
Saat ke luar dari Mall waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tiba di parkiran mobil di mana mobil Fadhil berada Hesti berinisiatif memberi waktu berdua pada Fadhil dan Dewi
" Wi, kamu duduk depan aja ya " ucap Hesti
" Loh kenapa mbak ? " ucap Dewi
" Aku lelah banget, mau rebahan di jok belakang " ucap Hesti
Dewi mengangguk dan menuruti ucapan Hesti masuk ke dalam mobil di bagian samping kemudi. Sementara Hesti melihat ke arah Fadhil yang bersiap masuk di belakang kemudi. Hesti mengedipkan sebelah matanya dan mengangkat kedua jempol tangannya.
Fadhil menggelengkan kepalanya pelan kemudian masuk dalam mobilnya, di ikuti Hesti.
Saat di perjalanan, mereka semua diam tak ada yang bicara hingga Dewi yang tak mampu lagi membendung rasa penasarannya mencoba membuka suara
" Mas " panggil Dewi
" Ya " jawab Fadhil
" Dewi ingin tahu soal tadi " ucap Dewi
" Hmmm...." ucap Fadhil
" Apa yang ingin kamu ketahui ? " ucap Fadhil
" Soal black list ? " ucap Dewi
" Oh,,,Aku kira soal kita " ucap Fadhil
" Soal kita? " tanya Dewi
" Ya, soal kita !" ucap Fadhil
" Kapan di halalkannnya ?, misalnya " ucap Fadhil
" Mas, aku serius " ucap Dewi
" Aku juga serius adek " ucap Fadhil
" Mas, jangan begitu ada mbak Hesti " ucap Dewi malu
" Kenapa ? Aku tidak macam macam kan? " ucap Fadhil
" Iya sih, tapi aku belum terbiasa di panggil seperti itu " ucap Dewi
" Mulai di biasakan ya, karna aku akan selalu memanggilmu seperti itu " ucap Fadhil
" Memang status kita apa ? Hahaha...belum jelas ! " ucap Dewi
" Dan akan segera ku jelaskan besok " ucap Fadhil
Fadhil melirik spion mobilnya, melihat Hesti di belakang ternyata Hesti sudah tertidur di jok belakang.
" Lagian Hesti sudah menutup matanya, dia sudah pulas " ucap Fadhil
Dewi menengok ke belakang, dan benar saja Hesti sudah pulas di jok belakang dengan kaki di bawah tapi setengah badannya di rebahkan di jok.
__ADS_1
" Tetap saja mas, meski mbak Hesti sudah pulas, ada Allah yang melihat kita " ucap Dewi
" Ya, dan Allah juga tahu niat dalam hatiku. kenapa aku tak boleh memanggilmu adek ? sedangkan kamu, dari pertama bertemu sudah memanggilku mas " ucap Fadhil
" Iya juga ya hahaha.....ya udah terserah mas kalau gitu " ucap Dewi
" Kalau aku panggil honey ? " ucap Fadhil
Dewi melotot ke arah Fadhil
" Atau baby ? " ucap Fadhil
" Gak ! " ucap Dewi
" hahaha...." tawa Fadhil saat berhasil membuat Dewi kesal
" Serius mas, aku hanya ingin tahu soal black list itu " ucap Dewi
" Bukan karena kamu masih punya perasaan sama Bimo kan? " tanya Fadhil
Dewi diam sejenak mencerna kata kata Fadhil. Jika saat ini dia penasaran soal black list bukan karena dia masih cinta sama Bimo, namun lebih ke kuatirannya jika Fadhil mengetahui pelecehan yang di lakukan Bimo terhadapnya dan Fadhil menjadi ilfeel terhadapnya.
Dewi menggelengkan kepalanya
" Bukan " ucap Dewi
" Jika kami sudah tak punya perasaan pada Bimo kenapa kamu peduli dengan pemblack listan itu " ucap Fadhil
" Aku hanya ingin tahu siapa yang melaporkannya dan kasus seperti apa yang bisa membuatnya di black list " ucap Dewi
" Apa ?! " ucap Dewi tak percaya
" Aku tak percaya " ucapnya lagi
" Dan nyatanya memang begitu " ucap Fadhil
" Berarti Mas Fadhil tahu kejadian itu " guman Dewi dalam hati
" Aku yang melaporkan Bimo atas tindakannya di resto sebelum kamu berlari dan terserempet motor " ucap Fadhil
Dewi menutup matanya dan menundukkannya dalam, tangisnya pecah. Betapa malunya Dewi saat aibnya tersebar. Dewi semakin terisak hingga membuat bahunya terus bergoncang. Fadhil menepikan mobilnya dan berniat menghentikan mobilnya sejenak.
