One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Saran Lilian


__ADS_3

"Terserah kau saja, tapi sampai kapan kita di Hong Kong? Paman pasti akan menyuruh kita segera pulang, apapun hasil dari pencariaan kita terhadap keluarga yang menyelamatkanmu." Lilian memperingati Selena.


"Aku tahu, jika itu terjadi aku akan mengikuti saranmu, bahwa aku menjalin hubungan dengan Kevin sejak keluarga Su Yi menyelamatkanku dan berkenalan dengan Kevin," ucap Selena. Dia berjalan dan menatap pemandangan laut di depannya.


Apartment mereka dekat dengan apartment Feng. Sengaja Feng membeli apartment dekat Kevin, agar memudahkannya saat mengantar jemput Kevin. Belum tugas-tugas dadakan yang diberikan Kevin, yang mengharuskan Feng datang ke apartment Kevin dalam waktu cepat.


"Oh iya, Collin menawarkan untuk kau ikut pertandingan judi se-Asia," beritahu Lilian, dia berjalan ke arah Selena dan berdiri tepat di samping Selena.


"Apa dia tahu, jika aku queen of gambler?" cemas Selena. Dia menatap tajam Lilian, ingin segera mendapat jawaban dari Lilian.


"Aku rasa tidak, dia menawarkan--hanya karena melihat kemampuanmu bermain saat menjadi Sea," terang Lilian.


"Syukurlah, setidaknya identitasku sebagai queen of gambler belum terbongkar, aku takut orang yang ingin membunuh queen of gambler mengetahui bahwa Selena Young adalah queen of gambler, tentu akan mudah bagi mereka membunuhku," jelas Selena.


"Bagaimana dengan Kevin, apakah kau telah memberitahunya?" tanya Lilian.


"Aku belum berani, aku masih ragu padanya," ungkap Selena.


"Aku rasa kau harus segera memberitahunya, bagaimanapun dia adalah ayah dari anakmu, dan aku rasa dia tidak akan berbuat jahat padamu--dan lagian apa untungnya bagi dia menyakitimu? Dia pria yang sangat kaya dan jika dia mencelakaimu, maka itu akan merugikan dirinya sendiri," jelas Lilian panjang. Dia mengerti jika Selena akan mencurigai semua orang, apalagi orang-orang yang terlibat di dunia perjudian.


"Aku ingin melihat sebulan ini dulu, bagaimana sikapnya terhadapku dan Hope," lanjut Selena.


"Bagaimanapun kau harus segera memberitahu Kevin, cepat atau lambat dan aku sarankan secepatnya sebelum semua terlambat dan--,"


"Memberitahuku apa?" potong Kevin yang tiba-tiba telah berada di belakang mereka. Hope di samping Kevin dengan tentengan ice cream.


"Kalian sudah kembali, aku tidak mendengar kau masuk?" Selena mengalihkan pertanyaan Kevin. Dia membalikan badan agar menghadap Kevin, begitu juga Lilian yang terkejut akan kedatangan Kevin.


"Barusan, saat aku mendengar Lili mengatakan kau harus memberitahuku sesuatu, cepat atau lambat," ulang Kevin, dia menatap Selena kemudia beralih ke Lilian.


"Bukan apa-apa?" balas Selena.


"Kau yakin, tidak menyembunyikan sesuatu padaku?" selidik Kevin.


"Tidak ada dan jikapun ada, aku tidak bisa memberitahumu sekarang," kelit Selena membuat Kevin terdiam. Dia tidak ingin memaksa Selena karena itu bisa membuat Selena berubah pikiran dan tidak ingin menikah dengannya.


"Sebaiknya kau segera mengambil barang-barangmu," ajak Lilian agar mereka keluar dari situasi panas ini.


"Kau benar, aku akan mengambil barang-barangku. Hope, Mama akan ke unit sebelah untuk mengambil barang-barang Mama," putus Selena. Dia mencium Hope dan keluar dari apartment Kevin bersama Lilian.


Kevin hanya melihat dengan penasaran, sebenarnya apa yang ingin diberitahu Selena. Namun, membuatnya ragu?


Aku akan menerimamu apa adanya?


"Ayo Hope, kita makan ice creamnya," ajak Kevin. Dia harus bisa mengakrabkan diri dengan Hope. Meskipun Selena tidak ingat dengan Hope, setidaknya Hope masih mengingat bahwa Selena adalah ibunya. Sedangkan Kevin, Hope baru mengenal Kevin sebagai ayahnya hari ini.

