OTW Melupakanmu

OTW Melupakanmu
level 2


__ADS_3

Dewi masih berada di kamar nenek sementara Fadhil Bunda dan Hesti sholat berjamaah di musolla rumah nenek. Dewi membantu nenek mengambil wudhu dan menjaga beliau saat melakukan sholat sambil duduk di kamar.


" Subhanallah, nenek yang kurang sehat dan tidak mampu berdiripun tetap semangat melakukan kewajibannya meski dengan duduk " guman Dewi


Usai sholat maghrib, bunda masuk ke kamar nenek untuk berpamitan


" Buk, Aini pamit ya " ucap bunda


Nenek mengangguk, Bunda salim dan memeluk nenek lembut


" Hati hati " ucap nenek


Bunda mengangguk dan mempersilahkan Dewi berpamitan pada nenek


" Nek, Dewi balik ya...nenek jangan telat makan ya" ucap Dewi mengecup tangan nenek penuh takdzim


Nenek menangguk dan membentangkan kedua tangannya minta di peluk. Beberapa menit nenek memeluk Dewi kemudian mengurai pelukannya dan berkata


" Jaga hati cucu kesayangan nenek ya " ucap nenek


Dewi mengangguk dan tersenyum pada nenek


" Insyaallah nek, doakan kami ya " ucap Dewi


Nenek mengangguk, Dewi berjalan ke luar kamar ketika Fadhil dan Hesti masuk untuk berpamitan.


" Nek, Fadhil tinggal dulu ya. Nenek baik baik di sini. Apa nenek mau berubah pikiran untuk ikut tinggal bersama kita saja di rumah produksi ? " ucap Fadhil


" Nenek di sini saja, besok kalau kamu nikah nenek baru mau ikut tinggal di rumah kamu " ucap nenek


Fadhil mengangguk dan mencium sang nenek


" Hes, segeralah temui ayahmu dan ajaklah dia kesini. Nenek ingin bertemu dengannya " ucap nenek


" iya nek, akan Hesti coba untuk memaafkan ayah " ucap Hesti


Kini mereka telah berada di ruangan VIP sebuah restoran ternama di kota Surabaya menunggu seseorang


" Kamu mau pesan makan apa? " tanya Fadhil pada Dewi yang terlihat bingung memilih menu


" Ayam geprek level 5 aja " ucap Dewi


Fadhil menggeleng


" Ayam gepreknya boleh, levelnya yang gak boleh " ucap Fadhil


" Kenapa gak boleh ? Dewi sukanya kan pedas ! biasanya Dewi malah level 8 " ucap Dewi

__ADS_1


" Nanti perutmu sakit, bukannya kamu lagi haid? tak baik perempuan saat haid makan pedas " ucap Fadhil


" Cie...cie....tak kusangka sebegitu perhatiannya kulkas kutub " ucap Hesti


" Level 1 saja ! " ucap Fadhil


" Mana terasa pedasnya mas ?!" ucap Dewi


Fadhil melihat Dewi tajam, Dewi menundukkan kepalanya saat melihat Fadhil yang melotot ke arahnya


" Ya udah level 3 aja " ucap Dewi


" Gak ! Level 1 atau pesan yang lain !" ucap Fadhil


" Kasihan Dewi, over protektifnya kak Fadhil mulai kumat " guman Hesti


" Wi, benar yang di katakan Fadhil tak baik wanita yang sedang datang bulan makan makanan yang terlalu pedas " ucap Bunda


" Kalau kamu terbiasa makan pedas lebih baik sedikit sedikit kamu kurangi " ucap bunda


