My Universe (Elsava)

My Universe (Elsava)
Keluarga


__ADS_3

πŸ€Delapan tahun kemudianπŸ€


Disebuah halaman, dua pria beda usia tengah bermain bola dengan bahagia. Pria yang dewasa terus menendang bola dengan pelan, sedangkan pria kecil di belakangnya terus berlari mengejar bola itu dengan gelak tawa dari mulutnya.


Tak jauh dari keduanya, seorang wanita berambut panjang terus menatap kearah pria itu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ambil bolanya son" ucap sang ayah pada anaknya yang belum berhasil mengambil alih bola itu.


"Tidak, aku lebih suka mengejar Ayah, dari pada harus mengejar bola bulat itu" sahutnya, berlari santai mengikuti sang Ayah.


"Kalau hanya mau main kejar-kejaran kenapa harus main bola?"


"Aku tidak bermain bola, Ayah lah yang bermain bola sejak tadi" sangkal sang putranya, memang benar dari tadi putranya itu tidak main bola.


"Sudahlah kemari kalian" ucap seorang wanita yang duduk di sebuah gazebo.


"Bunda...." seru anak itu, berlari kearahnya.


"Kau sudah sangat berkeringat sayang" ucap wanita itu memberikan jus buah segar pada putranya.


"Sayang" rengek pria dewasa yang tak lain suaminya.


"Suara Ayah terdengar menggelikan" bisik anak itu pada bundanya.


"Hai, son. Apa yang kau bisikkan pada istriku?" ucap pria itu.


"Hanya sebuah kebenaran, kan Bun?" jawabnya santai, lalu bundanya hanya tersenyum tipis.


"Kalian mulai merahasiakan sesuatu dari Ayah?" tuduhnya mengambil satu gelas jus di meja.


"Mana ada?" sahut sang istri.


"Kak Cia kemana Bun?" tanya putranya.


"Kak Cia pergi Les piano dengan Ai" jawabnya.


"Memangnya Ai ikut les piano?" tanya sang suami.


"Tidak, tapi Ai memang ingin mengantar dan menemani Ciara ke tempat les" jawab Els sang istri.

__ADS_1


"Aku kira hubungan mereka hanya di taman kanak-kanak saja, ternyata sampai sekarang masih berteman" gumam Ravin membicarakan hubungan pertemanan putrinya dan teman lelakinya yang terjalin dari bangku TK, bahkan sang putri yang notabenenya lebih muda satu tahun, mengikutinya kelas akselerasi agar bisa sekelas dengan Ai.


"Kau juga punya teman dekat seperti Kakakmu disekolah sayang?" tanya Els pada putranya yang hampir berusia delapan tahun itu.


"Arsen tidak berteman dengan perempuan Bun, karena mereka cengeng dan manja" sahutnya.


"Tapi Bunda dan Kakak tidak cengeng dan manja" protes Els.


"Karena Bunda dan Kakak adalah perempuan luar biasa" ucap bocah bernama Arsenio Pradipta itu.


"Kau tidak ingin ikut les apapun son?" tanya Ravin.


"Tidak" jawabnya singkat, bocah itu fokus memakan jeruk Bali yang sudah dikupas.


"Memangnya kamu tidak punya cita-cita sayang?" tanya Els dengan lembut, putranya itu tidak pernah berminat dalam kegiatan apapun, tapi anehnya segala jenis olah raga bisa ia lakukan, bahkan arsen bisa memainkan berbagai jenis alat musik.


"Arsen hanya ingin menjadikan pengangguran sukses yang kaya raya Bun" jawab Arsen membuat Els dan Ravin menganga tidak percaya.


"Memangnya ada pengangguran sukses yang kaya raya?" tanya Els.


"Ada, bahkan Bunda sangat mengenalnya" kini Arsen beralih pada buah delima.


"Benarkah? Siapa? Pasti dia orang yang hebat, tapi Bunda tidak...."


"Siapa?" bingung Els, ia merasa jika dirinya tidak mengenal seorang pengangguran.


"Ayah" ucap Arsen dengan entengnya tanpa beban, sedangkan Ravin semakin tercengang mendengar pernyataan putranya yang menyebut dirinya pengangguran.


"Hei, son. Ayah bukan pengangguran, tapi seorang pebisnis handal dan sukses" protes Ravin tidak terima disebut pengangguran oleh Arsen.


