One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Kapal yang Hilang


__ADS_3

Astrid lega ternyata Eleanor adalah nenek Hope. Jadi dia tidak perlu mencemaskan masa depan Hope lagi.


"Nyonya, saya nanti ingin ke rumah sakit, melihat nenek," izin Astrid kepada Eleanor saat mereka sarapan pagi.


"Silahkan ... sebenarnya saya ingin ikut, tapi saya ada acara dengan teman-teman saya," sesal Eleanor.


"Tidak apa-apa, Nyonya," ujar Astrid.


"Hope, mau ikut Nenek?" tanya Eleanor kepada Hope yang tengah memotong roti telurnya. Eleanor berharap Hope mau ikut dengannya. Bukan tanpa tujuan Eleanor mengajak Hope. Dia ingin memamerkan Hope kepada teman-teman sosialitanya.


"Maaf, Nek ... Hope ingin ikut Bibi saja lihat nenek buyut," balas Hope. Eleanor tidak bisa memaksa Hope. Dia harus perlahan mendekatkan diri kepada Hope.


Selesai sarapan Astrid dan Hope menuju ke rumah sakit. Eleanor menyuruh sopir mengantar mereka.


"Astrid, aku telah menyiapkan sopir untuk menemani kalian," tawar Eleanor.


"Tidak usah, Nyonya, kami bisa pergi sendiri," jelas Astrid.


"Tidak, kalian pergi bersama sopir saja," putus Eleanor.


"Terima kasih, Nyonya." Dia tidak bisa membantah lagi.


Astrid dan Hope menuju rumah sakit. Mereka memasuki ruang inap Su Yi. Su Yi sekarang telah menempati ruang VVIP. Astrid terharu karena pelayanan dan fasilitas yang di dapat Su Yi sekarang adalah yang terbaik.


Eleanor benar, perwat lebih memahami kondisi kesehatan Su Yi.


"Bibi, Nenek buyut kapan bangun?" tanya Hope begitu mereka memasuki kamar Su Yi.


"Bibi juga tidak tahu Hope, kita berdo'a saja agar Nenek cepat sembuh ya!" balas Astrid.


"Hope selalu berdo'a, Bi, agar mama kembali dan Nenek sembuh," ujar Hope. "Bibi, kamar Nenek juga jadi bagus sekarang, Hope suka," lanjut Hope. Dia mulai berlari mengeliling kamar.


"Hope, jangan berlari, nanti jatuh," tegur Astrid.


Astrid berpikir Hope telah aman dengan Eleanor. Jadi jika kemungkinan terburuk melanda dan Selena tidak kembali. Setidaknya Hope berada bersama neneknya.


Astrid harus memikirkan hidupnya dan Su Yi karena tidak mungkin selamanya dia menumpang dan menyerahkan hidupnya kepada Eleanor.


Aku harus kembali melaut dan menjual hasil tangkapan. Agar bisa menabung sedikit, demi sedikit dan membangun rumah mereka kembali.


Astid berpikir, jika Selena ada di sini--setidaknya pasti Selena bisa membawa uang dengan cepat karena kemampuannya berjudi.


"Nenek, aku akan kembali melaut, Nenek cepat sembuh ya!" bisik Astrid ke telinga Su Yi. "Hope, ayo kita ke rumah lama," ajak Astrid.

__ADS_1


"Yei!" teriak Hope dengan gembira. "Apa mama ada di sana, Bi?" tanya Hope penuh harap.


"Semoga saja," ujar Astrid. Mereka keluar dari kamar inap Su Yi.


Sampai di depan rumah Astrid dan Hope memandangi puing-puing rumah mereka. Benar-benar tidak bisa di selamatkan. Dan harus di bangun ulang.


Astrid menuju pinggiran pantai tempat mereka biasanya memarkir kapal. Astrid tidak melihat kapal mereka.


"Hope, benarkan? Biasanya, Bibi mengikat kapal di sini?" tanya Astrid memastikan bahwa dia tidak salah ingat.


"Iya, Bi. Tapi, kenapa kapalnya tidak ada?" Hope membalikan pertanyaan.


Astrid dan Hope menyisiri sepanjang garis pantai. Berharap Astrid memang salah memarkirkan kapal mereka. Bolak-balik Astrid dan Hope mencari. Astrid memutuskan bertanya.Kebetulan mr. Wang datang mempersiapkan kapalnya. Sepertinya untuk melaut nanti malam.


Astrid dan Selena biasanya mengikat kapal di samping kapal mr. Wang.