" Maaf, aku hanya tak ingin dia menyakitimu lagi " ucap Fadhil
Dewi masih terus terisak dan semakin menundukkan wajahnya.
" Aku tahu ini hal yang memalukan, aku juga tahu kamu tak menginginkan itu terjadi padamu karena itu aku ingin memberi pelajaraan pada Bimo " ucap Fadhil
" Aku sudah kotor, aku tak mampu menjaga martabatku " ucap Dewi semakin terisak
" Setiap musibah pasti ada hikmahnya, ke depannya aku akan siap menjaga dan melindungimu sebagai suamimu " ucap Fadhil serius
" Aku sudah kotor mas " ucap Dewi makin terisak
" Husttt...jangan berkata seperti itu, tak ada manusia yang bisa menghakimi seseorangpun begitupun diri sendiri. Allah yang paling berhak atasmu dan berserahlah padanya. Karena sejatinya hidup kita adalah milikNYA tugas kita hanya menjalaninya" ucap Fadhil
__ADS_1
" Tapi mas, aku sedih, aku hina, aku merasa terlalu kotor setelah tragedi itu" ucap Dewi
" Semua bukan kehendakmu, bukan salahmu. Mungkin Allah ingin menguji untuk meningkatkan seberapa sabarmu, seberapa kuat hatimu dan seberapa besar cintamu " ucap Fadhil
Dewi mengangguk dan mengusap air matanya
" Dewi akan bersabar atas ujian ini, meski tak ada lagi lelaki yang mau menikahi Dewi setelah ini " ucap Dewi
" Aku akan menikahimu " ucap Fadhil
" Jangan bercanda mas ! " ucap Dewi
" Aku bahkan sudah berniat menghalalkanmu sebelum kejadian itu " ucap Fadhil
" Dan sekarang ? Setelah mas tahu semuanya apa mas akan tetap menikahiku ? Tidak kan ?!! " ucap Dewi menggelengkan kepalanya pelan
" Aku tetap akan menikahimu " ucap Fadhil
" Dan aku tak percaya itu ! " ucap Dewi
" Apa yang bisa aku lakukan agar kamu percaya bahwa aku akan menikahimu ? " ucap Fadhil
" Jangan memberi harapan jika tak akan ada pembuktian " ucap Dewi
" Okey, besok kita ke kampung menemui orang tuamu " ucap Fadhil
" Hahaha....pasti mau minta mangga lagi " ucap Dewi mencoba kembali menepis bahwa Fadhil tak serius dengan ucapannya
" Apa kita sudah sampai di rumah ? " ucap Hesti tiba tiba
" Belum mbak " jawab Dewi
" Ya udah, aku tidur lagi nanti bangunin ya kalau sudah sampai " ucap Hesti kembali menutup matanya
" Mas, lebih baik jalan lagi. ini sudah larut malam " ucap Dewi
Fadhil kembali menyalakan mobil dan menyusuri jalanan yang mulai terlihat sepi
" Jika aku menikahimu, apa mahar yang kamu inginkan dariku ? " ucap Fadhil
" Hmmm....Gampang mas, hafalan surat Ar Rahman saja... hahaha.... " ucap Dewi
" Mahar itu sesuatu yang bisa di nominalkan meski Nabi pernah menikahkan sepasang manusia dengan mahar hafalan al-quran " ucap Fadhil
" Hmmm....minta uang, mobil, rumah, sawah, emas batangan, deposito bank atau hmmm....surat kepemilikan saham " ucap Dewi
" Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah atau murah maharnya. Hadist riwayat Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi " ucap Fadhil
" Mahar yang baik adalah yang tidak memberatkan laki laki dan tidak pula merendahkan perempuan " ucap Fadhil
" Jadi bingung mau mahar apa ? lebih bingung lagi kalau gak di ajakin nikah tapi di tanya mau mahar apa?. hahaha...." ucap Dewi
Fadhil tersenyum melihat Dewi kembali tertawa ceria meski dia sebal karena niatnya tak pernah dia anggap serius oleh Dewi.
" Akan aku buktikan keseriusanku dengan mengajakmu ke penghulu, tunggu saja kejutanku besok ! " guman Fadhil tersenyum penuh bahagia.
__ADS_1