
Usai sarapan, Dewi kembali ke kamar dan mengambil ponselnya yang belum sempat dia buka dari kemarin malam. Dewi mendapat banyak pesan chat dan juga beberapa riwayat panggilan tak terjawab.
Dewi membalas satu satu pesan chat yang masuk. Dewi juga mengirim pesan chat baru untuk Fadhil
" Terima kasih untuk sarapan pagi ini " tulis Dewi
" Rasanya pas, pedasnya juga pas hanya kurang manis saja karena makannya sendirian " tulisnya
" Coba kalau makannya berdua " tulisnya lagi
Dewi mengirim pesan yang sudah di tulis pada Fadhil sambil tersenyum mengingat perhatian Fadhil kepadanya akhir akhir ini
Sementara Fadhil yang berada di kantor usai apel pagi sedang duduk di ruangan hendak menghubungi Dewi karena selalu kepikiran namun belum sempat dia menulis pesan, pesan dari Dewi sudah masuk di ponselnya.
Fadhil tersenyum sendiri membaca pesan dari Dewi, lalu dia membalas pesan Dewi
" Tunggu Qobiltuku terucap, maka tak kan ada kamu tanpa diriku " balas Fadhil sambil tersenyum
" Jangan lupa minum obat dan istirahat " balas Fadhil
" Iya " jawab Dewi
" hmmm....bolehkah aku makan siang dengan mbak Citra ? " tanya Dewi
" Kemarin aku sudah janji makan siang denganya di MCM " tulis Dewi
" Bukan tak mengijinkan tapi kondisimu masih lemah, kalau kamu mau ajak mbak Citra makan di rumah saja " tulis Fadhil
" Baiklah, terima kasih perhatiannya. Jangan lupa makan siang nanti " balas Dewi
" Jam makan siang masih lama, nanti kamu ingatkan aku lagi aja biar gak lupa " tulis Fadhil
Fadhil tersenyum membalas pesan Dewi
" Halah maunya ! " balas Dewi
Fadhil tak membalas pesan Dewi lagi, dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkann Dewi menghubungi Citra untuk membatalkan janji makan siangnya. Dewi kembali berbaring di kasurnya dan kembali memejamkan matanya.
Saat jam makan siang Citra mengajak Sisil menjenguk Dewi. Setelah tadi pagi Dewi membatalkan janjinya bertemu, Citra mencoba menghubungi Sisil dan mengajak Sisil menjenguk Dewi bersama sama.
Saat berada di dalam mobil Citra menuju tempat Dewi, Sisil bertanya pada sang mami
" Mi, mami tahu dari siapa kalau kak Deo sakit? " tanya Sisil
" Tadinya mami ada janji makan siang sama kak Dewi tapi kak Dewi batalkan katanya lagi tak enak badan " ucap Citra
" Kak Deo kemarin keserempet motor mi " ucap Sisil
" Kata siapa sayang ? Kak Dewi hanya bilang tak enak badan sama mami " ucap Citra
" Kata Papi ! " jawab Sisil
__ADS_1
" ??? " Citra bengong
" Tadi sebelum Mami telepon Sisil, Papi cerita sama Sisil kalau Papi tadi malam ngantar kak Deo ke klinik karena kesrempet motor " cerita Sisil
" Makin penasaran sama Dewi, Agas begitu peduli padanya ! apa mungkin Agas Cinta sama Dewi " guman Citra
" Kita beli makan siang dulu buat kita dan kak Dewi ya " ucap Citra
" Iya mi, kita beli makanan kesukaan kak Deo aja ya mi " ucap Sisil
" hmmm...kenapa beli makanannya kesukaan kak Dewi bukan kesukaan Sisil aja? " tanya Citra
" Ya, karena kak Deo yang sakit mi, kalau orang sakit biasanya makannya susah karena mulutnya terasa pahit " ucap Sisil
" Kalau orang sehat kan makan aja enak gak terasa pahit " ucap Sisil
" Oh...gitu ya....tambah pinter anak mami " ucap citra
" pinter donk ! kan waktu Sisil sakit kak Fadhil jenguk Sisil sama kak Deo bawain brownise kesukaan Sisil sama kak Agus juga " ucap Sisil
" Kak Fadhil ? Kak Agus ? siapa mereka ? " tanya Citra
" Kak Fadhil itu calon imam impian para wanita termasuk Sisil dan juga kak Deo hahaha....." ucap Sisil
Citra tersenyum mendengar Sisil.tertawa lepas tanpa beban.
