
"Kamu?" ucap pria paruh baya yang lengannya dipotong Fang An.
"Jika masih ingin hidup, cepat pergi dari sini!" ucap Fang An tetap datar.
"Bajingan, serang dan bunuh pemuda bajingan ini!" seru pria paruh baya pada puluhan temannya.
Puluhan anggota bendera lima warna yang berada dibelakang pun bergerak menyerang, namun tiba tiba Fang An menghilang dari pandangan semua orang.
Detik berikutnya, satu persatu kepala puluhan anggota bendera lima warna itu terpenggal, kemudian tubuh mereka roboh tanpa kepala.
Hal itu bukan hanya mengejutkan semua orang, tapi juga membuat Jiao Lin muntah karena tidak kuat melihat darah, ini adalah pengalaman pertama dia melihat darah secara langsung, apalagi banyak tubuh tanpa kepala.
"Uuwweeeekk"
"Uuwweeeekk"
Jiao Lin tidak dapat menahan muntah, sementara tubuh tanpa kepala terus berjatuhan didepan gerbang, bahkan tetua klan Jiao yang merupakan kultivator pejuang surgawi tahap menengah saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dalam hitungan kurang dari 10 menit, lebih dari dua puluh anggota bendera lima warna habis dibantai Fang An, lalu tiba tiba pedang Fang An sudah berada dileher pria paruh baya yang lengannya dia potong.
"Kamu salah memilih lawan pak tua," ucap Fang An tersenyum menyeringai, sementara pedangnya yang berlumuran darah itu menempel dileher pria paruh baya.
Pria paruh baya tidak lagi merasakan sakit, yang ada saat ini dia gemetar ketakutan, bahkan berkeringat dingin, mau menyesal pun tiada guna, kata orang bijak, penyesalan datangnya dari belakang, karena yang datang duluan itu pendaftaran.
"Mohon ampuni aku tuan muda!" ucap pria paruh baya menjatuhkan diri berlutut.
"Aku bukan Fang An yang naif seperti dulu, tidak ada lagi kesempatan kedua bagi siapa saja yang mengganggu ku," ucap Fang An datar, dan
Slash..
Kepala pria paruh baya tergelincir ketanah, lalu berhenti tepat didepan Jiao Lin, hal itu membuat Jiao Lin memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat kepala tanpa tubuh dengan kedua bola mata yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Singkirkan itu tuan muda! aku tidak ingin melihatnya," ucap Jiao Lin memalingkan wajah dan menutup matanya dengan kuat.
Fang An tersenyum mendengar ucapan Jiao Lin, namun dia juga heran, sebagai seorang kultivator, kenapa Jiao Lin justru takut darah? bukannya kultivator itu tidak lepas dari darah?
Selain suara Jiao Lin, tidak ada satupun para kultivator, pedagang dan penduduk biasa yang membuka suara, mereka terlalu takut untuk membuka suara.
Kebisingan tadi sebelum Fang An membuat pembantaian, seketika menjadi hening seperti kuburan, bahkan prajurit kota yang bertugas memeriksa setiap pengunjung kota tidak ada yang bersuara, sehingga membuat Fang An merasa terlalu berlebihan.
"Aku mencari 10 orang untuk membereskan ini, aku akan membayar perorangan 10 koin emas," ucap Fang An membuat pengumuman, dia ingin tubuh tanpa kepala dan kepala tanpa tubuh yang berserakan itu dibersihkan.
Saat mendengar seruan Fang An, para kultivator dengan cepat bergerak membersihkan mayat tanpa kepala yang berserakan itu, tidak sampai 30 menit, semua sudah dibersihkan dan dibakar.
Fang An kemudian membayar para kultivator itu, yang diminta 10 orang, tapi yang melakukannya 15 orang, sehingga Fang An mengeluarkan 150 koin emas untuk membayar mereka.
Selesai membayar, Fang An menarik tangan Jiao Lin masuk kedalam kota, sementara tetua ketiga dan kelima murid masih berdiri ditempat mereka, saat melewati gerbang kota pun tidak ada prajurit kota yang memeriksa Fang An dan Jiao Lin, para prajurit sudah kenal dengan sosok Jiao Lin.