__ADS_1


"Asik!" Hope mengikuti Kevin. Kevin mengangkat tubuh Hope agar duduk di atas kursi makan. Meja makan Kevin berada di dapur dan bermodelkan mini bar.


Hope memakan ice cream dengan lahap dan berlepotan, Kevin melap mulut Hope dengan tissu.


"Apa Hope senang punya Papa?" tanya Kevin disela-sela makan ice cream mereka. Hope menganggukan kepala.


"Hope suka punya Papa, dulu Hope sering diejek Ciao dan teman-teman yang lain. Mereka bilang Hope anak haram," jujur Hope.


Hope mengingat kejadian lalu saat dia dibully Ciao, putra Kitty Pong dan teman-temannya. Serta pertengkarannya dengan Selena karena Papa.


Terlihatlah Selena yang pulang ke rumah dengan ekspresi lelah karena menghadapi sang bos yang menurut Selena berpikiran aneh dan hal itu juga membuatnya sakit kepala. Belum kenakalan yang dibuat oleh Hope. Selena tidak bisa menyalahkan putranya, karena Hope yang dibully duluan oleh teman-temannya. Hope hanya membela diri.


Selena memang mengajarkan putranya karate sejak berumur dua tahun. Selena sendiri heran kenapa dia bisa karate. Dia menegetahuinya saat bos Alung mencoba melecehkannya.


“Capek sekali,” cicit Selena yang lelah dengan hari ini.


Selena kemudian melihat ke arah anaknya yang mendekatinya kembali lalu menanyakan tentang hal yang sama seperti sebelumnya. Mungkin saja anak itu belum puas dengan jawaban yang sebenarnya tidak bisa dia jelaskan secara rinci kepadanya.


“Benarkah papa sedang sibuk?” tanya Hope sambil menatap Selena dengan ekspresi tidak percaya karena menurutnya sang Ibu, seolah menyembunyikan hal yang penting bagi dirinya. Maka dari itu dia ingin mengungkapkannya sendiri dengan cara bertanya.


“Iya,” balas Selena yang sedikit ragu kalau sebenarnya dia juga tidak tahu ayah dari anaknya tersebut sedang melakukan apa? Dan sedang apa sekarang? Sedang memikirkan apa? Yang paling penting Selena harus tahu dulu siapa dirinya karena semua bermulai dari amnesia yang dialaminya.


Selena telah mencoba mengingat-ingat siapa dirinya enam tahun yang lalu, saat Selena dinyatakan hamil. Selena tidak ingin anaknya tidak memiliki keluarga yang lengkap. Namun, sampai saat ini Selena tidak bisa mengingatnya.


“Apakah papa mengingatku?” desak Hope yang membuat Selena kembali terdiam tanpa menjawabnya sama sekali. Dia sangat bingung, apa yang harus ia jawab saat melihat anaknya yang sangat penasaran tentang sosok sang ayah.


“Kapan papa akan pulang?” ulang Hope untuk kesekian kalinya yang membuat hati Selena sakit.


“Aku ingin menemui papa, Mama” ungkap Hope lagi, Selena masih diam dengan tangan yang mengusap kepalanya pelan sambil merangkai kata apa yang akan dia ucapkan selanjutnya untuk menenangkan sang anak.


“Sayang...” ungkap Selena sambil mengelus kepala Hope perlahan-lahan, wanita itu tersenyum ke arahnya dengan air mata yang tertahan. Melihat sosok sang anak yang harus hidup tanpa seorang ayah tentu saja hal itu membuatnya sakit. Dia tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang.


Sebenarnya saat pertama kali mengetahui dirinya hamil. Selena sangat ketakutan, bagaimana dia bisa menjaga bayinya?


“Mama, kapan papa pulang?” ulang Hope lagi yang terlihat kesal dengan jawaban Selena karena itu bukanlah jawaban yang dia butuhkan sekarang.


“Hope, Mama tidak bisa menjelaskan tentang papa sekarang," elak Selena sambil memegang pipinya dengan ekspresi wajah khawatir terhadap Hope. Dia takut jika sang anak dibully kembali oleh temannya.


“Siapa ayah? Kenapa Ciao selalu meledekku seperti itu, Mama?” ulang Hope dengan wajah yang sudah memerah dia mengingat kembali saat di mana Ciao dan teman-temannya yang membullynya dengan perkataan yang menusuk hati.


“Kenapa Mama seolah menghindar jika aku bertanya seperti ini?” tanya sang anak yang membuat mata Selena memerah. Selena tak kuasa mendengar pertanyaan sang anak yang menusuk terlihat polos namun juga dapat membuatnya tak bisa berkata-kata.


