
Jumat pagi, Fadhil ke luar kamar dengan wajah berseri. Pagi ini dia akan berangkat ke kampung Dewi. Dia pergi ke kamar Dewi dan mengetok pintu kamar Dewi
Tok Tok Tok
" Assalamu'alaikum " ucap Fadhil
Fadhil berdiri membelakangi pintu kamar, dan Dewi membuka pintu kamar saat mendengar suara salam.
" Wa'alaikum salam " jawab Dewi kaget melihat pagi sekali Fadhil menemuinya
" Mas Fadhil ? " panggil Dewi
Fadhil berbalik menghadap ke arah Dewi dan menunjukkan senyum bahagianya
" Pagi dek " ucap Fadhil
" ??? " Dewi mengerutkan dahinya
" Ada apa gerangan, tumben ! " guman Dewi
" Ada yang bisa Dewi bantu mas? " tanya Dewi
" Ya ! " ucap Fadhil
" Aku ingin kamu bantu aku ! " ucap Fadhil
" Bantu apa mas ? " ucap Dewi
" Tunjukkan jalan jodohku " ucap Fadhil
" ??? " Dewi tak mengerti
" Maksudnya ? " ucap Dewi
" Temani aku, karna aku akan memintamu di hadapan orang tuamu untuk kupinang menjadi isteriku " ucap Fadhil
" Mas, masih pagi jangan bercanda " ucap Dewi
" Baiklah, kita bercandanya tengah malam saja " ucap Fadhil
" Aneh ! " guman Dewi menganggkat kedua bahunya
" Bersiaplah, kita akan berangkat usai sarapan " ucap Fadhil
" Kemana ? " tanya Dewi
" Ikut saja " ucap Fadhil
" Tapi aku ada pemotretan hari ini mas " ucap Dewi
" Kamu bisa libur dulu hari ini karena teammu tak ada yang masuk hari ini " ucap Fadhil
" Kenapa ? " ucap Dewi
" Mereka sedang berlibur " ucap Fadhil
" Kenapa aku gak di ajak? Dan kenapa aku gak tau ? " ucap Dewi
" Kamu sepertinya sudah siap, kita sarapan dulu " ucap Fadhil
Fadhil melangkah ke meja makan di ikuti Dewi yang mau tidak mau mengikutinya dari belakang karena perutnya memang sudah lapar.
Sampai di meja makan, sudah ada bunda dan Agus yang menunggu
" Pagi calon pengantin, waah wajahnya sumringah ni..." ucap Agus
__ADS_1
" ehhh...tapi tunggu, kenapa Dewi mukanya di tekuk kayak gitu ? " ucap Agus
" Lagi laper kak ! " ucap Dewi sambil menyalami bunda yang duduk di sebelah Agus
" Ya udah yuuk langsung makan, habis itu kita berangkat " ucap Bunda mengelus tangan Dewi yang masih di genggamnya saat usai salim
Mereka menikmati sarapannya dengan lahap, sambal teri dan tempe mendoan menjadi pilihan mereka di antara banyak menu yang tersaji. Menu sederhana namun menggugah selera.
Nikmat sehat yang harus di syukuri, karena saat sehat makanan yang sederhanapun bisa terasa nikmatnya. Sebaliknya makanan semahal dan seenak apapun kalau dinikmati orang yang sedang sakit maka rasanya akan hambar.
" Alhamdulillah atas nikmatmu ya robb..." ucap bunda menyudahi sarapannya
Setelah selesai menikmati sarapan, mereka mengambil tas yang telah mereka siapkan sebelumnya dan membawanya menuju ke mobil.
" Kenapa mas Fadhil membawa koper ? " ucap Dewi
" Ya, karena kita menginap di sana " ucap Fadhil
" Tapi di kampung rumah Dewi tak cukup besar mas " ucap Dewi
" Ya aku tahu, asal kamu ingat aku pernah menginap di sana " ucap Fadhil
" Memang berapa hari mas? Yang lain hanya membawa tas saja " ucap Dewi menunjuk Agus dan juga bunda
" Udah Wi, biarkan saja " ucap Bunda
Dewi mengangguk dan mengikuti bunda yang duduk di belakang. Fadhil duduk di belakang kemudi dan Agus di sampingnya.
" Agas dan Citra udah kamu kabari A' ? " tanya Bunda
" Sudah bun, barusan " jawab Fadhil
" Terus ? Apa mereka bisa datang? " tanya bunda
" Insyaallah bisa bun " jawab Fadhil
" Hesti gimana? " tanya Bunda
" Siap bun, mereka berangkat siang ini " ucap Fadhil
" Bu lek juga sudah bunda telephone tadi malam. Katanya semua sudah beres " ucap Bunda
" Alhamdulillah, semoga acaranya lancar " ucap Fadhil
.
.
Dua jam kemudian, Mereka sampai di kediaman bu lek Fadhil. Di sana sudah berkumpul keluarga Fadhil, semua sibuk menyiapkan hantaran untuk di bawa ke rumah Dewi siang ini. Dewi yang merasa terkejut ingin memberi tahu keluarganya namun sedari tadi Woro sang kakak mencoba di hubungi lewat pesan atau telephon namun tak ada balasan.
