OTW Melupakanmu

OTW Melupakanmu
Qobiltu bukan I love you


__ADS_3

" Anak bunda serius mau halalin kamu ! " bisik bunda sambil menowel hidung Dewi


" Tapi sayangnya kamu gak mau " ucap bunda


" Bukan gak mau bunda tapi....." ucap Dewi menjeda kalimatnya


" Tapi kamu anggap putra bunda bercanda dengan ucapannya kan? " ucap mengangkat dua alis matanya


" Hehehe....iya bunda, Mas Fadhil terlalu dingin dan Dewi tak yakin mas Fadhil serius hehehe..... " ucap Dewi jujur


" Memang dia dingin pada semua orang apalagi dengan perempuan, tapi sama orang tertentu bisa jadi berubah 180 derajat " ucap bunda


" Meski jarang bicara bunda pastikan sekali bicara pasti dia tak akan bercanda. Bicaranya selalu serius pada siapa saja " ucap bunda


Dewi mengangguk mendengar ucapan bunda, Fadhil yang mendengar obrolan mereka sejak tadi sudah masuk ke dalam kamar Dewi dan bersuara


" aku hanya tak mau manis dan romantis pada sesuatu hal yang belum halal untukku " ucap Fadhil tiba tiba sudah berada di samping ranjang


Dewi melihat Fadhil dan ke sekian kalinya tatapan mereka bertemu. Ada keseriusan di sana, ada damba di antara mereka, ada ketertarikan diantara keduanya. Bunda menggenggam tangan Dewi erat mencoba meyakinkan Dewi akan perasaan anaknya.


" Jika Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali mencintai dalam diam, Aku cinta padamu pada pandangan pertama seperti Nabi Adam pada Hawa " Ucap Fadhil


" Tapi aku bukan Hawa yang mencintai Adam untuk yang pertama " ucap Dewi


" Cinta tanpa ikatan yang sakral adalah sebuah ilusi karna yang serius mencinta tak akan membuatnya semakin bertambah dosa " ucap Fadhil


" Karena sejatinya cinta adalah indah saat di niatkan ibadah " ucap Fadhil


" Mungkin terlalu dini untukku mengenal rasa itu, entah cinta atau apapun namanya namun masa lalu yang membuatku sakit itu yang ingin aku sembuhkan lebih dulu " ucap Dewi


" Aku tahu itu, dan insyaallah aku siap menjadi obat untuk lukamu itu. Aku mencintaimu dengan semua yang ada padamu " ucap Fadhil


" Yang aku inginkan sekarang Qobiltu bukan i love you karena aku tidak mau kembali lagi terluka untuk yang ke sekian kalinya " ucap Dewi


Fadhil tersenyum melihat Dewi, bunda mengelus punggung Dewi lembut


" Baiklah, minggu depan kita nikah " ucap Fadhil


" Tidak ?!! " ucap Dewi kaget


Mimik wajah Fadhil berubah, dia mengerutkan dahinya. Begitupun Bunda yang terkejut mendapat jawaban Dewi. Padahal bunda yakin ada cinta di antara keduanya. Namun Dewi tampak memikirkan sesuatu karena minggu depan dia sudah janji dengan seseorang.


" Kenapa ? " tanya Fadhil

__ADS_1


" Tidak secepat itu Mas " ucap Dewi


" Bukankah niat baik akan lebih baik jika di lakukan segera ? " ucap Fadhil


" Iya sih, tapi Dewi gak mau !? " ucap Fadhil


Deg


Jantung Fadhil seperti berhenti berdetak, bagaimana tidak, saat dia ingin menjalin hubungan yang serius dengan menghalalkan perempuan yang dia cintai tiba tiba di tolak padahal Fadhil kira Dewi memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


" Apa kamu menolak lamaranku ? " ucap Fadhil lagi


" Tidak ! " jawab Dewi menggelengkan kepalanya


Fadhil sedikit bahagia mendengar jawaban Dewi namun dia belum mengerti alasan Dewi tak mau menikah minggu depan


" Terus ? " ucap Fadhil


" Minggu depan aku sudah janji akan menonton bola di stadion ?!!" ucap Dewi malu malu


" Ya Allah, hanya karena bola ! " guman Fadhil menertawakan dirinya sendiri yang tadi sempat berpikir Dewi menolaknya.


