
"An'er, Sebaiknya kamu gendong Lin'er! bukan apa apa, tapi perjalanan kita akan lebih cepat jika kamu menggendong Lin'er!" ucap Da Guang melalui telepati.
Fang An tersentak dengan ucapan Da Guang, lagi lagi paman gurunya ingin Yue Lin digendong, tapi yang dikatakan Da Guang ada benarnya juga, saat ini perjalanan mereka sangat lamban karena adanya Yue Lin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Fang An langsung menangkap Yue Lin dan menggendongnya dari belakang, kemudian melesat dengan kecepatan tinggi, yang mana kecepatan itu adalah kecepatan dewa bumi tahap menengah.
"Hehehe.. An'er memang bisa." Da Guang terkekeh saat Fang An menggendong Yue Lin dan melesat dengan kecepatan puncak.
"Kita susul mereka adik Guang!" ucap Shujao yang juga tersenyum.
Shujao dan Da Guang pun melesat dengan kecepatan puncak juga, keduanya selalu tersenyum saat melihat Fang An menggendong Yue Lin, dimana keduanya melihat Yue Lin sedikit susah bernafas karena terpaan angin yang sangat kuat.
"Bagaimana Lin'er? Nyaman, berada di punggung An'er?" tanya Da Guang menggoda.
"Kamu bicara apa adik Guang? tentu saja Lin'er nyaman berada di punggung An'er, benar begitu Lin'er?" ucap Shujao yang juga menggoda.
Wajah cantik Yue Lin seketika berubah menjadi merah merona seperti kepiting rebus, meskipun sudah sering berkuda bersama Fang An, tapi saat itu tidak ada yang menggoda mereka, namun tidak untuk kali ini, karena kali ini ada Shujao dan Da Guang yang menggoda mereka.
"Sudahlah paman guru! Jangan menggodanya terus!" balas Fang An yang juga sedikit malu.
"Alaaaah.. Kamu juga jangan pura pura An'er! paman tahu kamu senang karena Lin'er di punggung mu." balas Shujao yang terus menggoda.
Fang An tidak tahu harus berkata apa, karena memang benar apa yang dikatakan Shujao, saat ini Fang An sangat senang karena bisa menggendong Yue Lin.
Hari terus berlalu, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama dua bulan, Fang An dan kedua paman guru serta Yue Lin hanya menempuhnya selama dua minggu, itu semua tidak lepas dari kecepatan terbang mereka yang sangat cepat.
Setelah melakukan perjalanan selama dua minggu dengan kecepatan tinggi, Fang An dan lainnya tiba di kota pertama benua tengah, yang tidak lain adalah kekaisaran Tang.
Berada tidak jauh dari kota, Fang An dan lainnya mendarat dan berjalan kearah gerbang kota, namun belum juga mereka tiba didepan gerbang, sekelompok besar pasukan bendera lima warna keluar dari dalam kota.
"Sepertinya bendera lima warna ingin lebih cepat musnah." ucap Da Guang tersenyum.
"Ada apa dengan mu Lin'er?" Fang An tidak menghiraukan ribuan pasukan bendera lima warna yang baru keluar kota, saat ini Yue Lin pusing dan muntah muntah.
"Sepertinya dia pusing, An'er, dia belum terbiasa terbang dengan kecepatan tinggi." ucap Shujao menjelaskan.
"Kamu jagalah Lin'er! Aku tidak ingin kehilangan mangsa yang sudah ada didepan mata." ucap lanjut Shujao, lalu dia dan Da Guang melesat menyerang ribuan pasukan bendera lima warna.
"Kamu tidak apa apa Lin'er?" tanya Fang An khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa Gege, hanya merasa pusing dan mual saja," jawab Yue Lin yang merasa tenggorokannya hampir keluar, meski begitu, Yue Lin tidak ingin membuat Fang An khawatir.
Fang An terus bersama Yue Lin, sementara kedua paman gurunya sedang membantai pasukan bendera lima warna tepat didepan gerbang kota, namun Fang An tidak menghiraukan itu dan hanya mengkhawatirkan Yue Lin.
Tidak ingin menunggu lama, Fang An kembali menggendong Yue Lin dan melesat masuk kedalam kota, saat ini gerbang kota tidak ada yang menjaga nya, para penjaga kota ketakutan, sehingga mereka berlari masuk kedalam kota.
Setelah berada didalam kota, Fang An tetap menggendong Yue Lin dan mencari penginapan, dia ingin membaringkan Yue Lin di kasur hingga tidak merasa pusing atau mual lagi.
Tidak beberapa lama, Fang An menemukan sebuah penginapan, lalu masuk dan memesan satu kamar, selesai memesan dan membayar biaya inap, Fang An membawa Yue Lin naik ke kamar, di dalam kamar, Fang An membaringkan tubuh Yue Lin diatas kasur, lalu duduk disampingnya dan mengelus kepala Yue Lin lembut.
*******
Diluar gerbang kota.
Sudah lebih dari 500 pasukan bendera lima warna yang dibunuh oleh kedua paman guru Fang An, Shujao dan Da Guang membunuh dengan sangat cepat, sehingga membuat kultivator bebas dan para prajurit kota yang berada diatas tembok menjadi ngeri.
Untuk pertama kalinya mereka melihat dengan mata kepala bagaimana kultivator ranah pejuang suci dan pejuang surgawi dibunuh seperti semut, sangat mudah dan gampang untuk dibunuh.
