
"Nona! Kunci mobil kalian terjatuh," panggil Kevin begitu dia melihat Selena dan Lilian. Selena membalikan badan dan melihat bahwa Pria Dubai yang memanggil.
Sea?
"Lili, kau ambil kunci dengan pria itu, aku akan ke minimarket, ada yang ingin aku beli," bohong Selena. Dia pergi meninggalkan Lilian dan menyeberang jalan menuju minimarket. Lilian hanya bengong melihat tingkah Selena. Dia seperti dejavu pernah mengalami kejadian Selena kabur saat seorang pria yang ingin berkenalan dengan mereka. Lilian menghampiri Kevin
"Terima kasih," ucap Lilian. Saat Kevin menyerahkan kunci mobil tersebut. Kevin merasa wanita yang pergi adalah Sea. Tapi, apa mungkin dia salah orang?
Kevin ingin mencari Sea, dia ingin mengajak Sea bermain di pertandingan judi se-Asia nanti. Sayang sekali menurut Kevin jika bakat Sea di sia-siakan. Hanya saja beberapa minggu ini Kevin tidak melihat Sea bermain di City of Dreams Casino lagi.
Apa dia bosan untuk bermain?
"Apa wanita itu temanmu?" tanya Kevin kepada Lilian.
"Ya, bisa dibilang seperti itu," jawab Lilian. Karena Selena tudak hanya teman baginya tapi juga saudara.
Apa pria ini pria genit yang ingin berkenalan dan menggoda mereka? Tapi pria ini boleh juga, tampan.
"Siapa namanya?" tanya Kevin lagi. Dia ingin memastikan bahwa wanita itu adalah Sea.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya," jawab Lilian, dia menjadi curiga. Kenapa pria ini langsung bertanya tentang nama Selena? Handphone Lilian berbunyi, itu dari Selena.
"Hallo!"
"Cepat aku telah menunggu di mobil," perintah Selena. Dia mengintip dari balik mobil mereka.
"Kau ini, sebentar," jawab Lilian. Kevin masih menunggu.
"Maaf, Tuan, saya pergi dulu ... terima kasih, telah menyelamatkan kunci mobil kami," pamit Lilian. Dia membalikan badan.
"Tunggu!" teriak Kevin.
"Bos, makanannya sudah datang, kami menunggumu," beritahu Feng. Membuat Kevin membatalkan niat untuk mengejar Lilian. Kevin dan Feng kembali masuk ke dalam Restoran.
"Feng! Sepertinya aku melihat Sea!" Feng menghentikan langkahnya.
"Anda, yakin?" tanya Feng lagi. Dia menjadi ingat informasi dari Elanor. Bahwa anak Sea adalah putra Kevin. Feng ingin memberitahukannya tapi dia takut Eleanor marah.
__ADS_1
"Tidak juga karena aku hanya melihat sekilas ... Sebaiknya kita makan dulu, tidak enak jika mereka menunggu kita terlalu lama," putus Kevin. Feng hanya mengikuti saja.
Sebaiknya, nanti aku beritahu nyonya.
Sementara itu di tempat Selena menunggu Lilian. Selena lega karena pria Dubai itu telah pergi dan tidak mengejar Lilian lagi.
"Kenapa kau mengintip?" tegur Lilian, membuat Selena kaget. Selena memegang dadanya.
"Kau membuat aku terkejut!" kesal Selena.
"Apa kau mengenal pria itu?" tuduh Lilian.
"Ti--dak," gugup Selena.
"Kau ini--tingkahmu mencurigakan," tuduh Lilian lagi.
"Perasaanmu saja," elak Selena.
"Lalu, kenapa kau kabur?" cecar Lilian.
"Apaa, sih, ayo kita kembali," ajak Selena. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan dari pria Dubai itu. Lama-lama Selena bisa saja memberitahunya. Kejadian saat di Dubai.
Selena kembali bermimpi, kali ini mimpinya saat dia berjualan di desa Venetia. Mimpi tersebut sangat acak. Kemudian Selena bermimpi bedebat dengan Astrid.
"Sel--Selena, bangun!" teriak Lilian membangunkan Selena. Tidur Lilian terganggu dengan racau tak jelas dari Selena.
