
Satu minggu berlalu sejak pertengkaran Astrid dan Feng. Mereka masih belum bertegur sapa. Apalagi Feng juga sibuk untuk persiapan pembukaan Fresh from the Sea. Astrid sendiri merasa telah menyerah karena namanya belum diinformasikan, apakah diterima atau ditolak.
Astrid berada di rumah sakit, sejak Su Yi sadar Astrid lebih sering menghabiskan waktu agak lama.
"Sekarang kalian tinggal di mana?" tanya Su Yi khawatir. Dia belum sempat bertanya baik kepada Astrid dan Selena. Karena masih sibuk dengan penyembuhan dan Su yi belum boleh banyak berbicara maupun bergerak.
Su Yi sendiri belum mengetahu bahwa ingatan Selena telah kembali dan dia telah bertemu dengan keluarganya.
"Nenek tenag saja, kami tinggal di tempat yang aman dan nyaman," jelas Astrid, dia belum bisa memberitahu Su Yi bahwa dia menumpang di rumah seorang pria. Sedangkan Selena dan Hope di apartment Kevin.
"Nenek perhatikan, kamar ini sangat besar, apa kita sanggup untuk membayarnya?" cemas Su Yi. Dia tahu kehidupan mereka sangat sederhana dan mereka tidak memiliki tabungan yang banyak.
"Biaya rumah sakit ini di bayar oleh nenek kandung Hope," terang Astrid.
"Apa? Apakah Sea telah bertemu keluarganya?" tanya Su Yi penasaran.
"Ya, Nenek," balas Astrid.
Astrid menceritakan kepada Su Yi bahwa nama asli Sea adalah Selena Young, dia tinggal di Macau dan ayah Hope adalah Kevin Kwok.
"Jadi ayah, Hope adalah mr. Kwok?" tanya Su Yi lagi. Dia tidak percaya ternyata Hope anak orang kaya. Siapa yang tidak kenal dengan Kevin. Seluruh warga desa Venetia mengenal Kevin Kwok, pengusaha yang akan mensejahterakan desa mereka.
"Ya, syukurlah, mereka akhirnya telah bersatu dan kau sendiri, apakah tinggal bersama mereka?" tanya Su Yi.
"Aku tinggal bersama seorang teman Nenek, jadi Nenek tidak usah khawatir," jawab Astrid menenangkan Su Yi.
"Rumah kita?" tanya Su Yi.
"Selena dan mr. Kwok telah memulai pembangunan kembali rumah kita, aku harap saat Nenek telah keluar dari rumah sakit, kita bisa tinggal di sana lagi," jelas Astrid.
Kevin memang telah menawarkan untuk membangun ulang rumah Su Yi. Awalnya Astrid merasa tidak enak. Namun, Selena terus membujuknya dan akhirnya Astrid setuju untuk membangun rumah Su Yi kembali.
__ADS_1
"Tentu rumah kita akan terasa sepi, jika tidak ada Hope," cicit Su Yi sedih.
"Tenang saja, Nek. Selena berjanji akan sering mengunjungi kita," sahut Astrid. Astrid sendiri berharap rumah itu cepat selesai, sehingga Astrid tidak harus lama tinggal di rumah Feng. Apalagi hubungan mereka semakin renggang.
Pesan dari ponsel Astrid berbunyi dan itu dari management K2 Group bagian Fresh from the Sea. Su Yi melihat senyuman Astrid.
"Ada apa?" heran Su Yi.
"Aku diterima bekerja, Nek," sahut Astrid gembira, dia langsung memeluk Su Yi.
"Kau melamar kerja, lalu, apakah kau tidak akan melaut lagi?" Su Yi belum mengetahui tentang kapal mereka yang hilang di bawa ombak.
"Nenek, maafkan aku, aku--kita tidak memiliki kapal lagi. Terjadi hujan badai di desa dan kapal kita terseret arus. Nenek, tenang saja, aku akan giat bekerja. Kita pasti baik-baik saja," harap Astrid.
"Tidak apa-apa, Nenek bahagia, semoga kau betah bekerja di sana," ucap Su Yi tulus. Dia hanya berharap mereka semua baik-baik saja dan yang terpenting Hope telah hidup nyaman bersama kedua orang tuanya.
