
Dewi ke toilet untuk membersihkan giginya. Di rasa cukup dan sudah bersih Dewi segera kembali menghampiri Sisil jaraknya lumayan jauh melewati beberapa meja lainnya. Saat berjalan melewati sebuah meja, ada pengunjung yang kaget akan keberadaannya, seorang laki laki yang sedang menikmati makanan bersama teman temannya memanggilnya
" Dewi ! "
" Kak Dika ! " guman Dewi
" Makin keren aja stiker idolaku " guman Dewi
Dika berjalan menghampiri Dewi dan mengulurkan tangannya
" Hai Wi, apa kabar? Kamu di sini juga? " tanya Dika
" Hai Kak, baik...ya, Dewi kerja di sini kak " ucap Dewi membalas uluran tangan Dika
" Wah,,,kita berjodoh kayaknya. Aku juga baru pindah ke sini tiga bulan lalu " ucap Dika
Dika adalah kakak tingkatnya, 2 tingkat di atasnya. Saat Dewi masuk kelas 1, Dika sudah kelas 3. Pertemuan pertama mereka saat Dewi mengikuti masa orientasi siswa karena setatus barunya sebagai siswa baru dan kebetulan Dika menjadi salah satu anggota OSIS kala itu.
Dika menaruh hati pada Dewi sejak saat itu tapi urung di ungkapkan. Mereka hanya beberapa kali terlihat menghabiskan waktu bersama itupun bersama teman teman yang lain. Dewi sering menonton Dika bertanding bola saat mewakili sekolah mereka bersama teman teman yang juga hobby bola.
Dewi menganggap Dika teman seperti yang lainnya tak ada yang di bedakan karna saat itu Dewi sudah menjalin hubungan dengan Bimo. Dewi selalu care dengan siapapun termasuk semua teman prianya. Membuat mereka nyaman dan urung mengungkapkan perasaannya. karena sikap Dewi saat seorang teman prianya mengungkapkan perasaannya kala itu, Dewi selalu menghindar dan menjauh setelah menolaknya dengan sopan maka Dikapun memilih untuk memendamnya.
Sampai saatnya Dika lulus dan berpindah ke kota lain untuk mengasah keahlian yang Dika miliki. Sejak saat itu mereka lost contack karena ponsel Dika yang hilang saat di perjalanan
" Minta nomer ponselnya donk, biar gampang nanti bilang kangennya " ucap Dika menyodorkan ponselnya
Dewi menerima ponsel Dika dan mengetik nomernya di sana
" Mundur dulu ach, ngeri ! saingannya banyak hahaha....secara striker kebanggan club gitu loh...." jawab Dewi sambil menyerahkan ponsel Dika
" Bisa aja, aku yang bakal maju kalau kamu mundur hahaha.... ! " ucap Dika
" Kakak makin kesini namanya makin bersinar ya " ucap Dewi
" Alhamdulillah hobby yang kakak tekuni bisa menghasilkan " jawab Dika
" Kamu juga makin cantik wi " guman Dika
" Kamu masih hobby nonton bola kan? " ucap Dika
" Lumayan kak kalau gak lelah dan ngantuk banget masih mantengin chelsea dan MU kalau tanding. " jawab Dewi
" Sabtu depan kakak main kamu datang ya " ucap Dika
" Dewi ada kerjaan sih kak tiap weekend, tapi penasaran juga pengen liatin kakak main bolanya udah kayak CR7 beneran belum hehehe...." ucap Dewi
__ADS_1
" Usahain donk, semangatin kakak kayak dulu " ucap Dika
" Semangatmu dulu saat datang menonton pertandingan kala kakak main membuat kakak semangat untuk segera sukses tak akan kakak lupain " ucap Dika
" Kakak tunggu kehadiranmu " ucap Dika
" Insyaallah kak, gak janji...nanti share lok aja siapa tahu bisa datang " ucap Dewi
" Okey, nanti kakak Chat " ucap Dika
" Siiap " jawab Dewi
Dika tersenyum melihat Dewi yang selalu ceria dan masih care seperti dulu. Dika berharap semoga bisa lebih dekat dan berhasil mengungkapkan rasa yang terpendam dahulu.
" Oh ya sama siapa ke sini? " ucap Dika
Belum sempat Dewi menjawab, Sisil yang merasa Dewi terlalu lama meninggalkannya menyusul dan memanggilnya
" Kak Deo ! " teriak Sisil
" Kak, Yuuk pergi...ini tas kakak udah Sisil bawain " ucap Sisil menggandeng tangan Dewi dan menariknya berjalan ke luar resto
" Kak, Dewi duluan...see you ! " ucap Dewi melambaikan tangan sambil pergi meninggalkan Dika
" Okey, hati hati " ucap Dika
.
.
" Pesonanya tak bisa di punahkan, masih mode aman paling tidak Sisil masih bisa menikmati kebersamaannya di balik penggemar barunya" guman Agas
" Tak salah dia beralih propesi, pesonanya memang memikat banyak hati " guman Agas
" Aku harus ikut mendominasi saham di mana dia bekerja " gumannya
Kemudian, Agas menyuruh seorang bawahannya untuk mengurusnya.
.
.
Sementara Fadhil yang sedang ngopi bersama teman temannya merasa terkejut saat menerima pesan masuk di ponselnya
" Kami ingin membeli saham 80% di perusahaan anda dengan harga tinggi"
__ADS_1
" Alasan apa yang membuat anda yakin akan perusahaan kami " balas Fadhil
" Karna kami melihat prospeknya bagus dan satu hal yang membuat kami sangat tertarik "
" Yaitu model baru yang anda pilih "
" Terima kasih akan tawaran anda, kami akan memikirkannya lebih dulu " balas Fadhil
Kemudian Fadhil mulai sibuk mengotak atik ponselnya. Dan mencari apa yang ingin di ketahuinya.
" Sentosa Group bukan bergerak di bidang ini, tapi kenapa bisa ?" guman Fadhil
Kemudian Fadhil terlihat kembali fokus mengotak atik ponselnya
" Ya, Sisil " guman Fadhil
" Agas putra Sentosa adalah pemilik Sentosa Group, dan ini karna Dewi...ya Dewi...! " guman Fadhil
" Kenapa Dhil ? mukamu tegang amat? " ucap Feri
" Gak, lagi ni baca artikel aja " ucap Fadhil
" Tentang apa Dhil ? " ucap Agus
" Sentosa Group " ucap Fadhil
" Itu bukannya perusahaan di bidang furniture terbesar di jawa yang berpusat di sini " ucap Feri
" Menurut artikel sih gitu, aku juga baru tahu " jawab Fadhil
" Gak sembarang orang bisa masuk koleganya, secara pemiliknya yang sultan terkenal dingin pada orang baru " ucap Bimo
" Lebih terkenal sikapnya yang jujur dan tegas sih bukan dinginnya..." ucap Feri
" Iya terkenal loyal juga kayaknya " ucap Agus
" Memangnya kenapa sih? " ucap Agus
Fadhil mengkode Agus untuk tak membahasnya lagi.
" Sabtu depan ada yang pengen lihat bola gak ? " ucap Agus
" Seru juga lawannya " ucap Bimo
" Nobar yuk biar seru, lama gak turun lapangan " ucap Feri
__ADS_1
" Sok sok an turun lapangan, teori aja lo gede prakteknya ngoper aja gagal mulu hahaha...." ucap Agus
" Kalau Bimo seruan ngoper cewek kali ya Bim hahaha...." ucap Agus