Pendekar Dewa Naga

Pendekar Dewa Naga
Di Istana Kekaisaran Zhou


__ADS_3

"Gege, apa maksud Gege dengan kita akan bertemu lagi dengan pasukan bendera lima warna?" tanya Yue Lin dalam perjalanan mereka kembali ke kota bukit dan mencari sungai.


"Aku sengaja melepaskan mereka Lin'er," jawab Fang An tersenyum.


"Maksud Gege?" tanya Yue Lin mengerutkan kening.


"Aku sengaja melepaskan mereka untuk memancing ketua mereka, aku yakin saat pasukan itu kembali ke benua tengah, ketua bendera lima warna akan murka, apa menurut Lin'er dia akan diam saja saat tahu semua bawahan nya mati?" jawab dan tanya Fang An tersenyum.


"Jadi maksud Gege adalah memancing ketua bendera lima warna?" tebak Yue Lin yang sedikit paham.


"Benar Lin'er, aku ingin ketua mereka keluar dari persembunyiannya, dengan begitu, aku bisa membunuhnya tanpa harus mencari," jawab Fang An menganggukkan kepala.


"Baik Gege! aku mengerti," balas Yue Lin mengangguk.


"Lalu sekarang kita kemana? apa kita kembali ke kota bukit? atau kita langsung saja ke istana?" ucap lanjut Yue Lin bertanya.


"Kita langsung saja ke istana, urusan jendral dan pasukan dikota bukit, biarkan yang mulia yang mengurus! aku ingin yang mulia mengundang semua Patriak klan dan juga sekte ke istana, karena aku sudah tidak sabar memberi mereka pelajaran," jawab Fang An menjelaskan rencananya.


"Aku mengerti, aku juga sangat muak dengan para Patriak itu, sebagai keluarga dan perguruan beladiri, klan dan sekte tidak ingin membantu dan malah menolak membantu kekaisaran, mereka lebih pantas disebut pengkhianat, dan setiap pengkhianat kekaisaran harus diberi hukuman," balas Yue Lin yang juga kesal dengan sikap klan dan juga sekte diseluruh kekaisaran Zhou.


"Tapi bagaimana jika mereka menolak untuk hadir?" ucap lanjut Yue Lin bertanya.


"Tidak ada cara lain, kita datangi klan dan sekte mereka, lalu kita hancurkan, dan jadikan itu sebagai pelajaran bagi klan dan sekte yang lain," jawab Fang An tanpa pikir panjang.


"Baik Gege." balas Yue Lin.


Saat keduanya melewati kota bukit, Fang An dan Yue Lin menemukan sebuah sungai, lantas keduanya turun dan membersihkan diri, setelah membersihkan diri dan memakai pakaian yang baru, Fang An dan Yue Lin keluar dari sungai.


"Lin'er, coba kamu lihat apa yang ada dipunggung ku!" ucap Fang An meminta, entah dia sungguh sungguh atau hanya berpura pura.


"Baik Gege," balas Yue Lin, lalu dia mendekat dan mencari apa yang dimaksud Fang An, namun ketika Yue Lin tepat berada di punggung Fang An, Fang An mundur satu langkah, kemudian menarik Yue Lin dan menggendongnya.


"Gege," Yue Lin terkejut karena digendong Fang An.


"Tidak usah protes! aku hanya ingin menggendong ibu dari calon anak anak ku," ucap Fang An menggoda.

__ADS_1


Mendengar ibu dari calon anak anak, Yue Lin tersipu malu, wajahnya juga berubah menjadi merah merona seperti kepiting rebus.


"Tidurlah! aku akan menggendong mu hingga kita tiba didepan ibukota," ucap Fang An lembut.


"Baik Gege," jawab Yue Lin, lalu menyandarkan wajahnya di punggung Fang An dan menutup mata.



Fang An tersenyum senang karena berhasil menggendong Yue Lin, kemudian melompat di udara dan melesat kembali ke arah timur, dimana istana kekaisaran berada.


Jarak yang seharusnya ditempuh selama seminggu menggunakan kuda, Fang An hanya menempuhnya beberapa jam dengan terbang, karena saat ini Fang An sudah berada didepan ibukota kekaisaran Zhou, sementara Yue Lin masih tetap berada di punggungnya.


