One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Tidak Hamil?


__ADS_3

"Saya tidak hamil!" teriak Astrid membela diri, meski dia tidak tahu apakah dia hamil atau tidak?


"Nikahkan saja mereka," usul Fidelia. Astrid tercengang dengan perkataan Fidelia.


Apa wanita ini juga gila? Dia membiarkan suaminya menikahi Astrid, bahkan dia yang memberikan usulan. Astrid merasa orang-orang ini adalah orang-orang yang aneh.


"Kau, apa maksudmu? Apa kau sudah gila menyuruh suamimu menikahiku?" jerit Astrid. Dia merasa pusing, kelelahan bekerja dan tekanan kejadian ini membuat Astrid menjadi setress. Kaki Astrid seakan lemah dan Astrid seperti akan pingsan. Beruntung Feng masih memegang tangannya. Feng menggendong Astrid dan membawanya ke kamar. Feng membaringkan tubuh Astrid di ranjangnya. Fidelia dan wanita patuh baya mengikuti Feng ke dalam kamar.


"Astrid!" panggil Feng, dia menepuk pipi Astrid. Namun, Astrid tidak bereaksi. Astrid pingsan.


"Apa yang terjadi?" tanya wanita paruh baya.


"Mungkin dia, kelelahan, di kantor banyak pekerjaan," ucap Feng. Dia menyentuh pipi mulus Astrid lagi.


"Mama, rasa karena dia hamil, wanita hamil memang rentan lemah, apa lagi jika hamil muda," terang wanita paruh baya.


"Dari mana, Mama, mengambil kesimpulan, bahwa Astrid hamil?" tanya Feng kepada Mamanya. Ya, ternyata wanita paruh baya tersebut adalah ibu Feng.


"Tadi dia muntah-muntah," jawab Fidelia. Tentu saja dia mengetahui gejala yang dialami Astrid adalah gejala kehamilan karena dia telah mengalaminya sebanyak dua kali. Ya, ini adalah kehamilan kedua Fidelia.


"Siapa tahu dia hanya masuk angin," elak Feng.


Tidak mungkin Astrid hamil karena mereka baru melakukannya sekali dengan beberapa ronde. Feng mengingat dan akhirnya menyadari jika saat itu dia tidak menggunakan pangaman.


"Bisa jadi, dia cuma masuk angin, hanya kau dan dia yang tahu. Apa kau memakai pengaman?" tanya wanita paruh baya, ibu Feng yang bernama Feronica Li.


"Tidak," jujur Feng.


"Fix, dia hamil, kau harus bertanggung jawab dan menikahinya," sindir Fidelia. Dia tahu Feng anti menikah. Fidelia ingin tahu bagaimana Feng menikah dan penasaran dengan wanita yang bisa membuat Feng mau menikah.


"Kau jangan sembarangan berbicara," bentak Feng.


"Lalu bagaimana? Apakah kau akan menikahinya atau tidak?" hardik Fidelia.


"Entahlah, jangan membicarakan yang belum pasti," elak Feng. Dia sendiri ragu untuk menikah, meskipun dia menyukai Astrid.


Astrid telah sadar dan mendengar ketika Fidelia bertanya tentang apakah Feng mau menikahinya atau tidak? Dan Feng menjawab entahlah.


Hal itu membuat Astrid sedih, berarti Feng tidak mau menikah dengannya. Meskipun istrinya merestui, atau Feng takut dengan istrinya?

__ADS_1


Astrid berdeham, semua melihat padanya.


"Kau telah siuman" tanya Feronica kepadà Astrid.


"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Astrid. Dia mencoba duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Apa kau hamil?" tanya Fidelia penasaran.


"Aku tidak hamil," jawab Astrid. Meskipun dia belum yakin. "Tenang saja, aku baru selesai menstruasi tiga hari yang lalu, jadi jangan khawatir, suamimu tidak perlu menikahiku," bohong Astrid. Dia belum mengalami menstruasi sejak Feng dan dia menghabiskan malam yang menyenangkan, sekaligus menyakitkan bagi Astrid.


"Kenapa dari tadi kau mengatakan dia suamiku?" tanya Fidelia.


"Aku bukan suaminya," sahut Feng.


"Bukankah dia istrimu? Dan suamimu?" heran Astrid. Sambil menunjuk Feng dan Fidelia.


"Tidak," balas Feng dan Fidelia serempak.


Astrid memandang mereka dengan bingung. Jika wanita hamil, bernama Fidelia ini bukan istri Feng? Lalu, siapa dia?


"Astrid, kau salah paham, Fidelia adalah adikku dan ini Feronica, ibuku," tunjuk Feng kepada Feronica.


