One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Melahirkan


__ADS_3

Delapan bulan berlalu, Selena mendekati hari kelahiran buah hatinya. Tidak mudah melewati masa-masa itu. Para warga dihasut oleh nyonya Lung untuk membenci Selena. Mereka menganggap Selena wanita murahan. Tidak mudah menjalani hidup.


Selena hanya bisa membantu Su Yi dan Astrid saat berjualan. Dalam kondisi hamil, Selena berteriak-teriak bersama Astrid menawarkan barang dagangan mereka.


"Silahkan, ikan dan udang segarnya!" teriak Selena, sambil memegang ikan.


"Murah saja, tidak pakai mahal!" tambah Astrid. Akhir-akhir ini pembeli mereka berkurang, akibat fitnah yang diluncurkan Nyonya Lung dan Kitty Pong.


Bahkan setelah Selena mengabaikan bos Alung. Bos Alung tidak memberikan tempat untuk mereka berjualan. Beruntung kepala desa membantu. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang tidak strategis. Lumayan daripada tidak dapat tempat.


Selena dan Astrid terus berteriak menawarkan barang dagangan mereka.


Tiba-tiba Selena merasakan perutnya melilit. Dia merasakan kontraksi, saat pertama terjadi kontraksi jarak waktunya satu jam. Selena mencoba menahannya. Semakin lama semakin pendek.


"Argh!" teriak Selena, memegang perutnya. Astrid yang melihat langsung membantu Selena.


"Sea, apa yang terjadi?" cemas Astrid, dia melihat keringat bercucuran di dahi Selena.


"Sepertinya sudah saatnya," ucap Selena putus-putus.


"Apa?" Bingung Astrid, entah kenapa dia jadi bodoh.


"Melahirkan, bayinya ingin ke luar,"


"Tunggu, aku akan mencari bantuan." Astrid berlari mencari siapa yang kira-kira dapat membantunya. Astrid melihat kepala desa yang tengah berbicara dengan seorang nelayan pria tua.


"Kepala desa, tolong bantu kami!" teriak Astrid sambil ngos-ngosan begitu sampai di depan Kepala desa.


"Oh, Astrid, kenapa?" tanya Kepala Desa heran melihat Astrid berlari untuk menemuinya. Apakah Alung kembali mengganggu mereka?


"Itu--" Astrid mengatur nafas.


"Coba tarik nafas dulu, kemudian ke luarkan." Astrid melakukan sesuai perintah Kepala Desa.


"Sea, dia mau melahirkan," ucap Astrid cepat.


"Apa?"


"Ayo, bantu kami." Astrid menarik tangan kepala Desa. Membuat kepala desa terseret langkahnya mengikuti Astrid.


Begitu sampai ke tempat Selena, Astrid dan kepala desa memapah Selena menuju mobil kepala desa.


"Bibi, tolong jaga kios kami, kami akan membawa Sea ke rumah sakit!" teriak Astrid kepada ibu pedagang di samping kios mereka.


"Baik, silahkan," balas ibu itu.

__ADS_1


"Kita singgah ke rumah sebentar, saya ingin memberitahu nenek dan mengambil peralatan Sea." Kepala desa melajukan mobil ke rumah nenek Su Yi.


Astrid ke luar dari mobil kepala desa dan memasuki rumah.


"Nenek!" panggil Astrid, Su Yi yang tengah memasak menjadi heran. Kenapa jam segini Astrid telah pulang.


"Astrid, kenapa kau telah kembali? Sea mana?" cemas Su Yi, apa Sea di ganggu Alung lagi? Astrid menuju kamarnya dan ke luar dengan membawa tas bersalin Selena. Tas tersebut telah mereka siapkan dua minggu yang lalu. Tas yang berisi perlengkapan Selena dan bayi.


"Nenek, Sea akan melahirkan. Kios kami tinggalkan." Beritahu Astrid. Dia melangkah ke luar.


"Dengan siapa kalian ke rumah sakit?"


"Di antar kepala desa,"


Astrid ke luar dengan tas di tangannya. Collin yang baru pulang bekerja heran melihat Astrid membawa tas. Di tambah mobil kepala desa yang terparkir di depan rumah Su Yi.


"Astrid, apa yang terjadi?" Collin mendekati Su Yi dan Astrid.


"Sea, akan melahirkan." Astrid membuka mobil dan memasukan tas.


"Sebaiknya, aku yang antar kalian" tawar Collin.