***
Astrid dan Feng sering bertemu di kantor Fresh from the Sea, bukan kantor pusat K2 group. Mereka sibuk mempersiapkan pembukaan Fresh from the Sea. Kevin memang menyuruh Feng untuk fokus mengurus pembukaan Fresh from the Sea sementara dia sibuk untuk persiapan pertandingan judi se-Asia.
Selama Erick di Hong Kong, Selena harus menyembunyikan Hope. Dia bolak balik dari unit Kevin ke unitnya. Bersyukur Erick belum curiga. Meskipun Hope sedikit komplen karena Selena tidak tidur bersamanya.
Astrid sibuk membuat laporan hariannya. Feng juga sibuk mengecek setiap pekerjaan masing-masing unit. Waktu telah menunjukan pukul sembilan malam. Para karyawan lain telah diizinkan Feng untuk pulang. Begitupun dengan Astrid, hanya saja dia merasa pekerjaannya sedikit lagi selesai.
"Astrid, kenapa kau belum pulang?" tanya Feng. Meskipun mereka setiap hari bertemu, tapi Feng selalu harus kembali ke kantor pusat untuk melaporkan persiapan kepada Kevin.
"Sedikit lagi akan selesai," jawab Astrid, dia masih sibuk di depan laptop.
"Mau pulang bersama?" tawar Feng. Dia menuju ke meja Astrid dan berdiri di depan Astrid.
"Tidak usah, takut lama, aku bisa naik bus saja," tolak Astrid. Dia masih merasa canggung dengan Feng. Juga karena Astrid tidak ingin semakin menyukai Feng, jadi dia harus bisa menghindari Feng sedapat mungkin.
__ADS_1
"Katanya sedikit lagi, artinya tidak akan lama, jadi aku akan menunggumu," putus Feng. Dia mengambil kursi dan duduk memperhatikan Astrid bekerja.
"Aku tidak menyangka kau bisa bekerja kantoran juga," ejek Feng. Karena dia tahu bahwa Astrid adalah nelayan.
"Jangan meremehkanku, aku juga bisa melakukan pekerjaan feminim," sanggah Astrid.
"Bisa aku lihat." Feng menatap Astrid dari atas ke bawah. Menurut Feng Astrid semakin hari semakin cantik. Mungkin karena dia tidak ke laut lagi. Jadi kulitnya sedikit kembali ke warna aslinya, putih.
"Ya ampun kenapa ini?" teriak Astrid panik, saat tiba-tiba listrik kantor padam. Bersyukur dia menggunakan laptop. Astrid menyimpan laporan dan mematikan laptop.
"Tenang saja, sebaiknya kita pulang, genset kantor ini masih proses pengerjaan, jadi percuma kau teruskan," saran Feng. Dia berdiri dan menuju arah Astrid. Feng meraba ponselnya dan menghidupkan senter dari ponsel.
"Kau benar, sebaiknya kita pulang," balas Astrid.
Astrid berdiri dari kursi, mengambil tasnya. Bersyukur Feng masih ada, jika tidak pasti Astrid sangat ketakutan. Dia melangkah menuju Feng, Astrid tidak melihat bahwa ada botol minuman di lantai, tanpa sengaja Astrid yang hampir jatuh memegang baju Feng. Feng terkejut dan memegang Astrid. Naas, mereka berdua justru jatuh dengan posisi Feng di lantai dan Astrid di atas tubuh Feng. Parahnya lagi bibir Astrid kembali menempel di bibir Feng. Jantung mereka berdua berdetak sangat kencang. Ponsel Feng terlempar saat dia mencoba memegang Astrid. Astrid mencoba untuk bangun dari tubuh Feng. Namun, dia lembali terjatuh. Dan Entah kenapa posisinya selalu sama, bibir Astrid menempel di bibir Feng.
Feng yang memang penasaran beberapa minggu ini, akhirnya ******* bibir Astrid dengan rakus. Astrid hanya pasrah karena dia juga menginginkan Feng menyentuhnya.
🍒🍒🍒
Udahlah, jadian aja kalian.
Semoga hari ini bisa 2 bab lagi. Sementara menunggu silahkan kalian mampir ke karya temanku ya.
...ANNISA ISTRI KECILKU...
Pekanbaru
251122
__ADS_1
16.32