
Jangan lupa koment ya. Bagi yang masih punya vote silahkan berikan buat momnya Selena dan Kevin. Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat, pisau, nonton iklan sangat disarankan.😘
🍰🍰🍰
Selena memandang putranya yang tengah makan dengan lahap.
"Mama, apa itu papa?" tanya Hope dengan tiba-tiba, membuat Selena bingung harus menjawabnya seperti apa?
"Hope tahu dari siapa atau mendengar dari siapa?" tanya Selena kembali menatap putranya dengan perasaan sayang.
"Ciao meledek Hope dia bilang Hope tidak punya papa," jelas Hope, dia berbicara sambil memakan makanannya.
"Papa adalah seorang pria yang membuat Hope ada di dunia ini," celetuk Astrid yang memang mendengar pembicaraan Selena dengan Hope di ruangan sebelah.
"Lalu, ke mana papa, Hope?"
"Papa Hope sedang bekerja dan dia sangat sibuk," bohong Selena, bagaimana dia bisa menjelaskan kepada Hope tentang papanya, sementara Selena sendiri tidak tahu siapa dirinya apa lagi ayah Hope.
Selena juga tidak tahu apakah dia telah menikah atau hanya memiliki kekasih?
"Kapan papa, Hope datang, Ma?" tanya Hope lagi dia masih sibuk memakan makan siangnya.
Hope terlambat makan karena dia asik bermain. Kalau Selena tidak memanggilnya pulang, pasti putranya itu lupa waktu. Selena juga takut Hope bermain jauh ke tengah laut.
"Nanti, jika pekerjaan papa telah selesai, papa pasti pulang," jawab Selena memberikan minuman kepada putranya.
"Jadi, jika Ciao tanya papa Hope maka Hope akan bilang papa pergi bekerja." Selena melap bibir Hope yang berlepotan dan mengambil piring kotornya.
"Ayo, kita harus membantu nenek buyut untuk persiapan melaut." Selena mengajak keluar Hope.
Mereka menuju ke tempat Su Yi yang tengah mempersiapkan untuk melaut nanti malam. Sejak Hope berusia 2 tahun, Selena dan Astrid yang melaut karena kondisi Su Yi yang semakin tua. Dan juga Selena tidak tega melihat wanita tua tersebut masih melaut.
"Hi Sea!" sapa bos Alung, dia akan mencoba berbuat tidak pantas dengan meraba bokong Selena. Namun, Selana secepat kilat menarik tangannya dan memuntirnya.
__ADS_1
"A ... ampun ... sakit ... lepaskan!" teriak Alung. Sejak Selena tinggal di sini dia telah mengincar Selena. Alung ingin menjadikan Selena istri simpanannya. Sayang Selena tidak tertarik.
Anak buah Alung mencoba mendekati Selena, namun, Selena secepatnya memutar dan memelintir Alung.
"Menjauh, jika tidak, saya akan mematahkan tangan bos Alung," ucap Selena tegas menakuti anak buah Alung. Alung memberi kode agar anak buahnya tidak bergerak. Anak buah Alung menjauh.
Selena menghempaskan tubuh Alung ke tanah. Alung tidak kapok-kapoknya merayu dan mengganggu Selena. Selena tidak mau kejadian dulu saat istri Alung menyerangnya dengan tuduhan merebut dan menggoda suaminya.
Alung, pria paruh baya yang bisa saja menjadi ayah bagi Selena. Anaknya yang nomor satu di bawah Selena setahun.
"Pergilah Bos, jangan coba-coba mengganggu saya lagi. Anda tahu istri anda tidak akan suka ini,"
"Apakah, jika istri saya menyetujui saya untuk menjadikanmu simpanan saya, kamu akan menerimanya? Hidupmu, putramu, Asrid dan nenek Su Yi akan lebih terjamin ... kalian para wanita tidak perlu lagi melaut dan bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup kalian." Alung membujuk Selena.
"Hei, nenek Su Yi, bujuklah Sea, agar mau menjadi istri simpanan saya," lanjut Alung melihat ke arah Su Yi.
"Sebaiknya kau lupakan niatmu itu. Sea, sampai kapanpun tidak akan mau menjadi simpananmu!" teriak Su Yi.
