Pendekar Dewa Naga

Pendekar Dewa Naga
Chapter 21 ~ Turnamen kekaisaran


__ADS_3

"Hai, sudah lama ya." Kin menyapa perempuan dihadapannya, umurnya hanya lebih muda lima tahun dengan Kin.


"Kau...kau Kin? Benar kan?" Anak Muka Loreng tampak sangat bahagia saat melihat Kin.


"Benar ini aku, sudah lama ya, Pandhita?" Tanya Kin kembali.


"Benar, rasanya aku seperti mengingat pertemuan pertama kita saat itu."


Anak angkat Muka Loreng sebelumnya bermarga keluarga bangsawan tetapi karena saat ditemukan dia tidak ingin disebut dengan nama itu, akhirnya Muka Loreng dan istrinya memberinya nama dari keduanya yaitu Pandhita.


Nama Yang diambil dari nama asli Muka Loreng dan istrinya yaitu Pancaka dan Dhita. jadi anak angkat mereka di beri nama dari gabungan kedua nama tersebut. Berhubung Muka Loreng dan istrinya hanya rakyat biasa sebelum menjadi pendekar, nama mereka memang tidak ada marga atau keluarga.


Tapi Muka Loreng dan istrinya bersyukur anaknya senang menerima nama yang diberikan olehnya, meskipun saat itu mereka memutuskannya secara spontan saat memberi nama Pandhita.


Meskipun Pandhita memiliki rasa pada Kin, tapi dia mengerti sikap Kin yang tidak suka melihat seorang perempuan yang terlalu agresif, jadi Pandhita memendam perasaan nya dan menerima Kin seperti tamu pada umumnya.


"Mari kita duduk, oh iya....Sampai mana tahap pendekarmu saat ini?" Tanya Pandhita kemudian mengajak Kin untuk duduk dibangku teras depan Kediamannya.


"Hm, cukup bagus aku sekarang berada di tahap pendekar safir." Jawab Kin singkat, dia hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu.


Pandhita di buat terkejut dengan penjelasan Kin.


"Apa? Safir? lima tahun lalu kau hanya pendekar emas dan itu pun belum mencapai puncak, bagaimana caranya?" Tanyanya dengan sedikit berteriak.


"Semenjak jadi tetua jumlah sumber daya yang di konsumsi olehku juga bertambah seiring dengan besarnya gajiku, selain itu latihan yang ku jalani juga berbeda setelah mencapai puncak pendekar emas". Jelas Kin, yang memang menerima gaji besar dengan menjabat tetua pedang, dan berlatih dengan lebih keras.


Muka Loreng dan istrinya yang menyaksikan Kin dan Pandhita yang sepertinya sedang berbincang dengan akrab, meninggalkan teras rumah dan masuk ke dalam.


"Ayo, kita masuk...buatkan saja sesuatu untuk Kin." Perintah Muka Loreng pada istrinya.

__ADS_1


"Ya, mereka kelihatannya sangat rindu hingga langsung akrab begitu." Balas Dhita, istri Muka Loreng.


Melihat sikap Kin yang sepertinya biasa saja saat melihatnya, membuat Pandhita sedikit kecewa karena dirinya juga seperti wanita pada umumnya yang selalu ingin diperhatikan. Melihat Kin saat berbicara Dengannya saja tidak menatapnya membuat Pandhita sedikit berpikir mungkin Kin tidak menyukainya.


Karena Sudah cukup lama juga mereka tidak berbincang kembali, membuat Pandhita sedikit ragu untuk bertanya lebih dulu selain itu Kin juga tidak banyak menanyakan kabar Pandhita.


Disaat mereka berdua masih dalam keadaan termenung, Istri Muka Loreng keluar membawakan sebuah kudapan untuk Kin dan sebuah minuman.


"Silahkan di nikmati, maaf aku tidak menyiapkan arak karena Pandhita tidak terlalu suka aroma minuman keras, jika ingin minum kau bisa meminumnya nanti bersama suamiku di dalam." Jelas istri Muka Loreng.


"Tidak apa-apa Dhita, aku mengerti..nanti aku minum bersama Pancaka saja." Balas Kin dengan sedikit senyuman.


Pandhita yang melihat Kin hanya sedikit berbicara dengannya, pamit untuk pergi ke kamarnya. Dan beralasan mengantuk tapi sebenarnya dia hanya kecewa karena Kin yang tidak peka dengan keadaan. "Aku ke kamarku dulu, aku mengantuk." Jelas Pandhita singkat dan langsung berlalu ke dalam.


