One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Bertemu Feng


__ADS_3

Astrid telah tinggal selama sepuluh hari di kontrakan nyonya Lau. Bersyukur Feng tidak mencarinya dan dia pun tidak bertemu Feng.


Astrid mengalami morning sickness itu membuat Su Yi sangat curiga


"Astrid, apa yang terjadi padamu?" curiga Su Yi. Sejak tinggal di kontrakan nyonya Lau. Setiap pagi Astrid selalu muntah-muntah.


"Aku baik-baik saja, Nek," bohong Astrid, dia keluar dari kamar mandi, menghindari tatapan curiga Su Yi.


"Nenek, pikir kau seperti orang hamil saja," terka Su Yi, dia mengikuti Astrid le dapur.


"Hah, Nenek, jangan berpikir yang aneh-aneh," elak Astrid. Dia mulai memasak untuk sarapan pagi mereka, sebelum le kantor.


"Tapi, gejalamu sama seperti yang Nenek alami waktu hamil ayahmu. Dan kau ingat saat Sea hamil? Juga memiliki gejala yang sama," terang Su Yi.


"Nenek, aku hanya masuk angin. Pekerjaan di kantor sangat banyak sehingga membuat aku sangat sibuk dan aku jadi sering terlambat makan, makanya aku masuk angin," bohong Astrid. Astrid berdiri membelakangi Su Yi, sehingga Su Yi tidak melihat raut wajah Astrid.


"Kalau begitu, kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu, jangan sampai sakit," petuah Su Yi.


"Ya, Nek," balas Astrid.


"Sebaiknya kau bersiap-siap saja untuk pergi bekerja. Nenek akan memasak sarapan untuk kita," usir Su Yi.


"Tapi, Nenek, tidak boleh kelelahan. Apa Nenek lupa pesan dokter?" larang Astrid.


"Tenang saja, Nenek masih kuat." Su Yi mulai mengambil alih pekerjaan yang dilakukan Astrid.


Astrid mengalah dan memutuskan untuk bersiap-siap saja.


"Astrid!" panggil Collin. Dia bertamu ke rumah Astrid dan ingin memberitahu berita tentang siapa penculik Hope. Seharusnya Collin memberitahu sejak pertama dia mengetahui siapa penculiknya. Namun, menjelang final pertandingan judi se-Asia, Collin semakin sangat sibuk.


"Collin!" sapa Astrid, dia membukakan pintu depan agar Collin bisa masuk. "Ada apa?" tanya Astrid penasaran. "Sebaiknya kita duduk dulu," tawar Astrid.


Mereka duduk di lantai yang beralaskan karpet sederhana dengan meja kecil.


"Penculik Hope telah diketahui!" beritahu Collin.


"Jangan keras-keras, nanti Nenek bisa mendengarnya," peringatan Astrid. Memberi tanda di bibirnya dengan satu jari, tanda menyuruh diam. "Siapa? Apakah Hope telah selamat?" cecar Astrid.

__ADS_1


"Hope belum di selamatkan karena mr. Kwok dan mr. Li belum menemukan tempat Hope disekap," terang Collin.


"Lalu? Maksudmu penculik Hope telah diketah" heran Astrid.


"Ya, penculiknya adalah nona Rachel dan mr. Cheng, panitia pertandingan," terang Collin.


"Apa? nona Rachel? Sepupu mr. Kwok?" Collin mengangguk tanda membenarkan.


"Kenapa dia tega menculik keponakannya sendiri?" lanjut Astrid.


"Karena dia ingin, menang dan menjadi yang pertama," ungkap Collin. Astrid tidak percaya Rachel tega melakukan itu.


"Lalu, apakah mr. Kwok, telah mengambil kesempatan dan meminta nona Rachel untuk mengembalikan Hope?" tanya Astrid.


"Tidak, mereka tidak ingin, nona Rachel maupun mr. Cheng, tahu dan akan berdampak buruk bagi keselamatan Hope," jelas Collin. "Mereka mengutus orang untuk mengikuti nona Rachel dan mr. Cheng, agar bisa menyelamatkan Hope secara diam-diam," tambah Collin.


"Aku lega mendengarnya, semoga Hope cepat selamat," ucap Astrid. "Kalau begitu, aku harus segera bersiap-siap untuk ke kantor," pamit Astrid. Collin datang pagi-pagi, sepertinya dia baru pulang bekerja.


"Silahkan, aku juga ingin beristirahat." Collin bangkit dari duduk dan keluar dari rumah sewa milik nyonya Lau.


