
" Wi, ntar kamu pulang duluan sama sopirku pak Yon untuk nganter barangnya Agas ke rumah " ucap Abing
" Dan ini buat kamu " ucap Abing memberikan paper bag dari Agas
" Buat Dewi ko?" tanya Dewi tak percaya
Abing mengangguk, Dewi menerima paper bag itu penuh tanda tanya
" Itu hadiah dari Agas " Ucap Abing
" Om Agas ko? " tanya Dewi tak percaya
" Iya, Agas memang sering loyal pada orang yang menarik hatinya " ucap Abing
Dewi masih merenung, terdiam tak percaya. Dia mendapat smartphone mahal dari orang yang barusan dia layani
" Apa gak papa Ko kalau Dewi terima hadiah dari om Agas?" tanya Dewi paada sang Bosh
" Gak papa wi, anggap aja rezekimu, Agas itu sultan jadi ya gak ngaruh kalau hanya berikan kamu smartphone seperti ini " ucap Abing
Dewi masih diam mencerna perkataan sang bosh
" Wi, ada pelanggan tu sana layani dulu " ucap Abing
Dewi mengangguk dan melayani pelanggan yang baru datang
.
.
Saat jam pulang kerja, Abing menyuruh sopirnya mengantar Dewi ke rumah Agas lalu berpesan untuk mengantarkan Dewi ke tempat kostnya setelah dari sana. Abing memilih pulang dengan GoCar yang dia pesan sebelumnya.
Sampai di rumah Agas, Dewi takjub akan kemewahan rumah Agas. Rumah berlantai tiga dengan halaman yang luas ada taman bunga dan tempat bermain anak anak, beberapa gazebo di bawah pohon rindang dan juga sebuah kolam renang di samping rumah.
" Ini rumah atau istana?" guman Dewi
" Benar ini rumahnya om Agas pak Yon?" tanya Dewi masih di dalam mobil
" Benar mbak, Bapak sering di suruh nganter pesanan ponsel Pak Agas ke sini " ucap pak Yon
" Bisa temani saya ke dalam pak Yon?" ucap Dewi
Sopir mengangguk dan membawa beberapa paper bag, Dewi membawa peper bag sisanya.
" Assalamu'alaikum " ucap Dewi di depan pintu yang tertutup
" Tekan belnya aja mbak, rumah sebesar ini mana dengar suara salam mbak " ucap pak Yon menunjuk bel di sisi pintu
Dewi mengangguk menyetujui usul pak Yon kemudian menekan tombol bel
ting tong ting tong
Pelayan perempuan berseragam biru membuka pintu
" Silahkan masuk mbak, Tuan Agas sudah menunggu " ucap pelayan
Dewi dan Pak Yon mengikuti pelayan berjalan ke dalam rumah, tampak sebuah ruang tamu yang sangat luas dengan sofa yang begitu mewah terlihat di sana
" Benar benar rumah sultan " guman Dewi takjub
__ADS_1
Dewi berusaha sebisa mungkin bersikap biasa saja, menyembunyikan ketakjubannya akan rumah ini. Sampai di ruang tamu, terlihat om Agas yang duduk bermain bersama seorang anak kecil berusia 4 tahun.
" ini tuan, tamunya sudah datang " ucap pelayan
Agas menatap dan tersenyum pada Dewi dan Dewi menganggukkan kepala hormat. Agas menyuruh pelayan membawa anak kecil itu ke dalam dan mempersilahkan Dewi dan pak sopir untuk duduk. Baru saja duduk, pelayan lainnya membawa minuman dan beberapa camilan untuk Dewi dan pak Sopir
" ini om, Dewi mau nganter belanjaan om tadi pagi " ucap Dewi meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja. Pak Sopir juga melakukan hal yang sama
" Terima kasih wi, sudah mau repot nganterin ke sini " ucap Agas
" Silahkan di minum airnya, Maaf seadanya ya " ucap Agas
" Sama sama om, ini sudah juga bagian dari tugas Dewi " ucap Dewi
" Seadanya segini banyak pilihannya " guman Dewi
" Terlalu banyak om ini malahan, bingung mau minum yang mana" ucap Dewi jujur
" Hahaha...minum aja semuanya wi " ucap Agas
" Mana muat om perutku hahaha..."ucap Dewi
" Terima kasih banyak om, untuk hadiah yang om titipkan sama Abing buat Dewi tadi " ucap Dewi
" Kamu suka kan wi hadiahnya?" ucap Agas
" Sebenarnya suka om, tapi Dewi gak enak sama om. Dalam rangka apa om Agas ngasih Dewi hadiah?" ucap Dewi
" Sebagai tanda perkenalan aja wi " ucap Agas
" Om nyaman saat ngobrol sama kamu dan om ingin kita berteman " ucap Agas jujur
" Berteman sih gak masalah om, cuman terlalu berlebihan kalau di kasih hadiah juga " ucap Dewi
" Tanpa hadiahpun, Dewi mau kok berteman dengan om " ucap Dewi
" Anggap hadiah pertemanan kita " ucap Agas mengedipkan matanya
Dewi merinding melihat Agas mengedipkan sebelah matanya. Tapi dari dulu Dewi pantang menolak pemberian cowok karena itu adalah rezeki yang Allah berikan untuknya lewat cowok yang mendekatinya menurut pandangan kaca mata Dewi.
