
"Apa kau siap, untuk bertanding lagi hari ini, Sea?" ucap Collin yang baru masuk ke ruangan Su Yi. Collin pangling melihat penampilan Selena. Selena menjadi lebih cantik dan fresh.
"Ayo, berangkat," ajak Selena. Astrid sempat melihat tatapan kagum dari Collin kepada Selena.
Kenapa Collin menatap Sea seperti itu? Jangan sampai Collin menyukai Sea.
"Astrid, kami pergi, ya!" ucap Collin. Dia keluar bersama Selena.
"Kau kelihatan cantik," puji Collin kepada Selena. Astrid sempat mendengar pujian itu.
"Benarkah? Terima kasih," sahut Selena, tersipu malu. Membuat Astrid berpikir apakah Sea juga menyukai Collin?
Sesampai di City of Dreams Casino, Selena yang telah terbiasa dengan peraturan dan prosesnya sudah tidak canggung lagi.
Selena bermain di meja Collin sekarang, lawaannya adalah orang-orang terkenal di Hong Kong akan kemampuan berjudi mereka. Mereka juga mulai penasaran dengan Selena karena dalam waktu tiga hari Selena bisa memenangkan semua permainan.
"Apakah kau wanita yang menjadi perbincangan orang-orang di sini?" tanya seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
"Aku tidak tahu," jujur Selena cuek, karena dia memang tidak tahu gosip tentangnya. Collin yang mendengar pembicaraaan itu hanya tersenyum. Collin mengetahui bahwa Selena telah menjadi buah bibir di City of Dreams.
"Sebaiknya kita mulai," putus Collin, agar si pria berhenti berbicara dengan Selena. Collin tahu jika si pria sepertinya menyukai Selena dan Collin juga tahu bahwa pria tersebut terkenal dengan sebutan play boy.
Mereka mulai bermain, babak pertama langsung dimenangkan oleh Selena. Kevin datang diikuti Feng, Kevin melirik tempat Selena bermain.
Sea?
Kevin mendekat untuk memastikannya. "Ternyata benar kau!" sapa Kevin yang begitu sampai di samping Selena. Feng heran karena tidak biasanya Kevin menyapa para pemain, bahkan sepupunya Rachelpun. Selalu Rachel yang menyapa duluan.
"Mr. Kwok!" sapa Selena, dia melihat ke arah Kevin.
"Mr. Kwok, kau kenal dengan wanita ini? Sebaiknya dia tidak bermain di sini, dari tadi hanya dia yang menang," kesal seorang pemain yang bernama Mr. Wong.
"Tidak kenal dekat, hanya saja project yang sedang saya kerjakan di lokasi tempat tinggalnya," jelas Kevin.
"Hanya itukan? Dia bukan orang suruhanmu 'kan?" tanya mr. Wong curiga.
"Tenang saja, aku berbisnis dengan jujur," ungkap Kevin. "Kau berbeda, kelihatan lebih cantik," puji Kevin. Dia seperti familiar dengan wajah Selena.
"Terima kasih, mr. Kwok," sahut Selena.
Selena dan Kevin berbicara sebentar, hal itu tidak lepas dari pandangan Collin. Collin menjadi cemburu. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pamit dulu, silahkan dilanjutkan," ujar Kevin. Dia meninggalkan Selena. Feng juga menatap Selena, di mana dia pernah bertemu Selena? Selain di Venetia?
Selesai bermain, Selena bersiap-siap menuju rumah sakit.
"Aku akan mengantarmu," tawar Collin.
"Bukankah, kau masih bekerja?" tanya Selena heran.
"Tidak, rekanku selanjutnya yang akan meneruskannya, tunggu sebentar." collin meninggalkan Selena dan berbicara kepada temannya. "Ayo!" ajak Collin. Selena hanya pasrah mengikuti Collin.
Selena turun dari mobil Collin begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit.
"Terima kasih," ucap Selena.
"Tunggu!" ucap Collin, memegang tangan Selena. Selena menarik tangannya karena merasa tidak nyaman. Collin turun dari mobil dan menuju ke arah Selena. "Ada yang ingin aku katakan, apa kau tidak keberatan berbicara denganku?" harap Collin. Posisi Selena menyandar di pintu mobil dan Collin di depannya.