"Mr. Wang, apa anda melihat kapal kami?" tanya Astrid.


"Oh Astrid, lama tidak berjumpa ... Kapal kalian terseret arus ... sekitar dua minggu yang lalu, terjadi badai ... Kami langsung mengamankan kapal kami ... Sepertinya kapal kalian terseret arus," jelas mr. Wang.


"Apa?" tanya Astrid tidak percaya.


"Ya," balas mr. Wang. Dia sibuk menyiapkan jalanya.


Astrid terduduk di pasir pantai. Jika kapal telah hilang, bagaiman dia harus bekerja dan mengumpulkan uang?


"Iya, apa sekarang yang harus, Bibi lakukan, Hope?" tanya Astriď, dia menarik tangan Hope dan memeluknya.


"Hope, tidak tahu, Bi," balas Hope dengan bingung.


"Bibi tahu, Bibi akan mulai mencari pekerjaan lain." Astrid berdiri dan membimbing Hope.


Dia akan mulai mencari pekerjaan. Astrid mulai menyusuri sepanjang jalan desa Venetia. Dia melewati gudang Fresh from the Sea. Di sana tertempel kertas pengumuman penerimaan karyawan. Astrid memutuskan untuk melamar.


***


Kevin keluar dari Apartment Selena. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya dia menemukan Selena Young. Kevin baru menyadari jika dia salah masuk unit. Unit Kevin di sebelah unit Selena. Hal itu justru disyukuri Kevin.


Jika dia tidak salah masuk, pasti dia akan belum mengetahui sesuatu. Kevin memasuki apartmentnya. Dia penasaran dan membongkar laci meja yang ada di ruang kerjanya. Kevin ingat bahwa dia masih menyimpan file Selena Young yang di dapat oleh Feng.


Kevin membuka amplop coklat tersebut dan di kertas tersebut selain data Selena juga ada fotonya. Kevin tersenyum, berpikir seharusnya saat dia mencurigai Sea dan merasa pernah bertemu. Dia melihat map ini.


Kevin memasukan kembali berkas tersebut ke dalam laci. Dia keluar dari ruangan kerja menuju kamarnya. Kevin mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Setelah itu dia, menuju unit apartment Selena.


***


Begitu Kevin keluar dari kamar Selena, Lilian menatap Selena tajam.


"Apa?" tanya Selena kepada Lilian.


"Apa? Kau tanya apa?" hardik Lilian, tidak habis pikir dengan Selena. "Jangan pura-pura tidak tahu, Selena!"


"Aku memang tidak sadar," sanggah Selena.


"Kau tidak sadar seorang pria menidurimu?" selidik Lilian lagi.


"Seperti yang aku bilang aku tidur dan aku pikir itu hanya mimpi," jelas Selena membela diri.


"Bagaimana dia bisa masuk?" tanya Lilian lagi.


"Aku pikir semalam kau keluar dan lupa password karena seseorang menekan tombol yang salah ... Aku merasa terganggu dan membuka pintu tanpa melihat siapa diluar," jelas Selena.


"Kau ceroboh sekali," kesal Lilian. "Sekarang bagaimana cara kita menjelaskan kepada paman?" bingung Lilian.


"Lili, kau bujuklah, Bibi, agar papa, tidak marah," rayu Selena kepada Lilian.


"Aku akan mencobanya, kau cepatlah membersihkan diri, aku juga harus mandi dan menghubungi Collin, kita harus segera menemukan putramu," balas Lilian.


"Kau benar, apakah bocah laki-laki di Mall kemarin putraku?" tanya Selena.


"Ya," jawab Lilian.


"Dia pasti sangat sedih karena aku tidak mengingatnya?" Selena teringat dengan pakaian lusuh yang dikenakan bocah itu. Pasti kehidupan mereka sangat kesusahan dan di mana mereka tinggal? Jika rumah mereka terbakar? Apakah mereka baik-baik saja?


"Sudahlah, kita harus segera mencarinya, semakin cepat semakin cepat pula kita menemukannya," putus Lilian.


"Kau benar," sahut Selena.


Lilian keluar dari kamar Selena. Selena turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Memperhatikan tubuhnya yang terdapat tanda kemerahan. Selena merutuki kebodohannya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Maafkan kemarin rencana up lagi tapi apa dayaπŸ˜”. Yang penting kalian harus kasih hadiah πŸ”ͺ😘


Pekanbaru

__ADS_1


141122


10.27


__ADS_2