
"Aku tidak apa-apa, sebelumnya ayah memang seperti itu, aku dengar dia ingin aku jadi murid tetua kin, Kalau kau ingin mengasihaniku pergilah aku tidak butuh hal seperti itu." Clarissa menggerakkan isyarat tangan mengusir.
"Baiklah jika itu maumu, aku juga sebenarnya terpaksa karena perintah guru, jadi kau tidak ingin aku buatkan makan malam?" Zachery bertanya karena sebentar lagi waktunya untuk menikmati makan malam, tentu dia tidak ingin tetua james marah padanya karena tidak memberi makan anaknya.
"Tidak usah, aku tidak seperti yang kau kira." Jawab Clarissa ketus.
Zachery berlalu setelah mendapatkan jawaban Clarissa, dia langsung menuju ke dapur villa untuk memasak. kelihatannya kin sudah menunggu untuk makan malam, pikirnya.
"Baiklah aku juga tidak tega melihatnya tidak makan, akan aku buat lebih saja jumlahnya agar sisanya bisa di makan olehnya." Zachery memilih makanan yang menurutnya bisa di makan oleh semua orang.
"Dimana Clarissa, kau tidak memanggilnya?" Tanya kin karena tidak menemukan Clarissa di sekitar meja makan.
"Aku sudah mengajaknya kesini tadi, dia tidak mau." Zachery mengangkat bahunya.
"Kau harus memaksanya, tetua james akan marah padaku kalau tidak memberinya makan." Kin menatap zachery cukup tajam, isyarat yang menandakan dirinya sangat serius.
Zachery segera bergegas setelah mendapatkan tatapan itu, dia sampai berkeringat dingin membayangkannya.
"Clarissa jangan kau pikir bisa disini sesukamu, kau harus makan...kalau tidak ayahmu itu akan memarahi guru dan aku karena dianggap tidak bisa mengurus anaknya." Zachery berbicara dengan tidak melirik pada Clarissa, sejujurnya dia malas harus membujuk seorang remaja seperti anak kecil.
"Baiklah aku mengerti, semua ini karena tetua kin tidak sedikitpun aku kasihan padamu." Jawab Clarissa.
memangnya siapa yang harus dikasihani, batin zachery menggerutu.
pada akhirnya malam itu mereka tidak sedikitpun berbicara setelah menyantap makanan, Clarissa langsung pergi ke kamarnya untuk tidur. Sementara kin Dan Zachery seperti biasa akan melakukan meditasi malam untuk menjaga ketenangan dan untuk melatih energi jiwa juga.
*
Di pagi harinya Giovanni kembali datang ke villa cahaya Phoenix, dia menjelaskan dirinya sudah mendapatkan izin dari ayahnya untuk berlatih dengan zachery. Meskipun zachery sendiri namanya cukup asing di antara para anggota sekte tetapi namanya cukup terkenal di kalangan para tetua karena menjadi murid dari kin yang seorang jenius.
__ADS_1
"Yo zachery, hari ini bagaimana kalau kita bertarung lagi? waktu itu aku belum puas mengalahkanmu." Giovanni menghampiri zachery yang baru saja melakukan pemanasan pagi.
"Boleh saja, tapi kali ini guru ingin memberi kita bertiga porsi latihan yang berbeda." Zachery melirik Clarissa yang berada tidak jauh darinya.
"Aku tidak ingin berlatih dengan kalian, metode latihan kalian berbeda denganku." Clarissa menanggapi pernyataan zachery dengan ketus.
Giovanni hanya tersenyum melihat tingkah keduanya yang masih saja bertengkar seperti kemarin, walaupun sekarang bisa dibilang mereka saudara seperguruan.
"Kalian sudah berkumpul? Baik duduklah di bawah pohon sana." Kin menunjuk pohon ulin yang merupakan pohon kayu yang mempunyai kekerasan seperti besi.
"Di sana? Kami bertiga?" Tanya zachery.
"Ya disana, kalian bertiga melakukan meditasi bersamaan." Jawab kin singkat.
"Bersamaan? Tidak tetua kin, aku tidak mau berdekatan dengan mereka." Clarissa menolak nya dengan isyarat lengan menyilang.
"Latihan? Aku tidak bilang ini latihan, tapi memang metodenya tidak terlalu jauh." Kin duduk di sebuah batu didepan pohon tersebut.
