
" Dewi ikut juga bun? " tanya Hesti
" Iya " ucap bunda
" hmmm...." guman Hesti
Tak berapa lama Fadhil dan Dewi sudah kembali. Bunda mengajak mereka untuk bergegas.
" Ayo kita berangkat " ucap Bunda
Mereka mengangguk dan berjalan menuju mobil Fadhil yang masih terpakir di halaman depan
" Kamu duduk di depan Wi " ucap bunda
" Njih bun " jawab Dewi mengangguk
Saat semua sudah memasuki mobil dengan formasi Fadhil di belakang kemudi, Dewi duduk di sampingnya, sedangkan bunda dan Hesti di kursi belakang. Fadhil mulai menjalankan mobilnya.
" Kita ke rumah nenek dulu, nanti habis maghrib baru ke sana " ucap Bunda
Fadhil mengangguk mengiyakan ucapan Bunda
" Apa kamu sudah baca semuanya dengan seksama Hes? " tanya bunda
" Sudah bun " jawab Hesti
" Bagaimana menurutmu ? " ucap Fadhil
" Harga jual sahammu yang makin tinggi pada akhirnya aku hanya bisa beli 10% saja " ucap Hesti
" Meski hanya 10% saja besarannya akan sama pada akhirnya bahkan bisa jadi lebih besar, itu namanya rezeki " ucap bunda
" Iya sih bun " ucap Hesti
" Memang siapa sih yang mau beli dengan harga semahal itu ? " ucap Hesti
" Nanti kamu juga bakalan tahu " ucap Fadhil
" Sejak ada Dewi, omset kita luar biasa ya dari kenaikan penjualan yang sangat tinggi hingga harga sahampun turut melejit " ucap Hesti
" Dewi bukan hanya membawa keberuntungan untuk usaha kita namun juga membawa kebahagiaan untuk bunda " ucap Bunda
" Terima kasih ya Wi " ucap bunda
" Apalah arti Dewi yang bukan siapa siapa ini bunda? " ucap Dewi
" Memang takdir jalan Dewi seperti ini, kalau orang di sekitar Dewi bahagia dengan kehadiran Dewi seharusnya Dewi yang lebih bahagia karena kalian bisa menerima Dewi yang tak sempurna " ucap Dewi
" Asal kamu tahu Wi, hadirmu sangat berarti membuat senyum di wajah putraku " ucap Bunda
Dewi melihat ke arah Fadhil yang tersenyum mendengar penuturan sang bunda
__ADS_1
" Iya bun, aku lihat sejak membawa Dewi ke rumah kak Fadhil jadi banyak senyum dan tak sedingin waktu itu " ucap Hesti
" Sok tahu ! " ucap Fadhil
" Yeeeaa....ngeyel di bilangin juga, kutub utara udah mulai mencair nih kayaknya hahaha...."goda Hesti
" Siapa yang kutub utara ! Fadhil tu pangeran berkuda " ucap Fadhil
" Yeeea...pangeran berkuda tu selalu senyum, mana ada pangeran dingin. Lebih pantes jadi manusia kutub hahaha...." ucap Hesti
" Yee...Sekarang kan sudah gak gitu ! " ucap Fadhil
" Tetap saja, manusia kutub ! Week..." ucap Hesti menjulurkan lidahnya
" Sudah sudah, kalian gak pernah berubah. Selalu bikin bunda pusing dengerin sikap kekanakan kalian berdua " ucap Bunda
" Apa kamu sudah menemui ayahmu Hes? " tanya bunda
Hesti menggeleng, wajahnya terlihat berubah sedih.
