
Els mengajak Ciara ke salah satu Mall terbesar di ibukota, bocah kecil itu merengek minta di ajak ke tempat bermain yang ada di dalam Mall. Kebetulan sang Ayah sedang ada meeting dengan beberapa petinggi pejabat Bank tak jauh dari Mall yang Els kunjungi.
"Bunda, Cia pingin naik Flying Fox nanti" ucap Cia dalam perjalanannya menuju Mall.
"Memangnya Cia sudah boleh naik Flying Fox? Cia kan masih kecil" Els belum seberapa tahu tentang aturan tempat bermain yang akan dia kunjungi.
"Boleh dong"
"Cia berani? bunda takut soalnya"
"Berani Bunda, Cia gak takut sama apapun. Cia hanya takut jika bunda pergi lagi"
"Bunda tidak akan pergi kemana-mana sayang" Els memeluk sayang anak asuhnya itu.
"Janji ya" Ciara mengacungkan jari kelingking nya.
"Janji" Els menautkan jari kelingking nya pada jari kelingking mungil Ciara.
"Cia sayang Bunda" cicit gadis kecil itu memelas erat Els, seolah Els benar-benar Bunda nya.
Setelah sampai di Mall, Els dan Ciara langsung menuju Lollipop Island tempat dimana ruang permainan indoor yang aman dan edukatif untuk batita dan balita. Tempat bermain ini menawarkan beragam wahana dan berbagai jenis permainan yang mengasikkan seperti Flying Fox, Giant Bubble, Game Console, Trampoline, Perosotan, dan lain-lain yang bisa membuat anak-anak senang hingga lupa waktu.
Setelah membeli tiket masuk, kini Ciara bebas bermain apa saja yang dia inginkan. Gadis kecil itu tampak senang dan antusias bermain bersama dengan anak-anak yang lainnya, sesekali Ciara melambaikan tangannya pada Els dan tersenyum manis. Membuat Els semakin menyayangi Ciara, entah bagaimana perasaan Els jika suatu saat harus meninggalkan gadis kecil itu.
"Kau ibunya?" sapa seorang wanita dengan menggendong bayi perempuan.
Els melihat kesana-kemari memastikan jika dirinya lah yang di sapa oleh wanita asing itu.
"Saya?" Els menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau ibu gadis kecil itu?" wanita itu menunjuk ke arah Ciara.
"Ya, seperti yang terlihat" ucap Els. Tentu saja orang-orang akan mengira jika Els adalah ibunya, bukan pengasuhnya. Karena Els mengenakan pakaian kasual bukan pakaian ala baby sitter pada umur. Belum lagi interaksi Els dan Ciara sudah layaknya ibu dan anak.
"Dia gadis yang cantik, berapa usianya?" wanita itu menatap sendu Ciara.
"Hampir empat tahun" jawab Els.
"Putrimu mengingatkan ku pada putriku, mungkin sekarang putriku juga sebesar putrimu"
"Kakak nya?" Els melihat bayi perempuan yang ada di gendongan nya.
"iya, tapi aku sudah meninggalkan nya" ucap wanita itu dengan nada penyesalan.
"Hah..." Els terkejut mendengar pengakuannya.
__ADS_1
"Maaf jika aku sudah mengejutkan mu, aku Sintia" wanita itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Els, Elsava" jawab Els menyambut tangan Sintia.
"Senang bertemu denganmu Els, semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Sintia lalu meninggalkan arena bermain itu.
🍀🍀🍀
Ravin berjalan menuju arena bermain yang di kunjungi oleh putrinya, ia terlambat 30 menit karena meeting berlangsung cukup lama dari biasanya. Dari kejauhan ia bisa melihat Ciara yang bermain Perosotan di samping Els, keduanya tertawa bersama, terlihat sangat senang menghabiskan waktu bersama. Ciara dan Els tertawa begitu lepas layaknya ibu dan anak sungguhan, Ravin sering mengajak Ciara ke arena bermain seperti ini sebagai, tapi ia tidak pernah melihat putrinya tertawa selepas itu.
"Haruskan aku menikah lagi?" gumam Ravin mulai terpikirkan jika putrinya memang benar-benar butuh sosok seorang ibu.
"Tapi dengan siapa?" Ravin tidak pernah lagi dekat dengan wanita manapun, Ravin bahkan sangat membatasi interaksi nya dengan teman-teman wanitanya semasa sekolah maupun kuliah. Fokus nya hanya bekerja dan memajukan bisnisnya, juga Ciara tentunya. Tapi Ravin lupa jika memberi ibu sambung bagi putrinya juga tak kalah penting.
"Ciara" seru Ravin dari luar arena bermain.
