My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Penolakan Ravin


__ADS_3

Els dan Ravin menjalani kehidupan rumah tangganya dengan baik, apa lagi setelah kedua benar-benar menjalani kehidupan suami istri yang sesungguhnya hal itu semakin mempererat hubungan rumah tangga mereka.


Berbeda dengan Sintia yang semakin gencar mendekati Ravin, wanita itu dengan tidak tahu malunya terang-terangan ingin kembali menjalin hubungan rumah tangga dengan Ravin. Sintia menjatuhkan gengsinya yang setinggi langit itu agar bisa hidup kembali bersama dengan sang mantan suami.


"Ravin, aku yakin jika kamu masih mencintai ku. Aku bersedia kembali padamu dan merawat putri kita" ucap Sintia, sudah beberapa kali ia mendatangi Bank tempat Ravin bekerja hingga membuat suami Els itu jengah dan terpaksa menemui ibu dari anaknya.


"Kau serius?" Ravin tidak habis pikir jika niat Sintia menemuinya hanya karena ingin kembali padanya, bukanya menanyakan kabar putrinya atau meminta izin bertemu dengan Ciara.


"Tentu saja aku serius, aku tahu jika Els itu hanya wanita kampung yang bekerja menjadi pengasuh Ciara. Tidak mungkin kamu mencintai nya" Sintia sudah mencari tahu latar belakang Els.


"Aku memang mencintai mu" ucap Ravin membuat Sintia tersenyum senang.


"Tapi itu dulu, sebelum kau mengkhianati ku. Jika sekarang aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, aku masih mengingat mu karena kau adalah ibu dari Ciara, tidak lebih" jelas Ravin.


"Dan tentang Els, aku tidak menyangka jika kau sangat tertarik ingin mengetahui siapa istriku" Ravin tersebut miring.


"Tidak perlu repot-repot mencari tahu tentang masa lalu istriku juga kehidupan kami. Aku sudah membebaskan mu seperti yang kau mau, maka jalani lah kehidupan yang kau pilih" tegas Ravin.


"Ravin, aku sungguh menyesal dan ingin kembali padamu. Bahkan aku rela menjadi istri kedua mu" Ravin tercengang mendengar penuturan Sintia.


"Apa kau sudah gila?" rahang Ravin mengeras, bisa-bisanya Sintia bicara seperti itu padanya.


"Ya aku sudah gila, aku gila karena ingin kembali padamu, tolong terima aku" bukan lagi memohon, Sintia mengemis untuk bisa kembali pada Ravin.


"Itu tidak akan pernah terjadi, sekalipun aku belum menikah lagi, aku tidak mungkin menerimamu kembali" tegas Ravin.


"Kau jangan egois Ravin, apakah kau tidak memiliki Ciara? dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang tulus dan hanya aku yang bisa memberikannya" Sintia masih berusaha.


"Kau bercanda Sintia?" Ravin tersebut remeh dan menggelengkan kepalanya.


"Bukankah kau tidak pernah perduli dengan Ciara? jika kau benar-benar menyayangi nya, kau tidak akan meninggalkan nya dan pergi menyenangkan dirimu sendiri sehingga bertemu dengan pria itu" ucap Ravin.


"Aku masih ingat bahkan kau tidak mau menyusui bayi yang baru kau lahirkan, jadi jangan bicara omong kosong di hadapan ku" Ravin bangkit dari duduknya.


"Ravin please" Sintia mencekal tangan Ravin, namun segera Ravin menepis dengan kasar.


"Aku tidak akan pernah kembali padamu sekalipun kau menangis darah" ucap Ravin lalu berjalan keluar dari kafe tempa dirinya menemui Sintia.


"Ahhhgggg....." teriak Sintia kesal karena gagal membujuk Ravin.


🍀🍀🍀


Els sedang menemani Ciara mewarnai, gadis kecil itu tampak sangat lihai memegang pensil warna dan menorehkannya pada kertas putih yang sudah memiliki pola.


"Cia mau buat gaun yang cantik Bunda" ucap gadis kecil itu.


"Buat gaun?" tanya Els di angguki Ciara


"Kapan?"


"Nanti kalau Cia sudah besar" gadis itu dengan lincah mewarnai gambar seorang princess dengan gaun indahnya.

__ADS_1


"Jadi cita-cita Cia ingin menjadi seorang desainer?"


"Apa itu cita-cita Bunda?" tanyanya menghentikan kegiatannya.


"Cita-cita itu adalah sesuatu yang paling kita inginkan, dan kita akan bekerja keras untuk mendapatkan nya" ucap Els membelai rambut Ciara.


"Lalu apa cita-cita Bunda? apakah menjadi Bunda Cia itu juga cita-cita Bunda?" tanya Ciara dengan polosnya.