"Tidak bisa, kau bantu nenek untuk mengemasi dagangan kami. Kemudian menyusul ke rumah sakit. Sea harus cepat di bawa ke rumah sakit."


Dokter memeriksan kondisi Selena, memastikan jalan lahir telah terbuka sempurna.


Cukup lama waktu yang dibutuhkan Selena untuk melahirkan. Astrid menemani Selena di sampingnya. Kepala desa masih setia menunggu di luar ruangan bersalin. Terdengar suara tangis bayi.


Su Yi dan Collin datang tepat saat terdengar suara tangisan bayi di ruangan bersalin.


"Apakah itu bayi, Sea?" tanya Su Yi kepada Kepala Desa.


"Saya tidak tahu, bisa jadi." balas Kepala Desa.


Di ruangan dokter memperlihatkan bayi yang baru saja dilahirkan Selena. Sang dokter meletakan bayi dekat dada Selena agar dia mencoba mencari ASI. Kemudian perawat membawa bayi untuk dibersihkan.


"Bayi laki-laki," beritahu Astrid, tanpa diberitahu pun Selena telah melihat jenis kelamin bayinya.


Perawat datang membawa bayi laki-laki kepada Selena.


"Lihatlah, bayi yang sangat tampan." Ucap Astrid lagi. Dia mengambil bayi tersebut dari perawat dan menggendongnya.


"Apa kau telah menyiapkan namanya?" tanya Astrid kepada Selena.


"Hope, itu namanya." Selena memberi nama Hope yang berarti Harapan, berharap dia mengingat siapa dirinya. Harapan untuk menemukan keluarganya lagi.

__ADS_1


"Hallo, Hope, welcome to the world!" ucap Astrid, mencium pipi bayi mungil itu.


"Boleh aku mebawanya ke luar?" Izin Astrid kepada Selena maupun dokter.


"Silahkan, tapi tidak bisa lama, karena dia akan dibawa ke ruang perawatan bayi," jelas dokter.


Astrid membawa Hope ke luar. Di sana telah menunggu Su Yi, Collin dan Kepala desa. Su Yi yang tidak sabaran langsung mendekati Astrid dan melihat bayi tampan tersebut.


"Saya persembahkan bayi Hope!" ucap Astrid sambil memperlihatkan sang bayi.


"Bayi yang sangat tampan." Su Yi mengambil Hope dari gendongan Astrid.


Mereka sangat antusias menyambut bayi tersebut. Colin dan kepala desa pun berebut untuk menggendong putra Selena.


"Maaf, Nona, saya harus mengambil bayinya dan membawanya ke ruang perawatan bayi," jelas Perawat. Dia datang dan meminta bayi tersebut.


Semua hanya pasrah saat bayi mungil itu di bawa ke ruang perawatan bayi.


Tiga bulan umur Hope, Selena kembali membantu berjualan dengan menggendong bayinya. Sebelum berjualan Selena singgah ke kantor polisi. Diam-diam Selena masih mencari tahu ke kantor polisi tentang orang hilang. Namun, nihil. Diantara orang hilang yang dicari keluarganya, tidak satu pun foto Selena terpajang di situ.


Apa dia tidak punya keluarga sehingga tidak ada yang ingin mencarinya?


Alung masih sering merayu Selena dan Nyonya Lung juga masih membuat hidup Selena tidak nyaman.


Mereka selalu mengatai Selena wanita murahan. Apa lagi setelah Selena melahirkan. Semakin membuat mereka merajalela.


"Eh, wanita ******! Masih sanggup kau berjualan dan tinggal di kampung ini?" teriak nyonya Lung saat melewati kios Selena.


"Kenapa?" Tantang Selena. "Aku rasa tidak ada larangan untukku tinggal di sini," balas Selena dengan tajam. Dia muak selalu mendapat intimidasi dari nyonya Lung dan antek-anteknya.


"Kau! Berani sekali kau melawanku." Nyonya Lung bersiap-siap untuk memukul Selena.


"Nyonya Lung, jangan bermain kasar," ucap Astrid, yang baru datang. Dia melihat Selena akan di pukul oleh nyonya Lung.


"Dasar kalian sama-sama wanita murahan," sembur nyonya Lung. Dia meninggalkan kios tempat Selena berjualan dengan menahan marah.


🍒🍒🍒


Pekanbaru


231022


17.04


Hi aku update lagi ya, semoga kalian suka😘

__ADS_1


__ADS_2