One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Dilema Astrid


__ADS_3

Sepulang bekerja keesokan harinya, Astrid memutuskan untuk singgah ke apotik untuk membeli test pack. Dia harus memastikan bahwa dia tidak hamil.


Semalam setelah ibu dan adik Feng pulang. Feng dan Astrid kembali bercinta untuk yang kedua kali. Kali ini Feng memastikan memakai pengaman. Hal itu membuat Astrid kecewa, karena Feng benar-benar tidak ingin menikahinya. Dan Astridpun akan memastikan tidak hamil. Dia tidak ingin melakukan saran dari Fidelia. Dia tidak akan memaksa Feng ataupun menjebak Feng untuk menikahinya. Astrid sendiri juga tidak tahu, bagaimana perasaan Feng padanya.


Selesai mandi, Astrid menggukan alat test tersebut. Astrid menunggu dengan harap-harap cemas.


"Tidak," guman Astrid, saat hasil test alat tersebut tertera. "Mungkin, alat ini salah." Astrid meyakinkan diri.


Dia mengambil alat test lain, hasilnya masih sama. Astrid sampai mencoba tiga alat test dan hasilnya masih sama, positif.


Astrid bersedih, bagaimana ini? Dia tidak akan meminta pertanggung jawaban Feng. Sebaiknya dia memeriksakan diri ke dokter kandungan. Bisa saja alat test tersebut salah? Harap Astrid.


Dia meletakan hasil test pack di atas closet. Astrid berganti pakaian bersiap untuk memanaskan masakan yang dibawa ibu Feng. Astrid tidak mau menunggu Feng pulang dan makan bersama. Sedapat mungkin dia harus kembali menghindari Feng. Selesai makan Astrid membersihkan peralatan makan. Dia memasukan masakan ke dalam microwave agar tetap panas saat Feng memakannya. Meskipun Astrid ragu jika Feng akan makan malam, jika lembur. Dia pasti telah makan di luar.


Astrid mencoba untuk tidur dan menghilangkan pikirannya dari kemungkinan terburuk.


"Aku belum tentu hamil," gerutu Astrid. Setelah lelah berpikir Astrid akhirnya tertidur.


Pukul sebelas malam, Feng pulang, selesai mandi, dia menuju kamar Astrid. Feng memang telah menyuruh Astrid untuk tidak mengunci kamarnya.


Malas berdebat, Astrid menyetujuinya. Feng melihat Astrid yang tertidur lelap. Feng mengusap pipi Astrid dan menciumnya. Astrid yang tidur menyamping merubah posisi menjadi telentang. Feng masuk ke dalam selimut dan mencumbu Astrid. Astrid membuka mata.


"Kau telah kembali? Pukul berapa sekang?" tanya Astrid mencoba memfokuskan pandangannya.


"Ya, pukul setengah dua belas malam," balas Feng.


"Apa kau telah makan?" tanya Astrid.


"Aku telah makan dan sekarang aku ingin memakanmu." Feng langsung mencium bibir Astrid dan mencumbunya.


Astrid hanya pasrah, dia sendiri yang menawarkan diri. Jadi Astrid tidak bisa mundur lagi. Melihat reaksi Astrid yang datar Feng bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan Astrid.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Feng.


"Tidak ada," bohong Astrid padahal dia sangat mengkhawatirkan tentang hasil test pack tadi.


"Kau yakin. Katakan saja apa yang meresahkanmu?" paksa Feng lagi. "Aku tidak bercinta dengan boneka, 'kan?" sindir Feng. Karena melihat dan merasakan reaksi Astrid yang hanya pasrah.


"Bagaimana jika aku hamil? Apa yang akan kau lakukan?" akhirnya Astrid memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Tenang saja, kau tidak akan hamil, mulai saat ini aku pastikan untuk memakai pengaman. Jika kau mau, aku bisa membawamu ke dokter untuk berdiskusi alat kontrasepsi apa yang cocok untukmu," terang Feng.


"Tidak perlu," balas Astrid. "Ayo kita mulai saja," ajak Astrid. Feng langsung menyambutnya dengan senang hati.


Mereka kembali melakukannya dan meskipun Feng merasakan keterpaksaan dari Astrid. Namun, dia tidak bisa mundur karena telah berada diubun-ubun.


Setelah selesai dan mendapatkan kepuasannya Feng turun dari ranjang. Dia masuk ke dalam kamar mandi Astrid. Feng mandi, sedangkan Astrid mencoba untuk menghilangkan pikirannya.


