
"Lalu, Apa kau akan menyukaiku?" harap Feng, entah kenapa dia mengatakan hal itu. Mungkin karena merasakan adanya persaingan.
"Apa?" Astrid bahagia mendengar kata-kata yang dilontarkan Feng. Astrid bersiap untuk membalas kalimat Feng.
"Lupakan saja, aku hanya bergurau--kau juga masa suka sama seseorang hanya karena dia baik dan membantumu, jadi jika semua pria baik dan membantumu, kau bisa kerepotan harus menyukai mereka semua," canda Feng. Memotong jawaban yang akan diberikan oleh Astrid. Astrid kecewa karena Feng hanya bercanda. Astrid memukul kepalanya, agar sadar diri. Bagaimana mungkin seorang Feng akan menyukainya. Mimpi Astrid terlalu ketinggian.
Feng memperhatikan tingkah Astrid.
Kenapa dia memukul kepalanya? Apa dia merasa bodoh karena aku mengatakan hal itu?
Feng sendiri sengaja mengatakan bahwa dia bergurau karena takut hubungan dengan Astrid menjadi canggung. Feng tidak tahu bagaimana perasaan Astrid kepadanya. Jika dia benar-benar mengatakan bahwa dia menyukai Astrid. Bagus jika Astrid merasakan hal yang sama. Namun, akan sangat berbeda jika Astrid tidak menyukainya, tentu akan menjadi beban bagi Astrid.
"Jangan memukul kepalamu," larang Feng sambil mengusap kepala Astrid. Astrid menyingkirkan tangan Feng dari kepalanya.
Astrid takut perlakuan Feng itu akan semakin membuat Astrid menyukainya dan terluka lagi seperti perasaannya pada Collin.
Astrid hanya diam, Feng pun tidak tahu harus membahas apa. Sepanjang jalan menuju apartment mereka saling diam.
Begitu sampai di parkiran apartment, Astrid langsung turun dan berjalan sendiri. Feng bingung dengan perubahan sikap Astrid.
Bukankah seharusnya aku yang kesal karena mengetahui bahwa dia memiliki pria yang disukai?
Sampai di apartment Astrid langsung masuk ke kamarnya. Dia merutuki kebodohan dan hatinya yang dengan gampang menyukai seseorang. Namun, setelah dipikir-pikir, jika perlakuan Feng seperti itu, wanita mana yang tidak akan menyukainya?
"Astrid!" panggil Feng sambil mengetuk pintu kamar Astrid.
"Apa?" bentak Astrid, saat membukakan pintu.
"Apa kau marah? katakan jika aku punya salah," duga Feng. Dia menatap Astrid dengan tajam.
"Tidak, aku hanya kecapekan," dalih Astrid, menundukan wajah dari tatapan menyelidik Feng.
"Kau yakin, hanya itu?" duga Feng.
"Ya," balas Astrid singkat, dia memainkan kakinya, menghilangkan kesal dan gugup.
"Tatap aku, Astrid," perintah Feng. Astrid tetap saja melihat ke bawah. Feng mengangkat dagu Astrid dengan jarinya. "Aku tahu kau kesal, katakan padaku, apa yang membuatmu kesal? Aku tidak bisa bermain tebak-tebakan, dan aku bukan cenayang yang bisa mengetahui apa yang kau pikirkan," cecar Feng.
"Tidak ada, aku bilang aku hanya lelah!" hardik Astrid. Dia menyingkirkan tangan Feng dari dagunya. Mendorong tubuh Feng dari pintu dan menutup pintu dengan membantingnya.
Feng hanya terdiam, kenapa justru dia menerima perlakuan ini di rumahnya sendiri?
Dasar wanita!
Feng menuju kamarnya, membuka jas dan melemparkannya dengan kesal.
Wanita memang sangat merepotkan! Bersyukur aku tidak memliki kekasih permanen.