Orang yang melihat akan berpikir bahwa mereka sepasang kekasih.
"Silahkan," sahut Selena.
"Sea, aku tahu kau belum mengingat siapa dirimu?" Mulai Collin, dia telah menahan perasaan karena takut ternyata Selena telah menikah. Tapi selama 6 tahun ini Selena belum juga ingat, siapa dirinya?
Apalagi saat dia melihat interaksi Selena dengan Kevin tadi. Membuat Collin waspada, bagaimana jika Kevin menyukai Selena?
"Aku--," Collin menjeda perkataannya, masih bimbang dan ragu.
"Ya?" tanya Selena tidak sabaran.
"Aku menyukaimu, Sea. Sejak lama, dan aku tidak peduli jika kau telah memiliki seorang anak ataupun bagaimana masa lalumu," ungkap Collin. Setelah mengatakannya dia merasa lega.
Selena melihat Astrid yang entah sejak kapan telah berada di dekat mereka. Mungkin karena beberapa mobil yang menghalangi sehingga Selena tidak melihat kedatangan Astrid.
"Astrid!" panggil Selena. Astrid menatap Selena dengan marah. Selena memang mengetahui jika Astrid menyukai Collin. Astrid pernah memberitahu Selena.
Astrid yang memegang Hope, membalikan badan. "Astrid tunggu aku bisa jelaskan," papar Selena. Dia menarik tangan Astrid agar berhenti.
"Aku pikir ... Kau wanita baik-baik, ternyata kau wanita murahan," tuduh Astrid. Dia menghempaskan tangan Selena. Kesal karena Collin justru menyatakan cinta kepada Selena.
"Dengar Astrid, ini tidak seperti yang kau lihat maupun kau dengar," kilah Selena.
"Lalu, apa?" sindir Astrid.
__ADS_1
"Astrid, kenapa kau menuduh, Sea seperti itu?" cecar Collin yang tidak terima Astrid menghina Selena.
"Kau tahu aku menyukai, Collin dan kau malahan mendekatinya dan merayunya," tuduh Astrid mengabaikan Collin. Collin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Hope hanya bergantian menatap Selena dan Astrid. Mereka habis membeli cemilan untuk Hope yang terbangun tengah malam.
"Kau menyukaiku?" tunjuk Collin kepada dirinya sendiri.
"Apa kau tidak bisa merasakannya?" hardik Astrid.
"Maaf Astrid, aku hanya menganggap kau adikku," ungkap Collin.
"Astrid, aku tidak menyukai Collin, sebelum kau datang aku malahan akan menolaknya," sanggah Selena. Dia memang tidak punya perasaan apa-apa terhadap Collin. Bukan karena dia memikirkan tentang amnesianya. Tapi, memang Selena tidak tertarik kepada Collin.
"Kau tidak menyukaiku?" tanya Collin kecewa. "Apa karena Astrid menyukaiku, makanya kau menolakku?" lanjut Collin.
"Maaf Collin, aku memang tidak menyukaimu ," jujur Selena.
"Kau dengar Collin, Sea, tidak menyukaimu," ejek Astrid.
"Aku yakin Sea menyukaiku, dia hanya tidak ingin melukai perasaanmu, Astrid," balas Collin. Astrid menjadi ragu, apakah yang dikatakan Collin benar?
"Jujurlah, Sea, apa kau menyukai Collin?" omel Astrid.
"Aku bilang tidak," tegas Selena.
"Astrid, meskipun Sea, tidak menyukaiku, tetap saja aku juga hanya menganggap kau adik, selamanya perasaanku padamu hanya sebagai adik," timpal Collin.
Astrid yang terluka karena kata-kata Collin meninggalkan parkiran.
"Bibi, Hope ikut," celoteh Hope, dia menggenggam tangan Astrid. Dia tahu Astrid bersedih.
"Pergilah, Collin," usir Selena. Dia mengejar Astrid. "Astrid, tunggu!" teriak Selena.
Mereka memasuki ruangan Su Yi. Astrid masih diam tidak ingin berbicara.
"Astrid!" panggil Selena. Astrid mengabaikan Selena. Dia mencoba tidur di sofa yang ada di ruangan itu.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
031122
__ADS_1
11.29