Beda kan sama Matre?
Di sini Dewi gak minta lo, cowoknya yang dengan sadar secara suka rela dan niat memberikan hadiah untuk Dewi lo bukan Dewi yang minta !
" Terima kasih banyak om hadiahnya, semoga om di mudahkan urusannya " ucap Dewi
" Ya, sama sama wi " ucap Agas
" Kalau begitu kami pamit pulang dulu om " ucap Dewi
" Kenapa buru buru wi? om mau ajak kamu makan malam lo " ucap Agas
" Pak Yon bisa pulang lebih dulu, nanti Dewi biar saya saja yang mengantar " ucap Agas pada sopir yang mengantar Dewi
" Gak usah om, biar Dewi pulang sama pak Yon saja " ucap Dewi
" Malam ini Dewi ada acara di tempat kost, mungkin lain waktu Dewi bisa " ucap Dewi
" Sok sibuk aja, aslinya takut baru kenal sudah dapat hadiah mau di ajak makan malam nanti kalau di buat pingsan terus di perkosa ! hii...ngeri ! " guman Dewi dalam hati ngeri membayangkan kalau itu terjadi pada dirinya
__ADS_1
" Kamu pasti takut sama om ya wi? Takut om perkosa ya? hahaha....." ucap Agas
Dewi kaget mendengar Agas bicara seperti itu
" Dari mana om Agas tahu pikiranku?" guman Dewi dalam hatinya
Dewi diam saja tak menyahut, Agas yang mengerti ketakutan di wajah Dewi mengurungkan niatnya untuk mengajak Dewi makan malam hari ini.
" Okey, kamu bisa pulang. Pak Yon tolong antar Dewi ke tempat kostnya dengan selamat ya " ucap Agas berdiri dari duduknya
" Baik pak Agas " ucap pak Yon
Dewi segera berdiri dari duduknya, Agas merjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depannya dan berbisik
" Nanti aku hubungi kamu " ucap Agas
Agas berjalan ke dalam rumahnya yang megah. Dewi terbengong mendengar bisikan Agas, seperti bisikan ghoib yang Dewi tak pernah menyangka akan berurusan dengan seorang sultan.
" Mbak Dewi ikut pulang pak Yon gak? " ucap pak Yon
Dewi tersadar dari lamunannya, dan mengangguk
" Ikut donk pak " ucap Dewi berlari kecil mengejar pak Yon yang sudah lebih dulu berjalan ke arah pintu.
Dewi duduk di samping pak Yon yang sedang mengemudikan mobil menuju tempat kostnya. Dewi melamun melihat keluar jendela menikmati kemacetan surabaya di sore hari
" Pak Agas kayaknya naksir mbak Dewi deh " ucap Pak Yon
" Jangan ngarang pak, mana mungkin? " ucap Dewi
" Iya, saya lihat sendiri mbak. Pak Agas itu tipe bosh dingin, meski terbilang baik dan loyal pada karyawannya tapi dia irit bicara. lhah tadi bicaranya pak Agas panjang lebar dan terkesan santai " ucap pak Yon
" Masa sih? hati hati lo pak nanti kalau isterinya marah dengar pak Yon ngomong gitu " ucap Dewi
" hahahaha....mana mungkin? pak Agas kan Duretajime...." ucap pak Yon sambil tertawa
" Apaan tu Duretajime?" tanya Dewi
" Duda Keren Tajir Melintir hahaha...." jawab Pak Yon
" hahaha...pak Yon gaul juga " ucap Dewi
" Pak Agas menggugat cerai isterinya yang ketahuan selingkuh mbak, padahal pak Agas baiknya gak ketulungan mau apapun dituruti eh istrinya gak bersyukur. sejak saat itu pak Agas jadi dingin mbak kecuali sama putrinya " cerita Pak Yon
" Sudah punya anak pak?" tanya Dewi
" Yang tadi mbak, anak perempuan usia 4 tahun yang bermain bersama pak Agas saat kita baru sampai " ucap Pak Yon
" Oh yang tadi.. " ucap Dewi mengingatnya.
.
.
.
Dukung Author ya, cuman author pemula masih belajar dan masih banyak yang harus di perbaiki...
kritik dan saran yang membangun akan author terima dengan senang hati teriring do'a Jazaakumullahu Khoiron khatsiro...
__ADS_1
Mohon dukungannya, Jangan lupa like, komen hadiah n Votenya juga
Terima kasih, semoga Manfaat !