Karena ukurannya cukup besar, ketiganya bisa bersandar pada batang kayu pohon ulin Tersebut.
"Clarissa kau pegang tangan zachery, dan zachery memegang tangan Giovanni!" Perintah kin pada ketiganya.
"Apa? Memegang tangannya? Tidak tetua kin itu tidak mungkin." Clarissa menolak dengan spontan.
"tidak ada cara selain ini, tidak ada alasan untuk menolak, jadi cepat lakukan saja perintahku." Jawab kin dengan tegas.
"Cepatlah kau tidak usah sungkan begitu, tanganku adalah yang paling nyaman di sekte ini." Zachery menunjukkan wajah sombong.
"Hmmm, aku tidak peduli." Jawab Clarissa ketus.
__ADS_1
Setelah ketiganya berpegangan tangan, kin mulai membacakan sebuah cerita. mereka diminta untuk mendengarkan nya dengan mata tertutup dan membayangkan seperti apa cerita tersebut dipikiran mereka.
Pada cerita yang pertama, kin menceritakan tentang seorang pemuda yang hidup sendirian di hutan. Ketiganya diminta untuk membayangkan peralatan seseorang yang hidup di hutan.
Zachery menjawab paling tepat di cerita pertama, karena semua peralatan yang di butuhkan di hutan yang dia sebutkan adalah alat - alat sederhana. sementara Giovanni dan clarissa masing - masing dari mereka menyebutkan batu jiwa dan permata siluman yang tidak mungkin dibutuhkan untuk hidup di hutan, karena tidak bisa di masak untuk dibuat makanan.
Pada cerita kedua kin menjelaskan bahwa tidak ada benar dan salah dalam menebak di cerita ini, ketiganya di perintahkan untuk menyamakan bayangan cerita mereka satu sama lain saat mendengarkannya.
"Baiklah, begini ceritanya pada masa perang benua bulan Utara tahun 231 sebelum masa kedamaian, empat orang bersaudara hidup tenang di sebuah desa. Diceritakan mereka menjadi pembunuh berdarah dingin dan masing - masing dari mereka membawa senjata sebuah peralatan dapur, bayangkan oleh kalian mereka membunuh korban nya dengan sadis. Jangan sampai terlalu jauh memikirkannya, aku tidak bisa menjamin salah satu dari kalian tidak akan pingsan."
Kin kemudian melanjutkan ceritanya kebagian yang membuat Clarissa menjerit karena secara tidak langsung bayangan cerita Giovanni dan zachery juga terlintas dipikiran nya, zachery membayangkan korban tersebut dikuliti menggunakan sumpit dan Giovanni membayangkan korbannya ditaburi acar sebelum di makan.
"kau membayangkan sesuatu yang aneh Clarissa, tidak mungkin pembunuh memberi permen coklat kepada korbannya." zachery memprotes bayangan Clarissa.
"bayangan ceritaku lebih baik dari kau, kau dan si racun itu membayangkan hal yang membuatku mual." bantah Clarissa.
"siapa yang kau panggil si racun, anak obat." giovanni bereaksi ketika dirinya disebut si racun.
"apa? kau pikir aku ini dilahirkan dari obat, beraninya kau menyebutku begitu." gerutu Clarissa.
"tidak usah membawa nama fraksi dalam latihan kalian, kalau begitu zachery nanti akan disebut anak pedang karena murid tetua pedang, jadi berhentilah dan fokus." kin memarahi keduanya yang saling ejek.
giovanni dan Clarissa sudah dalam keadaan tenang tetapi zachery kembali melanjutkan pernyataan yang disampaikan oleh kin.
"itu cukup keren guru, anak pedang...hahahahha." zachery Tersenyum lebar.
"zachery fokuslah, kau itu bukan anak kecil lagi tidak perlu memakai julukan." gerutu kin kedua kalinya.
"baik, kami akan melanjutkan bayangan cerita tadi lagi." zachery segera kembali ke keadaan serius lagi, Clarissa dan giovanni sudah berusaha membayangkan bayangan cerita nya dengan zachery tapi karena Clarissa tidak terlalu suka bagian kejam, butuh waktu lama bagi mereka untuk kompak.
__ADS_1