Selena sendiri tidak tahu siapa dirinya. Jika dia menjadi istri simpanan Alung. Bagaimana jika dia ternyata memiliki suami? Dan juga memang dia tidak tertarik dengan Alung.
"Hi bos Alung ... anda tidak bosan merayu Sea?" sindir Astrid. Dia menarik jala, untuk di jahit.
"Jika Sea, tidak mau, apa kau mau Astrid?" tanya Alung, dasar pria hidung belang, siapa saja di rayunya.
"Maaf Bos, jika Sea saja tidak mau, apa lagi aku," kesal Astrid, memang secara wajah Selena lebih cantik dari pada Astrid, namun, Selena telah menjadi seorang ibu, sementara Astrid masih single dan perawan ting-ting.
Masa Astrid menukar Colin dengan bos Alung yang gemuk dan pendek, tidak banget. Walaupun Colin masih belum menunjukan tanda-tanda menyukai Astrid. Namun, Astrid yakin suatu saat Colin pasti melihat dirinya. Colin hanya menganggap Astrid adik angkatnya. Dia memang menyayangi Astrid, namun, bukan sebagai wanita.
Anehnya Colin justru menunjukan ketertarikan kepada Selena, sekalipun Selena telah memiliki anak.
"Pergilah," usir Selena kepada bos Alung dan anak buahnya.
"Kalian akan menyesal, menolakku. Aku pastikan kalian dipersulit mendapatkan tempat untuk berjualan," ancam bos Alung. Dia menendang ember yang ada di dekat situ dan berlalu pergi diikuti anak buahnya.
__ADS_1
Selena hanya bisa menarik dada, setidaknya mereka pergi dan tidak mengganggu kegiatan mereka lagi. Selena melirik anaknya yang tengah asik bermain bersama teman-temannya.
Hope mendorong temannya hingga terjatuh, sekalipun Hope lebih kecil dari teman-temannya, namun, Hope tidak mudah ditindas. Selena berlari ke arah putranya.
"Hope, ada apa? Kenapa kau memukulnya?" tanya Selena memegang Hope yang hampir berkelahi dengan temannya. Selena memeluk Hope, dan menenangkannya. Hope masih mencoba memberontak, kakinya menendang-nendang di udara.
"Ciao, bilang Hope anak haram, karena Hope tidak punya papa!" teriak Hope, dia masih mencoba untuk memukul temannya yang bernama Ciao.
"Kan memang kau anak haram, kau tidak punya papa," balas temannya Hope, dia berdiri dari tanah. Jatuh karena Hope mendorongnya dengan kuat.
"Papaku sedang bekerja, nanti, kalau papa datang, aku akan bilang bahwa kau anak nakal. Nanti papa akan menghukummu!" teriak Hope tidak kalah juteknya.
"Kata mamaku, kau anak tidak jelas, mamamu juga tidak jelas datang dari mana. Kalian keluarga aneh," ujar Ciao lagi. Dia tidak menganggap keberadaan Selena, membuat Selena geram. Jika bukan anak-anak mungkin telah Selena pukul.
"Kalian pergilah," usir Selena kepada teman-teman Hope. Selena bersiap-siap dengan posisi seperti akan memukul mereka. Membuat anak-anak tersebut berlari meninggalkan Hope. Namun, masih sempat mengejek Hope.
"Hope anak haram, Hope tidak punya papa!" teriak mereka sambil berlari. Selena yang tidak lagi memegang Hope dengan kuat membuat Hope bisa melepaskan diri darinya. Hope mengambil batu dan melemparkannya kepada anak-anak nakal tersebut. Hanya saja lemparannya tidak tepat sasaran.
"Hope jangan.!" teriak Selena, takut jika Hope melukai salah satu anak-anak tersebut, membuat anak-anak itu cedera dan tentunya akan merepotkan Selena.
Selena menarik dan menggendong Hope menuju rumah.
"Mama, apa itu anak haram?" tanya Hope menatap Selena.
"Jangan dengarkan mereka, anggap saja mereka tidak mengatakan apa-apa," jawab Selena.
"Lalu, kapan papa Hope akan kembali?" tanya Hope lagi. Selena bingung menjawabnya. Bagaimana dia bisa membawa papa Hope, jika dia sendiri tidak ingat siapa dirinya?
🍒🍒🍒
Pekanbaru
281022
__ADS_1
12.13