"Kejar mereka adik Guang!" ucap Shujao saat melihat ratusan pasukan bendera lima warna mencoba melarikan diri kehutan.
"Baik kak," jawab Da Guang, lalu melesat menyusul ratusan pasukan bendera lima warna itu.
Setelah Da Guang melesat menyusul ratusan pasukan bendera lima warna yang melarikan diri, Shujao kembali melanjutkan pembantaian, dengan bergerak zig zag dan kecepatan 75%, Shujao dengan mudah menebas kepala setiap pasukan bendera lima warna.
Da Guang yang menyusul pasukan yang melarikan diri, dia juga telah mulai membantai mereka, terlihat Da Guang sangat menikmati pembantaian itu, memiliki darah emas dan haus akan darah, membuat Da Guang seperti hewan buas yang kelaparan.
Kedua paman guru Fang An itu terus membunuh pasukan bendera lima warna, sementara Fang An masih setia menemani Yue Lin yang masih pusing dan juga mual, Fang An tidak ingin meninggalkan Yue Lin walau hanya sejengkal.
Satu jam kemudian.
Shujao dan Da Guang menyusul Fang An dan Yue Lin di penginapan, keduanya telah membunuh semua pasukan bendera lima warna, saat keduanya masuk kedalam kota dan melewati gerbang kota, baik kultivator bebas, pedagang, prajurit kota dan penduduk kota tidak ada yang berani menghalangi jalan keduanya.
Mereka sudah melihat dengan mata kepala bagaimana Shujao dan Da Guang membantai lebih dari tiga ribu pasukan bendera lima warna, sehingga tidak ada yang berani menghadang mereka saat masuk kedalam kota, bahkan prajurit yang bertugas didepan gerbang pun menjadi pucat pasi saat Da Guang sengaja menoleh pada mereka.
Setelah berada cukup jauh kedalam kota, Shujao dan Da Guang menemukan penginapan yang mana Fang An dan Yue Lin berada didalamnya, keduanya kemudian menanyakan keberadaan Fang An dan Yue Lin.
Awalnya gadis pelayan ingin menolak kedatangan mereka, tapi melihat pakaian keduanya yang penuh dengan darah, pelayan tidak berani melarang mereka dan menunjukkan kamar yang ditempati Fang An dan Yue Lin.
Tok tok tok
__ADS_1
"An'er?" Da Guang memanggil saat dia dan Shujao tiba didepan kamar yang ditempati Fang An dan Yue Lin.
"Sebentar paman guru!" bas Fang An dari dalam kamar, lalu membuka pintu.
"Kalian sangat kotor paman, sebaiknya paman berdua bersihkan diri lebih dulu!" ucap Fang An saat melihat kedua paman gurunya sangat kotor karena bermandikan darah.
Shujao dan Da Guang mengangguk lalu masuk kedalam kamar, keduanya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak beberapa lama,Shujao dan Da Guang kembali dengan mengenakan pakaian baru, sedangkan pakaian yang tadi entah keduanya letakkan dimana, bahkan author sendiri tidak tahu 🤣😂😂🤣.
"Bagaimana kondisi Lin'er?" tanya Shujao saat keluar kamar mandi.
"Dia masih pusing dan mual, paman guru," jawab Fang An.
"Hem.. kalian beristirahatlah! aku dan adik Guang akan jalan jalan sebentar!" ucap Shujao lagi.
"Baik paman," balas Fang An mengangguk.
Shujao dan Da Guang pun keluar kamar dan turun ke lantai satu, sementara Fang An Tegal siap siaga menemani Yue Lin yang sudah seperti wanita hamil muda.
"Paman pergi kemana?" tanya Yue Lin lemah.
"Paman guru mencari angin, Lin'er, sebentar lagi mereka kembali," jawab Fang yang yang juga lembut, Fang An merasa bersalah karena menggendong Yue Lin dan terbang dengan kecepatan tinggi.
"Maafkan aku Lin'er!" ucap lanjut Fang An meminta maaf.
"Tidak apa apa Gege! aku hanya belum terbiasa saja." bas Yue Lin tidak mau membuat Fang An menyalahkan dirinya sendiri.
"Beristirahatlah! kita akan melanjutkan perjalanan setelah kamu sembuh!" ucap lembut Fang An mengelus kepala Yue Lin.
"Hem.." hanya itu yang keluar dari mulut Yue Lin, lalu dia menutup mata dan merasakan sentuhan lembut di kepalanya.
Tiga hari kemudian.
Yue Lin sudah mendingan, Yue Lin tidak lagi merasakan pusing maupun mual, karena Yue Lin sembuh, Fang An dan lainnya pun meninggalkan kota dan melanjutkan perjalanan mereka, yang mana perjalanan mereka adalah pergi ke sekte golok setan, markas besar bendera lima warna.
Setelah keluar kota, keempatnya melayang di udara dan melesat ke arah utara, kali ini Fang An tidak lagi menggendong Yue Lin, Shujao dan Da Guang juga tidak meminta Fang An untuk menggendongnya, mereka sudah melihat sendiri bagaimana Yue Lin tersiksa karena dibawa terbang dengan kecepatan tinggi.
********
Tinggalkan Like dan Komentarnya ya kak!!
__ADS_1
Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.
Terima Kasih...