One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Tiga Wanita di Apartment Feng


__ADS_3

"Siapa kau?" tanya seorang wanita kepada Astrid. Astrid melihat ke arah wanita tersebut. Seorang wanita hamil.


"Kau sendiri, siapa?" sewot Astrid, nada bicaranyapun tidak ramah karena merasa cemburu. Meskipun hubungannya dengan Feng hanya sebatas saling menguntungkan. Sekalipun Astrid berharap lebih.


Siapa wanita ini? Apa dia istri Feng? Jika Feng memiliki istri yang tengah hamil, mengapa dia dengan tega menyewa wanita untuk memuaskannya? Apa Feng tidak kasihan dengan istrinya ini?


"Siapa, Fidelia?" tanya seorang wanita paruh baya yang keluar dari dapur.


"Entahlah, Mama, aku juga tidak kenal?" balas wanita hamil yang di panggil Fidelia tersebut.


Wanita paruh baya tersebut memperhatikan Astrid dari atas ke bawah. Dia seperti menilai Astrid. Hal itu membuat Astrid semakin salah tingkah.


"Kau siapa? Dan mengapa kau ada di apartment Feng?" tanya Wanita paruh baya tersebut.


"A--aku--," gugup Astrid. Dia merasa segan dengan wanita tersebut. Bagaimanapun Astrid harus menghormati orang tua.


"Apa kau kekasih Feng?" tebak wanita bernama Fidelia.


Astrid semakin merasakan gugup dan terpojokan. Tiba-tiba perutnya bergejolak. Dia berlari menuju kamar mandi luar dan memuntahkan isi perutnya.


Fidelia dan wanita paruh baya saling berpandangan.


"Apa kau hamil!" hardik wanita paruh baya.


Hamil? Astrid mencoba mengingat kapan terakhir kali, dia menstruasi.


Astrid melirik wanita tersebut, pandangan kedua wanita tersebut seperti menuduhnya. Astrid menyiram wc dan berdiri, dia bergerak menuju luar kamar mandi. Melewati dua wanita tersebut yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Apa kau tidak mendengar, apa yang dikatakan, Mama?" bentak Fidelia. Dia kesal karena Astrid mengabaikannya.


Dia penasaran siapa wanita ini? Kenapa dia berada di apartment Feng?


"Apa kau wanita sewaan Feng?" tuduh wanita paruh baya lagi.


Astrid bingung untuk menjawabnya, karena dia memang disewa Feng menjadi wanita pemuasnya--bukan dia sendiri yang menawarkan diri menjadi wanita pemuas Feng. Dengan bayaran Astrid tinggal gratis di apartmentnya.


"Kalian siapa?" tanya Astrid melunakkan nada bicaranya. Tidak ada gunanya dia bersitegang dengan dua wanita ini. Toh, dia bukan siapa-siapa.


"Kami yang berhak bertanya kau siapa?" hardik Fidelia lagi. Astrid benar-benar membuatnya kesal.


Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa dia sangat cuek dan berani?


"Aku Astrid," balas Astrid datar.


"Dan kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Fidelia, dia menatap Astrid dengan curiga.

__ADS_1


"Aku hanya menyewa kamar apartment Feng," bohong Astrid, dia tidak ingin jika hubungan Feng dengan istrinya bermasalah karena dia. Meskipun menurut Astrid aneh jika Feng dan istrinya tinggal terpisah. Atau mereka memang tinggal terpisah karena istrinya bekerja di luar kota?


"Hanya itu?" selidik wanita paruh baya. menurutnya tidak mungkin laki-laki.dan perempuan normal hanya tinggal bersama, tanpa ada perasaan, maupun hubungan?


Dan dia tahu bahwa Feng tidak akan mudah membiarkan wanita tinggal bersamanya.


"Ya, memangnya apa yang ingin anda ketahui, Nyonya?" heran Asrid.


"Entahlah, mungkin kau kekasih Feng?" terka wanita paruh baya itu lagi.


"Tenang saja aku bukan kekasihnya," ujar Astrid. "Jika tidak ada lagi, saya akan ke kamar," pamit Asrid. Dia melangkah menuju kamar. Namun, tangan Astrid ditarik oleh Fidelia. Membuat langgkah Astrid terhenti.


"Tunggu, apa kau yakin kau tidak memiliki hubungan dengan Feng?" cecar Fidelia, dia yakin pasti ada sesuatu antara Feng dan Astrid. Fidelia menatap tajam mata Astrid.


"Ya, kau tenang saja, aku bukan wanita selingkuhan suamimu!" protes Astrid , dia menarik tangan agar Fidelia melepaskannya.