Feng mandi, tanpa sengaja dia melihat alat test Astrid. Apa ini? Feng memang tidak tahu apa itu.


"Astrid!" panggil Feng. "Ini apa?" tanyanya sambil membawa test pack di tangannya. Astrid melihat test pack tersebut. Seketika wajah Astrid menjadi pucat.


Dia turun dari ranjang, melangkah dan mengambil alat tersebut dari tangan Feng. "Bukan apa-apa," bentak Astrid. Dia takut Feng curiga.


Astrid merasa lega, karena setelah itu Feng tidak bertanya lagi. Jika Feng bertanya, Astrid akan kesulitan untuk berbohong lagi.


***


Astrid memasuki rumah sakit, sebelumnya dia sempatkan untuk mengunjungi Su Yi. Ya, Astrid memeriksakan kandungan di rumah sakit yang sama dengan Su Yi dirawat.


Astrid menunggu giliran, dia merasa tidak nyaman karena hanya Astrid yang tidak ditemani pasangan. Sememtara wanita lainnya bersama pasangannya.


"Ibu Astrid!" panggil perawat saat giliran Astrid untuk diperiksa.


"Sikahkan masuk," ajak perawat. Dia mengarahkan Astrid untuk menimbang berat badan sebelum menyurub Astrid duduk di brankar.


Perawat mencatat berat badan Astrid, kemudian melakukan pemeriksaan tensi Astrid.


Dokter datang dan bertanya kepada Astrid.


"Apakah sebelumnya anda telah melakukan test pack, Nona?" tanya dokter sebelum memeriksa.


"Ya," sahut Astrid, dia merasa was-was.


"Dan apa hasilnya?" tanya dokter kembali.


"Positif," jawab Astrid dengan ragu.


"Baiklah, kalau begitu kita langsung periksa saja." Dokter memberi kode kepada perawat untuk mengoleskan gel di perut Astrid. Perawat melakukannya. "Biasanya hasil test pack dan USG tidak akan jauh berbeda, hanya keajaiban hasilnya berbeda," lanjut dokter lagi.

__ADS_1


Astrid berharap dia mendapat keajaiban dan hasil test pack akan berbeda dengan hasil pemeriksaan dokter.


"Kalau boleh saya tahu, kapan terakhir anda menstruasi, Nona?" tanya dokter mengarahkan alat USG ke perut Astrid.


"Sekitar enam minggu yang lalu." jawab Astrid.


"Lihat, janinnya sudah terbentuk, meskioun hanya berupa embrio dan suara itu adalah suara detak jantung si cakon bayi," terang dokter.


Astrid merasa lemas mendengar penjelasan dokter. Namun, dilain sisi mendengar detak jantung sang bayi membuat Astrid terharu.


Apa yang harus aku lakukan? Feng tidak akan mau bertanghung jawab dan Astrid pun tidak akan memohon kepada Feng untuk menikahinya.


Astrid takut jika Feng, memintanya untuk menggugurkan kandungan ini. Ini tidak boleh terjadi, batin Astrid.


Melihat keraguan dari dalam diri Astrid, dokter menjadi heran. Apakah wanita ini korban pemerkosaan.


"Nona, jika kau adalah korban pemerkosaan, kau bisa untuk mengajukan aborsi," tawar Dokter. Ya, secara hukum, memang diperbolehkan untuk melakukan aborsi bagi korban pemerkosaan.


"Tidak, aku bukan korban pemerkosaan, dan aku juga tidak akan melakukan aborsi," putus Astrid.


"Syukurlah, saya kira anda tidak menginginkan bayi itu," jelas Dokter.


Dokter memberika resep Vitamin untuk Astrid. Astrid mulai berpikir, bagaimana pun dia menyembunyikan kehamilannya. Lambat laun pasti Feng akan tahu.


Astrid harus memikirkan cara agar pindah dari apartment Feng. Namun, ke mana dia akan pergi? Rumah nenek Su Yi masih tahap pembangunan. Dan pastinya jika Astrid tinggal di desa Venetia, dia harus siap-siap menjadi bahan gunjingan warga.


Satu lagi yang dikhawatirkan Astrid, bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Su Yi?


🍒🍒🍒


Astrid galau, kalian punya solusikah buat Astrid?


Sembari nunggu author up, yuks mampir ke lapak teman author! Pastinya kece badai donk ya.


...HASRAT TUAN KESEPIAN...



Pekanbaru

__ADS_1


281122


23.34


__ADS_2