Feng menuju kamar mandi dan merendam diri di bathtube. Entah kenapa pikiran Feng justru teringat saat dia memegang aset kembar Astrid dan ciuman sekilas di lift tadi. Feng menenggelamkan kepala ke dalam air, agar pikiran kotornya hilang. Bukannya hilang Feng pikiran Feng justru makin gila dan penasaran akan rasanya lagi.
Feng keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian nyaman untuk tidur. Feng mencoba tidur dan melupakan kejadian hari ini yang cukup membuatnya lelah.
***
"Benar kau tidak menyukai Collin," selidik Kevin, dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Mereka telah selesai makan dan bersiap untuk kembali ke apartment. Hope sendiri sangat puas karena akhirnya bisa makan Tom Yam Seafood enak.
"Ya, dan aku orang yang tidak mudah untuk menyukai orang lain," ejek Selena.
"Aku juga, hanya kau--dan entah kenapa aku menyukaimu pada pertemuan pertama, padahal wanita cantik disekitarku juga banyak," sindir Kevin, melirik Selena.
__ADS_1
"Ya sudah pergi saja dengan mereka dan ajak mereka menikah," bentak Selena kesal.
Apa Kevin ingin pamer bahwa dia pria tampan dengan banyak wanita? Dasar laki-laki!
"Tapi mereka tidak melahirkan anakku," bela Kevin.
"Jadi kau ingin menikahiku karena Hope?" hardik Selena, dia menatap Kevin kemudian melengahkan kepalanya.
"Tentu saja tidak, saat aku menidurimu untuk pertama kali, aku telah berniat untuk menikahimu, kau saja yang kabur dariku," ejek Kevin. Dia mengambil tangan Selena agar Selena tidak marah lagi. Selena menarik tangannya.
"Sudahlah, jangan dibahas--oh iya Collin menawarkan aku untuk ikut pertandingan judi se-Asia, bagaimana menurutmu?" tanya Selena hati-hati karena dia menyebut nama Collin.
"Jangan ikut!" larang Kevin.
"Kenapa, bukankah kau juga dulu menawarkan aku untuk ikut pertandingan itu?" lanjut Selena. Apa Kevin tidak ingin dia bertanding karena anjuran Collin?
"Itu dulu, karena aku tidak mengenalmu, sekarang kau wanita milikku dan aku tidak suka wanitaku bermain judi," ungkap Kevin.
"Apa? Lalu kenapa kau punya kasino?" heran Selena. Kevin tidak menyukai perjudian, bagaimana jika Kevin tahu bahwa dia adalah queen of gambler? Apa Kevin akan membatalkan niat untuk menikahinya dan merebut Hope?
"Aku seorang pebisnis dan rekan-rekan bisnisku penyuka permainan itu, meskipun aku tidak menyukainya," balas Kevin.
"Lalu, aku? Apa yang akan kau lakukan padaku? Aku bisa bermain judi? Apa kau batal untuk menikahiku?" berondong Selena.
"Tidak, makanya kau tidak aku izinkan untuk berjudi lagi. Awas saja kau kau masih bermain," ancam Kevin. "Dan soal pernikahan, aku ingin kau secepatnya memutuskan," lanjut Kevin.
"Bagaimana, jika sebuah situasi mengharuskan aku untuk bermain judi?" tanya Selena. Dia tidak tahu untuk mundur, siapa tahu ayahnya ingin dia kembali bermain.
"Maka, bersiaplah untuk kehilangan Hope," ancam Kevin. Selena menjadi ketakutan, meskipun dia belum yakin tentang perasaannya terhadap Kevin. Tapi, dia tidak ingin kehilangan Hope.
"Kau kejam!" hardik Selena.
Dia membuka pintu untuk Selena. Kemudian menggendong Hope yang tertidur.
Selena hanya diam, dia tidak tahu harus bagaimana?
Sebaiknya lupakan saja toh, ayah juga belum membahas itu lagi.
Kevin menidurkan Hope dikamarnya. Selena mandi, saat keluar dari kamar mandi, Kevin telah menunggunya. Kevin langsung memeluk Selena dan menciumi leher Selena.