"Lin'er, kita sudah sampai didepan ibukota," ucap lembut Fang An membangunkan Yue Lin yang tertidur.


Meski dipanggil, Yue Lin keasikan tidur, sehingga dia tidak membuka mata sama sekali, Fang An pun memutuskan untuk tetap menggendongnya kedalam ibukota.


Dengan tenang dan perasaan senang, Fang An berjalan kearah gerbang dengan Yue Lin tetap berada di punggung, sementara didepan gerbang, ada puluhan prajurit yang berjaga, tidak ada satupun yang mereka biarkan keluar kota.


Justru sangat banyak pengungsi yang berbaris menunggu masuk kedalam, dimana pengungsi itu adalah penduduk kota bukit dan kota kota lainnya yang baru tiba di ibukota.


Saat mengitari pandangannya, kaisar Zhou Yan melihat Fang An dari kejauhan, sementara Yue Lin berada di punggung Fang An, melihat itu, perasaan lega dan senang muncul dari hati kaisar Zhou Yan, meski begitu, dia juga penasaran kenapa Fang An dan Yue Lin kembali.


Kaisar Zhou Yan pun berjalan kearah Fang An dan Yue Lin, namun sepanjang dia kesana, tidak henti hentinya kaisar Zhou Yan tersenyum dan mengangguk pada rakyat yang menundukkan kepala mereka.


"Tuan muda," ucap kaisar Zhou Yan setelah berada didepan Fang An.


"Perintahkan jendral dan pasukan untuk kembali, tidak ada lagi yang akan menyerang," ucap Fang An tanpa basa basi, namun ucapannya ramah, tidak lupa dia juga melempar senyum.


"Tuan muda," kaisar Zhou Yan terkejut dan sedikit tidak percaya dengan ucapan Fang An.


"Benar yang mulia, tidak ada lagi yang akan menyerang, saat ini pasukan bendera lima warna sudah melarikan diri, mungkin 2 atau tiga bulan lagi baru mereka kembali, untuk saat ini, undang semua Patriak klan dan juga sekte kesini! aku akan berikan mereka pelajaran," ucap Fang An meyakinkan kaisar Zhou Yan.


"Baik tuan muda, aku akan mengundang para Patriak itu," jawab cepat kaisar Zhou Yan menganggukkan kepala.


"Kita sudah sampai Gege?" Yue Lin membuka mata karena mendengar suara para pengungsi.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" tanya Fang An yang masih belum menurunkan Yue Lin.


Yue Lin tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala, Fang An kemudian menurunkan Yue Lin yang masih mengucek matanya.


"Yang mulia," Yue Lin menunduk malu, sedari tadi ada kaisar Zhou Yan didepannya, namun dia tidak menyadari hal itu.


"Nona Yue," balas kaisar Zhuo Yan menangkupkan tangan.


"Sebaiknya kita masuk saja yang mulia! ucap Fang An yang ingin segera masuk kedalam kota.


"Baik tuan muda," balas kaisar Zhou Yan mengangguk, lalu menyuruh para menterinya untuk mengurus para pengungsi dan juga memanggil jendral yang berada di kota bukit untuk kembali bersama pasukan.


Fang An, Yue Lin dan kaisar Zhou Yan pun masuk kedalam kota, para pengungsi penasaran dengan sosok Fang An dan Yue Lin, dapat mereka lihat jika kaisar Zhou Yan sangat menghormati keduanya.


Satu jam kemudian, mereka tiba di istana kekaisaran, lalu kaisar Zhou Yan menuntun Fang An dan Yue Lin ke aula pertemuan, disana tidak ada orang sama sekali, semua mentri masih berada di alun alun kota untuk mengurus para pengungsi.


"Silahkan duduk tuan muda! nona muda!" ucap kaisar Zhou Yan ramah.


"Terima kasih yang mulia," balas Fang An dan Yue Lin, lalu keduanya duduk di kursi tamu kehormatan.


*******


Tinggalkan Like dan Komentar nya ya kak!!


Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.


Terima Kasih...


******


Mampir dikarya teman ku juga ya kak!!


Tidak kalah seru dan menegangkan loh.


__ADS_1


__ADS_2