" Iya bun, Dewi pesan level 2 saja kalau begitu " ucap Dewi


" Gak ! Level 1 aja atau pesan yang lain !? " ucap Fadhil


" Ya udah, Dewi gak usah pesan makan. Dewi sudah kenyang ! " ucap Dewi


" Marah ? " ucap Fadhil


Bunda yang melihat Fadhil dan Dewi kembali cekcok menengahi


" A' kamu gak boleh terlalu keras dan terkesan memaksakan kehendakmu. Bunda lihat sejak tadi Dewi sudah menurunkan egonya dan mengalah tapi kamu juga harus tahu a' butuh waktu untuk Dewi menyesuaikan lidahnya dan itu tidak mudah " ucap bunda


" Tapi semua untuk kebaikan Dewi bun, aku perhatian kayak gini karna aku sayang sama dia dan tak ingin Dewi sakit perut bun " ucap Fadhil


Di satu sisi Dewi bahagia mendengar Fadhil bicara seperti itu. Ada desiran di hatinya seolah dia begitu di jaga dan di perhatikan oleh orang yang benar benar menyanyanginya. Di sisi lainnya Dewi merasa begitu berat melakukannya, bagaimana lidahnya harus di paksa berhenti menikmati rasa pedas yang menjadi favoritnya selama ini


" Tapi tidak dengan cara seperti ini kak ! Kasihan Dewi " ucap Hesti


" Pesan yang level 2 aja ya Wi gak papa kan? " ucap bunda


" gak usah bun, Dewi minum saja " ucap Dewi terlihat sedih


Fadhil baru sadar dan merasa bersalah telah memaksa Dewi untuk meninggalkan apa yang di sukainya secara mendadak. Dia sadar seharusnya kebiasaan itu di kurangi secara bertahap dan pelan pelan.


" Maaf bun, Dewi ijin ke toilet sebentar " ucap Dewi


Bunda mengangguk dan Dewi pergi meninggalkan ruangan VIP untuk pergi ke toilet

__ADS_1


" Kak Fadhil keterlaluan deh " ucap Hesti


" Maksudku kan baik, semua untuk kebaikannya " ucap Fadhil


" Iya paham tapi pelan pelan kak, harus berubah hari ini juga " ucap Hesti


" Hesti benar A', Aa' harus belajar sabar, pelan pelan, Dewi itu masih belia emosinya naik turun Aa' seharusnya lebih lembut pada Dewi " ucap bunda


Setelah bunda berkata seperti itu Fadhil pamit menyusul Dewi ke toilet. Sampai di toilet Fadhil tak menemukan Dewi di sana.


" Segitu marahnya kah Dewi? " guman Fadhil


Fadhil tampak panik dan berusaha mencari Dewi sampai bertanya pada pelayan disana.


" Mas, apa tadi mas lihat cewek yang pakai gamis warna bata dan jilbab kuning di toilet? " tanya Fadhil


" Oh, cewek yang tinggi kulitnya putih, bibirnya tipis dan cantik itu? " tanya Pelayan


" Iya ! Mas lihat ? " ucap Fadhil


" Tadi saya lihat, cewek itu nangis dan berlari ke luar restoran mas " ucap pelayan


" Begitu kasarkah ucapanku !? " guman Fadhil


" Mungkin bukan karena itu " guman Fadhil lagi


" Coba aku telepon saja ponselnya " ucap Fadhil mengambil ponsel di saku celananya


beberapa detik kemudian panggilan terhubung


" Assalamu'alaikum ..." ucap Fadhil


" Wa'alaikum salam, Maaf mas, Dewi gak bisa balik ke resto lagi " ucap Dewi


" Mas Fadhil makan saja sama bunda dan mbak Hesti " ucap Dewi


" Kamu marah ? " tanya Fadhil


" Gak mas, hanya saja.... " ucap Dewi


" Hanya apa ? " ucap Fadhil


" Dewi sedang ada di klinik " ucap Dewi


" Klinik ? " tanya Fadhil


" Ngapain? " tanya Fadhil

__ADS_1


" Dewi tadi keserempet motor mas " ucap Dewi


" Innalillahi, kamu gak papa kan? " tanya Fadhil


__ADS_2