
Kevin, Feng, Lilian, Detektif serta anak buahnya, mengintai tempat penyekapan Hope. Mereka berada di semak-semak sekitar bangunan.
"Kalian ke sana," perintah Kevin kepada dua orang anak buah Detektif. Anak buah tersebut langsung menuju tempat yang ditunjuk Kevin.
"Aku dan Lilian akan ke sana," ucap Detektif, dia menuju sisi kiri bangunan. Diikuti oleh Lilian dengan posisi siaga.
"Kalian pergilah ke bagian belakang bangunan dan lumpuhkan penjaga di sana," perintah Kevin kepada anak buah detektif yang lainnya. "Kau tunggu di sini, awasi siapa tahu ada yang datang," ujar Kevin kepada satu anak buah detektif yang tersisa.
Utusan dari Erick, menunggu di dalam hutan. Mereka sengaja tidak membawa banyak anggota untuk misi penyelamatan Hope. Karena Kevin takut akan menimbilkan kecurigaan.
Satu persatu mereka melumpuhkan penjaga gudang. Kevin mencoba masuk ke dalam untuk melihat keadaan Hope.
Salah satu penjaga melihat Kevin. "Siapa kau!" teriak pria itu membuat langkah Kevin terhenti. Bersyukur Feng masih bersembunyi dibalik dinding.
"Saya sedang mencari penanggung kawab tempat ini," balas Kevin, dia mencoba untuk mengelak dan menetralkan gugupnya.
"Ada perlu apa kau dengan dia?" curiga pria itu. Dia memperhatikan Kevin dengan seksama dan menodongkan pistol ke arah Kevin. "Angkat tanganmu, Botak!" panggil si pria kepada temannya. Pria bernama Botal langsung keluar.
"Ada apa, Bos?" tanya Botak. Dia melihat Kevin yang tengah mengangkat tangan. "Siapa dia?" penasaran Botak.
"Geledah pria itu, apa dia memiliki senjata!" perintah pria pertama kepada Botak. Botak memeriksa Kevin dan menemukan pistol yang berada di kakinya. Si Botak mengambil senjata itu.
"Siapa kau sebenarnya? Botak ambil ponselku, aku harus menghubungi mr. Cheng," perintah pria itu lagi. Kevin akhirnya tahu bahwa pria yang memerintah inilah penanggung jawab penjagaan Hope.
Si Botak masuk ke dalam suatu kamar, mencari ponsel si Bos.
"Aku bisa memberimu tawaran yang sangat bagus," pancing Kevin. Dia mencoba merayu si Bos agar mau membebaskan Hope dan dirinya. "Berapa kau dibayar untuk semua ini dan aku akan membayarmu, dua kali lipatnya?" bujuk Kevin. Si pria seperti tertarik dengan tawaran Kevin.
"Benarkah?" tanya si pria. Dia menatap Kevin, mencoba melihat apakah Kevin jujur atau hanya ingin membuat dia lengah.
"Ya, kau bisa sebutkan nominal yang kau inginkan, detik ini juga akan aku transfer," tawar Kevin.
Si pria menimbang, tapi, dia ingat bahwa itu akan membuat kredibilitasnya jelek. Tenttu saja akan berdampak dalam bisnisnya.
"Ini, Bos," tunjuk Botak sambil memberikan ponsel kepada bosnya.
"Sepertinya aku tidak akan tertarik dengan tawaranmu," ujar pria itu.
"Bagaimana jika lima kali lipat?" tawar Kevin lagi.
"Kau simpan saja uangmu, aku tidak akan tertarik, Ikat dia," perintah pria itu kepada Botak.
"Lepaskan dia!" perintah Lilian yang telah berada di belakang pria itu dan menodongkan pistolnya ke kepala pria itu.
Dengan cepat Kevin juga melumpuhkan Botak. Feng juga keluar dan mengambil pistol Kevin yang diambil Botak
__ADS_1
"Berikan ponselmu," perintah Kevin, tanpa menunggu si pria menyerahkan, dia langsung mengambil ponsel tersebut.
"Apa semua telah dilumpuhkan?" tanya Feng, dia memeprhatikan sekeliling.
Sepertinya sudah.
Detektif memasuki gedung bersama anak buahnya dengan membawa penjaga gedung yang telah mereka ikat.
Pesan masuk ke dalam ponsel si Bos dari mr. Cheng yang bertanya apakah kondisi masih aman?
"Balas, bahwa kondisi masih aman terkendali," perintah Feng.
Pria itu mengetik sesuai perintah Feng. Kevin menuju kamar yang digunakan unyuk menyekap Hope.