" hmmm....aku akan menemanimu minggu depan " ucap Fadhil


" Hahhhh....??!!! " kaget bunda dan Dewi


" Apaan sih, kayak kebelet aja kamu ! " ucap Bunda memukul bahu Fadhil pelan


" Nikah itu butuh proses. Persiapan kedua belah pihak, pihak keluarga juga perlu bertemu lebih dulu..." ucap Bunda


" Ya, bunda dengar sendiri kan. Dewi butuh Qobiltu bukan I love you dari Fadhil " ucap Fadhil


" Hmmm....tapi gak besok juga mas ! " ucap Dewi


" Emang kamu siap Wi menikah muda?" ucap Bunda


Dewi tampak berpikir apa yang dikatakan bunda, apa dia siap untuk menjalani rumah tangga nantinya.


" Siap tidak siap kalau Allah memberikan jodoh pada Dewi saat ini, Dewi bisa apa bun? " ucap Dewi


" Apa kamu gak ingin mengejar cita citamu dulu ? " ucap Bunda


" Setelah menikah Dewi juga masih bisa mengejar cita citanya bun " ucap Fadhil

__ADS_1


" Apa kamu tidak ingin menikmati masa mudamu seperti teman temanmu yang lain ?" tanya Bunda pada Dewi lagi


" Iya juga sih bun, apa usia Dewi terlalu dini untuk menikah saat ini ya bun ?" ucap Dewi


Tampak sedikit keraguan di hati Dewi, hal itu bisa di lihat oleh Fadhil. Bunda mengangguk, sebenarnya bunda hanya ingin mengetahui saja seberapa dewasanya pemikiran Dewi tentang hidup berumah tangga


" Mas Fadhil mau gak ya kira kira ? " ucap Dewi


" Mau apa ? hmmm.....? " tanya Fadhil


" mau... !? " ucap Dewi


" Mau membersamaiku melewati masa muda yang labil ini dengan sabar sebagai sosok seorang iman untuk Dewi ! " ucap Dewi


Bunda lega mendengar jawaban Dewi, sementara Fadhil tersenyum bahagia karena Dewi tak terpengaruh dengan ucapan bunda.


" Insyaallah, Aku akan belajar jadi imam yang baik untukmu " jawab Fadhil


" Jadi, kapan kita nikah " ucap Fadhil


" Fadhil !!!? " ucap Bunda menyentil hidung mancung sang putra yang sejak tadi duduk jongkok di bawah kakinya


Dewi terlihat malu malu mendengar godaan Fadhil.


" Besok kita bicara lagi, sekarang biarkan Dewi istirahat dulu " ucap bunda


Fadhil mengangguk dan menurut pada sang bunda karena melihat Dewi yang terlihat lelah dan butuh istirahat. Fadhil meninggalkan kamar Dewi lebih dulu.


" Terima kasih sudah mau bersedia menjadi menantu bunda dan membuat anak bunda tersenyum dan semangat kembali " ucap bunda memeluk Dewi


" Iya bunda " ucap Dewi membalas pelukan bunda


" Menjadi pasangan hidup mas Fadhil adalah impianku " guman Dewi


" Terima kasih juga sudah melahirkan belahan jiwaku. Do'akan kami bisa bersama dan bahagia " guman Dewi


" Bunda ke luar dulu ya, kamu istirahat dulu nanti habis maghrib bersiaplah ! bunda akan mengajakmu ke suatu tempat " ucap bunda mengelus kepala Dewi lembut.


Dewi mengangguk dan bunda meninggalkan Dewi sendirian di kamar. Waktu Ashar sebentar lagi, niat hati Dewi mau bersiap membersihkan diri namun ponselnya tiba tiba berdering. Dewi mengambil ponsel yang belum sempat dia keluarkan dari dalam tasnya saat pergi tadi pagi.


" Nomer baru ?! " guman Dewi


Angkat gak ya?

__ADS_1


__ADS_2