One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Menyelidiki


__ADS_3

Eleanor yang penasaran akhirnya membuntuti Astrid dan Hope. Mereka memasuki sebuah ruang rawat inap kelas paling bawah.


Siapa mereka yang sakit?


Eleanor memperhatikan dari luar kamar rawat inap tersebut. Sepertinya diisi oleh tiga orang pasien. Eleanor juga melihat sebuah kasur busa di lantai. Di samping brangkar pasien.


Apakah mereka tidur di sana?


Eleanor merasa kasihan, dia benar-benar merasa bahwa anak laki-laki itu ada hubungan dengannya.


Apa Kevin menghamili wanita ini dan tidak mau bertanggung jawab?


Eleanor akhirnya dapat melihat bahwa yang terbaring di situ adalah seorang wanita tua.


Apakah itu keluarga mereka?


Salah satu anggota keluarga pasien yang berada di dalam keluar. Membuat Eleanor kaget, Astrid melihat ke arah luar. Eleanor refleks bersembunyi, agar Astrid tidak melihatnya mengintip.


Eleanor menyusul pria yang baru keluar dari kamar tersebut.


"Maaf, apakah kau bisa memberitahuku, siapa wanita tua yang sakit di dalam kamar itu?" tanya Eleanor kepada pria tersebut.


"Aku tidak tahu, aku hanya pengunjung saja, bukan keluarga," balas pria tersebut.


"Siapa yang kau jenguk?" tanya Eleanor lagi.


"Saudara sepupu saya, namanya Maggie ... Maaf saya buru-buru," sahut pria itu kemudian meninggalkan Eleanor.


Setelah di rumah Eleanor masih memikirkan anak laki-laki itu. Dia harus segera mencari tahu.


Selama tiga hari Eleanor memata-matai Hope dan Astrid. Mencari kesempatan untuk memulai bicara.


Eleanor melihat Astrid keluar dan meninggalkan bocah laki-laki di dalam ruangan. Setelah Astrid cukup jauh, Eleanor memasuki ruangan tersebut.


"Hi, anak ganteng!" sapa Eleanor kepada Hope.


"Halo Nenek!" balas Hope. Dia ingat bahwa wanita tua di depannya ini adalah orang yang ditabraknya waktu itu.


"Siapa namamu?" tanya Eleanor. Hope menatap Eleanor dengan curiga. "Maafkan. Nenek, nama nenek Eleanor." Eleanor memperkenalkan diri. Dia bisa melihat tatapan curiga Hope. "Nenek, menjenguk tante itu," tunjuk Eleanor kepada pasien paling ujung.


"Hope," jawab Hope akhirnya.


"Hanya Hope? Berapa umur Hope?" tanya Eleanor lagi.


"Ya, hanya Hope, umur lima tahun," balas Hope.


"Apakah wanita yang barusan keluar adalah ibumu?" tanya Eleanor. Eleanor berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya.


"Itu Bibi Astrid, bukan Mama Hope," jawab Hope datar. Eleanor merasa benar-benar melihat Kevin usia lima tahun. Begitupun gaya bicaranya.


"Lalu siapa Mama, Hope?" Eleanor semakin penasaran.


"Mama Sea," ucap Hope lantang.


"Di mana Mama, Hope?"


"Entahlah, kata Bibi Mama bekerja," rajuk Hope dengan tampang sedih.

__ADS_1


"Papa Hope di mana?" lanjut Eleanor.


"Mama bilang Papa Hope bekerja dan tempat kerjanya ... jauuuuh sekali," terang Hope.


Aneh kenapa orang tua anak ini tidak bersama dia? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa Hope pernah bertemu Papa?" Hope mengelengkan kepalanya dengan sedih.


Eleanor mencoba mengambil rambut Hope, dia akan mencari bukti. Perasaannya yakin bahwa Hope adalah cucunya.


"Ini Nenek membawakan mainan dan makanan." Eleanor memberikan dua kantong kepada Hope.


"Terima kaish, Nek," ucap Hope. Eleanor keluar dari sana.


Dia telah mendapatkan sample untuk test DNA, sisa sample Kevin. Eleanor melihat Astrid berjalan ke arah ruangan Su Yi. Elenaor segera pergi dari sana.


Astrid masuk ke dalam ruangan dan melihat Hope memegang 2 kantong belanjaan.


"Dari siapa ini, Hope?" tanya Astrid.


"Dari nenek baik hati," balas Hope.


"Hope, jangan sembarangan memerima hadiah dari orang yang tidak dikenal," jelas Astrid.


"Tapi Hope kenal, dia Nenek yang Hope tabrak waktu itu," ungkap Hope.