Astrid kembali merebahkan kepalanya di ranjang dan menutup wajahnya dengan selimut karena malu.


"Apa kau yakin kau tidak hamil?" tanya Feng lagi.


"Kau pasti senang karena dia tidak hamil, sehingga kau tidak perlu menikahinya," ejek Feronica. Karena usahanya untuk menyuruh sang putra menikah gagal kembali.


"Tentu saja, Mama. Dia mana mau menikah, dasar Feng, takut berkomitmen," ejek Fidelia.


Astrid mencoba mengintip dari balik selimut. Jadi Feng tidak ingin berkomitmen dalam hal pernikahan?


"Ya, aku tidak hamil, sesuai yang aku katakan tadi aku baru selesai menstruasi," jawab Astrid. Dia tidak mau menjebak Feng untuk menikahinya, hanya karena dia hamil.


"Kalian dengar, jadi jangan berbicara tentang penikahan lagi," sahut Feng. "Kau yakin, kau baik-baik saja Astrid? Kau kelihatan pucat. Aku akan menghubungi dokter," ujar Feng, dia meraba ponsel yang ada di sakunya.


"Aku baik-baik saja, mungkin hanya karena lapar," bohong Astrid. Dia tidak ingin Feng menghubungi dokter dan ternyata Astrid benar hamil. Tentu hal itu akan menjadi beban bagi Feng. "Aku hanya ingin makan," lanjut Astrid, dia mencoba bangkit dari ranjang. Dia masih merasakan pusing. Astrid memegang kepalanya dan menenangkan diri dulu.


Melihat hal itu Feng menjadi khawatir. "Sepertinya kau tidak baik-baik saja, sebaiknya aku memnaghilkan dokter," putus Feng, dia mencari nomor dokternya.

__ADS_1


Astrid bangkit dan mengambil ponsel dari tangan Feng. "Jangan, aku tidak apa-apa. Aku akan memasak dan makan!" larang Astrid. Dia keluar dari kamar Feng.


"Kau tidak perlu memasak, kami telah membawa makanan dan memasak nasi. Ayo kita makan," ajak Fidelia. Dia meraih lengan Astrid dan mengajaknya keluar. "Jadi kau kekasih Feng?" bisik Fidelia. Dia sangat penasaran dengan hubungan Feng dan Astrid.


"Tidak, aku hanya menumpang tinggal," jujur Astrid.


"Tapi, kau membiarkannya menidurimu!" kesal Fidelia. Dia merasa Astrid sangat bodoh karena mau saja dimanfaatkan oleh Feng.


"I-itu--aku ingin mandi dulu," izin Astrid. Sekalian ingin lepas dari pertanyaan Fidelia.


"Kau harus membuat dirimu hamil, agar dia mau menikah, dia telah berjanji kepada Mama--hanya akan menikah jika wanita yang dikencaninya hamil," saran Fidelia lagi, sebelum Astrid melepaskan lengannya dari tangan Fidelia. Astrid hanya tersenyum, besok dia harus melakukan test dan jika dia tidak hamil. Maka dia harus memastikan Feng memakai pengaman, agar dia tidak membuat Feng merasa bersalah. Dan wajib menikahinya.


Astid mengambil tasnya lagi. Namun, sebelum Astrid mencapai tasnya, Feng telah lebih dulu mengambilnya dan membawanya ke kamar Astrid.


"Kami akan menyiapkan makan malam, kalian mandilah!" teriak Fidelia. Feronica telah lebih dulu menuju dapur.


Astrid ke kamarnya. "Terima kasih, aekarang keluarlah," ucapnya kepada Feng.


"Nanti malam, apakah kau bisa melayaniku?" tanya Feng. Sesuai kesepakatan seharusnya hari ini adalah jadwal dia kembali melayani Feng. "Oh iya, aku juga akan memberitahumu jadwal anita bukan hanya sekali satu bulan, melainkan minimal 4 kali dalam sebulan dan juga saat aku menginginkannya," terang Feng.


"Kau pasti berbohong, lalu, kenapa kau tidak bilang sebelumnya?" curiga Astrid.


"Kau, sendiri yang menghindariku, jadi aku belum sempat berbicara padamu." Feng menatap mata Astrid.


"Terserah saja, sekarang pergilah," usir Astrid, mendorong Feng agar keluar dari kamarnya.


Feng hanya tersenyum misterius di depan pintu kamar Astrid. Kemudian menuju kamarnya sendiri.


🍒🍒🍒


Hi semua, kalian jangan pelit-pelit buat nyawer ya🤭 kembang, kopi, iklan dan komen.


Sambil nunggu author up, cus mamoir dulu ke karya temanku!


...KAGET NIKAH...



Pekanbaru

__ADS_1


281122


16.57


__ADS_2