"Ke gerbang mana kita?" tanya Fang An setelah berada di dalam kota Sanan.
Saat hampir tiba di pusat kota, lagi lagi mereka mendapat hadangan, namun kali ini bukan anggota bendera lima warna ataupun asosiasi yang lain, tapi seorang tuan muda, sudah menyukai Jiao Lin sejak lama, tapi perasaannya sekali ditolak oleh Jiao Lin.
Saat ini Jiao Lin berjalan dengan seorang pemuda, apalagi pemuda itu memegang tangan Jiao Lin, sehingga membuat sang tuan muda cemburu buta, bahkan wajahnya tampak merah karena marah, kedua telapak tangan pun sudah dia kepalkan dan bersila menghajar Fang An.
"Pasti kamu tuan muda? kamu cemburu ya karena aku pegang tangan nona Lin?" dengan satu muka, Fang An bertanya tanpa peduli dengan wajah pemuda yang menghadang jalan mereka.
"Dia tuan muda sekte bukit duri," ucap Jiao Lin mengenalkan tuan muda sekte bukit duri, atau biasa dipanggil tuan muda Suzho.
"Lepaskan tangan kotor mu!" ucap tuan muda Suzho menatap tajam Fang An.
"Tidak heran nona Jiao tidak menyukaimu, kamu terlalu bodoh," ucap Fang An tersenyum, lalu menarik tangan Jiao Lin hingga Jiao Lin berada dalam pelukannya
Fang An ingin membuat tuan muda Suzho semakin kesal dan juga cemburu, dan hal itu berhasil, tampak tuan muda Suzho tidak tahan lagi dengan Jiao Lin yang berada dalam pelukan Fang An, bahkan tubuhnya gemetar karena menahan amarah.
__ADS_1
"Bajingan, akan ku patahkan kedua tangan mu," pekik tuan muda Suzho, lalu melesat kearah Fang An dengan niat membunuh yang sangat kuat.
Saat tuan muda Suzho semakin dekat, Fang An memutar Jiao Lin, lalu kaki Jiao Lin menendang kepala tuan muda Suzho dan membuat tuan muda Suzho tersungkur dengan keras.
"Hehehe.. bahkan kamu sangat lemah, pulang dulu sana, punya cermin kan dirumah? ambil cermin nya dan ngaca dulu ya! kamu tidak pantas menyentuh nona Lin," ucap Fang An terkekeh.
Tuan muda Suzho tidak membalas, dia memegang pipi kiri bekas tendangan Jiao Lin, lalu bangkit dan pergi dengan perasaan dongkol, berada lebih dari 10 meter, tuan muda Suzho membalikkan badannya dan berkata.
"Tunggu pembalasan ku!" ucap tuan muda Suzho, lalu pergi dengan perasaan dongkol dan niat balas dendam yang kuat.
"Pergilah tuan muda bodoh! sembunyi saja terus dibawah ketek ibu mu, kamu tidak pantas menjadi tuan muda, pantas nya jadi orang gila," balas Fang An meninggikan suaranya.
Mendengar ucapan Fang An, tuan muda Suzho semakin dongkol, tidak henti hentinya dia mengumpat kesal.
"Jangan lupa bawa juga leluhur mu ya! aku tunggu disini!" ucap Fang An memprovokasi sekali lagi.
"Tuan muda," potong cepat Jiao Lin, dia tahu betul bagaimana leluhur sekte bukit duri, bahkan ayahnya saja sangat menghormati pria sepuh itu
"Ada apa dengan mu? kenapa wajah mu jadi kesal seperti itu?" tanya Fang An menggaruk kepala.
"Aaaahhkk," Jiao Lin kesal dan berjalan masuk kedalam pusat kota.
Melihat Jiao Lin kesal, Fang An hanya cengingisan, lalu berjalan mengikuti Jiao Lin dari belakang, sementraa tetua ketiga dan lima murid klan Jiao hanya diam saja.
******
Tinggalkan Like dan Komentar nya ya y!!!
Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.
Terima Kasih...
__ADS_1