" Jangan lama lama menyimpan dendam, tak baik " ucap Bunda sambil mengelus kepala Hesti
Hesti memeluk bunda erat dan terisak, Dewi kaget melihat Hesti terisak di pelukan bunda. Hesti yang di kenal Dewi selalu ceria dan bahagia seperti tanpa beban apapun ternyata punya masalah yang besar yang di sembunyikan
" Bunda tahu kamu masih marah dan kecewa, tapi cobalah memaafkan karna sebelum ibumu meninggal dia juga sudah memaafkan ayahmu " ucap bunda
" Simpan air matamu, jangan membuat nenek sedih memikirkanmu " ucap Bunda
" Hesti akan coba bun, demi kalian semua dan juga nenek " ucap Hesti
" Nenek pengen lihat kita semua menikah lo Hes, kalau kamu gak mau maafin om Bagus biar Fadhil aja yang duluan nikahnya " ucap Fadhil
" Gayamu, calon aja belum punya sok sok an kamu mau duluan " ucap Hesti
" Kata siapa ? kamu aja yang belum tahu " ucap Fadhil
" Hahaha...Siapa yang mau sama manusia kutub ! " ucap Hesti
" Mulai...mulai...!!! " ucap bunda
Dewi yang mendengarnya tersenyum melihat tingkah Fadhil dan Hesti yang kembali berdebat ringan dan membuat bunda kembali kesal di buatnya.
" Kamu jangan heran Wi melihat mereka berdua saat tidak di jam kerja, Mereka itu sepupuan tapi kayak tom dan jerry tingkahnya. " ucap Bunda
" Jadi mas Fadhil sama mbak Hesti sepupuan? " tanya Dewi kaget
" Iya, Hesti itu putri dari mendiang tante Hima saudara perempuannya bunda " ucap Fadhil
" Oh... " ucap Dewi mengangguk tanda mengerti
" Dia juga akan jadi sepupumu nantinya " bisik Fadhil lirih sambil melepas seat beltnya
__ADS_1
Dewi tersenyum mendengar bisikan Fadhil dan kemudian kaget mendengar suara Hesti
" Kak Fadhil bilang apa kak barusan sama Dewi ? Dia akan jadi Sepupu ! " ucap Hesti
" Apaan sih, udah sono turun tu dah sampai rumah nenek ! " ucap Fadhil
Hesti menyusul bunda yang sudah turun lebih dulu dari mobil menuju ke dalam rumah. Dewi masih duduk di tempatnya.
" Kamu gak mau turun ? " ucap Fadhil yang melihat Dewi tak bergerak dari tempatnya
" Memangnya gak papa aku ikut turun? " ucap Dewi
Fadhil tersenyum
" Aku kesini sama bunda tujuannya untuk mengenalkanmu sama nenek " ucap Fadhil
" Oh....Maaf aku gak tahu, Dewi kira acara keluarga saja " ucap Dewi
" Kamu juga akan jadi keluarga, karena sebentar lagi kamu akan jadi istriku ? " ucap Fadhil
Wajah Dewi bersemu merah mendengar Fadhil berucap istriku untuk pertama kalinya
" Ya Allah, apa benar aku akan jadi istrinya???" guman Dewi
" Yuk turun " ucap Fadhil
Dewi mengangguk dan mengikuti Fadhil turun dari mobil. kemudian mengikuti langkah Fadhil ke dalam rumah nenek. Saat sampai di depan pintu, ada Anto yang hendak keluar rumah
" Kamu juga ikut ke sini Wi ? " tanya Anto
" Assalamu'alaikum " ucap Fadhil
" Wa'alaikum salam mas " jawab Anto
" Ketemu itu salam dulu, bukan nyapa dulu " ucap Fadhil
" Salam, Sapa, Salim ! " ucap Fadhil memberikan tangannya untuk di salimi Anto.
Antopun dengan sopan menurut omongan Fadhil
" Nah, gitu pinter ! " ucap Fadhil
" hehehe...." ucap Anto cengengesan
Anto mengulurkan tangannya pada Dewi hendak bersalaman dengannya namun Dewi menghindar
" Bukan mahrom ! gak usah salaman ! " ucap Fadhil menepis tangan Anto
" Yuk Wi, masuk " ucap Fadhil
Fadhil berjalan ke dalam rumah di ikuti Dewi di belakangnya.
__ADS_1
" Mas Fadhil kenapa jadi sensi gitu, biasanya juga Dewi gak nolak di ajak salaman " guman Anto