"Keringat Arsen sudah kering, Arsen mau mandi Bun" pamit Arsen pada Els tanpa menghiraukan Ayahnya.


"Dia putramu Mas" ucap Els mengingatkan Ravin yang terlihat kesal pada Arsen.


πŸ€πŸ€πŸ€


Makan malam dirumah Ravin sudah menjadi kewajiban yang harus diikuti seluruh anggota keluarganya, Ravin, Els, Ciara dan juga Arsen sudah duduk manis di bangku masing-masing. Rutinitas yang sama yaitu duduk bersama dan makan, tapi tidak pernah membosankan, apalagi melihat pertumbuhan buah hatinya.


Ciara, gadis kecil itu sudah berusia 12 tahun. Terlihat semakin cantik, namun tingkat kecerewetan nya semakin berkurang. Gadis itu terlihat pendiam dan anggun.

__ADS_1


"Bagaimana les piano kamu sayang?" tanya Els, setiap makan memang diselingi dengan obrolan santai.


"Baik Bunda" jawab gadis itu singkat.


"Cia gak mau Les piano di rumah aja? Kan dirumah juga ada piano, nanti kita panggil gurunya yang datang" timpal Ravin.


"Cia suka di tempat Les, Ayah"


"Jangan tumbuh terlalu cepat Kak, ayah belum puas menggendong dan bermain sama kamu" ucap Ravin menatap putri sulungnya, yang sekarang irit bicara.


"Cia tetap putri kecil Ayah"


"Ayah sama Bunda gak ada niatan punya anak lagi?" celetuk Arsen, ia tahu jika ayahnya yang pengangguran itu sangat kesepian semenjak sang Kakak banyak melakukan kegiatan di luar rumah, ada les menari, les matematika, les piano, les bahasa asing, dan berbagai macam ekstrakurikuler yang di ikuti Ciara disekolah.


Itu juga yang menjadi salah satu alasan Arsen tidak mengikuti les apapun, ia ingin dirumah bermain dengan ayahnya setelah pulang sekolah. Lagi pula Arsen adalah anak yang cerdas bahkan jenius, bocah itu tidak pernah menghadapi kesulitan apapun dalam melakukan tugas sekolah.


"Ayah sih mau saja, tapi bunda tidak mau" jujur Ravin, Els memang sudah tidak mau hamil dan punya anak lagi.


"Bunda sudah punya dua anak, dan itu lebih dari cukup. Bunda tidak ingin membagi kasih sayang bunda dengan yang lainnya, bunda ingin fokus menyayangi, mengasihi, dan mencintai kedua anak Bunda" jelas Els menatap kedua anaknya dan juga suaminya.


"Bunda tidak ingin seperti Om Emir? Mbah bilang kalau Zara dan Zoya mau punya adik lagi lho" kata Arsen.


"Tidak sayang, Bunda memilih kamu dan juga Kakak sudah sangat amat teramat bersyukur" kata Els.


"Jadi Lisa tahun ini hamil lagi?" tanya Ravin.


Emir berhasil menikahi Lisa enam tahun yang lalu, bahkan sudah memiliki dua anak. Zara putri pertama Emir berusia 5 tahun, sedangkan Zoya putri kedua Emir baru berusia 2 tahun, dan kini Lisa tengah hamil kembali.


"Ya, karena rumah Bapak terlalu besar jika hanya ada dua anak kecil" sahut Els, pak Rusli yang dulu menolak keras Lisa menjadi menantunya kini sangat senang karena akan memiliki banyak cucu dari Lisa.


Namun sebenarnya bukan karena banyaknya cucu yang membuat pak Rusli senang, melainkan sifat dan sikap Lisa yang mampu memenangkan hati pak Rusli. Benar apa yang dikatakan Els, jika Lisa bisa menjadi istri yang baik untuk adiknya. Karena Lisa memang gadis baik, meskipun awal pernikahan sifat cuek dan masa bodohnya masih ada, tapi kini Lisa berubah menjadi wanita dewasa yang sangat perduli pada sekitar, Lisa juga menjadi menantu yang baik untuk pak Rusli, hingga bude Jum dan Bibik Sumarni yang biasanya tukang kritik tidak menemukan cela untuk mengkritik Lisa.


πŸ€


πŸ€


πŸ€


πŸ€

__ADS_1


πŸ€


TBC 🌺


__ADS_2