Suamimu?


"Lalu, apa kau hamil? Dan apakah itu anak Feng?" Kali ini wanita paruh baya yang bertanya kepada Astrid.


Astrid sendiri tidak tahu apakah dia hamil atau tidak?


"Saya tidak hamil, apa itu membuat kalian puas?" bentak Astrid.


"Maaf, jikq saya membuat kalian tidak nyaman, saya akan keluar dari apaerment ini," putus Astrid. Dia menuju kamarnya, mengambil tas dan memasukan pakaiannya.


Air mata mengalir di pipi Astrid, dia merasa sangat bodoh, telah menyerahkan diri dan perasaan kepada Feng.


Tidak aku tidak boleh menyesal, itu adalah keputusanku.


Astrid masih memikirkan ke mana dia akan pergi? Apa dia tinggal saja di rumah sakit? Tapi, Su Yi pasti nanti akan bertanya, lalu bagaimana Astrid menjelaskannya?


Astrid keluar dari kamar dengan tas yang berisi pakaiannya. Dua wanita itu memandang Astrid, lalu tasnya.


"Tunggu, apa kau yakin, kau akan pergi?" tanya Fidelia lagi.


"Saya, tidak ingin merusak rumah tangga kalian dan saya tidak ingin kau salah paham," terang Astrid.


"Hei, ini--," kalimat Fidelia terpotong karena pintu apartment seperti di tekan passwordnya.


Pintu terbuka dan Feng masuk, dia menyaksikan dua wanita saling menatap penuh curiga.


"Fidelia!" panggil Feng kepada wanita yang tengah hamil besar tersebut.


Jadi benar wanita ini istri Feng? Antara kecewa dan marah yang dirasakan oleh Astrid.

__ADS_1


Feng melihat Astrid dan memperhatikan tas yang di tangan Astrid.


"Mau ke mana kau?" tanya Feng kepada Astrid dan menatap curiga kepada Fidelia dan wanita paruh baya itu. "Apa kalian mengusirnya?" bentak Astrid.


"Tidak, kami tidak mengusirnya," bela Fidelia. Dia tidak suka jika Feng membela Astrid.


"Lalu, kenapa Astrid membawa tasnya?" hardik Feng. Dia menatap tajam kepada Fidelia. Dia tahu wanita itu pasti telah melakukan sesuatu kepada Asrid.


"Feng, mereka tidak mengusirku, aku yang ingin pergi. Jangan menyalahkan mereka!" pinta Astrid. Dia melanglah dan melewati Fidelia dan wanita paruh baya itu.


Feng menarik tangan Astrid. "Kau tidak boleh pergi!" teriak Feng. Astrid menatap Feng tajam. Apa Feng sudah gila? Apa dia tidak memikirkan perasaan istrinya dan mertuanya? Ya, menurut Astrid, wanita paruh baya itu adalah mertua Feng.


"Lepas!" teriak Astrid, dia menghempaskan tangan Feng yang menyentuh lengannya. Feng justru menarik lengan Astrid lagi.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" geram Feng.


"Kenapa kau membelanya, Feng? Apa wanita itu kekasihmu?" tanya wanita paruh baya. Dia menatap Feng dengan pandangan tidak bisa diartikan.


"Saya bukan kekasihnya, Nyonya. Bukankah saya telah menjelaskannya tadi. Feng, beritahu mereka, kita tidak ada hubungan apa-apa. Jangan sampai istri dan mertuamu salah paham," terang Astrid.


"Istri? Mertua? Apa yang kau bicarakan?" heran Feng. "Dia memang kekasihku," ujar Feng lantang membalas pertanyaan wanita paruh baya.


"Feng! Apa yang kau katakan? Aku bukan kekasihmu!" bentak Astrid. Dia kesal karena Feng memperkeruh suasana.


"Apa? Jadi dia benar kekasihmu dan anak yang di kandungnya. Apakah itu anakmu?" tanya wanita paruh baya lagi.


"Apa kau hamil, Astrid?" tanya Feng. Dia menarik lengan Astrid, membuat Astrid lebih dekat dengannya. Feng menatap Astrid denga tajam, minta penjelasan.


"Saya tidak hamil!" teriak Astrid membela diri, meski dia tidak tahu apakah dia hamil atau bukan.


"Nikahkan saja mereka,"


🍒🍒🍒


Sambil nunggu aku up, silahkan mampir baca karya temanku ya!


...KUKIRA KAU CINTA...



Pekanbaru


281122


08.39

__ADS_1


__ADS_2