" Kalau kak Agus itu teman hanya teman saja. waktu itu sih kak Agus nawarin jadi abangnya Sisil tapi Sisil gak mau karena muka kita beda banget gak mirip jadi Sisil gak mau " ucap Sisil
" hahaha....Sisil gak boleh gitu sayang. sama orang yang lebih tua harus sopan " ucap Citra
" Nah gitu, berteman dengan siapa saja tanpa memandang wajah atau yang lainnya okey ! " ucap Citra
" Okey mi ! " jawab Sisil
Citra semakin dekat dengan Sisil anakmya yang sempat terpisahkan oleh keadaan. Citra bersyukur dan bahagia bisa bersama Sisil kembali.
" Jadi kita beli makan apa buat kak Dewi ? " tanya Citra
" Hmmm....apa ya ? " ucap Sisil sambil berpikir
" Sisil tahu makanan kesukaan kak Dewi tidak ? " tanya Citra
" Gak tahu " jawab Sisil
" Sisil sering makan bareng kak Dewi bukan? " tanya Citra
" Sering mi " ucap Sisil
" Terus kak Dewi seringnya makan apa? " tanya Citra
" Makannya sering pedas dan pasti ada sambalnya mi " ucap Sisil
__ADS_1
" Sisil doyan pedas juga? " tanya Citra
" Tidak mi, biasanya dulu kak Deo suapin Sisil dulu baru makan makanannya yang pedas, tapi Sisil sudah makan sendiri sekarang karena kata kak Deo kalau Sisil harus bersyukur punya tangan sendiri " ucap Sisil
Citra makin terkagum dengan cara Dewi mendidik sang putri, meski hanya 2 hari mereka bersama dalam seminggu namun Sisil selalu mengingatnya. Citra mampir ke resto untuk memesan makanan dan beberapa kue untuk di bawa ke tempat Dewi.
Sampai di tempat Dewi, Citra dan Sisil mengucap salam di depan pintu. Terlihat banyak orang di dalam rumah namun sibuk dengan kerjaannya masing masing.
" Tempat apa ini mi ? " tanya Sisil
" ini namanya rumah produksi sayang " jawab Citra
" Jadi kak Deo kerjanya kayak kakak kakak itu ? " guman Sisil
" Maaf, ada yang bisa kami bantu ? " ucap seorang karyawan
" Kami ingin bertemu Dewi mbak, bisa ? " tanya Citra sopan
" Maaf bisa saya tahu anda siapa dan ada keperluan apa ? " tanya karyawan itu
" Aku Sisil mbak, dan ini mamiku "
" Kami ingin menjenguk Dewi yang katanya lagi sakit " ucap Citra
" Sebentar mbak " ucap karyawan itu kemudian berjalan ke dalam menemui Hezti yang sedang berada tak jauh dari sana
" Mbak Hesti ada yang ingin ketemu Dewi " ucapnya
" Penggemarnya ? bilang Dewi tidak bisa di temui untuk saat ini " ucap Hesti
" Seorang anak kecil mengaku bernama Sisil dan maminya ingin menjenguk mbak, itu mereka " ucap karyawan menunjuk ke arah Sisil
Hesti melihat ke arah tunjuk sang karyawan , dan dia melihat orang yang sangat di kenalnya bersama seorang anak perempuan
" Tante Citra ! " ucap Hesti sambil berjalan ke arah mereka.
" Tante Citra ! " panggil Hesti
" Hesti ! " sapa Citra kaget
Hesti menyimpan kebencian yang teramat pada sosok di depannya dan itu membuat Hesti naik darah
" Pergi ! " ucap Hesti
" Cepat pergi dari sini ! " ucap Hesti lagi
Citra diam tak bergerak dari tempatnya, Sisil terbengong melihat seseorang mengusir maminya. sedangkan semua mata di ruangan tertuju pada sosok Hesti yang marah dan geram.
Kenapa Hesti begitu membenci Citra?
Apa kesalahan Citra di masa lalunya?
__ADS_1
penasaran gak?
Kasih Kopi dulu donk biar gak ngantuk !