One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Semalam Bersama di Ruangan Pendingin


__ADS_3

"Apa ada orang di dalam?" ucap securitty dari luar.


Feng melepaskan ciumannya dari Astrid, mereka saling berpandangan. Feng membekap mulut Astrid dan menariknya untuk bersembunyi di balik rak-rak. Astrid hanya pasrah, dia pun takut ketahuan securitty berduaan dengan Feng di ruangan pendingin.


Feng melirik jam tangan, ternyata telah pukul enam sore. Dan biasanya karyawan lain pasti telah pulang. Mereka jarang lembur kecuali memang mendesak.


"Apa ada orang?" tanya Securitty lagi memastikan. Dia menyapukan pandangan ke dalam ruangan. Tidak ada orang.


Sepertinya Astrid lupa mengunci pintu ruangan pendingin.


Securitty mengunci pintu dan keluar dari ruangan tersebut.


Astrid menggigit tangan Feng, refleks Feng melepaskan tangannya dari mulut Astrid.


"Kenapa kau menggigit tanganku?" Feng mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit akibat gigitan Astrid.


"Kau sendiri kenapa membekap mulutku," sewot Astrid. Dia menyingkir dari tubuh Feng. Berjalan menuju pintu.


Astrid memeriksanya, terkunci. Kemudian Astrid mencoba menggedor-gedor pintu besi tersebut. Berharap securitty tadi kembali dan membukakan pintu untuknya.


Astrid memperhatikan Feng dengan tatapan kesal. "Kau lihat, kita terkurung di sini!" hardik Astrid. Dia mencoba mencari kunci cadangan di sela-sela pintu, dinding dan rak. Namun, tidak menemukannya, Astrid memperhatikan Feng yang hanya berdiri diam menyandar di dinding sambil melihat Astrid mencari kunci.


"Kau tidak membantuku untuk mencari kunci pintu ini? Apa kau ingin bermalam dan kedinginan di sini?" cecar Astrid.


Kenapa dia harus terjebak dengan Feng di sini? Di tempat dingin seperti ini?


"Feng!" hardik Astrid.


"Apa?" jawab Feng mendekat ke arah Astrid.


"Bagaimana cara kita keluar dari sini?" pinta Astrid.


"Memang kau mau keluar dari sini? Bukannya kau tadi sangat sibuk? Anggap saja lembur," balas Feng. Astrid melotot kepadanya.


Dasar Feng!


"Aku memang sibuk, tapi, aku tidak akan semalaman berada di sini. Nenek pasti mengkhawatirkan aku," cemas Astrid.


"Kau tinggal menghubunginya dan bilang padanya bahwa kau tidak bisa pulang malam ini," solusi Feng.

__ADS_1


"Nenek tidak punya ponsel, aku biasa menghubungi Collin jika ada perlu dengan nenek," sahut Astrid. Feng tidak suka Astrid menyebut nama Collin.


"Collin, Collin, bisa tidak kau tidak menyebut namanya di depanku?" bentak Feng. Astrid ketakutan saat melihat mata Feng yang penuh marah dan cemburu.


"Baiklah, lagian percuma aku menghubunginya, ponselku masih di dalam tas dan tasku berada dalam lemari meja," ungkap Astrid. Astrid berjalan menuju di dinding sebelah kanan. Dia kelelahan berdiri, Astrid mencari posisi untuk duduk. Astrid merasakan dingin di bokongnya. Tapi, ditahannya karena sangat lelah jika harus berdiri terus.


Feng mengikuti Astrid dan duduk di sampingnya. Feng memberikan ponselnya kepada Astrid. "Pakailah," ujarnya.


"Tidak usah, aku tidak hafal nomornya," balas Astrid. Dia menolak tangan Feng yang memegang ponsel. " Sebaiknya kau hubungi seseorang yang bisa mengeluarkan kita dari sini?" pinta Astrid.


"Aku masih ingin bersamamu, tunggulah beberapa jam lagi," ujar Feng santai.


"Apa kau gila, kita bisa mati membeku di sini, sekarang saja aku sudah merasa sangat kedinginan," sewot Astid.


Feng melepas jasnya dan memasangkannya kepada Astrid. "Pakai ini, setidaknya kedinginan yang kau rasakan akan berkurang," terang Feng.


"Terserah kau saja," pasrah Astrid. "Aku akan mencoba tidur, setelah itu kau hubungi seseorang untuk memgeluarkan kita," ujar Astrid, dia mencoba memejamkan matanya.