"Hah! Ada apa?" Selena mengucek matanya dan duduk menyandar di kepala ranjang.
"Kau bermimpi lagi?" tanya Lilian.
"Iya dan mimpinya sangat acak, aku tidak begitu jelas ... Hanya saja aku seperti berjualan ikan di aebuah pantai," ternag Selena. hanya bagian itu yang diingatnya.
"Ya, sudah sebaiknya kita ke mencari pantai saja, mumpung sudah sore," usul Lilian. "Aku akan mandi dulu, kau bersiap-siaplah," perintah Lilian. Lilian ke luar dari kamar Selena. Tadi saat dia mengambil minum dan melewati kamar Selena, dia mendengar racauan Selena.
Apartment yang mereka sewa ada tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur.
Selena juga ingin mandi agar lebih segar, dia memasuki kamar mandi dan berendam air dingin karena cuaca yang panas. Selesai mandi Selena memperhatikan bekas luka tusukannya dan juga bekas luka goresan tembakan.
__ADS_1
Selena menyemprotkan parfum yang biasa dia pakai, parfum dengan aroma red cherry dan oriental vanila. Baru kemudian Selena memakai bajunya. Selena memakai dress lengan panjang dengan panjang gaun sebetis.
Sebaiknya membawa kacamata, takut matahari terbenam menyilaukannya. Selena memasukan kacamata ke dalam tas. Dia memilih memakai sepatu kets berwarna putih. Gaun yang dipakai Selena adalah gaun berwarna peach. Gaun yang sama pernah dia pakai saat di Platinum Herritage, Dubai. Gaun itu masih terlihat seperi baru karena tidak digunakan Selena lagi selama enam tahun dia menghilang.
"Lili, aku sudah selesai!" teriak Selena memberitahu Lilian. Selena menuju ke kamar Lilian.
"Sebentar lagi!" balas Lilian. Selena kaget saat melihat Lilian memasukan pistol kecil ke dalam tasnya.
"Kau membawa pistol?" tanya Selena.
"Tentu saja, tenang saja, aku telah mendapatkan izinnya," terang Lilian. "Lebih tepatnya, Paman yang mengurusnya," tambah Lilian.
"Ayo, aku tidak sabar, ingin melihat pantai, siapa tahu bertemu dengan keluarga yang merawatku selama enam tahun ini," antusias Selena.
"Kau ini, seperti anak-anak yang senang karena diajak berlibur," ejek Lilian sambil memakai sepatu dan mereka keluar dari Apartment.
Lilian menekan tombol lift, sesikit lama mereka menunggu. Sepertinya lift sangat sibuk.
"Tunggu aku lupa membawa kacamata," ucap Lilian. "Kau tunggu saja di situ, aku hanya sebentar," teriak Lilian. Dia kembali ke kamar dan mengambil kacamata.
"Jangan lama-lama, keburu gelap!" teriak Selena. Lilian akan lebih ingat membawa senjata dari pada membawa peralatan yang biasanya dibutuhkan wanita, seperti alat make up. Tidak lama Lilian kembali dia mengambil nafas karena terburu-buru.
Begitu lift terbuka mereka memasukinya. Lift berhenti di lantai bawah mereka. Beberapa orang naik dan turun di lantai berikutnya. Sementara Selena dan Lilian akan menuju parkiran. Mereka turun di lift parkiran. Lift terbuka, Selana dan Lilian langsung berhadapan dengan seorang pria. Selena tidak bisa mengelak lagi.
Pria Dubai tersebut memandang Selena dengan tatapan yang tidak bisa Selena terka. Beberapa pengunjung lift ke luar. Lilian memperhatikan Selena dan pria itu dengan curiga. Lilian ingat mereka baru bertemu di Restoran.
Kenapa pria ini menatap Selena seperti itu? Apa dia mengenal Selena? Atau apakah Selena juga mengenal pria ini? Apa pria ini suami Selena? Atau salah satu dari keluarga yang menolongnya?
Berbagai pertanyaan terlintas di kepala Lilian. Dia harus menanyakannya kepada Selena.
"Sea!" panggil Kevin kepada Selena.
🍒🍒🍒
Selena tidak bisa mengelak lagi.
Pekanbaru
__ADS_1
081122
12.12