One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Mencoba Peruntungan


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" panik Selena begitupun Astrid. Mereka memasuki rumah yangbtelah hangus terbakar. Berharap bahwa tubuh Su Yi maupun Hope tidak berada di dalam rumah.


"Nenek!" panggil Astrid.


"Hope!" teriak Selena memanggil Hope.


Mereka terus mencari. Namun, tidak menemukan Su Yi dan Hope. Akhirnya Astrid menggedor pintu rumah Collin.


"Collin! Apa kau di rumah?" teriak Astrid memanggil Collin. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.


Selena mengedor pintu rumah tetangga lainnya dengan panik.


"Nyonya Wang!" panggil Selena. Tidak lama pintu dibuka oleh nyonya Wang. "Apa anda melihat Nenek Su Yi dan putraku?" tanya Selena.


"Mereka telah di bawa Collin ke rumah sakit Venetia," tutur nyonya Wang.


"Terima kasih," ujar Selena, dia berlari ke tempat Astrid. " Astrid, mereka telah dibawa Collin ke rumah sakit, ayo kita susul," ajak Selena.


Mereka berlari menuju jalan raya berharap segera mendapatkan taxy. Mereka bertanya kepada perawat yang bertugas ruang inap Su Yi.


"Collin! Bagaimana keadaan Nenek dan Hope?" tanya Astrid begitu mereka memasuki ruang inap Su Yi.


"Hope!" Selena memeluk putranya yang tidur di samping bangkar Su Yi.


"Hope tidak apa-apa ... hanya Nenek Su Yi yang mengalami luka bakar di punggungnya, dokter tadi telah memeriksanya ... dia masih pingsan," terang Collin.


"Kenapa rumah bisa terbakar?" tanya Selena kepada Collin.


"Aku juga tidak tahu ... tadi Hope hanya bilang, Su Yi menggendongnya untuk keluar saat mereka berlari salah satu kayu jatuh dan Su Yi demi melindungi Hope, terkena kayu tersebut," ungkap Collin. Selena merasa bersalah karena Su Yi terluka demi melindungi putranya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Astrid yang mulai bingung.


"Nenek Su Yi harus dioperasi punggungnya dan dilakukan bedah plastik," terang Collin.


"Berapa biaya operasinya?" tanya Selena. Dia harus bisa mencarikan uang tersebut.


"Sangat mahal," jawab Collin.


"Bagaimana kita mencari uang untuk biayanya, Sea?" bimbang Astrid. Dia menatap Selena.


"Aku punya usul, bagaimana kalau Sea mencoba bermain judi di City of dreams?" usul Collin kepada dua orang wanita ini.


"Bagaimana jika aku tidak menang?" elak Selena. Dia tidak begitu yakin dengan kemampuannya.


"Aku yakin kau pasti bisa, Sea." Astrid memberi semangat. Dia yakin Selena mampu karena selama bermain Selena hanya dua sampai tig kali kalah.


"Tentu kita tetap harus punya modal?" tekan Selena.


"Tenang saja aku akan memodalinya," usul Collin.

__ADS_1


"Tapi--,"


"Jika kau tidak ingin berutang, maka setelah menang, kau bisa mengembalikannya," potong Collin sebelum Selena meneruskan kata-katanya.


"Hanya itu cara yang kita miliki, Sea," bujuk Astrid. Dia menatap Selena penuh harap.


"Kalau begitu, nanti malam kau bisa ikut aku mulai main," ucap Collin kepada Selena.


"Kita akan tinggal di mana?" tanya Selena kepada Astrid.


"Aku juga tidak tahu. Tapi kemungkinan kita lebih sering di rumah sakit," jelas Astrid.


"Jika kalian mau. Kalian bisa tinggal di rumahku sementara waktu," tawar Collin kepada Selena dan Astrid.


"Terima kasih," ucap Selena dan Astrid berbarengan.


"Karena kalian telah di sini, aku akan pulang, siapa yang akan menjaga mereka?" tanya Collin.


"Aku saja yang menjaga," tawar Selena.


"Hari ini kami berdua akan menjaga mereka," ujar Selena. Collin pamit dan meninggalkan ruang inap Su Yi.


"Semoga kau bisa mendapatkan uangnya, Sea ... kita harus memperbaiki rumah juga," ujar Astrid. Setelah Collin pergi.


"Ya, aku akan berusaha memenangkan pertandingan itu," harap Selena.


