
"Jika kau tidak bersedia menikah dalam waktu dekat, maka aku akan mengambil Hope," ancam Kevin saat Eleanor telah pergi. "Toh, kau merasa belum memiliki anak, bukan?" ejek Kevin. Selena memang merasa masih belum menjadi ibu. Namun, saat Hope memeluknya tadi, jiwa keibuannya muncul. Ada perasaan sayang terhadap Hope yang dirasakan Selena. Bagaimanapun ikatan batin mereka pasti terasa.
"Kau benar, tapi, aku tidak sanggup melepaskan anak itu padamu. Terlebih dia belum mengenalmu, apalagi untuk menjadi Papanya," balas Selena. Dia tidak ingin menyesal, jika ingatan enam tahunnya kembali dan putranya marah dan terlanjur membencinya. Selena tidak akan sanggup menjalankan hari-hari dalam penyesalan.
"Jadi tentukan pilihanmu Selena Young," hardik Kevin. Dia tidak sabar karena Selena dan Hope harus menjadi miliknya.
"Apa kau yakin, bisa menerimaku apa adanya?" tanya Selenร , dia harus memberitahu Kevin bahwa dia adalah seorang pejudi. Tapi, kenapa Selena harus malu? Bukankah Kevin pemilik kasino? Jadi Kevin harus menerima jika memiliki istri seorang pejudi, bukan?
"Tentu saja aku akan menerimamu apa adanya," jawab Kevin. Dia mendekat dan memeluk Selena. "Dengar, kita mungkin memang baru mengenal, tapi, percayalah aku sudah menyukaimu saat kita pertama kali bertemu di Dubai," lanjut Kevin.
"Bolehkah kita menikah, saat ingatanku kembali secara keseluruhan?" tanya Selena, penuh harap.
"Tidak, jika kau membutuhkan enam tahun untuk mengembalikan ingatanmu," tolak Kevin. Tidak mungkin dia menunggu Selena enam tahun lagi.
"Baiklah, setidaknya beri aku waktu tiga bulan untuk kita saling mengenal," tawar Selena. Dia ingin melihat sejauh apa perasaan Kevin serta meyakinkan dirinya. Apakah ini hal yang patut untuk dilanjutkan. Belum lagi dia harus memberitahu ayahnya.
"Baiklah, tapi, kita akan mulai tinggal bersama, kau akan pindah ke kamarku," putus Kevin.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, aku bisa dibunuh Lilian," tolak Selena.
"Karena kita akan berperan sebagai orang tua untuk Hope, apa kau mau dia bertanya-tanya kenapa orang tuanya tidak tinggal bersama?" tekad Kevin. Dia harus membujuk Selena untuk tinggal bersamanya. Meskipun ada niat terselubung Kevin.
"Baiklah, aku harus membicarakan ini dengan Lilian dulu," putus Selena.
"Mari mengemasi barang-barang Hope," ajak Kevin. Mereka menuju ke tempat Eleanor, Astrid dan Hope berada. Eleanor menghidupkan televisi agar mereka bisa menonton.
Eleanor melihat kedatangan Kevin dan Selena.
"Ya," jawab Kevin singkat. "Hope, ayo ikut Papa dan Mama," ajak Kevin kepada Hope.
"Apa maksudmu? Kau ingin membawa Hope?" tanya Eleanor tidak senang dengan perkataan Kevin.
"Tentu saja, Mama, mulai hari ini kami akan tinggal bersama," tekad Kevin.
"Mama, ingin Hope tinggal di sini, bersama Mama," tolak Eleanor.
__ADS_1
"Mama, Hope dan kami harus mulai saling mengenal," jelas Kevin.
Astrid hanya memperhatikan perdebatan mereka. Bagaimana nasibnya? Dia haru segera mencari pekerjaan. Kemudian mencari kontrakan untuk di tinggalinnya.
Semoga saja lamaran kemarin, dia diterima. Jika Hope tidak ada di rumah Eleanor. Tentu saja Astrid menjadi segan dan tidak nyaman karena kemarin dia masih bisa--karena ada Hope dan Hope pasti tidak akan bisa ditinggalkannya sendiri bersama Eleanor. Hope belum terlalu mengenal Eleanor. Meskipun Eleanor adalah neneknya.
Menumpang bersama Collin, itu tidak mungkin, sejak kejadian itu hubungan mereka menjadi kaku. Bahkan Collin juga belum ada menghubunginya.
"Apakah, Bibi juga ikut kita?" tanya Hope tiba-tiba.
๐๐๐
Pekanbaru
171122
23.00
__ADS_1