
"Hope, sekarang ini jadi kamarmu," ucap Kevin kepada Hope. Hope memperhatikan sekeliling kamar, besar juga, meskipun tidak sebesar kamarnya saat di rumah Eleanor.
"Apa Hope suka?" tanya Selena saat melihat ekspersi Hope yang tidak terlalu antusias. Karena
"Mama, tinggal di sini juga? Mama tidur di mana?" Pertanyaan beruntun yang dilayangkan Hope kepada Selena.
"Tentu saja, Mama juga tinggal di sini," balas Selena.
"Sebaiknya kita susun pakaian Hope," ajak Kevin. Dia mengangkat tas Hope dan meletakkannya di dekat lemari.
Selena mulai menyusun pakaian Hope di dalam lemari.
"Pakaian Mama, juga diletak di lemari ini, 'kan?" tanya Hope kepada Selena, sambil menunjuk lemari kamarnya.
"Tidak, pakaian Mama akan diletakkan di lemari kamar lain," balas Kevin.
"Apa Mama, tidak tidur bersama Hope?" tanya Hope lagi.
"Mama, akan tidur bersama Papa," sahut Kevin.
"Hope juga ingin tidur berama kalian," ujar Hope, penuh harap.
"Tentu saja, sayang!" balas Selena. Selena melihat wajah tidak setuju Kevin.
Ponsel Selena berbunyi.
"Hallo, Lili," jawab Selena.
"Kau di mana? Kenapa belum pulang?" cecar Lilian. Dia telah kembali ke apartment dan tidak menemukan Selena.
"Aku di apartment Kevin," sahut Selena. Sambungan langsung terputus.
Tidak lama bel apartment Kevin berbunyi. Kevin membukakan pintu. Lilian masuk tanpa menunggu Kevin mempersilahkannya.
"Sel, Selena!" teriak Lilian memanggil Selena. Selena ke luar dari kamar dan diikuti Hope.
"Lilian!" seru Selena saat melihat Lilian.
"Kenapa kau di sini?" hardik Lilian. Jangan sampai Kevin memanfaatkan Selena lagi.
"Mama, siapa Bibi itu?" tanya Hope dari balik punggung Selena. Lilian yang tidak menyadari keberadaan Hope melirik ke arah Hope. Anak Selena.
"Kau telah menemukannya?" tanya Lilian.
"Ya, Hope kenalkan ini Bibi Lilian," ucap Selena, dia jongkok dan menggenggam tangan Hope. Mengajaknya agar menyalami Lilian. Hope seperti takut dengan Lilian, Hope menyembunyikan tubuhnya di belakang Selena.
__ADS_1
"Hi Hope! Apa kabar?" tanya Lilian ramah. Sepertinya Hope takut karena Lilian menghardik Selena.
"Ayo Hope! Salam dengan bibi Lili," rayu Selena lagi.
"Apa Hope suka ice cream?" bujuk Lilian. Hope menganggukan kepalanya. Lilian memberikan tangannya kepada Hope. Akhirnya Hope menerima tangan Lilian.
"Apa bibi Lili orang jahat?" tanya Hope.
"Tentu saja tidak, Bibi adalah saudari Mamamu," ucap Lilian.
"Hope, tunggu di sini ya, Mama akan berbicara dengan bibi Lili," beritahu Selena.
"Aku akan membawanya untuk membeli ice cream," tawar Kevin. "Ayo Hope, ikut Papa, kita pergi beli ice cream," ajak Kevin. Dia mengulurkan tangan kepada Hope dan dengan cepat Hope menerimanya.
"Mama, bibi Lilian, Hope pergi dulu ya," pamit Hope kepada Selena dan Lilian.
"Hati-hati di jalan!" seru Selena. Kevin dan Hope keluar dari apartment.
"Lili, aku akan pindah ke apartment Kevin, mulai hari ini," ungkap Selena.
"Apa? Kau gila!" ejek Lilian.
"Hope harus memiliki keluarga yang utuh," jelas Selena.
"Secepatnya, tapi tidak sekarang, setelah aku memastikan hatiku, aku--," Selena menggantung ucapannya.
"Aku apa?" tanya Lilian penasaran.
"Aku belum yakin dan kami belum begitu mengenal diri masing-masing," ungkap Selena.
"Jika kau tidak menikahinya? Bagaimana kau akan menjelaskan tentang Hope?" Lilian duduk di atas kursi tamu.
"Entahlah," jawab Selena bingung.
"Bagaimana jika kita bilang saja pada Paman, ternyata kau telah menikah selama amnesia?" usul Lilian.
"Tapi, kami tidak menikah," tolak Selena.
