperti ini, tapi menurut Ravin, harusnya suasana rumah tidaklah sesepi dan sesunyi ini.
Tok...tok...tok...
Tidak mau memikirkan hal yang tidak penting baginya, Ravin langsung mengetuk pintu. Persetan jika rumah itu sepi sunyi tidak berpenghuni, baginya menemui Sintia yang lebih penting.
Tok...tok...tok...
Ravin kembali mengetuk pintu karena tidak ada sahutan apapun dari dalam.
"Tidak mungkin jika Sintia sudah tidur, bahkan ini baru jam 18.25" gumam Ravin.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Sintia buka pintunya, kita harus bicara" seru Ravin sambil mengetuk pintu.
Tok...tok...tok...
"Sintia!!!!" teriak Ravin yang kesabaran nya semakin menipis.
"Sial! Kemana perginya wanita itu?" ucap Ravin karena tidak mendapat respon apapun. Pria itu kembali ke mobilnya, namun saat ia membuka pintu mobil, sebuah mobil memasuki halaman rumah itu.
"Ravin" gumam seorang wanita yang berada di dalam mobil itu, lalu ia keluar dari dalam mobil dan menghampiri Ravin.
"Ravin" panggil wanita itu mendekati Ravin.
"Siapa ya?" tanya Ravin bingung, wajar saja jika ia tidak mengingat Tari, sebab Ravin memang tidak terlalu mengenal sahabat-sahabat istrinya, termasuk Tari.
"Aku Tari, sahabat Sintia. Ada perlu apa kamu datang kemari?"
"Aku kesini karena ingin bertemu dengan Sintia, dimana wanita itu?"
"Sintia pergi? Kemana?"
"Aku tidak tahu, Sintia tidak mengatakan apapun padaku, dia juga tidak memberitahu ku akan pergi kemana, dia hanya mengatakan jika nanti akan menghubungi ku" jelas Tari.
"Sial" umpat Ravin mengepalkan kedua tangannya, pria itu sungguh kesal karena Sintia melarikan diri sebelum ia memberi pelajaran pada wanita itu.
"Eh...kau mau pergi?" cegah Tadi saat Ravin membalikkan tubuhnya menuju mobil.
"Tentu saja, untuk apa aku disini jika wanita jahat itu tidak ada" ketus Ravin.
"Wanita jahat? Apa maksud mu Ravin? Sintia adalah mantan istrimu dan ibu dari anakmu jika kau lupa" Tari tidak terima dengan perkataan Ravin.
"Tentu saja aku tidak lupa, satu-satunya hal yang tidak aku sesali adalah hadirnya putriku, selebihnya aku sangat menyesal karena pernah mencintai wanita jahat seperti sahabat mu itu"
"Apa kau tahu jika istri mu yang sekarang adalah wanita kejam dan mengerikan???" seru Tari menghentikan langkah Ravin.
"Apa maksud mu?"
__ADS_1
"Istrimu adalah wanita kejam dan mengerikan, kau harus hati-hati meninggalkan anakmu padanya"
"Tutup mulutmu dan hentikan omong kosong itu!!! Jangan berani-berani nya memfitnah istriku, karena aku tidak akan percaya dengan hal itu" ucap Ravin langsung masuk kedalam mobile dan meninggalkan rumah Tari.
"Kau pasti akan menyesal jika tahu kebenaran tentang istri mu" gumam Tari melihat mobil Ravin yang semakin menjauh.
🍀🍀🍀
Ravin menyeret kakinya dengan lemas karena tidak berhasil menemui Sintia, hah...jika saja tadi pagi ia langsung menemui Sintia, pasti tidak akan ada rasa sesal dalam hatinya. Kini Ravin merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa membalas apa yang dilakukan Sintia, jika saja kemarin tidak ada Ciara di restoran, ia tidak akan sanggup menatap mata Els hari ini.
"Aku harus menemukan wanita itu, sekalipun di ujung dunia" ucap Ravin mamasuki rumahnya. Samar-samar terdengar gelak tawa dari lantai atas saat dirinya mulai meniti anak tangga. Suara yang sangat Ravin rindukan, suara yang membuat hati nya tenang dan lelahnya menghilang.
Hati Ravin menghangat ketika melihat Els dan Ciara tertawa hanya karena menonton kartun di televisi, antah apa yang lucu hingga keduanya sama-sama tergelak seperti itu, Ravin pun tidak paham dengan kartun berbentuk pisang Dangan baju garis-garis biru putih.
"Seru sekali sampai ayah pulang tidak ada yang menyambut" ucap Ravin mendekati kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Mas, Ayah" ucap Els dan Ciara bersamaan, kedua wanita beda usia itu tersenyum namun tidak beranjak dari duduknya.
"Tidak ada yang mau peluk ayah?" Ravin merentangkan kedua tangannya.
"Ayah baru pulang, harus mandi dulu kalau mau peluk kami, iya kan Bunda?" celoteh dari bibir mungil itu kembali memenuhi rumah.
"Tentu sayang" Els membenarkan perkataan Ciara, dan memeluk hangat gadis kecil itu.
"Aku senang melihat kebahagiaan ini, tapi aku tidak senang di abaikan seperti ini, sungguh" gumam Ravin dengan berat hati harus berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
TBC 🌺
__ADS_1