One Night Stand in Dubai

One Night Stand in Dubai
Kamar Mandi Transparan


__ADS_3

"Kau benar, seharusnya aku bersyukur, nenek baik-baik saja, hanya dia keluargaku satu-satunya dan aku tidak akan sanggup kehilangan nenek," ujar Astrid. Astrid dirawat oleh Su Yi sejak dia masih bayi. Namun, sejak kedua orang tua Astrid meninggal pengasuhan Astrid penuh dilakukan oleh Su Yi.


Ibu Astrid meninggal saat Astrid berumur lima tahun, sedangkan ayahnya meninggal saat Astrid berumur lima belas tahun. Sejak saat itu Su Yi merawatnya. Su Yi kembali melaut sendirian. Namun, Astrid tidak ingin ditinggal sendirian saat Su Yi melaut. Akhirnya Su Yi mengajak Astrid untuk ikut. Astrid remaja cukup membantu karena dia cepat belajar.


"Aku akan menunjukan kamar mandinya." Feng mengurai pelukannya dan menarik tangan Astrid agar mengikutinya. Feng membuka pintu kamar mandi dan memperlihatkannya kepada Astrid. "Maaf, tidak ada bathtubenya," cicit Feng.


"Tapi ini sudah lebih dari cukup, aku menyukainya, semua yang ada di sini, sangat nyaman dan lebih dari rumah kami lama," ujar Astrid dengan senang hati.


"Aku senang kau menyukai kamar ini," lega Feng. Astrid memperhatikan kamar mandi yang hanya dikelilingi oleh kaca.


"Aku baru menyadari, jika kamar mandi ini transparan," sahut Astrid. Feng hanya tersenyum, salah satu dia memilih apartment ini adalah karena kamar mandi ini dan kamar mandinya karena kamar mandi di dalam kamar Fengpun memiliki kaca transparan. Menurut Feng keunikan kamar mandi tersebut menjadi nilai tambahnya.


"Kau tenang saja, jika kau ingin mandi, kau bisa menekan tombol ini," tunjuk Feng pada sebuah tombol, seketika kaca menjadi buram, sehingga orang yang mandi di dalam kamar mandi tersebut tidak terlihat lagi.


"Waw, canggih sekali," puji Astrid dengan tulus.


"Lagian, kau juga tidak perlu menekan tombol itu, karena kamar mandi ini berada di dalan kamar, jadi tidak akan ada yang mengintip," terang Feng. Dia kembali menekan tombol dan membuat kaca kembali transparan.


"Kau benar," kekeh Astrid.


"Jadi kapan kau akan pindah?" tanya Feng.


"Secepatnya, aku akan mengemasi barang-barangku sore ini," ujar Astrid.


"Kalau begitu, sekarang kau mau ke mana?" tanya Feng.


"Aku akan kembali ke rumah nyonya Eleanor," ucap Astrid.


"Baiklah, aku akan mengantarmu, sebelumnya beritahu aku nomor ponselmu," saran Feng. Astrid menyebutkaan nomornya. Feng langsung menyimpan nomor Astrid. " Itu nomorku, jika kau telah selesi berkemas, aku akan menjemputmu di rumah nyonya Eleanor," lanjut Feng.


"Terima kasih, aku tidak tahu harus membalas dengan cara apa," ucap Asrid tulus. Karena jika terus-terusan merepotkan Feng, dia pasti segan juga. Astrid bertekad untuk segera mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


Mereka meninggalkan apartment Feng dan Feng mengantarkan Astrid ke rumah Eleanor. Astrid ke kamarnya, sebelumnya dia membuka kamar Hope dan melihat isinya. Ternyata Hope telah pergi. Astrid sedih karena akan jarang bertemu dengan Hope. Namun, sisi lain Astrid bahagia Hope telah bersama kedua orang tuanya.


Astrid mengambil berkas untuk dia mulai melamat pekerjaan. Kemudian Astrid langsung memasukan lamaran ke Fresh from the Sea yang tengah membuka lowongan pekerjaan untuk beberapa posisi.


Setelah memasukan lamaran, Astrid kembali ke rumah Eleanor.


"Astrid!" sapa Eleanor yang tengah menonton di ruang keluarga. Saat Astrid mengambil berkas untuk lamaran, dia tidak melihat Eleanor. Sepertinya tadi Eleanor juga pergi atau mungkin di kamarnya.


"Ya, Nyonya! Nyonya saya akan pindah hari ini," beritahu Astrid kepada Eleanor.