"Wangi, Hope telah tidur, jadi ini waktu kita berdua," ucap Kevin mencumbu Selena.
"Mandilah agar segar." Selena mendorong tubuh Kevin menuju kamar mandi dan memberikannya handuk.
"Kau jangan memakai baju, aku tidak akan lama!" teriak Kevin dari dalam kamar mandi.
"Ya," balas Selena. Dia menuju meja rias mengoleskan lotion ke tubuhnya dan memakai parfum.
Kevin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Kevin menghampiri Selena yang duduk di depan meja rias. Dia mulai melancarkan aksi mencumbu Selena. Kemudian menggendong Selena dan merebahkannya di ranjang.
Kevin membuka handuk mandi Selena. Dia menatap tubuh Selena. Meskipun mereka telah melakukannya dua kali. Namun, ini oertama kali mereka melakukan dalam keadaan sadar.
Kevin mencium Selena dan Selena membalasnya.
Ponsel Selena berbunyi.
"Biarkan saja," larang Kevin, saat Selena meraba untuk mengambil ponselnya.
Ponsel terus saja berbunyi, tapi Kevin tidak mau Selena menjawabnya.
Bel apartment Kevin berbunyi.
__ADS_1
"Kevin, sepertinya ada tamu," ujar Selena.
"Biarkan saja." Kevin masih terus mencumbu Selena.
Bel semakin sering berbunyi seperti tidak sabaran. Akhirnya Kevin menghentikan aktivitasnya dan dengan kesal memakai handuk mandi yang tadi digunakan Selena.
Selena menutup yubuh polos, saat Kevin keluar dari kamar.
Kevin mengintip dari dalam melihat siapa yang mengganggunya. Kevin membukakan pintu.
"Lilian!" panggil Kevin. Lilian menutup mulut Kevin dan mendorongnya masuk.
"Selena mana?" tanya Lilian.
"Di kamar, dan kau kenapa malam-malam bertamu?" hardik Kevin dengan kesal. Lilian mengabaikan pertanyaan Kevin. Dia menuju kamar.
"Ah, kau--pantasan saja kau tidak menjawab teleponku," kesal Lilian begitu melihat Selena di dalam balik selimut. "Sepertinya kau menyukai *** sekarang ya?" tuduh Lilian.
"Enak saja, itu adalah kebutuhan, kau hanya belum merasakannya," ejek Selena. "Ada apa kau ke sini? Jika tidak penting, pergilah, kau mengganggu kegiatan kami," usir Selena.
"Apa tidak bisa besok, Lili?" tanya Kevin yang telah berada di pintu kamar.
"Tidak bisa, aku tidak tahu harus bagaimana, paman di apartment sekarang," ungkap Lilian.
"Apa?" Selena langsung berdiri dan mencari pakaian di lemarinya. Dia langsung ke walk in closet dan memakai pakaian. "Kenapa papa datang mendadak?" tanya Selena.
"Dia bilang ada urusan di Hong Kong," jawab Lilian.
"Apa papa bertanya tentangku?" teriak Selena lagi.
"Tentu saja,"
"Kau bilang apa pada, Papa?" tanya Selena.
"Aku hanya mengatakan kau sedang pergi makan," balas Lilian.
"Papa Selena di Hong Kong? Aku akan bersiap dan memperkenalkan diri," tawar Kevin.
"Jangan!" teriak Selena yang telah memakai pakaiannya.
"Kenapa?" heran Kevin.
"Aku belum membicarakannya pada, Papa. Sabarlah, aku pergi dulu," jawab Selena.
Dia menarik tangan Lilian keluar dari apartment Kevin.
"Kenapa kalian keluar dari sana?" curiga Erick Young.
🍒🍒🍒
Nah loh, ketahuan deh.
Kali ini aku bawain karya Nita P ya. Dan kalian wajib mampir ramein.
Pekanbaru
241122
18.29
__ADS_1