"Papa!" panggil Hope begitu melihat Kevin masuk. Dia langsung berlari dan memeluk Kevin.
"Hope, tidak apa-apa?" tanya Kevin. Dia memeriksa tubuh Hope mencari apakah Hope terluka atau tidak. Kevin bernafas lega karena Hope tidak terluka.
Sepertinya penjaga yang diperintahkan Rachel dan Ekin, menjaga Hope dengan baik. Buktinya kamar yang digunakan untuk menyekap Hope cukup bersih dan banyak mainan agar Hope tidak rewel. Hope juga tidak di ikat seperti kebanyakan yang dilakukan penculik.
"Kami akan kembali, kalian tetap kawal mereka sampai pertandingan selesai," perintah Kevin kepada Detektif.
"Siap, mr. Kwok," sahut Detektif.
"Apa tidak sebaiknya, kita tidak membawa Hope ke apartment?" tanya Feng.
Kevin dan Lilian awalnya bingung. Namun, akhirnya mereka mengerti.
"Kau benar, jangan sampai Rachel mengetahui bahwa kita telah menyelamatkan Hope," ujar Kevin.
"Kalau begitu tempatkan saja, dia di rumah neneknya Eleanor?" usul Lilian.
"Sebaiknya jangan di sana juga karena kadang-kadang Rachel ke rumah dan lagian mamaku sedang di luar negeri, tidak akan ada yang menjaga Hope di sana?" terang Kevin.
Pantasan saja Eleanor tidak komplen saat Hope tidak mengunjunginya. Ternyata Eleanor sedang berada di luar negeri.
"Bagaimana jika di apartment saya, Bos," tawar Feng.
"Tidak, sebaiknya kirim ke nenek Su Yi dan Astrid saja," putus Kevin. "Lilian, hubungi Selena, kita akan ke rumah nenek Su Yi dan Astrid, agar Selena bisa menyusul ke sana," ucap Kevin.
Lilian langsung memberitahu Selena.
"Di mana rumah Astrid sekarang, Bos?" tanya Feng, dia juga penasaran dimana Astrid tinggal.
Sejak kejadian di ruangan pendingin, paginya Astrid telah pergi dari apartment Feng. Hal itu membuat Feng kesal. Namun, dia belum sempat untuk mencari Astrid lagi karena misi menyelamatkan Hope.
__ADS_1
"Desa Venetia," jawab Kevin.
Feng merasa sakit hati, dia pikir Astrid pasti tinggal bersama Collin. Feng mencengram stir mobil dengan kuat. Melampiaskan kekesalannya.
Mereka menuju desa Venetia, memasuki pemukiman penduduk.
"Terus saja, rumahnya ada di ujung jalan," perintah Kevin.
Feng menjadi heran, jika rumah Astrid berada di ujung jalan. Itu artinya Astrid tidak tinggal bersama Collin?
Mereka melewati rumah Su Yi yang hampir selesai. Dalam waktu dua minggu lagi rumah itu sudah bisa di tempati.
"Stop di situ," tunjuk Lilian pada rumah dengan cat warna putih.
Feng menghentikan mobil dan memarkirnya. Waktu menunjukan pukul enam sore. Ternyata mobil Selena telah terparkir di sana. Begitu mendengar suara mobil berhenti. Selena dan Su Yi langsung keluar.
"Hope!" panggil Selena tidak sabar membuka pintu mobil.
"Mama!" teriak Hope, langsung memeluk Selena. "Nenek buyut!" panggil Hope, dia melepaskan pelukan dari Selena dan berpindah memeluk Su Yi.
"Hope, kemana saja? Kenapa tidak main ke rumah Nenek," komplen Su Yi.
Su Yi memang belum mengetahui bahwa Hope diculik.
"Sebaiknya kita masuk saja dulu," ajak Kevin.
Mereka semua memasuki rumah kontrakan Su Yi. Semua duduk di ruang tamu.
"Hope, baik-baik saja, 'kan?" tanya Selena kepada Hope. Hope hanya mengangguk. "Hope, untuk sementara waktu tinggal sama Nenek buyut dan bibi Astrid, ya," bujuk Selena.
"Mama?" tanya Hope heran. Dia sudah sangat rindu dengan Selena.
"Mama dan Papa ingin mengalahkan penculik Hope dulu," ujar Selena.
"Apa Hope diculik?" heran Su Yi.
πππ
Persiapan kita akan membalas Rachel dan Ekinπ€
Pekanbaru
061222
12.15
__ADS_1