Sepertinya dia kelelahan?


Feng memperhatikan Astrid.


Bagaimana caranya memberitahu Astrid bahwa Feng tidak ingin Astrid meninggalkannya? Lalu, bagaimana dengan bayi itu? Pasti Collin tidak ingin melepaskan Astrid? Apalagi dia tahu Astrid mengandung ànaknya?


Feng menggenggam tangan Astrid, tangan Astrid terasa dingin. Feng memperhatikan jam di tangannya.


Pukul delapan malam, masih belum terlalu malam. Namun, cuaca semakin dingin, Feng semakin merapatkan tubuhnya kepada Astrid. Astrid yang merasakan pergerakan Feng menjadi terbangun. Dia membuka mata, dia pikir, dia tengah bermimpi berada dan terkurung di ruang pendingin.


"Sebaiknya kau segera menghubungi seseorang," pinta Astrid, dia menggosok-gosokan tangan mengusir hawa dingin yang semakin membuatnya kedinginan.


Feng mengambil ponselnya, dia membuka ponsel untuk menghubungi seseorang agar bisa mengeluarkan mereka. Berkali-kali Feng mencoba menghidupkan ponselnya.


"Sepertinya, ponselku habis baterai," beritahu Feng.


"Apa?" Astrid langsung merebut ponsel dari tangan Feng. Memastikan bahwa Feng tidak berbohong. Astrid mencoba menekan-nekan ponsel Feng. Ternyata memang habis baterai. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" cemas Astrid.


"Kita tunggu saja sampai besok pagi, pasti akan ada yang membukakan pintu," terang Feng dengan mudah.


"Besok pagi? Tidak bisa, nenek pasti cemas," ucap Astrid.

__ADS_1


"Kalau kau ingin mencoba cara lain, silahkan, aku akan tidur sebentar untuk beristirahat," ucap Feng, dia mulai memejamkan matanya.


Astrid hanya pasrah dan membiarkan Feng tertidur. Satu jam Astrid menunggu Feng tertidur, dia semakin merasa kedinginan, tubuh Astrid bergetar menahan hawa dingin yang semakin membalutnya.


"Feng! Aku kedinginan," ucap Astrid. Tidak ada cara lain, dia memeluk Feng dengan erat, meraih hangat di tubuh Feng. Feng membuka mata, melihat Astrid di sampingnya yang memeluk dengan erat.


Fengpun sebenarnya sangat kedinginan, dia membalas pelukan Astrid. Tubuh Astrid masih menggigil.


"Aku tahu satu cara agar kita tetap panas!" Feng langsung mencium bibir Astrid. Astrid hanya pasrah dan menikmati apa yang dilakukan Feng. Ciuman yang tadinya lembut berubah saling menuntut.


Mereka menyatukan diri, agar menghilangkan dingin. Feng merasa kelelahan setelah mereka menyatu. Astrid memakai kembali pakaiannya, begitu pula Feng.


"Aku sangat lelah dan butuh tidur kembali." Astrid memejamkan matanya dan Feng memeluknya kembali.


Sekitar satu jam setelah Astrid tertidur, Feng ingat bahwa ada pintu darurat dalam ruangan ini jika terjadi sesuatu.


Apa Astrid, tidak diberitahu?


Feng menuju ke arah pintu tersebut dan membukanya.


Syukurlah!


Feng kembali kedalam dan menggendong Astrid. Dia tidak ingin membangunkan Astrid. Astrid benar-benar kelelahan sampai tidak sadar Feng menggendongnya dan memasukan Astrid ke dalam mobil.


Feng membawa Astrid ke apartmentnya. Astrid masih belum bangun juga dari tidurnya. Feng membaringkan Astrid di kamarnya. Membuka pakaian Astrid dan membersihkan tubuh Astrid. Feng menatap perut Astrid yang masih rata.


Sepertinya Astrid tidak hamil, karena perutnya masih rata, pasti dia hanya berbohong untuk lepas dariku dan ingin bersama Collin. Cinta pertamanya.


Feng merasa kesal jika memikirkan hal itu.


Feng tidak bisa memakaikan baju untuk Astrid, akhirnya dia hanya menyelimuti Astrid agar tidak kedinginan.


Feng kemudian membersihkan dirinya, memakai pakaian nyaman dan tidur di sambil memeluk Astrid.


Aku tidak akan membiarkanmu kembali pada Collin!


🍒🍒🍒


Pekanbaru

__ADS_1


041222


18.00


__ADS_2