"Bilang saja, kau telah berhubungan dengannya sejak kau amnesia," usul Lilian. Hanya cara itu yang bisa mereka jadikan alasan keberadaan Hope. "Bukankah sudah biasa di negara ini, jika pria dan wanita tinggal bersama tanpa ikatan dan memiliki anak sebelum menikah?" tambah Lilian.
"Ya, aku tahu. Tapi kau tahu sendiri bagaimana papa. Dia masih berpikiran kolot," ujar Selena.
"Nah, itu dia--kita bisa menggunakan amnesiamu untuk membenarkannya," saran Lilian.
"Nanti saja, kita pikirkan lagi. Untuk sementara aku akan tinggal bersama Kevin dan Hope di sini," putus Selena.
__ADS_1
"Terserah kau saja, tapi sampai kapan kita di Hong Kong? Paman pasti akan menyuruh kita segera pulang, apapun hasil dari pencariaan kita terhadap keluarga yang menyelamatkanmu." Lilian memperingati Selena.
***
Feng mengajak Astrid memasuki apartmentnya. Apartment tersebut terletak di Sai Wan Ho. Astrid menyapukan pandangan ke semua penjuru ruang. Pemandangan yang ditampilkan Apartment Feng adalah pemandangan laut.
Feng membuka salah satu pintu kamar.
"Kamar ini kosong, jadi bisa kau tempati, memang tidak sebesar kamar utama, tapi aku rasa cukup nyaman," tawar Feng. Astrid melihat ke dalam kamar. Meskipun tidak sebesar kamar di rumah Eleanor. Tapi, pemandangan kamar ini sangat indah, Astrid bisa melihat kolam renang dan laut dari sini.
"Kamar ini sangat luas, jika dibandingkan dengan kamarku di Venetia," ungkap Astrid. "Tapi sewanya pasti sangat mahal," cicit Astrid. Apalagi dulu dia sekamar dengan Su Yi sejak Selena melahirkan.
"Kau tidak usah memikirkannya, seperti yang aku bilang, jika kau telah memiliki uang kau bisa membayar atau kau bisa membantuku untuk membersihkannya. Apa kau bisa memasak?" tanya Feng.
Sebenarnya Feng telah memiliki orang yang memang selalu membersihkan apartmentnya setiap hari. Nanti Feng harus memberitahu bibi pembersih agar membersihkan saat diminta Feng saja. Layanan kebersihan apartment telah termasuk dalam service apartment tersebut.
"Ya, aku bisa," balas Astrid.
"Perfect, kau bisa membuatkan sarapan dan mungkin makan malam untuk kita," usul Feng.
"Deal," sahut Astrid, dia senang Feng memberinya keringanan. Astrid berjanji akan membersihkan apartment dengan sangat baik dan memasak makanan enak untuk Feng.
Feng melangkah dan membuka lemari tanam yang ada di kamar itu.
"Apakah lemari ini cukup?" tanya Feng. Karena dia pikir koleksi pakaian wanita pasti sangat banyak.
"Ini juga sangat besar, percayalah pakaianku tidak banyak, itupun yang membelikan nyonya Eleanor," kekeh Astrid menertawakan nasibnya. Feng memperhatikan raut wajah Astrid yang sedih, tanpa sengaja dia melihat Astrid menyeka air mata yang jatuh. Feng bisa melihat ketegaran yang ditampilkan Astrid. Padahal dia juga rapuh karena kemalangan yang menimpa keluarganya.
Jantung Feng berdetak dengan cepat, Feng seperti ingin melindungi Astrid. Feng bisa melihat ketulusan hati Astrid. Interaksi Astrid dan Hope dapat menjelaskan bahwa Astrid adalah wanita yang sangat baik dan penyayang.
Feng mendekat pada Astrid, dia kemudian memeluk tubuh Astrid untuk memberinya kekuatan.
"Setidaknya kalian baik-baik saja," ucap Feng menenangkan Astrid. Astrid yang memang membutuhkan kekuatan membalas pelukan Feng dengan erat seakan menarik kekuatan Feng agar berpindah kepadanya.
"Kau benar, seharusnya aku bersyukur, nenek baik-baik saja, hanya dia keluargaku satu-satunya dan aku tidak akan snaggup kehilangan nenek," ujar Astrid. Astrid dirawat oleh Su Yi sejak dia masih bayi. Namun, sejak kedua orang tua Astrid meninggal pengasuhan Astrid penuh dilakukan oleh Su Yi.
🍒🍒🍒
Feng mulai ada rasa nih🤭
Sambil nunggu author up, silahkan mampir ke karya kece teman author ya. Wajib mampir 🔪 ( eh kok ngancam 🤭) kabur 🏃♀️
...TAKDIR...
__ADS_1