
Feng membawa Astrid ke rumah sakit. Dia melajukan mobil seperti orang gila. Feng memarkirkan mobil dengan sembarangan. Feng menggendong Astrid.
"Tolong!" teriak Feng. Darah tidak berhenti mengalir dari paha Astrid. Para perawat yang melihat langsung mendoorng brangkar.
"Letakkan dia di sini, Tuan," tawar seorang perawat wanita, menunjuk brangkar.
Feng membaringkan tubuh Astrid yang pingsan. "Bertahanlah, aku tidak akan membiarkan kau pergi, semua akan baik-baik saja," liroh Feng. Dia melihat wajah Astrid yang pucat, Asrid kelihatan seperti mayat.
"Apa yang terjadi? Apa dia hamil?" tanya perawat. Perawat dan Feng mendorong brangkar menuju IGD.
"Ya," jawab Feng singkat.
Memasuki ruangan IGD. "Sebaiknya, anda, menunggu diluar saja, Tuan. Kami akan memeriksanya," ujar perawat.
Seorang dokter memasuki ruangan IGD, dokter langsung memeriksa dan memberikan perawatan kepada Astrid.
Dokter melihat kondisi janin Astrid, "Dia keguguran," sesal dokter.
"Apa perlu dikorek, Dok?" tanya perawat. Dia tadi telah sempat membersihkan darah yang mengalir di kaki Astrid.
"Tidak perlu, usia kandungannya masih terlalu muda dan belum terbentuk," ucap dokter. Setelah memberikan perawatan dokter keluar.
Feng yang melihat dokter keluar dari ruangan lansgung menghampirinya.
"Bagaimana istri dan anak saya, Dok?" cemas Feng. Entah kenapa dia mengakui Astrid sebagai istrinya.
"Maaf, bayinya tidak tertolong, kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap," jelas dokter.
Feng terduduk lemah di lantai rumah sakit, menyesali semuanya. Kata-kata Collin terngiang-ngiang di telinganya.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit, jangan sampai kalian kehilangan anak kalian,"
"Cepat saja, jangan biarkan kau kehilangan anakmu, aku tidak pernah menyentuh Astrid sedikitpun, berharaplah bayi itu baik-baik saja atau tidak ada kesempatanmu untuk bersama Astrid."
Feng takut membayangkan, jika Astrid benar-benar pergi dari hidupnya.
Bagaimana cara Feng menjelaskan tentang bayi mereka yang telah pergi kepada Astrid.
"Feng!" sapa seorang wanita paruh baya kepada Feng.
"Mama!" Feng mendongakkan kepalanya, saat mendengar namanya dipanggil.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau di rumah sakit?" tanya Feronica Li. Dia sedang menemani Fidelia yang akan melakukan control rutin, saat melihat Feng terduduk lemas di lantai.
Fidelia dan suaminya langsung diantar perawat ke ruang obgyn. Feronica menghampiri Feng, memastikan pria yang dilihatnya adalah putranya.
"Astrid, dia keguguran," cicit Feng, dia masih terduduk di lantai, memandang Feronica dengan sedih dan kalut.
Feronica dapat mengetahui jika, Feng sangat mencintai Astrid.
__ADS_1
"Jadi dia benar hamil?" tanya Feronica. Feng hanya menganggukan kepalanya.
"Kau tidak memberitahu Mama, apa karena kau masih tidak ingin menikah?" kesal Feronica, sekarang calon cucu yang diharapkan dari anak laki-lakinya telah meninggal.
"Aku janji, setelah Astrid sadar, aku akan menikahinya, Mama. Tapi--," Feng tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Feronica."Sebaiknya kita duduk dulu," ajak Feronica, ke kursi yang ada di samping ruangan itu.
"Pasti Astrid tidak ingin aku menikahinya," ucap Feng.
"Tenanglah, Mama tahu jika gadis itu juga mencintaimu. Kesempatan kalian untuk punya anak masih besar," bujuk Feronica.
Feng berharap Astrid mau memaafkannya dan bersedia untuk menikah dengannya.
"Mama, Feng!" sapa Fidelia yang telah selesai memeriksakan kandungannya. Suami Fidelia sedang menebus obat di apotik.
"Fidellia, mana suamimu?" tanya Feronica.
"Lagi ambil obat, kenapa Feng ada di rumah sakit?" tanya Fidelia, dia ikut duduk di samping Feronica.
"Astrid!" panggil Feng, saat perawat membawa brangkar dimana tubuh Astrid di atasnya. Feng langsung berdiri dan mengikuti perawat yang mendorong brangkar. Feronica pun mengikuti Feng, dia ingin menenangkan putranya yang terlihat kalut.
