OTW Melupakanmu

OTW Melupakanmu
Kesepakatan


__ADS_3

" Hahhhhh....mami bayaran? kenapa gak cari mami beneran aja sih, dasar orang kaya ! " guman Dewi dalam hati.


" Maaf om, Dewi gak siap ! " Jawab Dewi tegas


" Dewi siap jika hanya sekedar jadi teman untuk Sisil tidak lebih. Jadi tidak perlu om membayarnya. Dewi ikhlas untuk melakukan ini semata mata untuk bisa melihat Sisil bahagia " ucap Dewi


" Okey, tak masalah sekedar teman yang bisa membuat Sisil bahagia tapi kamu tetap akan saya bayar " ucap Agas


" Tapi om, Dewi melakukannya karena sisil bukan karena uang " ucap Dewi


" Tidak ada penolakan untuk itu " ucap Agas


" Terserah ! " ucap Dewi lirih


" Okey, mulai besok kamu tak perlu kerja di stand xxx cell lagi " ucap Agas


" No...No....No...! " ucap Dewi


" Kita buat kesepakatan dulu ! " ucap Dewi


Agas melotot ke arah Dewi, Agas tak menyangka Dewi akan mengatakan itu


" Kenapa harus ada kesepakatan ? " ucap Agas


" Bukan apa apa om, tapi saya ingin privasi di kehidupan yang saja jalani saat ini, saya juga ingin menikmati kehidupan saya bukan hanya tanggung jawab yang berlatar belakang pekerjaan saja" ucap Dewi


" Okey " ucap Agas


" Katakan apa yang kamu mau? " ucap Agas


" Pertama aku ingin tetap bekerja " ucap Dewi


" Jadi aku hanya bisa menemani Sisil saat weekend saja usai pulang kerja dan saat aku tidak ada rencana untuk pulang ke kampung " ucap Dewi


" Kedua, hubungan kita sebatas atasan dan bawahan saja tidak perlu membawa hati " ucap Dewi


Agas diam meresapi syarat kedua dari Dewi. Dia memang sejak pertama kagum dengan Dewi selain mirip dengan mantan isterinya Dewi di rasa punya kelebihan tersendiri. Namun disini jelas terlihat Dewi saat ini tidak memiliki rasa sedikitpun untuknya.


Terasa berat untuk tidak membawa hati dalam urusan ini, tapi demi Sisil putri tercintanya akhirnya Agas mengiyakan saja. Urusan hati biar nanti saja di pikirkannya karna fokusnya saat ini adalah melihat Sisil tersenyum.


" Okey, Deal " ucap Agas mengulurkan tangan kanannya mengajak Dewi berjabat tangan tanda sepakat


.


.


Hari ini, seperti biasa Dewi pergi ke tempat kerja dengan ceria melewati Gang dan menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Saat sedang asyik berjalan sambil bernyanyi riang Dewi melihat keributan antara seorang perempuan dan seorang bocah kecil.


Terlihat sang bocah meminta maaf dan menundukkan kepalanya namun sang perempuan itu tetap saja marah marah dan hendak memukul sang bocah.


" Mbak, sebaiknya jangan memukul anak kecil " ucap Dewi menahan tangan si perempuan


" Kamu mau membelanya?" ucap perempuan itu menepis tangan Dewi yang mencekalnya


" Maaf tapi kesalahan apa yang anak ini lakukan hingga mbak bersikap kasar kepadanya? " tanya Dewi


" nih...." ucap perempuan itu menyodorkan sebuah tissu yang dari tadi di pegangnya


" kenapa? " tanya Dewi yang semakin tidak mengerti


" Dia menjual tissu expired " ucap Perempuan itu

__ADS_1


Dewi meneliti tanggal expired di kemasan tissu itu dan memang benar tissu itu sudah expired sejak satu bulan yang lalu


" Maaf tante tapi saya tidak tahu kalau tissu itu...." ucap si anak


Belum selesai anak itu memberi penjelasan si perempuan sudah memotong ucapannya


" Hallah banyak alasan " ucap Perempuan itu


" Maaf mbak, tolong beri kesempatan adik ini menjelaskan " ucap Dewi


" Tidak perlu, karena tissu ini mukaku jadi merah " ucap perempuan itu kesal sambil berjalan meninggalkan Dewi dan bocah penjual tissu


Dewi geleng geleng menatap kepergian perempuan itu, sedetik kemudian dia menatap ke bocah penjual tissu yang terlihat masih menunduk merasa bersalah.


" Adik gak papa? " ucap Dewi


" Vano gak papa Kak, Vano benar benar tak sengaja menjual tissu itu karena Vano juga gak tahu kalau tissu itu punya masa expired " ucap Vano jujur


Dewi mengangguk, mengerti akan hal itu.


" Lain kali adik lihat dulu tanggal expirednya ya, biar gak di salahkan pembeli " ucap Dewi


Masih ada 10 tissu yang di bawa Vano. Dewi dan Vano meneliti satu persatu tissu yang masih tersisa


" iya kak" ucap Vano sendu


Sebagian tissu yang masih bisa di jual dia sisihkan dan dikembalikan pada Vano. Sedangkan sebagian tissu yang sudah expired di bawa oleh Dewi.