Astrid ingat dengan wanita paruh baya yang ditabrak Hope.


"Tapi kita tidak mengenalnya, Hope," ucap Astrid memberitahu Hope.


"Baiklah." Astrid mengalah. "Apa yang dia berikan?" Astrid memeriksa dua kantong tersebut. Kantong pertama berisi mainan bermerk. Yang kedua berisi cemilan.


***


Kevin memasuki rumah ibunya, si ibu telah menghubunginya.


"Ada apa lagi sih, Ma," ketus Kevin begitu sampai di rumah Eleanor.


"Mama hanya ingin tahu. Apakah kau memiliki kekasih?" Mulai Eleanor..


"Tidak," jawab Kevin datar. Dia sangat bosan setiap ibunya memanggil, pasti tidak jauh dengan wanita.


"Kau normalkan?" tuduh Eleanor. Dia kesal karena putranya selalu menghindar jika di sodorkan wanita untuk dinikahinya.


"Tentu saja," kesal Kevin.


"Apa kau pernah menghamili seorang wanita?" tuduh Eleanor lagi.


"Tidak tahu," jawab Kevin dengan Kesal. Kenapa ibunya tiba-tiba bertanya akan hal itu. Seingat Kevin dia selalu bermain aman, kecuali dengan wanita yang di Dubai.


"Jadi kemungkinan ada?" selidik Eleanor.


"Kenapa Mama, tiba-tiba bertanya, itu adalah sesuatu yang privasi!" teriak Kevin. "dan apakah ada yang mengaku-ngaku, aku hamili?" tanya Kevin.


"Tidak,"


"Lalu?" Kevin merasa heran. Apa yang direncakan ibunya?

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mama hanya khawatir karena kau belum menikah," sungut Eleanor. Dia harus segera mengambil sample Kevin sebelum Kevin pergi.


"Kalau tidak ada hal penting, sebaiknya aku pergi ... Dan Mama berhentilah mencarikanku jodoh," tegas Kevin.


"Tunggu Kev, ada sesuatu di kepalamu." Eleanor mencoba mengambil kesempatan.


"Apa?"


"Turunkan kepalamu, biar Mama bisa mengambilnya." Kevin menunduk agar Eleanor mengambil apa yang dilihatnya.


Eleanor segera memanfaatkan situasi ini. Dia mencabut rambut Kevin.


"Aw, kenapa Mama mencabut rambutku," kesal Kevin.


"Ada uban, sebaiknya kau segera menikah," usul Eleanor.


"Aku pergi," kesal Kevin tanpa peduli, dia meninggalkan rumah orang tuanya.


Feng, dia pasti tahu sesuatu?


Eleanor segera menghubungi Feng menyuruhnya ke rumah.


Feng sampai di rumah Eleanor. Eleanor telah menunggunya di ruang tamu. Feng heran tumben sekali Eleanor memanggilnya. Untung Kevin sedang menyuruhnya memeriksa bangunan supermarket Fresh from the Sea. Jadi dia tidak perlu memberi alasan apa kepada Kevin. Apalagi perintah Eleanor jangn memberitahu Kevin. Benar-benar mencurigakan.


"Nyonya," sapa Feng. Begitu di depan Eleanor.


"Oh Feng, aku hanya ingin tahu, apakah Kevin dekat atau memiliki seorang kekasih?" tanya Eleanor langsung.


"Tidak ada, Nyonya," jawab Feng.


"Kau yakin, tidak ada?" Eleanor mencoba mengintimidasi Feng.


"Benar, Nyonya." Feng memang mengetahu tidak ada wanita yang diinginkan Kevin. Kecuali seorang wanita bernama Selena Young.


"Feng, kau tahukan aku tidak suka dibohongi," ancam Eleanor.


"Enam tahun yang lalu, Bos, pernah menyuruh saya mencari gadis dengan nama Selena Young," jujur Feng. Toh, gadis itu telah meninggal. Jadi tidak ada salahnya Feng memberitahu Eleanor.


Enam tahun yang lalu dan Hope berusia lima tahun?


"Lalu, apakah kalian menemukan wanita itu?"


"Wanita itu hilang saat melakukan perjalan dengan kapal persiar, kemungkinan dia telah meninggal tapi mayatnya belum ditemukan," beber Feng lagi.


Menghilang? Meninggal?


Eleanor pusing dengan teka-teki ini. Melihat Eleanor yang memijit keningnya, membuat Feng khawatir.


"Nyonya, anda baik-baik saja?"


🍒🍒🍒


Pekanbaru


061122


06 41

__ADS_1


__ADS_2