“Aku tidak ingin di ejek terus, aku bahkan tidak mengerti apa yang Ciao ucapkan--semuanya membuatku bingung, Mama,” ujar Hope yang sudah menangis. Sepertinya dia memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya dengan tangan yang bergetar. Hope dikelilingi dengan rasa penasaran yang tinggi saat Ciao yang selalu mengejeknya tentang keluarganya yang hanya memiliki ibu, nenek, tante namun tanpa ayah.


“Baiklah, akan Mama jelaskan,” balas Selena sambil menatap sang anak dengan ekspresi yang sudah lebih tenang sekarang. Sepertinya dirinya harus menjelaskan sedikit-sedikit tentang masalah yang sedang dihadapinya ini agar sang anak juga mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


“Hope, dengarkan penjelasan Mama, jika kamu sudah bertambah umur maka Mama akan menjelaskannya kembali,” ujar Selena yang tidak mungkin menjelaskan semuanya secara terperinci karena pasti juga tidak akan dimengerti oleh Hope dan tentu akan membuatnya pusing. Apalagi Hope sekarang itu memang masih kecil.


“Kenapa? Kenapa tidak sekarang?” desak sang anak yang tetap kekeh pada pendiriannya. Dia seolah tidak ingin ada sesuatu yang ibu sembunyikan darinya. Hope ingin melawan teman-temannya dengan informasi yang disampaikan Selena.


“Karena kau tidak akan mengerti,” balas Selena sambil menatapnya dalam seolah menyuruhnya untuk menurut.


“Apa karena aku bodoh, Mama?” tanya hope yang membuat Selena sakit akan pertanyaannya tersebut. Apakah anak-anak memang selalu berpikir seperti itu? Mengapa dia bisa sampai memikirkan hal itu? Bahkan Selena pun merasa bahwa Hope itu adalah anak yang cerdas dibanding dengan anak-anak lain seusianya.


“Bukan, kau anak Mama yang paling pintar Hope,” balas Selena sambil menggeleng cepat mengusir pikiran buruk anaknya yang sudah kecewa padanya.


Hope terdiam lalu menatap ke arah ibunya dengan ekspresi yang sudah dideskripsikan yang pasti di Netra matanya terlihat hope yang kecewa padanya. Selena juga menatapnya lalu memegang tangannya yang dingin sambil berusaha untuk mengucapkan semuanya dengan nada suara yang bergetar dan tenggorokan yang tercekat.


“Lalu kenapa?” tanya hope lagi karena pertanyaan ini air mata Selena mengalir sambil menatap sendu sang anak. Hingga akhirnya dia mengusap air mata ibunya lalu tersenyum ke arahnya.


“Mama jangan menangis,” ujar Hope sambil mengusap air mata sang ibu yang terus mengalir. Dia merasa detak jantungnya sekarang lebih cepat dibanding sebelumnya, dirinya merasa sakit saat melihat ibunya menangis.


“Maafkan aku, Mama,” lanjut Hope sambil terus menunduk dan menatap sang ibu yang tak berkata apapun.


“Aku ... aku hanya tak ingin bila ada orang yang mengejek keluargaku, Hope, 'kan punya papa. Mama, 'kan yang bilang kalau papa sedang sibuk bekerja?” tanyanya yang malah membuat Selena kembali menangis di hadapannya. Tentu saja hal itu membuat Hope panik dan merasa bersalah.


“Maafkan Hope Mama, Hope salah,” pinta Hope sambil menangis ke arahnya yang dibalas pelukan oleh Selena.


Astrid dan Su Yi masuk, mendengar pembicaraan Selena dengan Hope, di mana Hope bertanya tentang ayahnya. Astrid dan Su Yi paham mengapa Selena tidak bisa menjelaskannya karena Selena sendiri tidak dapat mengingat siapa dirinya.


"Hope, bagaimana kalau kita mencari ice cream?" bujuk Astrid, agar Hope melupakan pertanyaan tentang ayahnya.


"Hore, ice cream!" teriak Hope dengan suka cita, dia langsung melupakan kesedihannya karena tidak memiliki ayah dan telah membuat Selena menangis.


"Bibi, Hope mau ice cream Vanila yang banyak ya." Hope membuat lingkaran besar dengan tangannya.


🍒🍒🍒


Tulisan italic mendandakan kejadian lampau ya.


Sambil nunggu author up, kalian wajib mampir ke karya teman author.


...HARTA TAHTA PERJAKA...



Pekanbaru


221122


18.34

__ADS_1


__ADS_2