
" Apa ada hubungannya? " ucap Yuni
" ehmmmm....." seseorang yang berdiri di belakang mereka berdehem mendengar mereka bicara tentang Dewi
" Ehhh....kak Fadhil..." sapa mereka bersama
" Tumben nih kak Fadhil menyapa kita di sini, ada apa kak ? " tanya Nia
" Apa kalian habis keluar sama Dewi? " tanya Fadhil
" Iya kak " jawab Ria
" Baru saja pulang? " ucap Fadhil
" Iya kak " jawab Yuni
" Dewi barusan masuk kamar, kita ingin duduk sini dulu " ucap Ria
" Kak Fadhil ada perlu sama Dewi ? " ucap Nia
" Tidak ! " ucap Fadhil
" Terus ? " ucap Yuni
" Mau nanya aja " ucap Fadhil
" Dewi tadi kelihatan beda saat mau masuk kamar kenapa? " tanya Fadhil
Mereka saling berpandangan bergantian. haruskah mereka menceritakan pada Fadhil kejadian di mall tadi atau haruskah menyembunyikannya.
Nia yang mengerti kekuatiran si bosh mudanya akhirnya bercerita tentang kejadian di Mall barusan dengan sejelas jelasnya hingga kejadian diamnya Dewi selama di dalam taxi
" Apa cowok yang tadi ketemu dengan kalian namanya Bimo? "Tanya Fadhil
" iya kak " ucap Nia
" Dan si cewek namanya Selly ? " tanya Fadhil lagi
" Benar kak ! Tapi kak Fadhil kok bisa tau ? " ucap Nia
Fadhil tampak kuatir dan cemas, dia tak menjawab pertanyaan Nia
" Okey, terima kasih infonya " ucap Fadhil
Fadhil segera melangkah menuju kamar sang bunda untuk menemui sang bunda. Saat melewati kamar Dewi, pintu kamar Dewi sedikit terbuka dan Fadhil melihat Dewi tidur tengkurap di atas ranjang dengan bahu sedikit terguncang. Fadhil sakit melihatnya, Fadhil tahu saat ini Dewi sedang menangis di sana. Di tutupnya pintu kamar Dewi dengan hati hati tak ingin sang pemilik kamar terusik.
Bunda melihat sang putra kesayangan yang begitu perhatian terhadap Dewi. Fadhil jelas terlihat begitu menyayanginya.
Bunda tersenyum saat Fadhil menghampirinya.
__ADS_1
" Sejak kapan anak bunda suka mengintip hmm....?! " ucap Bunda
"Fadhil tidak mengintip hanya melihatnya sedang apa karna pintu kamarnya tadi sedikit terbuka " ucap Fadhil
" Sama aja !!! " ucap Bunda
" Bun, tolong bunda bicara sama Dewi " ucap Fadhil
" Bicara ???!!" ucap Bunda
" Bunda tolong hibur Dewi bun " ucap Fadhil
" Emang Dewi kenapa? " tanya Bunda
" Dewi sedang tidak baik baik saja bun, hatinya terluka " ucap Fadhil ikut merasakan kesedihan Dewi
" Sok tahu kamu !! Bisa lihat dalam hati orang !? " ucap Bunda
" Beneran bun, tolong bun hibur dia " ucap Fadhil
" Kenapa gak kamu aja? " ucap Bunda
" Bun, kita belum jadi mahrom ! " ucap Fadhil
" Dewi pasti butuh pelukan untuk sekedar menenangkan hatinya, Fadhil gak mau kejadian di mall saat Dewi rapuh dan memeluk Fadhil terulang lagi bun " ucap Fadhil
" Ngaku aja, kamu suka kan di peluk sama Dewi ? " ucap Bunda
" Iya sih hehehe....tapi waktu itu Fadhil khilaf bun " ucap Fadhil
" tu kan...." ucap Bunda
" Makanya Fadhil sekarang jaga jarak bun, takut khilaf lagi hehehe...." ucap Fadhil
" Bantuin Fadhil buat jagain Dewi donk bun, aku sudah janji sama Woro buat jagain Dewi. " ucap Fadhil
" Makanya di halalin, biar gak dosa kalau jagain adik orang " ucap Bunda
" iya bun iya....nanti Fadhil ngomong lagi sama Dewi tapi bunda bantuin ngomongnya ya " ucap Fadhil
" Sekarang, tolongin Fadhil dulu ya " ucap Fadhil memelas memohon pada sang bunda
" hmmm....?!!! " guman bunda
" Baiklah " ucap Bunda
" Terima kasih bun " ucap Fadhil sumringah mengecup kedua tangan bunda
Tok tok tok
__ADS_1
" Assalamu'alaikum... "
Bunda mengetuk pintu dan mengucap salam namun karena tak ada sahutan dari dalam bunda segera membuka handle pintu takut terjadi sesuatu dengan Dewi. Bunda membuka pintu dan melihat Dewi sedang tengkurap di atas ranjang dengan memeluk sebuah bantal.
" Wi ?! " panggil Bunda
Dewi tak menjawab, bunda kuatir dan bergegas menghampiri Dewi. Bunda mengelus kepala Dewi yang tertutup hijab perlahan. Bunda juga melihat bantal yang di peluk Dewi basah, bukan terkena air liur namun air mata Dewi.
" Begitu terlukanya hatimu nduk? " guman bunda
Dewi merasa ada seseorang menyentuh kepalanya, Dewi mencoba membuka matanya pelan.
" Bunda " ucap Dewi dengan suara serak mencoba untuk duduk di atas ranjangnya
" Sayang, maaf bunda masuk kamar karna takut sesuatu terjadi padamu " ucap bunda masih mengusap kepala Dewi
Dewi kembali mengeluarkan air matanya.
" Dewi boleh peluk bunda ? " tanya Dewi lirih
Bunda mengangguk dan Dewi berhambur memeluk bunda yang duduk di tepi ranjangnya. Dewi memeluk bunda tanpa bersuara hanya isak tangis kecil Dewi yang terdengar. 3 menit, 5 menit, 7 menit, dan di menit ke 10 Dewi merasa hatinya sudah lega dan tenang. Dewi mencoba mengurai pelukannya perlahan
" Terima kasih bunda " ucap Dewi
" Sama sama sayang " ucap bunda mengelus kepala Dewi lembut
" Kapanpun kamu butuh pelukan untuk menenangkan hatimu carilah bunda " ucap Bunda
" Dan jangan lupakan Kamu punya Allah untuk mengadukan semua masalahmu, jangan menganggap kamu sedang sendiri karna ada kami yang menyanyangimu di sini " ucap Bunda
Dewi mengangguk " Terima kasih bunda " ucap Dewi kembali memeluk bunda
" Terima kasihnya sama yang di depan pintu aja " bisik bunda
Mata Dewi melirik ke arah pintu, ada seseorang yang berdiri di sana.
" Dia amat menyayangimu " tambah bunda
Bunda mengurai pelukannya, dan menggenggam kedua tangan Dewi erat
" Bunda, tak pernah melihatnya perhatian pada seorang perempuanpun melainkan perhatiannya untukmu. Bundapun tak pernah melihat kesedihannya melainkan saat melihat dirimu bersedih. dan tak ada kebahagiaannya melainkan saat melihat dirimu tersenyum bahagia " ucap Bunda
" Bun...." Ucap Dewi lirih dan terlihat malu malu
" Anak bunda serius mau halalin kamu ! " bisik bunda sambil menowel hidung Dewi
" Tapi sayangnya kamu gak mau " ucap bunda
" Bukan gak mau bunda tapi....." ucap Dewi menjeda kalimatnya
__ADS_1