" Ini uangnya buat tissu ini, cukup? " ucap Dewi sambil mengangkat beberapa tissu


" Tapi kak, tissu itu kan sudah expired " ucap Vano


" Gak papa, Kakak beli yang ini " ucap Dewi


Dewi mengangguk dan tersenyum pada Vano yang kembali terlihat ceria


" Terima kasih kak " ucap Vano


" Oh ya nama kakak siapa? " tanya Vano


" Kakak namanya Dewi " ucap Dewi


" Nama kakak cantik seperti orangnya seperti hatinya juga " ucap Vano


" Sekali lagi, terima kasih Kak Dewi " ucap Vano


" Sama-sama sayang " ucap Dewi mengelus kepala Vano


.


.


Stand xxx cell terlihat sangat ramai, hampir semua pramuniaga toko itu melayani pembeli tak terkecuali Dewi yang saat itu sedang melayani seorang bapak tua


" Nak, bapak bawa uang satu juta lima ratus ribu rupiah " ucap Bapak itu


" Njih pak, bisa Dewi bantu ? " ucap Dewi sopan


" Bapak ingin membeli ponsel untuk anak bapak yang masih SMP, untuk keperluan sekolah Nak " ucap Bapak itu


" Njih pak, Dewi bantu pilihkan ponsel yang cukup untuk jumlah uang yang bapak miliki " ucap Dewi

__ADS_1


Dewi memilihkan 2 ponsel dengan fitur yang berbeda. Namun bapak itu tak paham fitur yang Dewi jelaskan


" Bapak percaya sama kamu Nak, pilihkan bapak salah satunya saja " ucap Bapak itu


" Njih pak " ucap Dewi


Kemudian Dewi memilih satu ponsel yang dirasa paling bagus diantara dua tadi.


" Baik pak, silahkan lakukan pembayaran di sebelah sana. Ponsel pesanan bapak bisa diambil setelah bapak menyelesaikan pembayarannya " ucap Dewi sopan


" Tapi Nak...." bapak tua menahan ucapannya


" Kenapa pak ? apa ada masalah ? " tanya Dewi


" Uang yang bapak bawa, Koin semua " ucap Bapak tua


Bapak tua menunjukkan satu karung uang koin yang di letakkan di lantai di bawah kursi di mana dia duduk.


" Tidak apa pak, mari Dewi bantu " ucap Dewi sopan


Dewi berjalan menghampiri bapak tua dan mengangkat karung itu. namun sebelumnya Dewi menemui sang bosh di meja kasir


" Ko, bapak tua itu beli ponsel dengan uang koin " ucap Dewi pada Abing sang bosh yang berada di meja kasir


" hmmm.... Okey, kamu bantu hitung di sofa sebelah sana " ucap Abing


Dewi mulai membantu menghitung uang koin milik bapak tua, namun saat hampir selesai seorang perempuan menabrak tubuhnya hingga membuat Dewi terjatuh di atas meja di mana koin koin itu sudah tertata rapi. Bukan minta maaf, perempuan itu malah marah marah pada Dewi.


" Dasar, kalau berdiri jangan di tempat orang jalan donk ! " umpat perempuan itu


Dewi yang masih dalam posisi di atas meja segera berdiri dan mencoba menatap ke arah perempuan itu.


" Astaghirullah, dia lagi !...Apa salahku ya Robb hingga ketemu makhluk seperti ini 2 kali " guman Dewi


" Kamu lagi? jadi mau beli ponsel dengan uang Receh ini? hasil jual tissu experied? hahaha " ucap perempuan itu


Dewi hanya menggelengkan kepalanya sambil beristighfar.


" Astghfirullah, Ya Allah lindungi hamba dari Setan berwujud manusia ! " ucap Dewi


Dewi kembali merapikan koin yang berserakan dan menatanya kembali tak menghiraukan perempuan itu.


Perempuan itu mendekati Sofi, pramuniaga yang juga teman Dewi untuk membeli ponsel impiannya. saat Sofi sedang melayani persmpuan itu, ponsel Dewi terdengar berdering berulang membuat Sofi terganggu dan memanggil sang rekan kerja


" Wi, ponselmu dari tadi bunyi nih,,, lihat dulu gi, siapa tahu penting " ucap Sofi


Dewi sedikit berlari ke arah sofi tapi di depan etalase di samping perempuan yang tadi bersitegang dengannya.


" Tolong ambilkan ponsel Dewi mbak" ucap Dewi


Sofi mengangguk dan mengambil ponsel di dalam sling bag Dewi yang di letakkan di atas meja di belakang sofi. Sofi menyerahkan ponsel Dewi yang masih berdering


" hahhhh....itu kan ponsel terbaru, harganya mehong, kok dia bisa punya! " guman perempuan itu yang tak sengaja melihat ponsel yang di berikan Sofi pada Dewi


" Assalamu'alaikum Sisil sayang " ucap Dewi di telepon


" Maafin kakak, kakak masih kerja nanti pulang kerja kakak temani Sisil okey " ucap Dewi


" Daa... " ucap Dewi menutup panggilan teleponnya


Dewi menghembuskan nafasnya berat. Abing yang memperhatikan Dewi sejak tadi merasa kasihan.

__ADS_1


" Baiklah, aku akan memberi keringanan untuknya " guman Abing


__ADS_2