"Iya, silahkan." Jawab kin singkat, dia tidak mengerti kenapa Pandhita tiba - tiba berkata seperti itu.


Muka Loreng yang sudah sejak tadi memperhatikan sedikit kecewa karena Kin tidak bisa mengobrol lebih jauh dengan anak angkatnya, padahal dia berniat menjodohkan Kin dengan anak angkatnya.


"Hei Muka Loreng, mana arak yang menurutmu itu enak?" Tanya Kin penasaran.


"Aih, arak lagi...arak lagi, bisakah kau sedikit melupakan hal itu dan memikirkan hal lain seperti menikahi perempuan misalnya?" Tanya Muka Loreng, dia tidak menjawab pertanyaan Kin melainkan bertanya kembali.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya itu, aku bukannya tidak ingin menikah...umurku masih muda, untuk apa cepat - cepat." Balas Kin dengan sedikit tersenyum kecut.


Muka Loreng kehabisan kata-kata dan akhirnya memanggil istrinya untuk menyiapkan hal yang diinginkan oleh kin.


"Sayang, siapkan araknya dia sudah tidak sabar." Teriak Muka Loreng memanggil istrinya.


"sebentar aku akan mengambilnya dahulu." Balas istri Muka Loreng.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dua guci arak berukuran sedang sekarang berada di depan kin, aromanya memang tidak jauh berbeda menurut Kin dengan yang ada di ruangan para pendekar waktu itu. Meskipun yang di depannya sekarang kelihatan lebih nikmat lagi.


"Hei, Kin aku ingin bertanya sesuatu, apa kau tidak menyukai Pandhita?" Tanya Muka Loreng tiba-tiba, mukanya sudah sedikit memerah dan mengatakan hal yang tidak di pikir dahulu karena mabuk.


"Hicc, untuk apa? bukannya dia sudah menikah, suaminya sedang bekerja sekarang kan?" Balas kin, kondisi tidak jauh dari Muka Loreng yang mabuk dan sudah menghabiskan satu guci arak bersama.


"Apa? Jadi kau berpikir begitu ya, hicc. Pandhita itu belum menikah dia itu menunggumu, kau tahu?" Balas Muka Loreng.


Pandhita yang berada di kamarnya tidak sengaja berteriak saat mendengar ayahnya mengatakan bahwa dia menunggu Kin.


"Apa? Aku tidak menunggunya." Teriakan nya cukup untuk di dengar hingga ruang tamu, sehingga Muka Loreng dan Kin terkejut meskipun masih dalam keadaan mabuk.


"Suara siapa itu? Hicc." Tanya kin.


"Biarkan saja mungkin kambing lewat, ayo minum lagi, Hicc." Balas Muka Loreng yang diikuti dengan tangannya yang menuangkan lagi arak ke gelas milik Kin.


"Hei, aku dengar Hicc, turnamen kekaisaran akan diadakan lagi ya?" Tanya Muka Loreng tiba - tiba.


"Ah, kau tidak ada di ruangan saat itu ya, Hicc. Memang benar... turnamen itu beberapa bulan lagi akan diadakan di wilayah yang tidak di kuasai oleh kekaisaran atau negara manapun." Jelas Kin.


"Hicc, begitu ya seperti jadi ingat dahulu ya Kin, Hicc." Balas Muka Loreng, dan disertai dengan cegukannya yang terakhir dia pun tidak sadarkan diri karena sudah terlalu mabuk.


"Haha, lemah sekali kau kalau segini belum ada apa- apanya untukku..tambah lagi, Hicc." Keadaan Kin juga tidak jauh berbeda dengan Muka Loreng dan tidak lama kemudian dia pun juga tidak sadarkan diri, mereka berdua mungkin akan dibiarkan hingga pagi di ruang tamu dengan keadaan seperti itu.


"astaga, mereka berdua tidak sadarkan diri dan tidak membereskan nya sampai-sampai gelasnya masih ada di tangan mereka." istri Muka Loreng menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan suami dan Tamunya.


*


**maaf sekali jika romantismenya tidak ada, sepertinya saya kurang bisa membuat hal seperti itu, maklum fantasi hehe.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya, bye**.


__ADS_2