"Astrid, ada apa dengan Astrid?" heran Fidelia. Dia pun mengikuti Feronica dan Feng.
"Dia keguguran," jawab Feronica.
Mereka memasuki kamar rawta inap Astrid, Feng memang meminta di tempatkan di ruangan VVIP.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Feronica kepada perawat.
"Kondisinya belum stabil, dia masih pingsan, kita hanya bisa menunggu sampai dia sadar," jawab perawat.
"Terima kasih," ucap Feronica.
"Saya permisi dulu, Nyonya," pamit perawat meninggalkan kamar rawat inap Astrid.
"Aku pernah mengatakan kepada Astrid, agar segera hamil, dan itu satu-satunya cara supaya kau mau menikahinya, dan sekarang dia keguguran, kau pasti senang tidak perlu menikah," ejek Fidelia.
"Apa?" bingung Feng. Apa karena perkataan Fidella Feng ingat kejadian saat dia bersama Astrid, Astrid pernah mengatakan tentang kehamilan.
"Bagaimana jika aku hamil? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tenang saja, kau tidak akan hamil, mulai saat ini aku pastikan untuk memakai pengaman. Jika kau mau, aku bisa membawamu ke dokter untuk berdiskusi alat kontrasepsi apa yang cocok untukmu,"
"Tidak perlu,"
Feng sadar jadi selama ini Astrid ketakutan bahwa Feng tidak akan mau menerima bayinya? Karena takut untuk menikah?
Feng mengusap rambutnya dengan kasar, merasa bodoh, dan dia bahkan mencurigai Astrid hamil anak Collin.
__ADS_1
Fidelia dan Feronica saling berpandangan, heran dengan tingkah Feng. Menurut mereka Feng bersikap aneh.
"Feng!" panggil Feronica, Feng hanya melirik Feronica. Dia mendekati ranjang Astrid, mencium dan memeluk Astrid.
"Maafkan aku, aku berjanji setelah ini kita akan menikah dan memiliki anak yang banyak," bisik Feng ditelinga Astrid.
"Sepertinya dia mendapatkan karmanya," sindir Fidelia.
"Jangan sembarangan, apa kau tidak kasihan dengan saudaramu sendiri?" ejek Feronica.
"Mama telah lama menyuruhnya, menikah, sekarang saat dia telah ingin menikah, aku cemas Astrid tidak ingin menikah dengannya lagi," prediksi Fidelia.
"Kau--sebaiknya jangan asal berbicara, kasihan Feng," bela Fidelia
Bagaimanapun, Feng tetaplah putranya. Meskipun Feronica tidak menyukai prinsip hidup Feng yang tidak ingin menikah.
Ponsel Fidelia berbunyi dan itu dari suaminya. Fidelia memberitahu bahwa dia di kamar kekasih Feng.
Pintu kamar diketuk, Fidelia yakin itu adalah suaminya.
"Astrid!" panggil Su Yi, dia memasuki kamar bersama Collin dan Hope. Hope memakai masker agar tidak dikenali oleh penculiknya.
Fidelia menyingkir dari pintu, dia tidak kenal dengan wanita tua yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Astrid?" tanya Su Yi. Collin memang telah memberitahu Su Yi bahwa Astrid hamil anak Feng.
"Dia keguguran," cicit Feng.
"Cucuku yang malang, maaf Nenek, tidak bisa menjagamu dengan baik," sesal Su Yi.
"Bibi, bangun," ujar Hope dia naik ke brangkar Astrid dan memeluk Astrid. "Nenek, Bibi, sakit apa?" tanya Hope.
"Bibi terluka, Hope, ayo ke sini, nanti Bibi semakin sakit," bujuk Su Yi, agar Hope turun dari brangkar. Hope turun dari brangkar.
"Maafkan, Feng yang tidak bisa menjaga cucu, Nyonya dengan baik," ucap Feronica.
"Kalian siapa?" tanya Su Yi, dia melihat ke arah Feronica dan Fidelia.
"Saya Feronica Li dan ini putri saya Fidelia, Feng putra saya," jelas Feronica.
"Saya Su Yi, nenek Astrid, ini Collin tetangga kami," ucap Su Yi. "Setelah Astrid keluar, saya akan membawanya pulang, kau jangan bertemu lagi dengannya," putus Su Yi kepada Feng. Feng tidak rela.
🍒🍒🍒
Kisah Feng dan Astrid kita gantung ya. Akan dilanjutkan di session 2.
Mau fokus tamatkan dulu kisah Selena dan Kevin.
Pekanbaru
__ADS_1
081222
18.01