***


Tengah asik memeriksa qualitas stock ikan. Astrid tidak menyadari kehadiran seseorang.


"Astrid!" sapa pria itu. Jangtung Astrid langsung berdegup kencang, dia tahu itu suara siapa. Astrid menengadahkan kepala dan benar saja. Tepat di depannya, berdiri dengan angkuh seorang pria yang tidak ingin Astrid temui.


Astrid hanya mengabaikan pria tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.


"Astrid Yi! saya sedang berbicara denganmu," bentak Feng karena Astrid mengabaikannya.


"Maaf, mr. Li, saya terlalu fokus dalam bekerja," elak Astrid.


Feng melihat ke sekeliling ruangan mereka tengah berada, di ruangan pendingin. Memastikan bahwa tidak ada orang Feng, mendekati Astrid, membuat Astrid mundur dan membentur dinding. Astrid merasakan hawa dingin dari dinding tersebut.


"Kenapa kau pergi dari apartmentku? Siapa yang mengizinkanmu?" hardik Feng. Astrid menjadi gugup.


"Aku mundur menjadi pemuasmu," ujar Astrid.

__ADS_1


"Kau tidak bisa mundur, katakan padaku apa alasannya kau mundur, kau sendiri yang menawarkan diri ... Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?" kesal Feng. Dia menatap tajam mata Astrid. Astrid justru mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia melihat kartu-kartu stock yang terpajang di rak-rak yang berisi tangkapan laut.


"Tentu saja aku bisa mundur, aku bukan wanita bayaran," balas Astrid. Dia mencoba menyingkirkan Feng yang terlalu dekat dengannya.


"Kalau begitu, aku akan membayarmu? Berapa yang kau inginkan?" ejek Feng. Dia tidak menyangka jika Astrid menganggap hubungan mereka seperti pekerja *** komersial dan pelanggannya.


"Tidak, aku tidak berminat," tolak Astrid, dia berjalan menjauhi Feng. Dengan sigap Feng menarik tangan Astrid, membuat Astrid menghempaskan tubuhnya kepada Feng.


"Seperti yang aku katakan tadi, kau tidak bisa mundur, berikan alasan yang lebih masuk akal," ejek Feng. Dia menyusuri wajah Astrid dengan jarinya. Astrid sedikit terlena dengan sentuhan Feng. Dia membiarkan Feng menyentuh wajah dan kemudian lehernya. Astrid secepatnya menyadarkan diri dari keterlenaannya.


"Lepaskan!" teriak Astrid menyingkirkan tangan Feng dari lehernya.


"Tidak akan." Feng semakin mendekatkan diri dan merapatkan kembali tubuh Astrid ke dinding. Tangan Astrid mencoba menyingkirkan dada bidang Feng. Feng mengambil dan mengumpulkan kedua tangan Astrid ke atas dinding. Feng semakin merapatkan tubuhnya ke Astrid.


Astrid dapat merasakan bahwa Feng sedang teransang.


"Aku hamil!" Akhirnya Astrid mengatakan tentang kehamilannya kepada Feng. Astrid ingin mengetahui reaksi Feng.


"Apa itu anak Collin?" tuduh Feng, membuat Astrid sakit hati. "Apa karena itu kau pergi dari apartment?" lanjut Feng lagi. Astrid menahan air mata agar tidak jatuh karena tuduhan Feng. Feng pikir Astrid wanita murahan? Feng tahu bahwa dia mendapatkan Astrid pertama kalinya dan dengan gampang dia mengatakan bahwa anak yang dikandung Astrid anak Collin.


"Ya," jawab Astrid datar dia ingin pergi dari Feng. Feng terlalu egois.


"Apa Collin tahu bahwa kau juga bersamaku?" sindir Feng.


"Bukan urusanmu," elak Astrid.


"Jadi benar, kau berselingkuh saat bersamaku?" kesal Feng. Dia memukul dinding di kepala Astrid.


"Terserah kau berpikir apa?" ucap Astrid, dia pasrah, jika harus menjadi single mom. Hanya saja bagaimana menjelaskan kepada Su Yi?


"Aku tidak peduli, kau telah bersama Collin, kau tetap harus bersamaku," perintah Feng. Dia mencium bibir Astrid dengan brutal.


"Apa ada orang di dalam?" ucap securitty dari luar.


🍒🍒🍒


Pekanbaru

__ADS_1


051222


15.50


__ADS_2