"Tentu saja, memiliki anak cantik dan manis seperti Cia adalah impian semua Bunda"


Cup...


Els mengecup pipi chubby Ciara dan gadis kecil itu tersenyum.


"Jadi Bunda gak akan tinggalin Cia kan?" tanyanya membuat Els mengerutkan keningnya.


"Kenapa Cia tanya begitu?"


"Vina punya Mama baru karena maminya pergi, kata teman-teman Mama baru Vina itu mama tiri yang sangat jahat kayak Mama nya Cinderella, Cia gak mau punya Mama tiri, Cia maunya Bunda aja" ucap Ciara membuat hati Els tercubit, karena dirinya adalah ibu tiri.


"Sayang, dengerin Bunda" Els menangkup kedua pipi chubby Ciara.


"Tidak perduli apapun yang di katakan oleh orang lain, Bunda adalah Bundanya Ciara dan Bunda sangat sayang sama Ciara. Dan Cia harus ingat, tidak semua ibu tiri itu jahat, karena ada juga ibu tiri yang baik dan sangat menyayangi anaknya, seperti Bunda sayang sama Ciara" jelas Els menatap lembut putri sambung nya.


"Tapi kenapa Mama nya Vina pergi?"


"Sayang, bunda tidak tahu itu. Tapi semua yang terjadi pasti ada alasannya, dan apa itu alasannya, hanya dia dan Tuhan yang tahu" Els memangku tubuh mungil Ciara, dan sepasang mata terus melihat keduanya dengan senyum tersebut di bibirnya.


🍀🍀🍀


Klek....


Els terkejut begitu keluar dari kamar mandi melihat Ravin yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Mas udah selesai kerjanya?" Els duduk di depan meja rias dan menyisir rambut pendeknya.


"Hem, kemari lah" Ravin merentangkan tangannya dan langsing memeluk Els saat istrinya mendekat.


"Kenapa sih?" heran Els.


"Mas rindu" jawab Ravin memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Els.


"Rindu? apakah sekarang kamu jadi penjual kain, Mas?"


"Dari mana kau tahu" Ravin membuka matanya dan mendudukkan Els di pangkuannya.


"Baru saja kau menggombal" cibir Els.


"Sayang aku tidak sedang menggombal atau berbual" kilah Ravin mengecup bibir Els.


"Kamu cantik sekali Els" Ravin membelai lembut pipi Els.

__ADS_1


"Katakan padaku, apa yang Mas inginkan?"


"Apa?"


"Tadi Mas bilang rindu, dan sekarang memujiku. Apakah Mas melakukan kesalahan?" entah mengapa dua wanita yang ada dalam hidup Ravin sangat suka menuduh dirinya.


"Sayang, aku hanya ingin bermesraan dengan mu, apa itu salah? kenapa malah menuduhku yang tidak-tidak?"


"Benarkah?" Els menatap intens Ravin.


"Tentu saja, jika boleh, Mas juga ingin bercinta denganmu" Ravin tersenyum penuh arti dan meremas salah satu bukit kembar Els.


"Aku tidak percaya, katakan yang sebenarnya?" tuntut Els, membuat Ravin mendesah pasrah.


"Hufff...aku tadi bertemu dengan Sintia" jujurnya.


"Bertemu?" ulang Els.


"Tidak, aku sengaja menemuinya karena sudah beberapa hari ini dia membuat keributan di tempatku bekerja. Jadi aku terpaksa menemui dirinya" jelas Ravin.


"Lanjutkan" pinta Els menatap Ravin.


"Intinya dia memohon agar aku menerima nya kembali, bahkan menawarkan diri menjadi istri kedua"


"Wah penawaran yang sangat menggiurkan" sindir Els.


"Sayang, entah kamu percaya atau tidak. Namun meskipun aku belum menikah denganmu, aku tidak akan kembali padanya, apa lagi sekarang aku sudah memilikinya mu, aku tidak akan pernah memikirkan wanita lain selain dirimu dan Ciara" ucap Ravin dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa tidak kembali padanya?"


"Aku hanya berpikir jika itu benar"


"Tidak mungkin" Els tak percaya.


"Bukan masalah jika kamu tidak percaya, tapi bisakah kita mulai bercinta?" tangan Ravin sudah berkelana di perbukitan indah Els.


"Bukanya kemarin...."


"Itu kemarin, dan sekarang beda lagi. Bahkan aku ingin bercinta denganmu setiap malam" Ravin memulai berpetualang menyesap bibir ranum sang istri, tidak ada penolakan dari Els. Entah mengapa beberapa hari ini ia sangat ingin dan suka saat Ravin menjamah tubuhnya.


🍀


🍀


🍀


🍀


🍀


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2