Rumah orang tua Anto jaraknya hanya sekitar 3 km dari rumah Dewi jika menggunakan motor hanya perlu waktu kurang lebih lima belas menit saja. Dewi ingin pulang dan memberitahukan keluarganya untuk bersiap siap namun di cegah oleh Fadhil dan terkesan menghalang halanginya untuk pulang.
" Mas, Aku minta mas Woro jemput ya " ucap Dewi
" Bukannya Woro masih kerja ? " ucap Fadhil
" Oh iya aku lupa, kalau begitu aku minta jemput Ani saja " ucap Dewi
" Kenapa? Nanti kita bareng saja ke sananya" ucap Fadhil
" Mas, nanti Bapak dan ibuk gimana? Tiba tiba menerima tamu keluarga mas tanpa persiapan " ucap Dewi membayangkan kepanikan bapak dan ibunya
" Tenang saja, aku tak membutuhkan jamuan apapun hanya restu mereka yang aku ingin dapatkan " ucap Fadhil
" Mas, tetap saja bapak dan ibu pasti bingung mau menjamu tamunya " ucap Dewi
__ADS_1
" Jangan kuatirkan itu, aku sudah memberi tahu Woro kemarin " ucap Fadhil
" hah mas Woro? tetap saja aku kuatir mas, mas Woro itu kadang suka lupa. Saat ini di hubungipun tak bisa " ucap Dewi
" Hmmm....Aku takutnya nanti kamu malah pergi " ucap Fadhil
" Hahhh? Maksudnya pergi ? " ucap Dewi
" Pergi dan sembunyi dariku " ucap Fadhil
" Ngapain juga harus sembunyi, memang petak umpet ? " ucap Dewi
" Bisa aja kan kamu lari dariku ? " ucap Fadhil
" Untuk apa lari mas? Jika di dekatmu aku bahagia ! Eee...aa..." ucap Dewi sambil bercanda
" Yakin? Tak akan lari jika aku nikahin kamu? " ucap Fadhil
" Mana bisa nikah sambil lari mas? Yang ada penghulunya ngos ngosan ngejar pengantinnya hehehe...." ucap Dewi
" Yakin gak lari jika aku nikahin kamu malam ini ? " ucap Fadhil
" Apa !! malam ini ?" ucap Dewi kaget
Fadhil mengangguk dan tersenyum melihat expresi kaget Dewi
" Yakin malam ini mas? " ucap Dewi
Fadhil kembali mengangguk sambil menyunyah kripik pisang manis kesukaannya
" Kok bisa? tanpa ada persiapan mas? nanti gimana kata tetangga? nikah dadakan? gak ada syukuran? gak ada laporan ke kelurahan? belum laporan ke KUA belum berkas berkas nikahnya. Dewi gak mau nikah siri ya mas! " ucap Dewi
" hahaha...." Fadhil malah tertawa mendengar ucapan panjang lebar Dewi
" Mas sih sudah yakin untuk halalin kamu ? hanya nunggu kamu mau saja " ucap Fadhil
.
.
Sementara di halaman rumah Dewi sudah siap dekorasi pernikahan yang amat mewah untuk sekelas pernikahan di kampung. Halaman yang luas di sulap pihak EO suruhan Fadhil menjadi sebuah tempat yang indah di penuhi bunga mawar warna warni dan lampu kelap kelip di atas tenda biru. Terparkir juga sebuah mobil mewah berwarna putih dengan pita merah di halaman rumah namun masih di tutupi oleh tirai hingga tak semua orang bisa melihatnya. Janur kuningpun sudah terpasang rapi di tepi jalan di depan rumah.
Sebuah mobil hitam yang kebetulan lewat berhenti sejenak tatkala melihat dekorasi halaman rumah Dewi seperti ada hajatan. Seseorang membuka kaca jendela mobil dan bertanya pada seorang tetangga Dewi yang kebetulan lewat.
" Siapa yang nikah bu lek ? " tanyanya
" Dewi " ucap seorang tetangga
" Siapa yang menikahinya? " tanyanya lagi
" Pengusaha kaya dari Surabaya " ucap tetangga yang lainnya
" Duda ? " tanyanya
" Masak iya duda sih ? perjaka kok " jawab tetangga Dewi
" Iya siapa tahu bu lek, kan pengusaha kaya kalau gak duda ya paling punya isteri. Mana ada pengusaha muda kaya raya mau nikah sama anak kampung " ucapnya
" Dewi kan cantik ya wajarlah kalau dapat pengusaha muda kaya raya " ucap tetangga Dewi
" ishhh....bilang aja situ ngiri ! " timpal tetangga Dewi yang lain
" Breng kesan pindang ! Minggir ! " umpatnya
Kedua tetangga Dewi kaget di bentak dan buru buru menjauh dari mobilnya
__ADS_1
" Yeee....baru punya mobil kayak gitu songongnya minta ampun....iri bilang bosh ! " ucap tetangga Dewi
" Ya tu, gak ada sopan sopannya sama orang tua ! " gerutu tetangga yang lainnya