
Astrid memperhatikan kamar yang di tempatinya untuk terakhir kalinya. Dia telah meminta izin kepada atasan untuk menjemput Su Yi yang keluar dari rumah sakit hari ini.
"Apa kalian, telah selesai berkemas?" tanya Collin. Dia langsung ke rumah sakit tempat Su Yi di rawat. Astrid melarangnya untuk menjemput di apartment Feng. Astrid meminta Collin janjian di rumah sakit saja.
"Ya, kami telah selesai," balas Astrid. Dia datang lebih dulu daripada Collin dan membantu Su Yi berkemas. Astrid juga telah mengurus kepulangan Su Yi. Biaya trlah di lunasi oleh Eleanor sebelumnya. Bahkan deposit Eleanor masih ada sisa. Astrid meminta rumah sakit untuk mentransfer sisanya ke rekening Eleanor
"Nenek Su Yi, apakah anda, siap untuk keluar?" gurau Collin.
"Tentu saja, aku bosan di sini terus," ujar Su Yi.
"Ayo, kita keluar!" ajak Collin. Dia membawa tas Su Yi dan Astrid. Hanya dua tas saja.
Mereka sampai di rumah nyonya Lau, Su yi memperhatikan rumah sewa itu. Lebih kecil dari rumah mereka yang terbakar. Tadi mereka sempat singgah dan melihat pembangunan rumah mereka karena Su Yi memang belum pernah melihatnya.
Su Yi kagum dengan bangunan rumah itu sangat cantik dan mewah.
"Kenapa Sea dan Hope, tidak datang menjemput, Nenek? Mereka bahkan hampir satu bulan tidak menjenguk, Nenek," kesal Su Yi. Dia sangat rindu dengan Hope. Su Yi masih belum terbiasa memanggil Selena dengan nama Selena.
"Oh, itu--," Astrid bingung menjelaskannya. Selena meminta Astrid untuk tidak memberitahu Su Yi bahwa Hope diculik karena takut Su Yi terbebani. "Mereka sedang di Macau, ayah Selena memintanya untuk pulang," bohong Astrid.
"Oh, Nenek, pikir terjadi sesuatu kepada mereka," lega Su Yi.
"Ayo kita bereskan barang-barang!" ajak Astrid.
"Aku akan membelikan makanan untuk kalian," tawar Collin. Dia ingat pasti Su Yi dan Astrid belum makan. Collin pergi membeli makan siang untuk mereka.
Tidak lama, Collin telah kembali membawa makanan. Begitu mencoba makan Astrid menjadi mual. Dia langsung menuju kamar mandi dan muntah. Su Yi memandang Astrid curiga sekaligus cemas
"Astrid, apa kau baik-baik saja?" cemas Su Yi.
"Aku baik-baik saja, Nek, mungkin masuk angin karena telat makan," dusta Astrid agar Su Yi tidak banyak bertanya.
"Syukurlah hanya karena masuk angin, Nenek, malahan berpikir yang aneh-aneh. Lain kali kau harus makan tepat waktu," saran Su Yi.
Astrid menjadi tidak enak karena telah berbohong kepada Su Yi. Apa sebaiknya dia menerima tawaran Collin untuk menikahinya? Tapi, Astrid tidak ingin merusak masa depan Collin. Bagaimana jika suatu saat Collin bertemu dengan wanita yang disukainya?
Selesai makan, Astrid pamit untuk kembali ke kantor. Collin menemani Su Yi.
__ADS_1
***
Feng kembali ke apartemen pukul sebelas malam. Beberapa hari sejak kejadian dia memperlakukan Astrid dengan sedikit kasar--Feng tahu Astrid menghindarinya dan marah kepada Feng.
Feng ingin minta maaf dan bertanya tentang foto USG tersebut. Setelah Astrid bilang hanya Feng pria yang menyentuhnya. Feng membenarkan bisa jadi anak itu adalah anaknya?
Feng melihat bahwa Astrid masih memasakan makanan untuknya. Jika dipikir-pikir, Astrid menjadi pemuasnya, tapi, Feng tidak membayarnya. Rugi sekali nasib Astrid. Feng melewati kamar Astrid, Feng tidak menaruh curiga.
Selesai mandi Feng, menuju kamar Astrid dia ingin meminta maaf. Feng membuka kamar Astrid, kosong.
Apa Astrid belum pulang dari kantor? Tapi tidak mungkin Astrid belum pulang.
Feng mencoba menghubungi ponsel Astrid. Namun, tidak bisa--seprtinya Astrid memblokir nomor Feng. Perasaan Feng menjadi tidak enak. Dia melihat meja rias Astrid, kosong, biasanya di sana ada beberapa peralatan make up. Feng membuka lemari dan ternyata isinya kosong.