"Apa kau siap?" tanya Collin memastikan.


"Harus," jawab Selena.


"Semangat , Sea!" ujar Astrid.


Hope telah diberi pengertian bahwa Selena akan pergi bekerja dan dia akan tinggal bersama Astrid.


Di City of Dreams Casino.


"Permainan apa yang kau inginkan?" tanya Collin.


"Poker," jawab Selena, entah kenapa mulutnya mencetuskan kata tersebut.


"Apa kau yakin? Mau mencoba yang lebih ringan?" bujuk Collin. Dia sedikit khawatir karena Selena memilih permainan yang cukup berat.


"Ya, entah kenapa saat melihat orang-orang bermain itu, aku merasa tertarik," ungkap Selena. Saat masuk dan sebelum bertanya Collin mengajak Selena berkeliling melihat permainan apa yang akan dimainkan Selena.


"Baiklah, coba kita lihat peruntunganmu," ujar Collin. Dia mencarikan Selena tim yang tidak terlalu kuat dengan taruhan kecil.


"Hi Jo, wanita ini, ingin ikut bermain," tunjuk Collin kepada Selena. Jo juga salah satu bandar yang bekerja di City of Dreams Casino.


"Silahkan duduk, Nona." Jo mempersilahkan Selena duduk.

__ADS_1


"Aku tinggal karena sekarang giliranku," tunjuk Collin ke arah tempatnya. Collin menjadi bandar senior dengan tim dengan taruhan tinggi.


"Silahkan!" ujar Selena. Dia mulai bermain, insting Selena bekerja dengan cepat. Selena memasang taruhannya. Dia memenangkan permainan pertama. Para pemain tidak rela karena mereka dikalahkan oleh pemain baru.


"Sebaiknya kau pindah ke tim yang lebih tinggi, Nona," kesal salah seorang pemain yang biasanya menang, sekarang menjadi kalah.


"Ya benar," sorak yang lainnya. Jo dengan sopan meminta Selena pindah daripada terjadi keributan.


Selena membawa koinnya dan pindah ke tim lainnya. Di situpun Selena kembali menang. Selena lumayan mendapatkan uang. Dia izin dengan Collin untuk kembali ke rumah sakit. Selena bermaksud untuk membayar deposit rumah sakit.


Selama tiga hari Selena bermain di City of Dreams dan dia selalu memenangkan pertandingan. Namun, belum cukup untuk membayar biaya operasi Su Yi dan membangun rumah.


Selena juga memberikan uang kepada Astrid agar mereka bisa membeli tiga stel pakaian dan pakaian dalam.


"Ini, aku sudah membelikan untukmu juga." Astrid menyerahkan bungkusan kepada Selena. Dia baru saja pulang berbelanja bersama Hope.


"Mama, lihat, Hope juga dibelikan mainan sama, Bibi," tunjuk Hope dengan gembira pada mainannya.


"Hope, jangan nakal jika Mama pergi bekerja ya," rayu Selena. Hope hanya menganggukan kepala.


"Apakah Nenek telah sadar?" tanya Astrid.


"Belum," lirih Selena. Dokter memberitahu mereka jika Su Yi koma. Kondisinya yang sudah tua membuat fisiknya rapuh.


"Sebaiknya kau bersiap-siap, sebentar lagi Collin datang." Astrid mengingatkan Selena.


Mereka belum meninggalkan rumah sakit. Mereka menjadikan ruang rawat Su Yi seperti rumah sendiri. Bersyukur pasien lain belum ada yang masuk.


Selena keluar dari kamar mandi, dia telah memakai pakaian baru yang dibeli Astrid. Karena ukuran tubuh mereka hampir sama, jadi Astrid tidak perlu susah payah menebak ukuran Selena.


"Aku juga membeli peralatan make up, sebaiknya kau mulai berdandan, agar tidak terlalu pucat dan hitam," sindir Astrid.


"Tapi, aku tidak tidak terlalu suka berdandan," elak Selena.


"Kau tidak perlu berdandan menor seperti Kitty Pong," ejek Astrid.


Astrid mendandani Selena dengan minimalis.


"Apa kau siap, untuk bertanding lagi hari ini, Sea?" ucap Collin yang baru masuk ke ruangan Su Yi.


🍒🍒🍒


Sabar ya bentar lagi Selena sadar kok🤭


Pekanbaru


031122


09.28

__ADS_1


__ADS_2