"Ayah" Ciara melambaikan tangannya.
"Ayah sudah datang, ayo kita keluar" ajak Els, dan Ciara menurut begitu saja.
"Bunda, besok-besok boleh kesini lagi kan?"
"Boleh, asalkan ayah mengizinkan"
"Ayah pasti mengizinkan nya" yakin Ciara, sebab sang ayah tidak pernah menolak permintaan nya.
"Kau senang bisa bermain hari ini?" Ravin menciumi pipi chubby Ciara.
"Cia selalu senang jika bersama Bunda" sahut gadis kecil itu.
"Terimakasih Els" ucap Ravin tulus dan hanya di balas anggukan serta senyum tipis oleh Els.
"Kita makan ya" ajak Ravin.
"Cia mau makan ayam goreng, bolehkan Bunda?" Ciara bertanya pada Els, membuat Els bingung harus menjawab apa, apalagi ada Ravin bersama mereka.
"Sayang kenapa tidak bertanya pada ayah?" Ravin merasa terabaikan.
"Karena ayah sudah pasti mengiyakan semua kemauan Ciara, beda dengan Bunda. Bunda membuat banyak larangan, Cia tidak boleh banyak-banyak makan permen, Cia tidak boleh sering-sering makan ciki, Cia hanya boleh dua hari sekali makan eskrim, itu pun sedikit" gadis kecil itu memanyunkan bibirnya.
"Maaf Pak" ucap Els menundukkan kepalanya.
"Terima kasih Els, kau memang benar" ucap Ravin. "Itu tandanya bunda sayang sama Cia, bunda tidak mau jika Cia nanti sakit, iya kan bunda?" Ravin menatap Els.
"Eh...,iya Bunda tidak ingin Cia sakit" Els membenarkan perkataan Ravin.
__ADS_1
"Jadi, bolehkan jika hari ini Cia makan ayam goreng?" lirih Cia memohon pada Els.
"Boleh" ucap Els membuat gadis kecil yang ada di gendong ayahnya itu bersorak senang.
"Terima kasih Bunda" ucap Ciara, di balas senyuman oleh Els.
🍀🍀🍀
Setelah selesai makan, Ravin mengajak Ciara dan Els membeli beberapa pakaian untuk Ciara. Di toko baju anak itu Ravin hanya mengikuti Els dan juga putrinya, karena Cia ingin semua pakaian nya di pilihkan oleh bundanya, lagi-lagi Ravin tersisihkan oleh hadirnya Els. Tapi duda satu anak itu tetap senang melihat senyum bahagia putrinya.
"Sudah ya, ini sudah banyak" ucap Els pada Ciara.
"Jika masih ada yang bagus ambil saja" sahut Ravin menenteng tas belanjaan yang berisi baju-baju pilihan Els dan Ciara.
"Cia mau yang mana lagi?"
"Bunda mau yang mana?"
"Menurut Bunda ini sudah cukup, lagi pula baju-baju Cia di rumah sudah banyak dan masih bagus-bagus. Sayang kalau tidak terpakai, apa lagi Cia semakin hari semakin tumbuh besar kan?" tutur Els realistis.
"Oke kalau begitu" Cia menurut. Lalu mereka mengantri ke kasir.
Setelah keluar dari baby shop, Ravin berencana mengajak mereka pulang, karena hari sudah malam. Tapi di luar dugaan, ternyata Ciara merengek meminta pada Ayah untuk membelikan baju dengan jumlah yang sama untuk Els.
"Sayang, baju bunda masih banyak di rumah dan masih bagus-bagus" ucap Els, yang benar saja jika ia membeli baju di Mall ini. Harga satu potong baju bisa dapat tiga potong baju jika Els membeli nya di pasar.
"Ayah" rengek Ciara.
"Baiklah, kita juga beli baju untuk Bunda" putus Ravin, tidak ada salahnya jika membelikan baju untuk pengasuh putrinya.
"Pak, jangan menuruti semua kemauan Ciara" ucap Els.
"Ciara benar, lagi pula baju kamu itu-itu saja" cibir Ravin. Memang Els hanya membawa beberapa potong baju saat ke rumahnya, dan ya memang hanya itulah pakaian yang layak milik Els.
"Tapi...." Els bingung harus membayar nya dengan apa, jika potong gaji bisa-bisa sampai tahun depan belum lunas. Sebab ia memilihkan sepuluh steel baju Ciara, dan gadis kecil itu sudah pandai berhitung. Bukan tidak mungkin jika Els juga harus membeli sepuluh steel baju. Memiliki nya saja sudah membuat kepala Els pusing.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
TBC 🌺