Tidak, Astrid kau tidak boleh pergi!
Feng panik dia langsung keluar untuk mencari Astrid. Kemana dia? Apakah dia ke rumah Collin? Feng tidak akan membiarkan Collin memanfaatkan Astrid.
Feng langsung menuju desa Venetia. Dia menggedor rumah Collin.
"Collin, Astrid! Buka pintunya!" teriak Feng. Dia mencoba terus. Namun, baik Collin maupun Astrid tidak juga kunjung membuka pintu. Feng memperhatikan halama yang kosong, tidak ada mobil Collin.
Feng memasuki City of Dreams, Kevin melihatnya.
"Feng!" panggil Kevin. Kevin memang selalu menyaksikan pertandingan dan menemani Selena. Meskipun Erick melarang dan menyuruhnya pulang saja.
"Bos," sapa Feng, niatnya untuk mencari Collin menjadi batal.
"Bagaimana? Apakah ada perkembangan terbaru tentang dimana Hope di sekap?" tanya Kevin. Ini telah berlalu satu bulan lebih. Pertandingan akan final
Penculik telah mengirim dan memastikan bahwa Hope akan baik-baik saja selama Queen of Gambler bermain sesuai permintaan mereka.
Judi diluarpun beredar untuk memasang taruhan kepada siapa yang akan menjadi pemenang pertandingan tahun ini. Hampir tujuh puluh persen memasang taruhan untuk Queen of Gambler dan tiga puluh persen kepada Black Rose of Gambler.
"Detektif telah menyuruh anak buahnya untuk selalu mengawasi apartment, kami berharap jika salah satu yang mengirimkan video kegiatan Hope sekali seminggu, bisa kita tangkap maupun lacak," terang Feng. "Bagaimana pertandingan?" tanya Feng.
"Masih berlangsung, Selena mengikuti perintah mereka, kasihan dia bermain dalam tekanan," sahut Kevin. Dia tahu Selena pasti mencemaskan putra mereka.
__ADS_1
Hubungan Kevin dan Erick masih belum bisa dikatakan baik-baik saja. Karena Erick masih menganggap Kevin perebut putrinya.
Feng mengingat sesuatu pasti Kevin bisa memberitahunya, tentang keberadaan Astrid.
"Bagaimana keadaan nenek Su Yi, Bos?" pancing Feng.
"Kalau tidak salah, hari ini dia telah keluar dari rumah sakit," beber Kevin. Feng senang mendengarnya itu artinya Astrid pasti bersama Su Yi.
"Tinggal dimana mereka? Biasanya anda memerintahkan saya untuk menyewakan rumah?" pancing Feng lagi.
"Aku tidak tahu, Selena yang tahu," balas Kevin. Feng menjadi kecewa karena tidak mendapat informasi tentang keberadaan Astrid.
Sepertinya besok dia harus menemui Astrid di kantor Fresh from the Sea.
***
Collin melihat Rachel ke ruangan di samping ruangan Kevin. Sebelumnya Ekin lebih dulu ke sana. Ya, Rachel telah selesai untuk babak hari ini. Diam-diam Collin mengikutinya. Entah kenapa meskipun Astrid bilang tidak mungkin Rachel pelakunya. Tetap saja Collin mencurigai Rachel dan tidak ada salahnya dia menyelidikinya.
"Kau mmeperlakukan anak itu dengan baik, 'kan?" tanya Rachel kepada Ekin. "Aku tidak ingin dia terluka, bagaimanapun dia adalah keponakanku," ucap Rachel.
"Tenang saja, kami memperlakukan dia dengan baik," balas Ekin.
"Entah kenapa Kevin bisa menjalin hubungan dengan Queen of Gambler, membuat aku ragu saja. Aku telah berusaha menyingkirkannya enam tahun yang lalu, dan sekarang dia muncul lagi," kesal Rachel.
"Bukankah solusi dariku cukup menarik, jika Queen of Gambler kalah tahun ini, maka kau tidak akan dibayang-bayangi olehnya lagi dan aku akan mendapatkan keuntungan, sampai saat ini 70 persen memasang taruhan untuk Queen of Gambler, dan kenyataannya saat kau menang. Tentu saja semua uang mereka untuk kita dan aku akan menjadi kaya," terang Ekin.
🍒🍒🍒
Ternyata mereka dalangnya. (author pura-pura tidak tahu)🤭
Bentar lagi tamat ya.
Silahkan mampir ke karya aku yang lainnya.
Pekanbaru
301122
__ADS_1
19.00