"Kau juga pindah hari ini? Hope juga telah pindah," ucap Eleanor sedih. "Rumah kembali sepi," sambungnya lagi. Astrid tidak tega melihat kesedihan Eleanor. Tapi, keberadaan Astrid di rumah itu juga tidak berpengaruh pada Eleanor. Karena yang dibutuhkan Eleanor adalah cucunya, Hope, bukan Astrid.


Astrid sendiri tidak bisa tinggal bersama Eleanor karena dia segan. Baginya cukup Eleanor telah membayarkan biaya berobat Su Yi, jangan lagi di repotkan oleh Astrid.


"Ya, seperti yang saya katakan tadi, saya telah mendapatkan tempat untuk saya tinggali," urai Astrid. Dia mendekat ke arah Eleanor dan duduk di samping Eleanor.


"Aku tidak bisa memaksamu, kau wanita lajang, dan pasti ingin memiliki privasi sendiri. Tapi, aku telah sepakat dengan Kevin, setiap weekend mereka akan menginap di sini," jelas Eleanor.


"Entahlah, mereka sepertinya belum memutuskan, aku berharap mereka segera menikah dan Selena kembali hamil, agar aku memiliki cucu yang banyak untuk mengisi rumah ini. Kau tahu jika mereka memiliki banyak anak, tentu kamar di apartment Kevin tidak akan cukup buat anak-anak," urai Eleanor. Dia membayangkan jika itu terjadi, bisa dipastikan rumahnya akan ramai.


Saat masih muda, Eleanor berencana memiliki anak yang banyak, hanya saja kondisinya tidak memungkinkan memiliki anak lagi setelah Kevin lahir. Eleanor selalu mengalami keguguran. Eleanor memiliki penyakit Miom yang cukup parah, yang akhirnya membuat dia harus merelakan rahimnya untuk diangkat.


Eleanor bersyukur dia masih hidup dan masih memiliki anak. Diluaran mungkin masih banyak yang tidak seberuntung dirinya.


"Sayang sekali, padahal mereka terlihat serasi," puji Astrid.


"Ya, aku bisa melihat Kevin begitu menyukai bahkan memuja Selena, aku tidak pernah meilihat Kevin sebahagia itu dan juga saat aku mengatakan tidak merestui hubungannya, dia kekeh tetap mempertahankan Selena," ucap Eleanor. Dia kembali mengingat perdebatannya bersama Kevin tadi siang.


Ayah Kevin meninggal saat Kevin berusia dua puluh tahun. Diusia itu Kevin yang masih menempuh pendidikan, harus meneruskan perusahaan. Namun, Eleanor tidak tega dan akhirnya Kevin kembali melanjudkan kuliahnya di Harvard. Sedangkan perusahaan di kendalikan oleh Eleanor. Begitu lulus kuliah, Kevin langsungg mengambil alih perusahaan dan Eleanor kembali menjadi wanita sosialita, tanpa harus memikirkan perusahaan.


"Semoga Sea kembali mengingat kejadian enam tahunnya," harap Astrid.

__ADS_1


"Kenapa kau sampai memikirkan itu?" tanya Eleanor heran.


"Karena saya dapat melihat, bahwa Sea maksudku Selena, sedikit kaku terhadap Hope," jelas Astrid.


"Itu karena dia masih berpikir, dia masih wanita lajang tanpa anak," bela Eleanor.


"Benar, makanya saya ingin dia secepatnya ingat, agar Hope merasakan kehadiran mamanya," lanjut Astrid.


"Kau benar, semoga Selena segera ingat bahwa dia telah memiliki seorang anak, aku tidak ingin Hope kecewa dan sedih," tambah Eleanor.


"Nyonya, saya permisi dulu, saya harus siap-siap, sebentar lagi saya di jemput," pamit Astrid. Dia berdiri.


"Ya, silahkan, semoga kau nyaman tinggal di tempat baru," ucap Eleanor tulus.


Astrid menuju kamarnya, dan mulai berkemas. Setelah selesai berkemas, Astrid mengirim pesan kepada Feng bahwa dia telah siap.


Astrid meminta Feng, untuk tidak usah masuk karena dia segan dan tidak ingin Eleanor banyak bertanya, kenapa Feng yang menjemputnya?


🍒🍒🍒


Kira-kira Astrid bisa move on dari Collin nggak ya?


Sambil nunggu, yuks mampir ke karya teman author juga, pasti keren donk. Wajib ramein ya😘


...SOSIALITA...



Pekanbaru,


221122

__ADS_1


14.39


__ADS_2